Rasa Iba

1171 Kata
Setelah memarkirkan motornya Andra berjalan ke arah depan Gang untuk membeli sate. Sedangkan Gita langsung menuju kamarnya untuk mengambil peralatan mandi. Jika malam hari hanya membutuhkan waktu lima menit bagi Gita untuk ritual mandinya. Andra datang dengan membawa satu bungkus sate ayam, melihat Gita yang telah berganti baju, juga wangi sabun dan shampo yang dipakainya begitu segar, walaupun dengan merk biasa, tetapi bagi Andra begitu harum dalam penciuman Andra. Semua yang ada pada diri Gita memang selalu membuat Andra suka. "Tumben cepet?" tanya Gita yang membukakan pintu untuk Andra. Tapi jangan pikir mereka akan berada di dalam kamar berdua, mereka makan di depan kamar yang sebenarnya jalan untuk para pengontrak yang lain. "Gak ngantri, baru dateng katanya," jawabnya dengan membuka bungkus sate. "Lu beli berapa? banyak amat?" Andra membeli dua porsi yang dijadikan satu. Sate ayam yang diberi lontong. "Biar makan lu banyak, kurus banget sih," jawabnya asal. "Serah lu deh." Andra tersenyum senang ketika Gita tidak lagi protes. "Si Lemes ke mana? di bawah gak ada, konter juga tutup?" tanya Andra. "Lagi pergi kali, tadi mah masih buka sih," jawab Gita. "Ya udah makan dulu." Andra menyodorkan sate yang telah di aduknya. "Gak diracun, 'kan?" canda Gita. "Gue kasih racun tikus dikit doang." "Mati dong gue?" "Mati mah kaga, paling cuma pingsan doang, kalo lu pingsan 'kan bisa gue bawa kabur." "Mau lah gue kalo gitu mah, asalkan ke Swiss gitu kaburnya." "Lu mau ke Swiss?" tanya Andra serius "Mau lah," jawab Gita semangat. Gita kira Andra hanya bertanya dengan candaannya. "Lu izin kerjanya seminggu aja. Biar gue siapin semuanya, ntar kita liburan bareng sama Anak Onta juga." Gita lupa ia berbicara dengan siapa, Gita masih sering lupa tentang siapa Andra sebenarnya. "Gak bisa gue, lagian gak bakalan di izinin juga." "Kalo gitu berenti aja kerjanya. kalo buat izin, ntar gue yang urus," balas Andra santai. "Enak aja!" seru Gita. Andra sudah menebak akan semua keputusan Gita. Jika gadis lain akan dengan senang hati menerima tawaran Andra, tetapi Gita akan langsung menolaknya. Sate sebanyak 20 tusuk telah habis, Andra hanya memakan lima tusuk beserta lontongnya, sedangkan Gita lebih banyak memakan satenya. "Besok libur, 'kan?" tanya Andra setelah merapikan bungkus sate. "Suruh lembur sih, tapi gue milih libur, badan cape banget." Gita yang merasa lelah karena satu Minggu ini selalu pulang malam. "Ya udah besok gue jemput ya, kita jalan-jalan, sama Anak Onta juga." Andra akan mengajak Gita ke suatu tempat yang akan merilekskan tubuhnya. "Mau ke mana?" tanyanya penasaran. "Nanti juga tau," jawab Andra penuh teka-teki "Gue gak mau ke tempat yang aneh-aneh ya?" "Kaga aneh, Kak. Paling serem," jawab Andra yang membuat Gita menolaknya. "Kaga mau gue, pokoknya kalo gak jelas tujuannya gue gak mau ikut." "Pokoknya ke tempat yang buat badan dan pikiran tenang." Andra memberikan clue pada Gita. "Jam berapa?" "Abis dzuhur aja." "Ya udah, berarti besok jangan ganggu gue ya sampe jam 11. gue mau tidur aja soalnya." Gita sudah merencanakan hari liburnya akan dihabiskan dengan merebahkan diri. Chika si pengganggu kecilnya ternyata pergi berlibur ke daerah puncak bersama orang tuanya. "Tong, Lu udah makan belom?" Unang tetangga kontrakan yang di panggilnya dengan sebutan Bapak, laki-laki berusia 42 tahun yang selalu memperhatikannya. Kamarnya berada di bawah kamar Gita. Kamar yang menjadi tempat nongkrong Gita dan tetangga kontrakan lainnya. "Udah Pak," jawabnya dengan melongok kan kepalanya di pinggiran tangga. "Turun yuk," ajak Gita pada Andra. "Hayu." Mereka turun bersama menuju kamar Unang. Kamar yang diisi tiga orang. Setiap malamnya Gita berada di sana bersama yang lain. Kamar yang dijadikan basecamp untuk para pengontrak. "Hayang, Pak." Gita menyomot nasi goreng milik Unang. "Emang masih laper?" tanya Andra. "Dia mah bukan laper, tapi emang kewajiban kalo kita makan ya kudu makan," jawab Mang Unang. "Kebiasaan," seru Andra dengan menarik baju belakang Gita. "Apa sih, Ta?" tanya Gita kesal. "Kalo masih laper belilah nasgornya," perintah Andra. "Gue gak laper, cuma rugi aja kalo gak nebeng," jawabnya santai. "Dasar aneh." "Bodo amat," balas Gita cuek. "Lu mah pacaran kebanyakan berantem," celetuk Mang Unang tiba-tiba. "Dianya ngajakin ribut Mulu," jawab Gita. "Mana ada." "Gua kawinin juga lu berdua," seru Mang Ujang. "Wah ide bagus tuh Mang," balas Andra semangat. "Enak aja," timpal Gita. Mereka membicarakan banyak hal, dari mulai musik hobi dan banyak lainnya. Andra menceritakan club sepak bola favoritnya yaitu Manchester United sedangkan Mang Unang dengan si ungu Fiorentina. Andra bercerita banyak hal tentang bola, salah satunya hobi dia yang bertaruh bola. Mang Unang sesekali menasihati dan tak jarang juga mengagumi. Ia berkata mungkin saja dirinya akan sama seperti Andra jika mempunyai banyak hal. *** Sedangkan para Anak Onta lainnya kini sedang berada di rumah Kenn di kawasan Pantai Indah Kapuk. Komplek perumahan elit yang view nya langsung menghadap pantai. Mereka sedang bermain biliar. Orang tua Kenn merupakan seorang pengusaha, perusahaannya bergerak di bidang peralatan teknik dan pertukangan yang berpusat di Jepang. Rumah pribadi milik Kenn yang didesain sesuai keinginannya. Rumah dua lantai yang dibangun di atas tanah seluas satu hektar persegi. Dinding lantai atasnya terbuat dari kayu jati yang di cat berwarna coklat mengkilap. sedangkan bagian lantai bawahnya berdinding tembok dengan warna yang sama. Dari enam anak Onta, hanya Hendrik yang tidak mempunyai rumah pribadi. karena di antara Anak Onta, Hendrik berada di urutan paling bawah. Orang tua Hendrik bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, memiliki jabatan sebagai manager pemasaran. Di Jakarta Hendrik tinggal bersama paman dan bibinya, Hendrik bisa bersekolah di sekolah internasional karena beasiswa dari hasil otak cerdasnya. "Si Onta besok ngajakin pergi." Wildan menyampaikan pesan yang dikirim Andra padanya. "Ke mana?" tanya Getta. "Gak bilang ke mananya, dia cuma bilang ke tempat yang bisa bikin badan dan otak fresh aja," jawabnya dengan menyodokkan stik biliar pada bola. "Sama si, Kakak?" tanya Kenn. "Kayaknya. Soalnya 'kan satu Minggu ini dia pulang malem terus," jawab Wildan. "Masih kecil udah kerja, pulang malem terus lagi." Sama seperti Andra dan yang lainnya, Memikirkan Gita yang masih di bawah umur sudah bekerja, dengan postur tubuh yang kecil ditambah harus pulang malam, membuat mereka selalu tidak tega. Tapi Gita tidak pernah mau jika diberi barang apapun. Gita selalu berkata Dia bisa usaha sendiri jika mau. "Namanya juga hidup, kita bukannya gak mau bantu dia. Tapi gimana lagi, dianya yang gak pernah mau nerima bantuan dari kita," sambung Getta membalas omongan Rian. "Gue mau nawarin dia kerja di rumah gue, bantu-bantu Mbah Elah, tapi takut dianya kesinggung. takut si Onta marah juga," ujar Rian. Rian memang sempat berpikir untuk menjadikan Gita sebagai asisten di rumahnya. Setidaknya bekerja hanya seminggu tiga kali, tetapi gaji tetap full. "Gak bakalan mau dan gak bakalan di bolehin juga sama si Onta," timpal Wildan. "Nah itu dia. Si Kakak gak bakalan mau kalo kerjanya cuma nyantai tapi gajinya Full. kayak gak tau dia aja," sambung Kenn. Gita memang aneh menurut mereka semua, hal itu yang membuat mereka semua begitu menghargai dan menyayangi Gita, walaupun pertemanan mereka baru berjalan satu bulan. Gita juga bukan tipe cewek gampangan yang dengan mudahnya akan ikut dengan laki-laki lain. Gadis tomboy tapi manis itu selalu membuat mereka heran dan terpesoan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN