Merilekskan Tubuh

1268 Kata
Andra membuka pintu ruangan yang bertuliskan Billiard room tanpa mengetuk terlebih dahulu. Para Anak Onta yang sedang bermain menoleh ke arahnya kompak. "Si Kakak jadi ikut?" tanya Wildan. "Itu udah nunggu di bawah. Hayu berangkat," ajak Andra yang disetujui mereka semua. Mereka turun bersama, melihat Gita yang sedang celingukan menunggu mereka di atas Sofa. Gita yang mendengar derap langkah kaki dari arah tangga langsung menoleh, terlihat enam laki-laki berwajah tampan menuruni setiap anak tangga. Dipimpin oleh Kenn sang pemilik rumah. "Sorry, nunggu lama ya, Kak?" tanya Kenn setelah sampai di hadapan Gita. "Sampe lumutan gue nunggu disini sendirian," canda Gita yang membuat mereka terkekeh. "Emang mau ke mana sih?" tanyanya yang penasaran. Penampilan mereka seperti biasa, memakai kaos, celana jeans dan sepatu. "Ikut aja, ntar juga tau. Pokoknya dijamin bikin badan seger deh," jawab Getta penuh teka-teki. "Awas kalo ke tempat gak bener. Gue sleding lu semua," ancam Gita. "Takut amat sih. Hayu berangkat." Gita menunduk ketika Andra akan merangkulnya, membuatnya menjadi bahan tertawaan anak Onta yang lainnya. "Astaga, pelit banget punya pacar," gerutunya sambil berjalan. Mereka menuju mobil mewah berwarna hitam mengkilap, Andra melemparkan kunci pada Getta setelah memencet tombol pembuka kunci. Getta duduk dibalik kemudi, di sampingnya ada Kenn yang menemani. Di kursi belakang diisi oleh Rian, Hendrik dan juga Wildan. Sedangkan Andra dan Gita duduk di kursi tunggal bagian tengah. "Widih, berasa Kayak orang gedean gue bisa naek mobil begini, bisa sambil tiduran." Gita berseru dengan noraknya. "Mangkanya kalo diajak jalan-jalan itu jangan nolak mulu," celetuk Hendrik. "Gue 'kan orang sibuk, Ta. jadi gak bisa sering-sering liburan," jawab Gita asal. "Kalah Ibu Negara sibuknya sama lu Kak," timpal Rian yang diiringi tawa dari mereka. "Kurang lebih," balasnya sok. "Tutup mata lu Kak." Wildan mengeluarkan kain hitam untuk menutup mata Gita. "Ngapain tutup mata segala?" tanya Gita. "Kalo gak di tutup, ntar jalannya lu apalin, terus ke mana-mana sendirian lagi," jawab Andra. "Astaghfirullah." Gita beristighfar dengan kelakuan teman-temannya. 10 menit perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju. Andra menuntun Gita yang matanya masih tertutup oleh kain. "Ini dimana, Ta?" tanyanya lagi. Andra membuka penutup mata Gita. Gita mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Gita menoleh bingung ketika menyadari Anak Onta nya membawanya ke sebuah salon besar. "Kita mau ngapain ke salon?" tanya Gita bingung. "Buat massage biar badan lu seger," jawab Andra. Salon yang lengkap dengan panti pijat tapi bukan plus-plus. Salon milik salah satu teman Mamah nya. Salon yang biasa menangani artis dan para konglomerat. Dengan tenaga profesional yang akan mengetahui titik lelah para pasiennya. Andra juga akan meminta vitamin untuk Gita. "Ya elah, cukup istirahat dengan baik, Ta. Takut gue kalo ke tempat-tempat begini." Sebenarnya Gita lebih memikirkan biaya perawatannya. Walaupun itu semua sudah pasti ditanggung Anak Onta nya. "Jangan bawel deh, udah masuk aja." Getta langsung menarik tangan Gita untuk masuk. Sesampainya di dalam mereka langsung disambut oleh pemilik salon langsung. Tante Rena Andra menyebutnya. Tante Rena begitu antusias menyambut mereka semua. Wanita berusia 45 tahun dengan kulit yang masih sangat mulus dan begitu cantik. "Aduh, kalian ke mana aja, kok gak pernah kesini lagi sekarang?" tanyanya pada mereka. "Ini sekarang kita kesini, Tan." Andra yang menjawabnya. "Ada personil baru ya? namanya siapa Manis?" tanyanya pada Gita. "Gita," jawabnya dengan tersenyum canggung. "Tujuannya mau apa ini?" tanya Rena lagi. "Kalo mau ngacak-ngacak salon Tante boleh gak?" jawab Hendrik asal. "Hush, kamu ini. Tambahin modal jangan di acak-acak," balasnya dengan candaan. "Massage atau mau apa nih?" "Massage, Tan. Ini anak kecil kerja pulang malem terus, Kasih perawatan biar badannya seger." Andra mendorong bahu Gita pelan untuk mendekat ke arah Rena. "Gita aja?" tanyanya memastikan. "Kita juga," jawab Wildan. "Yang, mijit cewek 'kan, Tan?" tanya Gita memastikan. "Ya kalo kamu cewek, kalo mereka ya sama cowok juga," jawab Rena yang membuat mereka terkekeh. Mereka berjalan ke arah kiri di mana ruangan tempat pijat yang dilakukan oleh para tenaga