Mereka Saudara

1110 Kata
Perjalanan dilanjutkan setelah kelima tuan muda beserta supir tersebut mengisi perut masing-masing, Andra mengeluarkan handphone Esianya untuk menelpon Gita. "Kaga ada sinyal ya, Esia?" tanyanya entah pada siapa. "Itu 'kan CDMA, Nyet. Kaga bakalan ada jaringan lah," jawab Wildan. "Gue lupa," jawab Andra polos. Andra mengeluarkan BlackBerry nya, dan mulai mendial nomor kekasihnya. Tut...tut… "Assalamualaikum, Ayy." "Waalaikumsalam, baru bangun ya?" "Abis dari pasar, nganterin si Ace beli sumsum." "Kirain masih tidur." "Harusnya sih iya, tapinya tau sendiri tu bocil gimana lemesnya. Oya, jadi ke Medan nya?" "Ini bentar lagi udah mau nyampe ke rumah si Onta." "Oh….Titip salam buat Si Onta sama keluarganya ya. Bilangin dari Kakak yang manisnya ngalahin gula. Hahaha." "Mana coba yang manis? Sini dong pengen liat nih." "Jangan, takut lu diabetes." "Gue rela deh diabetes gara-gara liatin lu." "Si Pea, udah pada sarapan belom?" "Pea-Pea gini juga pacarnya siapa coba?" "Gak tau ya." "Mampus gak di akuin," seru Getta dari kursi belakang. "Berisik, Nyet!" Pak supir hanya tersenyum melihat para Tuan muda dengan bahasa kasarnya. "Maaf ya, Pak." Andra yang tidak enak hati pada supir di sampingnya. "Gak apa-apa, Den." jawabnya sungkan. "Jangan panggil Den, Pak. Panggil nama aja," titah Wildan. "Maaf, Den. Saya tidak berani," jawabnya lagi. "Saya yang nyuruh, Pak. Kalo ada yang berani marahin Bapak, bilang saya." Andra memang tidak suka jika diperlakukan seperti para Tuan muda dari kalangan konglomerat. Karena baginya, diperlakukan seperti itu hanya ketika berjaya saja. Namun, ketika sudah jatuh, tidak akan ada lagi yang menghormati. Maka dari itu Andra selalu bersikap layaknya orang biasa. Andra berpikir, jika nanti dirinya tidak memiliki uang pun, perlakuan mereka akan tetap sama. Bukannya Andra berdoa hidup susah, hanya saja, manusia bukannya tidak boleh sombong dan meninggikan harta? Karena ada dua jenis rasa hormat yang dimiliki oleh manusia. Pertama seseorang menghormati kita, karena kita mempunyai jabatan ataupun uang. Kedua, seseorang menghormati kita, karena menurut mereka kita pantas dihormati, walaupun tak memiliki uang. Contohnya seorang Guru, Alim ulama. Bukan karena harta mereka dihormati, tetapi karena ilmu yang mereka miliki, sehingga mereka begitu dihormati dan disegani. "Kalo begitu saya panggil, Nak saja ya?" usulnya dengan ragu. "Apapun yang ngebuat Bapak yakin. Asal jangan terkesan kami ini seperti anak Raja aja." Andra setuju dengan panggilan Nak dari sang supir. "Terima kasih, Nak." Andra hanya mengangguk dan kembali melanjutkan obrolan dengan Gita. Jarak tempuh dari bandara sampai ke rumah Hendrik memerlukan waktu kurang lebih dua jam lamanya, itupun ditambah dengan mereka mampir terlebih dahulu di rumah makan padang langganan mereka. Mereka turun secara bersamaan begitu sampai di depan rumah Hendrik. Rumah berlantai dua dengan cat hampir seluruhnya berwarna putih. Ting tong...ting tong… Rian memencet bel yang berada di samping pintu. Tidak lama kemudian, muncullah Vera, adik perempuan Hendrik yang berusia delapan tahun. "Halo Vera," sapa Rian. "Halo juga, Kak Rian. Masuk yuk, Kak Hendrik nya masih tidur," ajaknya pada mereka berlima. "Jam segini belom bangun? Kebo sekali anak itu!" gerutu Kenn, yang dari pesawat mula hanya diam saja. "Kak Hendrik baru tidur jam empat subuh tadi." terang Vera. "Lah! ngapain tuh anak?" tanya Getta heran. "Papah sakit, Kak. Terus gak mau di rawat di Rumah sakit, dan cuma mau ditungguin sama Kak Hendrik." Vera menjelaskan. "Katanya yang sakit, Mamah?" tanya Rian. "Pertama emang Mamah, terus sekarang gantian Papah." Vera menjawab satu persatu pertanyaan dari teman-teman kakaknya, yang sudah seperti kakaknya sendiri. "Ini taro di dapur, Dek." Getta dan Wildan menyerahkan dua kantong besar berisi berbagai jenis makanan dan minuman. Sedangkan Kenn dan Rian membawa parcel buah-buahan. "Papah lagi istirahat ya?" tanya Andra. Mereka semua menyebut Papah dan Mamah pada orang tua Hendrik, begitupun sebaliknya. Mereka akan mengikuti panggilan temannya kepada orang tuanya. Seperti pada orang tua Rian, mereka pun memanggil dengan sebutan Papi-Mami, mengikuti Rian yang memanggilnya seperti itu. "Loh, anak-anak Mamah pada datang? Kok gak ngasih tau dulu." Selena keluar dari kamar dan kaget melihat teman-teman anaknya berkumpul. "Barusan, Mah. Gimana keadaan Papah?" mereka mulai menyalami Selena satu persatu. Dengan diiringi pertanyaan tentang kabar suaminya. "Udah mendingan sih, masuk aja. Baru abis ganti infus," perintah Selena. "Gak ganggu, 'kan?" tanya Rian. "Gak kok. Papah pasti seneng. rumah jadi rame," jawabnya. "Ya udah kita liat Papah dulu." Mereka pergi menuju kamar Bayu, orang tua dari Hendrik. "Eh, kalian kapan datang?" tanya Bayu yang melihat Andra serta yang lainnya. "Barusan, Pah. Papah gimana kabarnya?" tanya Andra sambil menyalami tangannya. "Sudah lebih baik," jawabnya sambil tersenyum. "Hendrik bilang Mamah yang sakit, kenapa sekarang jadi Papah?" tanya Getta. "Emang pertama Mamah yang sakit, cuma flu biasa. Terus sekarang malah Papah yang kena." "Apa aja yang dirasa?" tanya Wildan. "Kena diare, ditambah kolesterol Papah tinggi," jawab Bayu. "Emang makan apa?" tanya Kenn. "Kemaren kalap makan Kepiting pedes banget," jawabnya lagi. "Nah, ini gak sadar umur. Udah tua juga," celetuk Getta. "Hahaha, kalo ngomong suka bener," balas Bayu membuat mereka semua tertawa. Bayu selalu senang jika rumahnya ramai. Bayu hanya memiliki dua orang anak. Hendrik dan Vera, maka dari itu, ia akan sangat senang jika teman-teman Hendrik datang. Selain sopan, mereka pun sudah menganggapnya seperti orang tua sendiri. Tanpa sungkan dan canggung. "Kan sayang jadinya gak bisa ikut kita, ntar malem mau bebakaran," goda Andra. Bayu merupakan pecinta aneka jenis seafood. "Waduh! Jangan sekarang dong, Papah 'kan gak boleh makannya." Protesnya. "Siapa yang gak ngebolehin?" tanya Kenn heran. "Si Hendrik, siapa lagi?" "Itu mah pelit aja," jawab Getta. "Boleh asal di kontrol. Kalo makannya dua kilo sendirian baru gak boleh," timpal Rian yang membuat mereka kembali tertawa. "Ya udah, sekarang Papah istirahat dulu," pinta Wildan. "Kalian nginep, 'kan?" tanya Bayu sebelum mereka pergi. "Kayaknya sih iya," jawab Andra. "Ya udah Papah istirahat dulu. Nanti malem mau ikutan bebakaran. Kalian keluar sana," usir nya pada mereka semua. "Hadeh, dasar aki-aki," gumam Getta. "Papah masih muda ya, belom jadi aki-aki, belom punya cucu," balasnya yang mendengar gumaman Getta. Mereka keluar dari kamar Bayu untuk menyambangi kamar Hendrik. Mereka sudah sangat hafal tata letak rumah Hendrik maupun rumah Anak Onta yang lainnya. Karena orang tua dari mereka pun membebaskan, dan telah menganggap anak sendiri. Hal itulah yang mempererat hubungan mereka semua. Mereka bukan saudara kandung, tapi kedekatan mereka melebihi itu. Pun ketika ada perselisihan paham, mereka tidak akan membela antara satu dengan yang lainnya. Selalu mereka sidang keduanya tanpa membela kubu yang mana. Keyakinan mereka berbeda, tetapi mereka tidak pernah saling menyinggung satu sama lain. Ketika waktunya sholat, Andra dan Rian akan sholat, sedangkan yang lainnya akan mengikuti. Getta dan Hendrik bahkan sudah menghafal beberapa ayat suci Al-Quran. Kalimat tauhid seperti, Alhamdulillah, subhanallah, Astaghfirullah, Masya Allah, Ya Allah. Selalu mereka ucapkan selayaknya umat Islam yang mengucapkannya. Seperti Getta yang selalu mengucapkan "Subhanallah, Maha Suci Allah dengan segala ciptaan-Nya." Getta seorang kristen Katolik, yang tanpa sungkan menyebutkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN