Keangkuhan Sheryl

1510 Kata
Jika pada siang hari ketika kerja di jam istirahat, Gita tidur dengan ditemani musik untuk mengukur seberapa lama ia tidur. Misalnya ia sedang mendengarkan musik dari grup band Green Day, ketika di pertengahan lagu musik itu sudah tidak terdengar lagi karena dirinya sudah masuk ke alam mimpi, dan ketika ia bangun lagu sudah berputar pada musik dari grup band Europe. Musik yang di bawah lagu Green Day yang berjudul 21 Guns sampai lagu Final Countdown milik Europe itu terdapat lima lagu, dan setiap lagunya memiliki durasi masing-masing tiga sampai empat menit, yang artinya Gita sudah tertidur selama kurang lebih 18 menit di jam istirahatnya. Cukup untuknya mengurangi rasa kantuk di kerjanya nanti. Musik bagi Gita bagaikan sebuah hipnotis, di mana jika dirinya tidak bisa tidur maka ia akan mendengarkan lagu agar matanya cepat tertutup dan masuk ke alam mimpi. Tak jarang hingga baterai handphonenya sampai habis karena musik yang terus berputar dan ia yang sudah di alam mimpinya. Seperti saat ini, Gita ingat terakhir ia mendengarkan lagu milik Gun's & Roses yang berjudul Don't Cry, dan entah sudah berapa lama ia tidur karena baterai handphonenya habis. Gita menyambungkan pada kabel charger, handphone menyala dengan hanya menampilkan gambar baterai berwarna hijau. Gita bangun untuk menuju kamar mandi untuk buang air kecil, ia yakin ini sudah tengah malam. Kesempatan baginya untuk melaksanakan sholat malam, karena jika tidak terbangun ia tidak akan melaksanakannya. Selesai dengan segala aktivitas malamnya Gita kembali melihat handphonenya yang sudah menyala, begitu banyak chat yang masuk terutama dari Sheryl. Tumben sekali pikirnya Cere satu itu mengirim chat padanya hingga 10. Tanpa perlu menebak sebenarnya, karena Gita tahu itu semua pasti isinya hanya u*****n kasar atas putusnya ia dengan Rian. Cere 1 : Puas lu? Kak Rian mutusin gue cuma gara-gara cewek tomboi kampungan kayak lu. Pesan paling atas sebagai kalimat pembuka, Gita tersenyum dan sudah bisa menebak disaat Rian mengatakan bahwa ia putus dan bebas, Cere satu itu pasti akan menyalahkan dirinya sebagai penyebabnya. Cere 1 : Gue bakal cari orang pinter buat buka semua guna-guna yang lu pake. Pesan kedua darinya dan masih banyak lagi u*****n kasar dengan menyebutkan nama-nama binatang. Gita tersenyum miring dan lebih mengabaikannya, terserah mau mengatainya dengan sebutan apa, yang pasti tugasnya sudah selesai sejak mereka pacaran, untuk masalah sikap para Anak Onta nya itu urusan mereka, karena ia sudah berusaha menghindari tapi tidak berhasil. Malah hubungannya dengan Niko harus berakhir karena mereka juga, walaupun ia bersyukur karena ternyata apa yang dulu dikatakan tentang Niko semuanya benar, bukan Gita yang mengalami, Gita hanya melihat video dari handphone Andra. "Ini cuma satu Cere yang ngehujat gue?" tanyanya pada handphone-nya sendiri. Karena biasanya jika salah satu dari mereka menghujat maka dua Cere berikutnya akan ikut menghujatnya. Tidak mau memikirkan hal tersebut Gita lebih memilih kembali melanjutkan tidurnya, jam baru menunjukan pukul tiga kurang, masih cukup untuk tidur dan bangun subuh nanti. *** Pagi hari yang cerah di hari Senin, hari yang selalu menjadi ketakutan tersendiri bagi sebagian orang terutama bagi karyawan. Karena biasanya senin pekerjaan sangat menumpuk, juga dianggap sebagai hari paling melelahkan, karena senin merupakan hari awal dalam aktivitas bagi para pekerja. "Dari senen ke minggu nunggu enam hari, kenapa dari minggu ke senen cuma sehari ya? Sungguh perhitungan yang tidak adil, gue masih pengen gagoleran," keluh Oncom ketika ia dan Gita berjalan kaki untuk menuju tempat kerja. "Sama kayak Januari ke Desember kudu nunggu 11 bulan. Sedangkan dari Desember ke Januari cuma satu bulan," balas Gita dengan sendu. Oncom menoleh saat mendengar perkataan Gita. Tumben sekali ia Ikut-ikutan mengeluh seperti dirinya. Biasanya Gita akan ceramah disaat Oncom mengeluh tentang segala aktivitasnya. "Aing edan kunaon sia miluan edan?" tanya Oncom yang mengira Gita akan mendengus seperti biasanya jika mendengar perkataan tidak masuk akal darinya. "Cape Aing jadi jalema waras bae," jawan Gita yang membuat Oncom mendengus. "Kamari sia jadi ngajak si Lemes?" Oncom kemarin tidak bisa ikut ke taman bermain, karena ia mendapatkan kunjungan dari kedua orang tuanya yang memang sedang ada kegiatan di Jakarta. "Jadi, isuk keneh ges hudang sibuk mukaan kado menang ti Anak Onta." "Wedew, mantep pasti isinya." Oncom membayangkan isi kado pemberian Anak Onta untuk Chika, yang sudah pasti bukan barang murah. "Ya gitu deh. Oh iya, Com. Gue punya gosip." "Apaan?" "Si Rian putus sama si Cere." Mendengar ucapan Gita membuat Oncom berseru senang. "Mantap! Rasain," katanya dengan kesal. Oncom memang sangat kesal pada para Cere yang banyak tingkah. "Gimana ceritanya?" Gita menceritakan semuanya, membuat Oncom mendengus kesal karena lagi-lagi mereka menyalakan Gita. Gita terlalu baik hati menurutnya, jika itu terjadi padanya sudah pasti ia tidak akan tinggal diam. Walaupun ketiga Cere itu dari kalangan atas, menurut Oncom Gita tidak perlu takut, karena ia mempunyai Anak Onta yang sudah jelas lebih kaya dari mereka bertiga. "Seneng amat lu?" tanya Gita heran. "Abis gue gedek sama mereka bertiga. Bengeut na pitaboken," jawabnya mengingat bagaimana kelakuan mereka bertiga. Obrolan mereka berhenti ketika sudah sampai di lantai produksi, Oncom berbelok ke arah kanan, sedangkan Gita keluar menuju balkon. Gita harus sarapan untuk menyediakan energi menghadapi jahitan yang sangat sulit, membuatnya kadang ingin menyerah. Untung saja orderannya hanya 15 lusin, Gita pernah menyampaikan keluhan pada Yola dan juga bosnya tentang jahitan yang cukup menguras emosinya, memintanya untuk diganti dengan yang lain. Namun Yola dan Bos nya Keukeh meminta agar tetap Gita yang mengerjakannya, dengan alasan supaya terus belajar, karena pengirimannya pun tidak diburu-buru. Gita hanya bisa menghela napas untuk itu, sudah lima hari dan Gita baru mendapatkan tiga lusin setengah spons yang berhasil dijahitnya. Selain karena susah, mesin yang digunakan pun kurang mendukung, jadilah pekerjaannya bertambah lama. *** Sheryl mengurung diri seharian di dalam kamar, bukan sedang menangis atau meratapi kandasnya hubungan asmara dengan Rian, ia hanya sedang malas untuk melakukan hal apapun termasuk sekolah yang sedang dalam masa try out sebelum ujian akhir. Sheryl tidak berhenti memaki pada bonekanya yang di anggap sebagai Gita kali ini. Kebiasaannya jika sedang marah atau benci pada seseorang, maka ia akan mengumpat, memaki, menghina bonekanya, seolah boneka itu adalah orang yang sedang ingin ia luapkan amarahnya. "Cewek kampung, udik, deso, kucel, gak tau diri," caci makinya pada boneka panda berukuran kecil. Boneka pemberian Ibu tirinya yang selama ini ia benci. Sosok yang selalu ingin tahu tentang kegiatannya, hal memuakkan bagi Sheryl. Tok...tok... "Sheryl, Sayang. Makan dulu, Nak. Nanti kamu sakit." Orang yang baru saja di bahas sudah terdengar suaranya, memanggil dengan lembut dengan kata-kata penuh sayang pada Sheryl. Sheryl tidak menghiraukannya, Sheryl selalu menganggap wanita itu munafik dan hanya mencari perhatian, apalagi jika di depan ayahnya. "Berisik, gue gak mau makan. Pergi!" usir nya pada Sang Ibu. "Kamu harus makan dulu Sheryl, nanti sakit. Mamah gak mau kamu sakit," balasnya dari balik pintu dengan lembut, tidak pernah sakit hati dengan semua kata-k********r Sheryl. Sheryl mendengus kesal, berdiri dari duduknya dan berjalan kearah pintu, "Gue bilang gak mau! Batu banget sih jadi manusia, bawa pergi makanannya jangan manggil-manggil gue terus," bentaknya dengan menepis nampan yang ada di pegangan Sang Mamah. Setelah itu ia menutup pintu dengan kasar dan kembali menuju kasurnya. Mamahnya hanya bisa menangis atas semua perbuatan anak yang selama ini dirindukannya. "Ngapain kali sok soan perhatian sama gue," gerutunya dengan memandang nanar pintu yang baru saja di banting nya. Menurutnya Sosok ibu sambungnya itu adalah sumber pembawa sial, di mana ia harus tersingkir setelah kehadirannya. Kedua orangtuanya bercerai setelah wanita itu datang dan menghancurkan keluarga bahagianya. Ayahnya sering marah-marah tidak jelas dan lebih mendengarkan pendapat wanita itu. Juga dalam masalah uang, yang kini lebih di kontrol oleh ayahnya atas saran dari wanita itu, membuatnya tidak bisa bebas dalam berbelanja. Hal itu yang membuat Sheryl membencinya dan meyakini bahwa rasa sayangnya palsu pada ayahnya terutama pada dirinya. Karena semenjak kedatangan wanita itu, kehidupan bebasnya direnggut paksa. Handphonenya berdering, nama Kimmy tertera di sana, dengan cepat Sheryl menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya. "Lagi ngapain lu?" tanya Kimmy tanpa sapaan. "Kesel, ngapain?" jawabnya dengan ketus. "Mau ikut gak?" "Ke mana?" "Refreshing." "Jemput gue, males bawa mobil." "Okay, bawa beberapa baju." Sheryl langsung memutuskan sambungan setelah itu, bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini Sheryl terlalu sibuk menahan kesal, sehingga ia tidak melakukan apapun selain marah-marah. 15 menit dengan ritual mandinya, mengambil ransel sedang untuk barang bawaannya. dua kaos lengan pendek warna putih, satu rok berbahan jeans dan celana jeans selutut dan semua keperluannya sudah masuk kedalam tas. Sheryl menggunakan kaos panjang dan juga celana jeans untuk saat ini, dan juga sepatu skate kesayangannya, sudah siap dengan semuanya, bergegas ia turun dengan membawa tas ransel juga sling bag tempat dompet juga handphonenya. Sheryl menuju meja makan, sebelum berangkat ia harus mengisi perutnya dulu. Mengabaikan Mamah tirinya yang sedang menonton televisi. "Mau kemana, Sayang?" tanya wanita itu. "Banyak tanya, berisik banget sih." Bukannya menjawab Sheryl malah membentak. "Kamu gak bisa sopan sedikit, Sheryl? Mamah tanya baik-baik," balasnya menahan emosi. "Ketauan juga 'kan Sifatnya. Mangkanya gak usah sok baik dan sok perhatian, urus aja aki-aki tua ATM berjalan lo." Rencananya untuk makan tidak jadi, rasa laparnya menguap dengan sikap sok baik dari Mamah tirinya. Sheryl memilih pergi keluar rumah dengan membanting pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN