Hari minggu merupakan hari yang paling bahagia untuk seorang gadis manis berbadan minimalis seperti Gita. Kenapa? Karena ia bisa berguling kanan dan kiri seharian di dalam kamarnya. Tidak akan ada yang mengganggunya, termasuk Yola sang Kakak. Gita akan keluar dari kamar ketika cacing dalam perutnya berdemo minta diisi makanan.
Hari ini Gita tidak memiliki acara apapun. Andra mengajaknya ke Medan, yang tentu langsung ditolak olehnya. Jangankan ke Medan yang harus naik pesawat, bahkan untuk ke daerah Tangerang saja dirinya tidak mau. Tidak mungkin kan mereka pulang pergi Jakarta-Medan, Gita berpikir pasti mereka akan menginap di rumah Hendrik. Padahal mereka memang berencana akan pulang pergi. Hanya saja Gita terlalu takut untuk bepergian jauh, apalagi untuk menaiki pesawat terbang. Membayangkannya saja Gita sudah bergidik ngeri, apalagi harus mencobanya. Mungkin Gita akan pingsan ketika pesawat Take off ataupun Landing.
Gita sedang memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Andra. Gita tipe orang pemikir keras, jadi yang belum terjadi sudah dipikirkan terlebih dahulu olehnya, dan bodohnya lagi, yang mendominasi pikirannya itu adalah hal-hal buruk.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Gita masih setia menutup matanya. Walaupun udara sudah terasa begitu panas. Ukuran kamar yang kecil berdindingkan triplek itu hanya memiliki satu kipas angin yang menyerupai baling-baling bambu milik Doraemon. Wajar jika tidak bisa memberikan rasa sejuk untuk daerah panas seperti Jakarta.
Tok
Pintu kamarnya diketuk oleh si kecil chika, anak berusia tiga tahun yang memiliki otak cerdas, dan begitu tertarik dengan peralatan makeup. Anak yang senang sekali mengganggu Gita. Di saat semua ponakannya memanggil Gita dengan sebutan Bibi, maka Chika memanggilnya dengan sebutan Achu.
"Achu, dipanggil Mamah. Suruh anterin Ace ke pasar!"
Teriaknya dari luar dengan terus mengetuk-ngetuk pintu, Chika mempunyai banyak nama panggilan, salah satunya Ace, plesetan dari kata ecek yang artinya pesek. Karena hidungnya memang pesek.
Di umur 15 bulan Chika sudah lancar berbicara, tidak Cadel dan juga hapal lagu dari grup band Ungu yang berjudul Demi Waktu. Di mana di bait terakhir dengan bunyi Disini ku menunggu dinyanyikan tuwon tunggu olehnya, yang membuat semua orang bingung artinya. Dan di usianya yang kedua tahun, barulah tahu artinya. Ternyata pendengarannya salah tangkap.
Dengan malas Gita membuka matanya, karena jika tidak anak kecil itu akan terus mengetuk pintu kamarnya dan berteriak, membuat keributan di depan pintu adalah keahliannya.
"Ngapain sih, Ce?"
"Ace mau beli bubur sumsum, gak dibolehin sendiri sama Mamah!" jawabnya dengan kesal karena lama menunggu. "Cepetan ntarnya keburu abis," dengan menarik-narik lengan Gita untuk segera turun.
"Sabar Nenek Ebo! Achu nya cuci muka dulu. Kamu tunggu di bawah," perintah Gita yang langsung ditolak oleh Chika, dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"No...No...No... No! Turunnya Ntar bareng. Achu kalo gak ditungguin lama, malah bisa tidur lagi," jawabnya dengan mendudukkan diri di karpet.
"Deh! si lemes, ya udah tunggu disitu." Gita turun ke bawah menuju kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka. Jika hari libur, Gita akan mandi pada siang hari.
"Ayo, bawa duit gak?" ajaknya pada Chika setelah segar.
"Pake duit Achu ya?" dengan wajah polosnya, Chika meminta.
"Dih! Emang gak di kasih duit sama Mamah?" tanyanya pada Chika. Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Kamu bohong ya?" Chika nyengir, pertanda iya. Membuat Gita mencubit kedua pipinya gemas, "Kecil-kecil udah belajar bohong. Achu bilangin Mamah lo!" Gita menakut-nakutinya ponakan lemesnya itu.
"Jangan dong Chu, ntarnya Ace diomelin sama, Mamah." pintanya dengan memelas.
"Terus kenapa bohong?"
"Ya kalo jujur Achu gak bakalan mau!"
Gita menepuk keningnya pelan, pintar sekali ponakan lemesnya ini. "Ama Mamah gak di kasih duitnya pasti karena udah beli sarapan, 'kan?" Chika mengangguk membenarkan.
"Tadi Ace udah beli bubur kacang, tapi pas sampe rumah Ace malah pengen bubur sumsum," jawabnya dengan polos.
"Terus nanti dimakan gak bubur sumsum nya?" tanya Gita memastikan. Karena memang kebiasaannya Chika membeli makanan, tetapi begitu sampai rumah malah tidak dimakan.
"Dimakan Achu. Bawel deh. Ayo cepetan, ntarnya keburu abis."
Chika dengan tidak sabar menarik Gita. Mereka pergi menuju pasar setelah memastikan tidak terlihat oleh Mamahnya. Gita mengikuti kemana Chika berjalan, sampai di depan ibu-ibu penjual bubur sumsum, Chika langsung memesannya.
"Bu campur ya satu."
"Aduh, si lemes. Tadi pagi katanya gak mau," ledek si ibu pedagang bubur.
"Tadi pagi 'kan Masih kenyang, sekarang Ace baru laper," jawabnya ceria.
"Bisa aja ngelesnya."
"Urusan ngeles mah jagonya," timpal Gita.
"Ini sumsum nya, abisin ya. Ntar Mamahnya marah lagi." Pesan ibu pedagang.
"Makasih, Bu."
"Berapa bu?" tanya Gita.
"Udah dibayar sama Mamahnya, Teh."
Yola yang mengetahui anaknya yang menyukai bubur sumsum sudah menyiapkannya, karena Yola tahu Chika hanya lapar mata ketika melihat pedagang bubur kacang.
"Oh, ya udah. Makasih, Bu."
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya Chika ke.bali menariknya untuk segera pulang.
"Hayu, Achu. Lambat banget sih?" protesnya.
"Achu mau beli siomay dulu." Gita berbelok ke arah kanan, membuat Chika menggerutu.
"Ace laper tau, jangan lama-lama. Abang cepetan, Ace udah laper!"
"Haduh, ada si bawel nih. Mau dilama-lamain lah."
Di Pasar kecil itu, semua pedagang tahu siapa Chika, Balita berumur tiga tahun dengan tingkat kebawelan yang luar biasa. Juga kecerdasan nya dalam menghafal. Hari minggu Gita yang seharusnya damai, harus berisik karena ulah keponakan bawelnya.
***
Sedangkan para Anak Onta, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Hendrik. Pesawat yang mereka naiki take off jam enam pagi, mereka sengaja memilih penerbangan pagi, karena tidak ingin menginap. Hal yang Andra syukuri menjadi anak orang kaya seperti saat ini, di mana dengan segala kekuasaannya, ia dengan mudah melakukan apapun. Menggunakan penerbangan kelas bisnis, yang telah disediakan oleh pegawai ayahnya. Tidak pernah mendapatkan kesusahan dalam segala hal. Hanya satu yang tidak Andra dapatkan, yaitu kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sampai di bandara Internasional Kualanamu, sebuah mobil Alphard berwarna hitam telah menunggu, seorang supir berusia 40 tahunan segera membukakan pintu bagian depan untuk Andra. Supir tersebut telah diberitahukan oleh pusat, jika Andra lebih suka duduk di depan, daripada di belakang. Apalagi jika supir tersebut jauh lebih tua darinya.
"Selamat pagi, Den." sapanya pada Andra beserta yang lainnya.
"Pagi, Pak." balas mereka kompak. Mereka masuk kedalam mobil.
"Mampir ke rumah makan dulu, Pak. Kita sarapan dulu."
Perintahnya yang tentu saja diangguki oleh sang supir. Mereka mampir ke rumah makan Padang, tempat yang biasa mereka singgahi sebelum sampai di rumah Hendrik.
"Bapak ikut sarapan sama kita."
Supir tersebut hanya mengikuti perintah Andra, karena hal itu merupakan perintah bukan ajakan. Lagi, beliau telah diberitahu jika jangan menolak ajakan ataupun pemberian Andra.
Begitu masuk, mereka langsung duduk tanpa perlu memesan. Para pelayan langsung membawakan semua menu yang tersedia. Mereka makan dengan supir secara bersamaan, supir yang awalnya sungkan perlahan bisa membaur. Supir begitu terkesan melihat kesederhanaan Andra, berpenampilan asal-asalan tetapi tetap menampilkan aura yang berwibawa di umurnya yang masih berstatus sekolah.
Rumah makan yang menjadi tempat favorit mereka ketika berkunjung ke rumah Hendrik, di rumah makan itu semua menu disediakan di atas meja. Jika ada lauk yang tidak disentuh maka mereka hanya bayar nasinya saja, atau hanya dimakan bumbunya saja maka mereka hanya akan membayar setengahnya saja.