ahli. Gita berjalan di samping Wildan dan juga Hendrik. Sampai di ruangan khusus pijat, Gita dituntun oleh salah satu wanita yang akan memijatnya. Sedangkan para anak Onta kembali berjalan ke tempat pijat khusus laki-laki. "Perkenalkan nama saya Herna, saya yang akan melayani Nona Gita disini. Mohon tunggu sebentar. Saya akan menyiapkan peralatannya. Selagi menunggu, silahkan ganti pakaian Nona dengan kain ini." Sapaan ramah dari pegawai tersebut hanya di balas dengan senyum dan anggukan oleh Gita. Sejujurnya Gita tidak suka hal seperti ini, ia tahu harga perawatan di salon sebesar ini tidaklah murah. Gajinya satu bulan pun belum tentu bisa membayar satu kali perawatan di salon ini. Gita selalu menyayangkan uang yang dikeluarkan para anak Onta nya. Karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari uang, bagaimana susahnya disaat tidak mempunyai uang. Maka dari itu mereka selalu dengan mudah dalam hal menghamburkan uang. Gita belum berganti pakaian sampai Herna kembali datang. Herna yang melihatnya hanya tersenyum. "Nona Gita," sapanya yang membuat Gita kaget. "Astaghfirullah, Mbak ngagetin aja!" serunya dengan mengusap dadanya. "Maaf, Nona. Silahkan bajunya diganti terlebih dahulu," dengan terus tersenyum ramah, Herna kembali meminta Gita mengganti bajunya. "Semuanya?" tanya Gita ragu. Herna mengangguk dan berkata, "Sisakan celana dalamnya saja." "Wadidaw! Tapi gak bakalan ada orang yang masuk, 'kan?" tanyanya khawatir. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup Gita menyambangi yang namanya salon. Selama hidupnya jangankan untuk hal massage, untuk urut saja Gita tidak pernah. Jika wanita lain akan potong rambut di salon, maka seumur hidup Gita hanya memotong rambutnya oleh tetangga rumahnya, Malah terkadang Gita akan memotong rambutnya sendiri tanpa bantuan orang lain. "Ini private Nona, selain nona dan saya, tidak akan ada orang yang masuk. Kecuali atas izin Nona," jawab Herna. Gita akhirnya menuruti perintah Herna, dengan perlahan membuka bajunya dan mengganti dengan selembar kain. Herna memaklumi tingkah Gita. Dia pun dulu dari kampung dan norak seperti Gita diawalnya. "Silahkan tengkurap di sana, Nona." Gita menuruti perintah Herna untuk tidur secara tengkurap di atas kasur kecil yang ternyata empuk. "Tolong jangan panggil saya Nona, Mbak. Panggil aja Gita." Kuping Gita terasa gatal setiap kali mendengar Herna menyebutnya dengan kata Nona. "Baik, Mbak." Patuh Herna. Herna memulai pekerjaannya, dimulai dengan menuangkan minyak ke telapak tangannya, dan mulai mengaplikasikan pada tubuh Gita. Gita merasakan pijatan lembut di bahunya. Dan diteruskan ke seluruh tubuhnya. Nyaman tenang dan segar yang Gita rasakan, apalagi ketika Herna memijat bagian leher, bahu dan kakinya. Karena bagian itu yang paling terasa pegal. Gita mengira awalnya akan sakit seperti diurut. Tetapi ternyata sangat nyaman. Sentuhan yang merilekskan tubuhnya perlahan membuat mata Gita kembali meredup. Gita berusaha untuk menahannya, Gita tidak mau terlalu terbuai dengan pijatan. "Abis ini udah 'kan Mbak?" tanya Gita yang sengaja untuk menghilangkan rasa kantuknya. "Belum, Mbak. Setelah ini Mbak Gita akan saya lulur menggunakan lulur terbaik yang kami miliki, yang berfungsi untuk menghaluskan dan mencerahkan kulit." Herna menjelaskan treatment selanjutnya. "Gak usah Mbak, Saya mau pulang aja." Gita langsung menolaknya. "Semua itu bagus untuk kulit, Mbak. Selagi ada kesempatan untuk memanjakan tubuh gunakan dengan baik." Herna mencoba menasehati. "Saya takut kebiasaan, Mbak. Saya 'kan gak punya duit," jawab Gita jujur. "Mas Andra sama yang lainnya itu anak konglomerat Mbak. Untuk hal kayak gini cuma uang receh buat mereka," balas Herna. "Kan Anak Onta yang anak Konglomerat Mbak. bukan saya," tegas Gita. "Mbak bisa di ajak sama mereka ke sini berarti Mbak itu tanggung jawab mereka, mereka itu royal Mbak." "Mbak kayaknya kenal banget ya sama mereka?" "Saya hanya sekedar tau selintasan dan yang saya rasakan. Soalnya kalo keluarganya ke sini dan treatment mereka ngasih uang tips nya lumayan buat orang kayak saya." Gita hanya mengangguk-anggukan kepalanya, karena jika masalah uang mereka memang royal bahkan sangat royal. Entah berapa uang jajan mereka perharinya. Gita tidak mau memikirkannya, Gita takut otaknya tidak sampai jika memikirkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN