Gita merealisasikan ucapannya, hari libur ia gunakan untuk tidur dan bangun di jam 11 siang. Semalam Andra memberi nya sesajen yang berbentuk makanan dan minuman. Andra membelikan minuman bersoda Satu botol yang berukuran satu setengah liter, Kacang dengan merk burung terbang dua pack besar, keripik kentang aneka rasa, cookies dan juga wafer.
Gita selalu menyebut itu sesajen nya di kala malam minggu, sebagai temannya begadang. Gita berkata, malam Minggu itu adalah pelampiasan dari malam-malam lainnya yang tidak bisa tidur malam. Maka dari itu, jika malam minggu Gita akan begadang sampai larut, bahkan kadang sampai pagi dengan para pengontrak lainnya di kamar Mang Unang.
Andra pun merealisasikan ucapannya yang akan menjemput Gita setelah dzuhur. Jam yang sudah memasuki waktu dzuhur membuat Gita harus keluar kamarnya. Gita berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi Gita langsung berwudhu untuk melaksanakan ibadahnya.
Jam yang menunjukan pukul satu siang hari membuat Gita harus segera bersiap, sebentar lagi mungkin Andra akan datang, karena tadi Andra berkata sedang bersiap-siap untuk menjemputnya. Seperti biasa Gita akan memakai kaos, kali ini bermotif salur berlengan panjang, celana jeans berwarna hitam dan sepatu berwarna putih. Rambut yang dikuncir menyerupai ekor kuda, wajah polos tanpa make-up apapun, bahkan untuk sekedar memakai lipbalm pun tidak, membuat wajahnya terlihat pucat yang tidak dipedulikan olehnya. Menyimpan dompet yang berisi beberapa lembar uang dan juga kartu pelajar sebagai identitas, karena umurnya yang belum 17 tahun, jadi Gita masih menggunakan kartu pelajarnya.
Onta 1 memanggil.
Terlihat nama Andra di layar handphonenya. Gita menebak Andra pasti sudah sampai dan menunggunya di bawah. Gita tidak menjawabnya, melainkan langsung turun dan menghampiri Andra.
"Pak, pergi maen dulu ya," izinnya pada Mang Unang. Karena Yola tidak ada, maka dari itu Gita izin pada Ujang yang merupakan Kakak angkatnya.
"Maen ke mana?" tanya Unang.
"Paling ke daerah PIK." Andra menjawabnya.
"Jangan pulang malem-malem lu," pesannya pada mereka berdua.
"Gak boleh malem-malem, tapi kalo pagi boleh ya?" canda Gita yang mendapatkan jitakan pelan dari Unang.
"Si pea, ya udah Mang Kita berangkat dulu ya, assalamualaikum." Unang hanya menjawab salam dan kembali masuk ke kamarnya.
sedangkan Gita dan Andra berjalan sampai ke tempat di mana mobil Andra parkir. Untuk pertama kalinya Andra membawa mobil, Andra tidak mau kekasihnya kepanasan jika harus menaiki motor di siang hari yang begitu terik seperti ini.
"Kita mau naek angkot?" tanya Gita yang lagi-lagi lupa akan siapa Andra.
"Angkot pribadi," jawab Andra.
Gita menepuk pelan keningnya ketika mengingat siapa Andra. Mereka sampai di samping hotel tempat Andra memarkirkan mobilnya. Honda jazz berwarna grey yang sangat mengkilap. Gita mengira jika mobil itu masih baru, dilihat dari tahun yang tertera di plat mobilnya. Andra membukakan pintu untuk Gita, setelah itu Andra berputar kembali untuk masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Pake seat belt nya, Kak." perintah Andra setelah ia memasang seat belt untuk dirinya sendiri.
"Gue gak bisa," jawabnya jujur. Andra mencondongkan tubuhnya ke arah Gita. "Lu mau ngapain, Ta?" tanyanya panik.
Karena Andra sengaja berhenti dengan jarak wajah yang hanya berjarak sekitar 10 centimeter. Dan mengambil tali seat belt nya dengan gerakan lambat. Andra begitu menikmati saat melihat wajah panik Gita. Terdengar bunyi klik ketika Andra selesai memasangkannya.
"Pasang seat belt lu, Kak. bahaya, ntarnya di tilang juga sama Polisi," jawab Andra dengan kembali ke tempat duduknya.
"Kirain gue lu mau macem-macem," ujar Gita yang memang was-was.
"Emang lu mikirnya gue mau ngapain?" goda Andra.
"Emang lu mau ngapain?" tanya Gita balik.
"Kalo gue mau cium lu gimana?" tanya Andra lagi.
"Silahkan kalo lu berani, resiko tanggung sendiri," balas Gita santai.
Gita ahli dalam bidang bela diri. Gita menguasai bela diri silat maupun tonjok-tonjokan ala anak muda. Semua keluarganya memang dilatih ilmu beladiri untuk menjaga diri sendiri. Tujuannya agar tidak mudah dilecehkan oleh para lelaki. Sedangkan Gita mengetahui para anak Onta nya hanya bisa ilmu tawuran ala-ala anak sekolah.
"Ngeri sekali, Neng?" tanya Andra dengan memicingkan mata.
"Kapan jalannya ini?" tanya Gita.
Andra mulai menjalankan mobilnya menuju rumah Kenn, karena mobilnya yang asli ada di sana, saat ini Andra membawa mobil milik Wildan. Karena mereka hanya akan membawa satu mobil, jika memakai mobil Wildan sudah bisa dipastikan tidak akan muat untuk tujuh orang. Walaupun muat tentu akan berdempetan, dan Gita pasti tidak akan mau.
sepanjang perjalanan mereka isi dengan obrolan ringan. Gita bertanya tentang aktivitas Andra selama seminggu ini. Karena sudah seminggu ini mereka tidak mengobrol panjang lebar via telepon. Andra yang mengerti dengan kelelahan yang Gita rasakan, membuatnya membatasi waktu ber telponnya.
"Seminggu ini lu ngapain aja?" tanyanya pada Andra.
"Kayak biasa, sekolah, terus sama anak-anak," jawab Andra.
"Ke Raja bola?" tebak Gita.
"Dua kali," jawab Andra jujur.
"Berapa duit?"
"Gak sampe 10 Rebu kok" jawab Andra, yang artinya tidak sampai sepuluh juta. itu kode dari mereka. jika menyebut seribu berarti satu juta, jika menyebut 10 ribu berarti 10 juta.
"Lu kapan mau berhentinya?" tanya Gita mencoba memastikan.
"Selama masih dapet transferan dan gak dicegah sama mereka (Orang tuanya) ya selama itu juga gue maen," jawabnya dengan tersenyum sinis. Gita hanya diam tidak bertanya kembali. Andra melihat raut kecewa di wajahnya.
"Gue pengen mereka merhatiin gue sama Putri, Gue pengen rasanya dilarang untuk suatu hal sama mereka. Bukan cuma ngasih duit, bukan malah ngebiarin dan bilang selama itu ngebuat gue seneng. Orang tua macem apa coba itu?"
"Ya harusnya lu bilang dong," saran Gita. "Mereka gak akan pernah tau apa yang lu mau kalo lu gak bilang."
"Orang bilang, kalo orang tua akan selalu tau apa yang diinginkan anaknya tanpa diminta. Harusnya mereka paham apa yang gue mau, karena dari semua tingkah laku gue, semuanya gak ada yang bener. harusnya kalo mereka ngerti, gue sama Putri butuh perhatian dan kasih sayang, bukan cuma duit dari mereka." Andra tersenyum sinis ketika menyampaikan itu semua. "Jadi selama mereka cuma ngirim duit tanpa mau nengokin gue sama Putri disini, selama itu pula gue bakalan pake duit kiriman mereka buat hura-hura. 'kan mereka kerja buat kesenangan gue katanya, gue seneng nya kayak gini ya lanjutin lah." Andra tersenyum lebar dengan pemikirannya sendiri.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di gerbang komplek rumah Kenn. 200 meter kemudian mulai terlihat pantai di sebelah kiri Gita. Gita menurunkan kaca mobil dan tersenyum ketika melihatnya. Pantai yang di sepanjangnya dibatasi oleh tembok semen untuk duduk menikmati suasana sejuk dan tenang. Komplek perumahan elit dengan penjagaan ketat. Andra membelokkan setir ke kanan, memarkirkan mobilnya di depan rumah berlantai dua bercat coklat kayu.
"Ini rumah, Kenn," ucapnya yang mengerti dengan kebingungan Gita.
"Ada orang tuanya dong?" tanya Gita.
"Orang tua Kenn di Ausi. Ini rumah dia pribadi," jawab Andra.
"Wadidaw!" seru Gita Ciri khasnya jika kagum.
"Yuk masuk."
Andra menarik tangan Gita untuk masuk ke dalam rumah Kenn. Begitu masuk keadaan rumah begitu sepi.
"Katanya pada disini? kok sepi amat?" tanya Gita heran.
"Paling lagi di atas, Lu tunggu disini, biar gue panggil dulu."
Andra menaiki tangga untuk memanggil para Onta nya. Ruangan billiard Memang kedap suara, itu dikarenakan mereka akan sangat berisik jika bermain. Gita duduk di atas sofa yang begitu empuk, menunggu Para Anak Onta nya dengan memandang takjub pada isi rumah Kenn. Seumur hidupnya baru kali ini Gita memasuki rumah semewah itu.