Ide Balas Dendam

1351 Kata
Sheryl pergi dengan kekesalan yang menggebu di dalam hatinya, benar seperti apa yang dipikirkannya selama ini, bahwa sifat wanita yang sejak lima tahun lalu menjadi ibu tirinya itu hanya sebuah topeng untuk menutupi sifat aslinya. Hari ini wanita itu menunjukkan sifat aslinya, dengan cara membentaknya hanya karena ia tidak menjawab pertanyaannya. Sheryl tidak peduli, ia malah beruntung jika wanita itu marah padanya, artinya wanita itu tidak lagi banyak bertanya dan selalu ingin tahu tentang kegiatannya. Sheryl menunggu kedua temannya di depan gerbang dengan terus menggerutu karena menurutnya sangat lama, padahal belum ada lima menit ia menunggu dengan ditemani musik yang didengarnya melalui headset. Mobil yang dikendarai oleh Kimmy sudah sampai dihadapannya, Sheryl masuk di kursi bagian belakang. "Lama banget sih lu berdua?" tanyanya dengan kesal begitu masuk ke dalam mobil. "Lu nya aja yang gak sabaran," jawab Salsa cuek. "Kita mau ke mana sih?" tanya Sheryl penasaran. "Kita ke daerah yang adem-adem buat nenangin pikiran," jawab Kimmy dengan kembali menjalankan mobilnya. Ternyata Salsa dan Kimmy mengajak Sheryl ke daerah puncak, ke Villa milik keluarga Salsa. Menempuh perjalan kurang lebih lima jam karena macet, mobil yang dikendarai oleh Kimmy kini telah terparkir di halaman depan villa. Mereka turun secara bersamaan, menghirup udara yang disediakan alam yang masih segar dengan sedalam-dalamnya. Setelah dirasa cukup barulah mereka melangkah untuk masuk kedalam Villa. Salsa sudah menelpon Mang Sukra, laki-laki paruh baya penjaga villa miliknya, semua keperluan mereka selama dua hari di sana sudah disiapkan olehnya. "Sore, Bi." Kinah yang merupakan istri dari Sukra menoleh ketika mendengar sapaan anak pemilik tempat tinggalnya saat ini. "Sore, Non. Baru sampe? Mau minum apa?" tanyanya perempuan paruh baya itu secara beruntun. "Mau yang anget," jawab Salsa dengan mendudukkan diri di sofa. "Mau sekalian makan gak? Biar bibi siapin juga," tanyanya yang tidak mau bolak balik. "Nanti aja." Kinah pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman anak majikannya, sifat Salsa yang sulit di tebak membuatnya selalu berhati-hati dalam berbicara. Karena jika macan yang ada dalam tubuhnya sedang keluar, maka Salsa akan berkata dengan judes dan marah, itu istilah yang digunakan oleh semua pekerja yang ada di rumah Salsa. "Gue mau buat perhitungan sama tuh cewek Kampung." Sheryl membuka obrolan, setelah minum minuman yang disediakan Kinah. "Emang lu beneran udah putus?" tanya Kimmy lagi untuk memastikan. "Gue udah jawab tiga kali, Bodoh!" jawab Sheryl kesal. "Gue bilang juga apa, Kak Rian kemaren ngajak ketemu pasti buat lu nangis, gak percayaan sih jadi manusia. Ini malah dengan Pede nya bilang mau Candle light dinner," cibir Salsa yang memang sudah memperingatkan. "Gue 'kan cuma berusaha mensugesti diri aja dengan pikiran-pikiran Positif. Ini juga semua gara-gara omongan lu yang gak bener sih. Lu 'kan tau kalo ucapan itu doa," balas Sheryl dengan menyalahkan Salsa. "Si b**o! Malah nyalahin gue. Emang lu yakin ucapan gue bakal dikabulin sama Tuhan? Gue doa serius aja gak dikabulin apalagi cuma ucapan." Salsa bahkan nyaris sama seperti Wildan, yang tidak percaya akan Tuhan itu ada dan mengabulkan doanya, karena selama hidupnya ia hanya berdoa dan meminta agar orang tuanya menyayangi dan menganggap ada. Namun hal itu tidak pernah terkabul. Itu menurut pikirannya yang sempit dan tidak bersyukur. "Seenggaknya kan kalo lu gak ngomong begitu, dan diganti sama ucapan yang baik mungkin Tuhan dengerin, karena nambah satu tambahan doa." Kimmy menggelengkan kepala dengan perkataan kedua temannya yang sudah tidak beres menurutnya. "Udah berisik, ribut mulu lu berdua. Terus lu mau bikin perhitungan yang kayak gimana?" tanya Kimmy untuk menghentikan perdebatan keduanya. "Gue belom ada ide buat ngasih pelajaran sama tuh Cewek. Lu berdua ada ide?" untuk saat ini Sheryl memang belum memiliki rencana apapun. "Gak ada gue," jawab Salsa langsung. Otaknya justru saat ini sedang memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Getta. Salsa takut jika Getta juga akan memutuskannya. "Gue buntu," jawab Kimmy yang berpikiran sama dengan Salsa. Kimmy takut Gita meminta Hendrik untuk memutuskan hubungan dengannya. Kimmy yakin seratus persen jika Hendrik akan menurutinya, karena diawal mereka jadian pun Anak Onta sudah mengatakan jika mereka menjalin hubungan atas permintaan Gita, dan sampai detik ini sikap Hendrik masih sama, hubungan mereka hanya status tanpa arti. "Gak guna lu berdua," dengus Sheryl kesal. "Dih, Mbaknya waras? Patah hari ko nyalahin semua orang," cibir Salsa yang membuat Sheryl semakin kesal. Kimmy dan Salsa saling pandang ketika melihat Sheryl tersenyum miring dengan pandangan lurus ke depan, ekspresinya seperti sedang mengingat hal yang membuatnya bahagia. Sheryl memainkan ujung rambutnya dengan perlahan, gayanya seperti pemeran antagonis di sinetron yang sedang bicara dalam hati. Sheryl memang sedang membayangkan sesuatu yang akan membuatnya senang, oh lebih tepatnya ide untuk memberikan pelajaran pada Gita. "Gue punya ide," katanya tiba-tiba dengan menjentikkan jari, membuat Salsa dan Kimmy kaget dan memuncratkan air yang baru akan di telan oleh Kimmy. "Gue kaget, b**o!" seru Kimmy. "Baju gue basah, Pea. Jorok banget sih lu?" bentak Salsa dengan kesal. "Tuh, Si Pea!" tuduh Kimmy pada Sheryl. "Gue 'kan baru dapet ide," bela nya santai. "Ide apa sih lu?" tanya Kimmy kesal. "Gue tau apa yang harus gue lakuin sama tuh cewek kampung biar dia tau siapa gue, dan apa yang bisa gue lakuin." Sheryl membayangkan rencana yang akan dijalankan olehnya tanpa harus mengotori tangannya. "Apaaan?" tanya Salsa penasaran. "Sini gue kasih tau," perintahnya pada mereka berdua untuk mendekat. "Kaya sinetron lu, udah tau gak ada siapa-siapa, pake acara bisik-bisik segala," dengus Kimmy yang menurutnya Sheryl terlalu mendrama. "Bacot dih, tinggal nurut aja apa susahnya, heran." Mereka mendekat, Sheryl mulai menyampaikan semua idenya yang langsung ditentang oleh kedua temannya. "Gila lu," hardik Salsa dengan ide gila Sheryl. "Gak usah macem-macem. Lu tau siapa yang ngelindungin tuh cewek. Anak dari pemilik Angkasa Group dan yang lainnya." Kimmy tidak habis pikir dengan ide Sheryl yang sangat berbahaya. "Jadi lu berdua gak mau bantuin gue?" tanya Sheryl dengan tersenyum miring. "Gak!" kompak Salsa dan Kimmy menjawabnya. "Oke kalo Gitu. Gue juga bisa kok lakuin sendiri." Sheryl tidak peduli akan persetujuan kedua temannya, karena tanpa mereka berdua pun ia bisa menjalani rencananya sendiri. Sheryl hanya perlu mengeluarkan uang yang cukup lumayan untuk semua rencananya. "Gue saranin mendingan jangan, gue yakin ide gila lu malah jadi Boomerang buat lu sendiri. Bener kata Kimmy, liat siapa yang ngelindungin tuh cewek," saran Salsa yang tidak didengarkan oleh Sheryl. "Gue gak buruh saran lu, yang gue butuhin sekarang itu duit lu. Pinjemin gue duit," katanya tidak peduli akan nasehat Salsa. Tidak peduli siapa yang melindungi Gita, selama ia bermain rapi dan bersih, Sheryl yakin itu tidak akan menimbulkan masalah. "Gak waras lu! Pokoknya gue gak mau ikut-ikutan ya." Membayangkannya saja Kimmy tidak berani. Walaupun bar-bar dan terkenal dengan tidak tahu malu, Kimmy tidak pernah melakukan kejahatan apalagi sampai membahayakan nyawa seseorang. Membunuh nyamuk yang menggigit tubuhnya saja ia tidak tega, apalagi untuk mencelakakan seseorang, walaupun ia membenci orang itu. "Gue bilang gue gak butuh bantuan tenaga atau pikiran lu berdua, gue butuh duit buat semua rencana gue. Lu berdua tau sendiri gimana Bokap gue sekarang. Selama ada tuh Nenek sihir di rumah, duit gue di pangkas abis," tuturnya dengan kesal. Mengingat bagaimana uang jajannya yang menurun secara drastis, tidak bisa meminta tambahan sesuka hatinya, dan hal itu terjadi setelah kehadiran wanita yang saat ini menjadi ibu tirinya. Wanita pertama yang ia benci dalam hidupnya. "Gue mau ada catatan hitam di atas putih. Bukan gue perhitungan ya, ini cuma buat antisipasi gue yang gak ikut-ikutan rencana lu. Dan juga lu harus terangin disurat itu buat apa lu minjem duit ke gue. Dan jangan lu tulis buat ngebiayain semua rencana lu." Salsa memberikan syaratnya, ia tidak mau jika sampai Sheryl ketahuan dan menyeret-nyeretnya menjadi seorang dalang yang memfasilitasi segala rencana jahat Sheryl. Ya Walaupun jika dia memberikan uang dengan dalih pinjaman, itu sama saja dia yang memodali nya. Namun Salsa tetap tidak mau terlibat apapun, Salsa meminjaminya uang karena Sheryl butuh, itu alasannya. Maka dari itu Salsa mengajukan syarat seperti itu. "Bawel dih! Terserah lu mau bikin surat yang kayak gimana, yang penting gue butuh duit aja." Sheryl tidak peduli dengan syarat yang diajukan Salsa yang menurutnya terlalu berlebihan. Sheryl akan bermain serapi dan sebersih mungkin agar semuanya aman terkendali. Rencananya harus berhasil dan rasa sakit hatinya terbayarkan jika Gita celaka, rencana yang sempurna menurut Sheryl.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN