Pagi yang cerah dengan rasa gerah yang selalu membuat badan mengucurkan keringat, dikala hujan saja Jakarta akan terasa panas, apalagi sekarang saat musim kemarau, tambahlah makin panas. Jika saja Gita mempunyai pilihan untuk bekerja di kampung, tentu saja Gita lebih memilih itu, daripada harus bekerja dan hidup di lingkungan padat penduduk yang sangat panas.
Sayangnya, walaupun banyak pabrik di kampungnya, tetap saja banyak kendala, selain tidak mempunyai ijazah SMA, di kampungnya juga harus mengeluarkan uang jika ingin bekerja, dalam artian harus menyogok. Maka dari itu, Gita tidak punya pilihan lain, selain bekerja di garment yang tidak memerlukan ijazah untuk melamarnya.
Gita tidak mempunyai rencana ke manapun, karena Oncom pulang kampung, Andra dan Anak Onta lainnya sedang berada di Medan, jadi hari ini jadwalnya hanya akan rebahan, dan mencuci baju jika sudah ada tempat yang tersedia. Karena di tempat dirinya tinggal semua harus saling bergantian jika ingin melakukan sesuatu hal.
Andra baru saja menghubunginya, bahwa dirinya telah sampai di kediaman Hendrik. Kadang Gita berpikir, Mereka masih sekolah, dan libur tentunya hanya hari minggu, sedangkan mereka pergi ke tempat yang jauh, yang harus memakan waktu lumayan lama. Andra juga berkata bahwa mereka akan menginap. Apa karena itu sekolah elit, jadi bebas? Apa karena Andra anak pemiliknya? Kadang Gita ingin bertanya banyak hal, tetapi Gita tidak pernah berani. Gita takut dicap kepo oleh mereka.
Gita tipe orang yang selalu sungkan dan merasa tidak enak. Walaupun sedikit tomboy, tetapi begitu perasa. Jika ia berbicara yang sedikit kasar atau menyinggung, ia akan memikirkan perasaan orang tersebut hingga berhari-hari. Dan akan selalu terbayang diingatnya.
Gita memiliki penyakit lupa yang dia sendiri pun tidak tahu apa namanya. Karena dirinya tidak pernah periksa ke dokter. Kejadian yang baru kemarin terjadi Gita tidak akan mengingatnya, tetapi jika sudah lewat dari satu bulan, barulah ia mengingat kejadian tersebut. Gita selalu merasa mengalami dejavu pada hidupnya.
"Achu, dipanggil Mamah Suruh makan!" teriak Chika dari bawah tangga.
"Bohong lagi ya?" tanya Gita yang tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya.
"Serius ini mah, cepetan ntar Mamahnya bertanduk," ancam Chika.
"Iya bentar."
Jika hari minggu Yola memang memasak, mereka akan makan bersama dengan menggelar daun pisang atau kertas nasi sebagai alasnya. Jika Chika sedang rewel, biasanya Gita atau Hani yang memasak. Gita turun menuju rumah Kakaknya, tidak bisa disebut rumah sebenarnya sih, karena ini hanya dua kamar yang digabungkan.
"Masak naon?" tanyanya setelah sampai.
"Sayur asem, teri kacang, tempe goreng, sambel, lauk kembung." jawab Yola. "Gera bawaan," perintah Yola yang sedang mengaduk nasi.
Gita menggelar beberapa kertas nasi, menyendok nasi dengan centong plastik, dan meletakkannya di atas kertas nasi tersebut. Menaburkan teri kacang dan tempe di atas nasi dengan rata, meletakkan sambal dan ikan di pinggiran nasi. terakhir memasukkan sayur ke dalam mangkok masing-masing.
*Pengumuman, liwet sudah siapp!" teriaknya setelah selesai.
satu persatu penghuni kontrakan turun dan mulai menempati posisi masing-masing. mereka menciptakan suasana hangat antar sesama perantau. terdapat tujuh kamar kontrakan yang diisi oleh orang Sunda dan Jawa. Kegiatan setiap minggu mereka adalah makan bersama seperti saat ini.
***
Sedangkan di rumah Hendrik, para Anak Onta sedang merebahkan diri di kamar Hendrik. Tanpa meminta izin dari pemilik rumah, mereka langsung menuju kamarnya setelah dari kamar Papahnya. Hendrik yang merasa kasurnya bergerak, mengintip dengan sebelah matanya untuk melihat siapa yang tidur disebelahnya. Terlihat Kenn dan Wildan tidur di samping kanan dan kirinya. Hendrik tidak peduli, ia melanjutkan tidurnya, membuat Kenn mendengus melihat kelakuannya.
"Bangun woy! orang mah tamu datang tuh di sambut, molor aja gawean lu," seru Kenn dengan menarik kupingnya.
"Gue sambit mau?" Hendrik menjawab dengan mata yang tetap terpejam.
"Anduk mana, Nyet?" tanya Getta yang memang belum mandi.
"Di lemari, jangan ganggu gue, Ya Tuhan!" ujar Hendrik dengan memohon.
"Gue ngantuk mau tidur." Kenn menepuk-nepuk punggung Hendrik, dengan tujuan sengaja mengganggunya.
"Si Anjing!" serunya dengan kesal..
"Cup..cup...cup, jangan nangis Dede Bayi. Kakak ada di sini, Sayang." Wildan ikut menepuk-nepuk p****t Hendrik, membuatnya terpaksa bangun.
"Ya Tuhan, tolong enyahkan mereka dari kamar hamba." Doanya yang diamini mereka semua.
"Mandi, Nyet!" Getta yang baru keluar dari kamar mandi melemparkan handuk bekas pakainya, yang mengenai tepat wajahnya.
"Heh, Anak Setan!" serunya lagi dengan kesal. "Lu mau pada ngapain sih ke sini? kangen sama gue?" tanya Hendrik dengan mengusap wajah.
"Kangen banget malah," jawab Rian santai.
"Mau ke mana lu?" tanya Getta yang melihat Andra keluar kamar.
"Mau boker, kenapa? mau ikut?" jawab Andra.
"Lah, di dalem juga ada, 'kan?" tanya Wildan heran.
"Serah gue lah." Andra berlalu menuju taman belakang rumah Hendrik.
"Tuh anak udah gila makin edan ya," ujar Rian yang melihat kelakuan sahabatnya.
"Sesama orang gila dilarang mencela!" timpal Kenn.
"Sialan lu."
Di taman belakang rumah Hendrik, Andra sedang bermain dengan burung beo piaraan Papahnya. Andra sangat suka bertanya pada burung yang diberi nama Sakura tersebut. Jika sedang berada di rumah Hendrik, Andra pasti bermain dengannya. Burung yang tidak mau kalah dalam berbicara, burung yang selalu berdebat dengannya dan selalu jujur.
"Sakura jelek," ledek Andra begitu berhadapan dengan Sakura.
Burung Beo Nias dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bayu memang rajin melatihnya, sehingga Sakura begitu cerdas dan lucu.
"Sakura jelek, sakura jelek." Sakura mengikuti ucapan Andra.
"Iya, Sakura memang jelek," ucap Andra lagi.
"Jelek, jelek. Andra jelek," balasnya tidak terima.
Sakura sudah mengenal Andra. Karena di antara mereka, Andra lah yang sering berbicara dengannya.
"Siapa yang jelek?" tanya Andra.
"Andra jelek," jawabnya dengan melompat-lompat kecil.
"Sakura yang jelek," balas Andra tidak mau kalah.
"Andra galau, Andra galau," Andra melongo dibuatnya, burung beo itu memang seperti peramal yang bisa melihat suasana hatinya.
"Hus! Sembarangan kalo ngomong, gue gak galau tau! gue cuma lagi bingung," balas Andra tidak terima.
"Andra galau, Andra bingung, Andra bingung."
Sakura terus saja berceloteh, hal itu membuat Andra menengok kanan, Kiri dan belakangnya. Andra khawatir ada yang mendengarnya.
"Diem Sakura, Gue potong lu." ancamnya.
"Andra jahat, Andra jahat."
Vera datang menghampiri Andra yang sepertinya sedang kesal terhadap Sakura. Kebiasaannya menggoda Sakura yang akan balik membuatnya kesal.
"kak Andra ngapain?"
"Andra ngapain, Andra ngapain?" Sakura yang mengikuti ucapan Vera membuat Vera harus memenangkannya.
"Sakura diem, nanti dikasih makan," bujuk Vera dan berhasil.
"Dia bawel banget sih?" tanya Andra pada Vera.
"Lagian Kakak seneng banget ledekin dia. udah tau bawel," jawab Vera yang bingung pada satu teman kakaknya ini.
"Udah kayak paranormal dia sekarang, pake nebak-nebak segala."
"kayak gak tau aja, dicariin Mama suruh sarapan."
Setelah mengatakan itu, Vera langsung pergi menuju tempat penyimpanan makanan para hewan peliharaan Papahnya. Bayu memang menyukai berbagai jenis satwa. Andra pun kembali masuk setelah meledek Sakura sekali lagi.