Jemput Bebep

1236 Kata
Seminggu tidak bertemu dengan Gita membuat Andra begitu gelisah. Sudah seminggu setelah mereka pergi ke rumah Hendrik, Para Anak Onta belum bertemu dengan Gita. Pekerjaan Gita sedang banyak-banyaknya. Setiap hari Gita akan lembur, dan pulang di jam delapan malam. Ketika Andra menelponnya terdengar sekali rasa lelahnya. Seperti hari ini, Seharusnya Gita pulang jam dua siang tadi. Tetapi ia berkata bahwa pekerjaannya sedang diburu-buru harus segera kirim, maka dari itu Gita kembali lembur sampai jam delapan malam. Hal itu membuat Andra semakin tidak tega melihatnya. Seharusnya minggu ini jadwal Gita pulang ke kampungnya. Tetapi semua itu diundur karena Gita harus lembur. "Gue jemput ya, Ayy?" tanya Andra Saat ini mereka sedang bertelepon ria. Andra dapat mendengar dengan jelas suara mesin jahit yang sedang dioperasikan oleh Gita. Di tempat Gita bekerja, jika sudah memasuki waktu lembur, maka ia bisa bertelponan. "Gak usah, Ta. Kejauhan," tolaknya dengan terus bekerja. Gita mengoperasikan mesin Zig-zag atau yang mereka sebut mesin sisak. Demua jenis mesin jahit Gita bisa menguasainya dengan mudah. Dari jarum satu, jarum dua, Kansai, Kamput, Obras. Gita mempelajari itu semua hanya dalam waktu kurang dari dus bulan. Dan saat ini ia dipercaya memegang jahitan berjenis Zig-zag oleh Yola. Yola sendiri tidak lembur, karena Yola hanya akan lembur sampai jam empat sore saja. Hal itu karena perhitungan gajinya yang akan membengkak jika lembur sampai malam. "Gak ada penolakan, Ayy." Kekeuh Andra yang tidak mau dibantah. "Dih! ngapain nanya kalo gitu?" "Bentar lagi gue berangkat ya." Jam yang sudah menunjukan pukul tujuh malam membuat Andra segera bersiap. "Masih satu jam, Ta. Ntar aja jam delapan kurang," saran Gita, karena jarak dari Kelapa Gading menuju ke tempatnya kerja tidak memerlukan waktu yang lama, terkecuali macet. "Ini malam minggu, Ayy. Tau sendiri Teluk Gong macetnya kayak gimana kalo Satnight gini." Gita berpikir sejenak, ia lupa bahwa ini malam minggu, yang sudah bisa dipastikan bagaimana macetnya daerah Teluk Gong. Banyaknya pedagang di sepanjang jalan, juga muda mudi maupun orang tua dengan anak-anaknya di sepanjang jalan tersebut. Jangan lupakan angkot dan kendaraan lainnya, juga lampu merah yang tidak berfungsi membuat semua pengendara ingin mendapatkan jalan terlebih dahulu. "Iya juga sih, ya udah kalo gitu. jangan ngebut-ngebut. Makasih sebelumnya." Gita memang selalu mengucapkan kata terimakasih atas segala perbuatan Andra maupun orang lain. "Pake makasih segala. Ya udah hati-hati kerjanya, ntar kalo gue belom dateng, tunggu di depan gerbang aja ya." peringatan dari Andra yang di angguki oleh Gita. "Jangan ngangguk, gue 'kan gak bisa liat kalo dari sini." "Ha-ha-ha...Gue lupa, ya udah gue lanjut kerja lagi ya, gak enak sama yang lain." Padahal Gita hanya sendiri berada di balkon tempatnya bekerja. Gita bagian menjahit busa tipis yang akan digunakan sebagai bagian dalam bra yang berjenis bra sport, dengan cara disatukan melalui mesin Zig-zag. Karena jika di dalam tempatnya tidak akan cukup. Bagian penjahit busa membutuhkan tempat yang cukup luas, sehingga ia ditempatkan di balkon agar tidak mengganggu bagian lain dan juga tidak kotor. karena hanya orang-orang yang berkepentingan yang akan memasuki daerah balkon. Jadi bisa disebut bahwa balkon adalah daerah kekuasaannya. *** Andra tengah bersiap-siap untuk menjemput kekasihnya, Lukman dan Puji yang melihat keponakannya kembali ceria dua bulan terakhir ini menjadi bertanya-tanya, ada apakah dengan Andra. Karena mereka yang menyaksikan sendiri bagaimana perubahan sikap Andra selama empat tahun terakhir ini. Andra yang bersikap dingin seolah tidak peduli pada keluarga, Andra yang hobi bertaruh bola dengan nilai puluhan bahkan sampai ratusan juta, kini lebih sering berada di dalam kamar dan tersenyum. Andra seperti sedang mengalami jatuh cinta. "Mau kemana, Ndra?" tanya Puji ketika Andra berpamitan padanya. Puji heran dengan penampilan Andra yang rapi dan juga wangi. Jika untuk bertemu dengan teman-temannya tidak pernah serapi dan sewangi ini. "Mau ke rumah teman, Tan. Andra pergi dulu ya, takut keburu macet." Setelah menyalami tangan Tantenya, Andra pergi dengan menggunakan motor matic barunya, karena mio putihnya telah menjadi milik Raja Bola. Andra melajukan motornya dengan santai. karena dia juga tidak mau terlalu lama menunggu di bawah tiang listrik, tempatnya biasa menjemput Gita jika Gita pulang lewat dari jam delapan malam. jam baru menunjukkan pukul 19.15 menit. Jika jalanan lancar maka hanya memerlukan waktu 20 menit dari rumahnya sampai menuju tempat Gita bekerja, dengan berkendara 80 km/jam. Beda ceritanya jika macet, dari mulai daerah Bandengan sampai tempat kerja Gita bisa membutuhkan satu jam lamanya. Maka dari itu lebih baik Andra yang menunggu daripada nanti Gita yang menunggunya. Kekasihnya sudah terlalu lelah bekerja, jadi Andra tidak ingin membuatnya kembali lelah jika harus menunggunya. Benar saja dugaan Andra, baru melewati daerah Jembatan Tiga menuju arah Teluk Gong sudah lumayan macet. Andra harus menyelip ke kanan dan ke kiri agar bisa melewati kendaraan roda empat dan lebih yang di sepanjang jalannya. Menggas perlahan-lahan motornya mengikuti pengendara lainnya untuk sampai ke tujuannya. Setengah jam bermacet-macetan akhirnya motor yang Andra kendarai berbelok ke arah kiri, menuju ke jalan tempat kerja Gita. Masih ada sisa 10 menit lagi waktu kerja kekasihnya. Andra kembali melajukan motornya untuk membeli minuman untuknya dan Gita. Kedai minuman yang cukup ramai jika malam minggu seperti ini, Andra harus mengantri tujuh menit untuk mendapatkan gilirannya. Setelah membayar, Andra kembali melajukan motornya menuju tempat kekasihnya, yang sudah mulai antri untuk absensi karyawan yang akan pulang. Seperti biasa, Andra akan menunggu Gita di bawah tiang listrik tempatnya bekerja. Terlihat Gita yang baru saja keluar dengan tertawa ringan bersama Oncom. Kaos hitam, Celana skaters yang seharusnya digunakan oleh laki-laki, rambut pendek ala laki-laki dengan wajah yang lelah yang terlihat oleh Andra. Tetapi tetap tersenyum manis ketika berjalan bersama teman-temannya. "Beh! NU boga kabogoh mah beda. Aya NU ngajemput," ledek Oncom begitu ia dan Gita sampai di depan Andra. "Sirik wae maneh mah," balas Andra sebisanya. Logat Sunda Andra membuat Oncom tertawa karena menurutnya tidak pantas. "Tihela lah, Git." "Heuh, NU Hade di jalan na, bisi aya ambulan," ujar Gita yang membuat Oncom berlari mengejar temannya yang lain karena takut. Oncom memang sangat takut jika mendengar suara mobil ambulans. Oncom akan berjongkok dan menutup telinganya jika mendengar sirine ambulan. Katanya ia akan langsung terbayang mayat yang sudah dibungkus kain kafan jika mendengar bunyi ambulan. karena di daerahnya dulu, ambulan hanya akan terdengar jika membawa jenazah. Gita dan Andra tertawa pelan melihat hal itu. "Tampilan aja metal, sama suara ambulan aja takut," ledek Andra. "Langsung pulang?" tanya Andra. Gita mengangguk. badannya sudah sangat lengket karena keringat, Gita ingin segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya. "Mau makan apa?" tanya Andra setelah menarik gas perlahan. "Kok lu wangi banget sih?" bukannya menjawab Gita malah bertanya dengan wangi tubuh Andra yang tidak seperti biasanya. Tubuh Andra selalu wangi dan segar. tetapi kali ini Gita mencium wangi yang berbeda. "Pake parfum dikit tadi," jawabnya jujur. "Lu mau makan apa? belom makan, 'kan?" tanya Andra lagi. "Makan apa ya yang enak?" Gita balik bertanya. "Sate mau?" Andra menawarkan makanan kesukaan Gita, yaitu sate ayam. "Bang Heru jam segini belom dateng," jawabnya yang sudah mengetahui jam mangkal Abang sate langganannya. "Gak harus sate Bang Heru, 'kan? di jalan yang mau ke pantai indah kapuk ada tukang sate yang enak, mau gak?" tanyanya memastikan terlebih dahulu. karena Gita tipe orang yang tidak akan memakan makanan yang menurutnya tidak enak. Gita rela menahan rasa lapar daripada tidak sesuai dengan lidahnya. "Udah malem, Ta. Badan gue lengket banget, pengen mandi. Nunggu Bang Heru aja," putus Gita pada akhirnya. "Ya udah, Lu mandi gue beli satenya ntar." Mereka Sampai di kontrakan Gita setelah menempuh 10 menit perjalanan, lagi-lagi karena macet yang membuat perjalanan sedikit terlambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN