Gita keluar terlebih dahulu setelah semua treatment yang dijalaninya selesai. Gita merasakan tubuhnya begitu enteng dan juga segar, lelah di tubuhnya seakan menguap terbawa pijatan lembut dari Herna. Kulitnya pun terasa lebih halus dengan lulur yang dipakainya tadi.
Gita berjalan menuju bagian depan untuk melihat apakah para Anak Onta nya telah selesai, sampai dibagian depan ternyata Gita tidak menemukan Anak Ontanya. Gita menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan mereka.
"Permisi, Mbak. Anak Onta pada di mana ya?"
Kedua resepsionis itu saling pandang mendengar pertanyaan Gita. Gita sadar akan pertanyaannya yang membingungkan. Gita menepuk keningnya pelan.
"Maksud saya Andra sama yang lainnya." Kedua resepsionis itu tersenyum setelah mengetahui siapa yang ditanyakan oleh Gita.
"Mas Andra belum selesai dipijit nya, Mbak. Paling sebentar lagi," jawab salah satu yang berambut panjang dengan tersenyum cantik.
"Oh! Saya nunggu di mana ya?"
"Silahkan menunggu di sofa sana, Mbak." tunjuk nya menggunakan ibu jari pada salah satu sofa tunggu yang ada di pojok kanan.
"Saya ke sana ya makasih, Mbak."
Gita pergi menuju sofa, duduk di sana dan bingung akan berbuat apa. Gita mengeluarkan handphone kecilnya dan mengirim pesan pada Andra, memberitahunya bahwa ia telah selesai. Setelah pesan terkirim Gita mengambil majalah yang ada di atas meja, membukanya dan melihat-lihat wanita-wanita cantik dengan gaun yang terbuka dan juga indah.
Para Anak Onta nya datang dan menghampiri Gita, Andra duduk disebelahnya dan bertanya,
"Lu gak tidur, Ayy?"
"Gak," jawab Gita singkat.
"Padahal kalo tidur enak banget tau," balas Kenn.
"Gue takut bablas," jawab Gita yang memang takut akan kebablasan jika dirinya tertidur.
"Gimana badannya? Seger gak?" tanya Getta.
"Seger, enteng, kulit gue tadi dikasih lumpur, sekarang jadi alus weh." Gita bercerita dengan antusiasnya. "Eh tapi pasti mahal ya?" Gita tahu pasti mahal.
"Murah kok," jawab Andra.
"Murah buat lu mehong buat gue," balas Gita.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Rian dengan menirukan suara film kartun anak-anak yang berjudul Dora The Explorer.
"Tanya peta, tanya peta," jawab Getta sama.
"Makan yuk, laper gue."
Setelah badan segar saat ini perut mereka yang terasa kosong, Hendrik yang tidak suka menunda makan langsung menyerukan bahwa cacing di dalam perutnya berdemo ria.
"Mau makan apa?" tanya Andra pada Gita.
"Pizza yuk," sela Wildan sebelum Gita menjawabnya. Wildan memang si penggila makanan khas Italia itu.
"Gue nanya cewek gue bangke!" seru Andra pada Wildan.
"Kamu gitu ya sekarang sama aku, Oke kita putus!" ucapan Wildan membuat mereka semua tertawa.
"Ngeri gue sumpah," balas Andra. "Mau makan apa?" tanyanya lagi pada Gita.
"Apa aja deh," pasrah Gita.
"Ya udah hayu makan Pizza." Wildan kembali menjawab dan pada akhirnya mereka menurutinya.
"Tan, kita pergi dulu ya. Makasih buat perawatannya," pamit Andra pada tante Rena
"Oke sama-sama. Hati-hati di jalan, sering-sering dong kesini nya."
Setelah itu mereka keluar dan berjalan menuju mobil, dengan formasi yang sama seperti tadi. Getta melajukan mobilnya ke restoran yang menyediakan Pizza, cukup lima menit Getta kembali membelokkan setir menuju restoran yang akan membuat perut mereka kenyang.
Turun satu persatu. Andra menggandeng lengan Gita, mereka berjalan masuk secara bersamaan. Sapaan hormat dari seluruh pegawai membuat Gita canggung. Gita tidak pernah ke tempat seperti ini.
"Mau makan apa, Ayy?" tanya Andra.
"Apa ya?" bertanya balik karena bingung.
"Mau Pizza?"
"Emang kenyang makan Pizza doang? Makan tuh nasi," jawab Gita yang taunya jika makan itu harus nasi. Makanan selain nasi menurutnya itu disebut dengan camilan.
"Cobain dulu, Kak. Ini enak loh," saran Wildan yang sudah memilih satu loyang Pizza dengan topping lengkap.
"Roti bantat gini apa enaknya sih?"
Mendengar ucapan Gita yang mengatakan roti bantat membuat mereka melongo.
"Roti bantat?" tanya Hendrik aneh.
"Iya, gue pernah beli sama si Oncom. Bantat serius," jawabnya penuh percaya diri.
"Lu beli di mana?" tanya Rian penasaran.
"Di abang-abang yang di mau ke tempat kerja gue itu, di depan SD Pagi empat rebuan."
Tempat kerjanya yang melewati depan sekolah dasar memang banyak terdapat penjual makanan. Gita dan pekerjaan lainnya sering membeli sarapan di sana.
"Astaga, Kak! Ini gak bantat serius, ini rotinya lembut. Lu cobain dulu deh," tutur Wildan yang tidak habis pikir dengan pizza seharga empat ribu rupiah.
Andra sendiri takjub dengan pikiran kekasihnya, Gita selalu jujur dan tidak pernah gengsi. Apa yang ada di pikirannya selalu ia tanyakan jika memang ia tidak mengetahuinya, tidak pernah sok pintar dan sok tahu. Itulah yang membuat mereka begitu mudah dekat dengan Gita.
"Oh gitu." Gita mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
Andra mengacak pelan rambutnya yang membuat Gita melotot akan kebiasaan Andra.
"Ya udah sekarang mau makan yang mana?"
"Kalo yang ditarik gak putus itu apa namanya?"
"Mozarella, ada Sosis Mozarella, ada Chicken Mozarella. Lu mau yang mana?" tanya Andra lagi dengan sabar.
"Gak mau yang itu, terserah lu aja deh."
Gita membayangkan jijik akan Pizza Mozarella karena keju yang elastis nya, Gita terbayang akan Ingus anak kecil membuatnya bergidik jijik.
"Yang ini, Ya?" Andra menunjuk satu loyang pizza ber topping lengkap. Gita akhirnya mengangguk setuju.
Andra memesan Pizza dengan topping lengkap sama dengan Wildan. tiga loyang Pizza, Kentang goreng, dan juga air mineral. Karena bagi Gita setelah makan harus minum air putih sebelum minum-minuman yang manis. Dan para Anak Onta nya hanya menuruti Gita tanpa protes, seberpengaruh itu memang Gita untuk ke enam remaja laki-laki itu.
"Kenyang ternyata."
Gita yang awalnya berpikir tidak akan kenyang jika tidak memakan nasi, sekarang malah perutnya terasa penuh hanya dengan dua potong Pizza dan beberapa kentang goreng.
"Perut lu 'kan kecil, Kak. Sok-soan bilang gak kenyang." Getta mengacak rambut Gita.
"Onta ih! Pada seneng amat sih ngacak-ngacak rambut gue?"
"Abisnya gemes," jawab Kenn.
"Oya gue mau nanya dong." Mendengar Gita akan bertanya mereka semua menoleh dan memandangnya serius, "Biasa aja kali, gak usah sampe begitu mukanya." Gita terkekeh sendiri melihat ekspresi para Anak Onta nya.
"Nanya apa?" tanya Getta.
"Kalo di tempat kayak gini, buat dibawa pulang ngomongnya gimana?"
"Diiket," jawab Wildan langsung.
"Serius lu?" tanya Gita tidak percaya.
"Serius, Kak." Kenn tertawa dengan ucapannya.
"Polos banget sih?" Andra mencubit pelan hidung Gita. "Take away."
"Gimana?"
"Mbak, Pizza nya take away 50." Wildan mencontohkan.
"Oh! Kirain gue beneran diiket bahasanya. Eh tapi 50 banyak amat buat siap?"
"Itu contoh, Sayang." Andra terkekeh lagi mendengar pertanyaan polos kekasihnya.
"Tapi gue gak bakalan mau sih kalo suruh beli sendirian, takut salah yang ada malu-maluin lagi."
Gita tidak mau jika suatu saat nanti dirinya harus membeli makanan atau apapun di restoran seperti yang saat ini ia tempati. Gita takut jika, dan Anak Onta nya juga tidak akan membiarkan Gita pergi membeli apapun sendiri disaat ada mereka.