Pengalaman Kerja

1235 Kata
Semua orang pasti akan berpikir bahwa seorang gadis berusia hampir 15 tahun lebih, yang bernama Anggita Purnama seperti mendapatkan durian runtuh, karena bisa berteman bahkan berpacaran dengan salah satu dari enam remaja itu. Karena mereka melihat dari segi fisik dan materi yang dimiliki enam remaja tersebut. Tanpa pernah mereka tahu bahwa Gita cukup merasa tidak nyaman dengan itu semua. Mereka dari kalangan atas sedangkan dirinya dari kalangan bawah yang begitu norak. Menaiki mobil sejenis Alphard saja baru kemarin dirasakan olehnya. Untuk pertama kalinya menaiki mobil mewah, Gita merasa dirinya seperti Orang. Walaupun sebenarnya Gita adalah Orang (manusia). Dalam lingkungan kerjanya, jika mereka melihat orang kaya, maka mereka akan menyebutnya dengan sebutan Orang dalam artian Orang Kaya. Setelah kemarin tubuhnya dimanjakan dengan pijat lembut dan menyegarkan, hari ini Gita kembali pada rutinitas setiap harinya. Berangkat bekerja dengan berjalan kaki bersama yang lainnya, Oncom belum masuk kerja, karena orang tuanya sakit dikampung. "Kemaren lu dari mana, Git?" tanya Nur, sepupunya. "Jalan-jalan aja," jawab Gita jujur. "Keren lu dijemputnya pake Alphard. Bukan Jazz lagi," seru Nur heboh. "Edas! Mantap lah," timpal Nung. "Atuh yang punya Angkasa." Gita tahu kemarin mereka melihatnya diantar menggunakan Alphard oleh Andra. Gita hanya tersenyum kikuk mendengar olokan teman-temannya. "Mending nikah muda kalo begitu lu, Git. Gak bakalan abis tujuh turunan delapan tanjakan itu hartanya," sambung Nung dengan bangganya. "Kok lu tau sih, Nung?" tanya Nur heran. "Kan gue yang ngenalin, Oneng!" jawab Nung. Mereka berdua begitu heboh membicarakan tentang Andra dan semua aset-asetnya. Sedangkan Gita hanya diam dan tersenyum ketika Nung menceritakannya. Nung sepertinya lebih mengenal Andra dengan baik. Karena memang sebelumnya Andra merupakan kenalannya melalui nomor iseng. "Beli sarapan dulu yuk," ajak Nur ketika berada di depan sekolah dasar. Di sana terdapat beraneka jenis jajanan untuk sarapan. Gita membeli satu loyang martabak ukuran kecil serta es s**u kacang kedelai untuk sarapannya nanti. Setelah membeli sarapan, mereka kembali berjalan. Tempat kerjanya berada di belakang sekolah dasar tersebut. Begitu sampai di tempat kerja, Gita langsung menuju loker tempat penyimpanan sendalnya. Masuk ke dalam dan menaiki tangga untuk menuju ke lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga Gita langsung menuju balkon, daerah kekuasaannya. Drttt….drtt… Handphonenya bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Onta Getta tertera di sana sebagai pemanggilnya. "Hallo, Ta?" "Hallo juga, Kak. Pagi." "Pagi juga, ada apa?" "Cuma mau nyampein pesen si Andra, kalo HP-nya lupa gak dibawa, lu kalo mau telpon ke nomer kita aja." "Oh…" "Bulet." "Kotak." "Sike, Hahaha." "Itu doang?" "Untuk saat ini cukup." "Sialan, Ya udah gue mau sarapan dulu. Lu gak mau, 'kan?" "MasyaAllah pelit sekali anda." "Hahaha. Ya udah salam buat semua Anak Onta gue." "Emak Onta. Yau dah dadah, semangat kerjanya, Tante." "Semangat juga sekolahnya, yang rajin ya belajarnya." "Siap, Tante." "Si Pea. Hahaha. Ya udah bay!" Gita memutuskan sambungan teleponnya, mengambil sapu untuk menyapu tempat kerjanya, walaupun sudah bersih, tetap saja ada debu yang menempel. Setelah rapi, Gita berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam, yang letaknya berada dekat dengan bagian buang benang untuk mencuci tangan. Setelan selesai Gita kembali ke balkon, membuka bungkus martabaknya dan juga air mineral. Gita mulai memakannya setelah membaca doa. Jam sudah menunjukkan pukul 07.50, 10 menit lagi waktunya bekerja. Gita mempersiapkan peralatan tempurnya. Membersihkan mesinnya sebelum digunakan, dengan cara menjahit pada kain yang tidak terpakai secara bolak-balik. Hal itu dilakukan untuk membuang minyak yang menempel pada sepatu jarum, yang akan mengotori bahan jahitannya. Mengambil tumpukan busa yang akan disatukan, memisahkan bagian kanan dan kirinya. Bunyi bell terdengar menandakan jam kerja sudah dimulai. Setelah membaca doa, Gita memulai pekerjaannya. Sistem kerja Gita berupa target per lusin, dalam satu polybag besar terdapat sekitar 10 lusin untuk busa jenis bra sport. Peraturan itu berubah semenjak satu Minggu kemarin, karena peraturan sebelumnya semua karyawan hanya menjahit kurang dari 15 lusin perhari. Dalam satu hari Gita bisa menjahit sekitar 25 sampai 30 lusin, tergantung keadaan mesinnya dan jenis busa yang dijahitnya. Biasanya busa yang telah disatukan akan diberikan kepada Oncom. Karena Oncom bertugas sebagai tukang potong jahitan Gita. Karena hari ini Oncom tidak masuk, maka pekerjaan Gita menjadi double, menjahit dan memotong. Kebetulan busa kali ini merupakan order bulan depan, jadi tidak diburu-buru, dan Gita bisa sedikit santai mengerjakannya. Waktu begitu cepat dirasakannya, Gita tidak menyadari bahwa sekarang sudah waktunya istirahat, karena bell telah berbunyi. Gita berjalan ke arah pojok untuk mengambil pesanan makanannya, yang berada di Teh Encop tukang jahit bagian jarum dua. Untuk makan siang Gita memang selalu memesan dari temannya yang juga sebagai penjual makanan. Gita tidak mau menyia-nyiakan waktu istirahatnya yang hanya satu jam, untuk naik turun dan mengantri di warteg seperti teman-temannya yang lain. Untuk hari ini makan siangnya tidak menggunakan nasi, melainkan hanya tiga butir telur balado. Bukannya sedang diet, Gita hanya terlalu malas makan nasi, dan terlalu hobi pada telur yang direbus. Dalam satu hari, Gita bisa menghabiskan enam butir telur rebus tanpa tambahan apapun. Hal itu yang selalu membuat orang-orang disekitarnya khawatir. Berat badannya tidak pernah mencapai angka 40 kilogram, membuat orang-orang meyakini bahwa itulah pemicu Gita yang memiliki badan berukuran imut. Karena bagi mereka, orang yang makan nasinya tidak teratur dan sedikit maka tubuhnya akan kurus seperti Gita. Gita kadang hanya tersenyum mendengar penuturan mereka semua. Seperti saat ini, temannya yang berjualan nasi sedang mengomentari kebiasaannya. "Lu mah gimana gak kurus Git, makannya cuma telor doang, emang kenyang?" tanyanya pada Gita dengan menyerahkan pesanannya. "Lagi males makan nasi, Teh. Ini juga kenyang, stok cemilan juga masih ada." jawabnya setelah membayar pesanannya. Gita memang selalu mempunyai stok cemilan, karena biasanya Gita lapar di jam-jam tertentu. Di tempatnya bekerja banyak para penjahit yang menjadi pedagang cemilan juga. Mereka juga menyediakan es batu dan juga minuman serbuk berbagai rasa. Hal itu untuk menghilangkan rasa kantuk. Asal tidak ketahuan oleh si Bos atau Kokoh, maka semuanya aman. Bosnya akan marah jika mengetahui ada yang makan sambil kerja, karena bos-nya takut bahan jahitannya kotor. Marah bos di tempat Gita bekerja tidak teriak-teriak ataupun menunjuk-nunjuk. Bos yang bernama Asiong itu hanya akan menegur dan mengomel seperti pada anak sendiri. Dan para karyawan yang di omelinya pun akan menunduk patuh mendengarkan ceramah dari si Bos. Setelah bos-nya turun, mereka akan tertawa karena ceramahan bosnya. Jika tidak di kejar waktu kirim, pekerjaan mereka memang sedikit santai. Setiap harinya, mereka bekerja dengan ditemani musik dangdut, genre musik yang paling disukai ibu-ibu. Jika Bos-nya sedang pergi dan sedang kumat gilanya, mereka akan berjoget bersama untuk beberapa menit. Hal itu berguna untuk menghilangkan stress akibat bekerja. Begitulah suasana di tempat kerja Gita, makanya walaupun diantara mereka ada yang sudah berumur 50 tahun lebih, mereka tetap energik. Karena suasana di dalam pekerjaan yang selalu membuat pikiran bahagia. Karena salah satu kunci sehat adalah jiwa yang bahagia. Banyak teman Gita yang langsung menikah begitu lulus sekolah, tidak merasakan susah senangnya dalam mencari uang, yang ada hanya pusing sendiri mengatur uang yang diberikan oleh suaminya dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Gita selalu menyayangkan hal itu, karena menurutnya mereka tidak mempunyai pengalaman. Pengalaman mereka hanya di dapur, sumur dan kasur. Tidak merasakan bagaimana saat dimarahi oleh atasan karena pekerjaan yang salah, tidak merasakan bahagianya saat melakukan hal gila bersama teman kerja, tidak merasakan lelahnya lembur demi kirim barang. Bukan tanpa alasan Gita berpikir seperti itu, karena ketika mereka mengadakan reuni sekolah, yang bekerja akan menceritakan bagaimana setiap keseruan dalam bekerja di bawah tekanan bos, sedangkan yang sudah menikah dan mempunyai anak hanya akan mendengarkan tanpa mengomentari, karena mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan Bos yang otoriter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN