Pulang dari acara kondangan mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran untuk memanjakan perut, karena tadi mereka hanya mencicipi eskrim sebagai bentuk kehormatan pada pemilik acara. Wildan memarkirkan mobilnya ke sebuah restoran mewah yang berada di kawasan Jakarta Timur, diikuti mobil Rian di sebelahnya.
"Bukannya makan pecel ayam aja," protes Gita yang melihat tempat makan yang akan mereka masuki.
"Tanggung, Kak. Lu telat ngasih taunya," balas Wildan yang sebenarnya sengaja.
Terlalu sayang menurutnya dengan penampilan Gita yang sudah sangat sempurna jika harus makan di pinggir jalan.
"Yuk," ajak Getta dengan memberikan tangannya untuk digandeng Gita.
Mereka makan dengan penuh kenikmatan, menu yang menurut Gita tidak mengenyangkan dengan rasanya yang tidak mengecewakan. Gita mendengus ketika melihat tagihan yang harus dibayarkan, membuatnya protes karena terlalu mahal, walaupun ia protesnya ketika di jalan.
Walaupun bukan ia yang membayar, tetap Gita protes, karena baginya mencari uang itu sangat susah. Sedangkan mereka dengan gampangnya mengeluarkan uang hanya untuk makanan yang akan di proses menjadi kotoran.
Hal yang justru membuat Anak Onta nya tertawa, karena ocehan dari Gita. Penampilan sudah sangat cantik dan begitu feminim dengan kebaya, tapi kelakuannya tetap tomboi ketika di mobil.
Ketika di acara kondangan dan di restoran tadi Gita begitu penurut dan sangat feminim, tapi begitu di mobil ia kembali pada sifat aslinya. Membuat Anak Onta nya kagum karena Gita sangat pandai menempatkan diri.
Anak Onta heran karena Gita begitu santai ketika memakai wedges yang memiliki hak yang cukup tinggi, hal itu untuk menyeimbangkan tingginya dengan para Anak Onta nya, walaupun hanya sebatas leher Andra jadinya. Mengingat bagaimana penampilan Gita selama ini, mereka pikir Gita tidak akan bisa memakai sandal tinggi seperti itu.
Setelah dari restoran mereka mengantarkan Gita pulang, karena besok Gita dan keluarga Yola akan merayakan ulangtahun Chika ke taman bermain.
***
Rian bernapas lega setelah dirinya bisa memutuskan Sheryl, selama enam bulan lamanya ia harus menahan segala kesal dengan tingkah gadis itu yang terlalu angkuh dan sombong. Apalagi Sheryl yang sering sekali memojokkan Gita, membuat Rian semakin tidak nyaman. Karena bagaimanapun Gita tetap menjadi prioritasnya dan juga Anak Onta.
Rasa sayang yang sangat sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata, mereka akan melakukan apapun supaya Gita merasa senang, termasuk ia harus menjalani hubungan dengan gadis manja seperti Sheryl.
"Go jomblo," serunya dengan mengangkat botol minuman soda ditangannya.
Malam ini mereka berkumpul tanpa Gita, karena hari ini Gita menemani Chika ke taman bermain bersama keluarganya yang lain, hari ini Chika ulang tahun.
Getta dan Hendrik mendengus mendengar seruan Rian, karena mereka berdua belum bebas dan belum memiliki alasan untuk bebas. Salsa dan Kimmy tidak terlalu angkuh seperti Sheryl.
"Segeralah cari masalah agar kau terlepas dari masalah," nasihat Rian yang membuat mereka tertawa.
"Cewek gue sih masih nurut-nurut aja, jadi gue belom ada masalah. Gak mungkin 'kan gue putusin sepihak tanpa masalah? Yang ada si Kakak lagi yang dipojokkin," balas Hendrik tanpa sadar akan ucapannya yang menyebutkan Kimmy sebagai kekasihnya.
"Cie... Cewek Gue bahasanya," ledek Andra yang membuatnya mendengus.
"Ya seenggaknya 'kan dia emang cewek gue, walaupun cuma status," belanya tidak mau malu.
Sikap Kimmy yang tidak pernah mencari masalah dan protes seperti Sheryl membuat Hendrik tidak mempunyai alasan untuk memutuskan hubungannya.
"Cie... Akhirnya punya cewek," ledek Wildan dengan mencolek dagu Hendrik.
"Geli Bege!" tepisnya dengan kesal, mereka kembali tertawa melihat Hendrik yang kesal.
"Gimana ceritanya lu bisa putus sama tuh Cere?" tanya Kenn yang di perhatikan oleh semuanya.
Rian menceritakan semuanya dari awal Sheryl datang dan semua ucapan Sheryl, membuat yang lain mendengus kesal, karena selalu menyalahkan Gita atas sikap Anak Onta.
"Anak siapa sih dia? Minta gue kasih pelajaran kali."
Andra ingin mengetahui siapa orangtuanya dan apa usahanya, Andra hanya ingin tahu, mungkin ia bisa bermain dengan kekuasaannya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Mau ngapain lu?" tanya Getta curiga.
"Pengen tau aja," jawab Andra acuh.
"Jangan main-main kekuasaan, ketauan si Kakak tamat lu," peringatan Rian membuat Andra mengedikkan bahunya pelan.
"Tergantung, klo cewek lu, eh salah mantan cewek lu itu ngelunjak ya gue maenin sekalian," jawabnya santai.
"Anjing bahasa lu. Udah kayak PK aja," seru Getta dengan sompralnya. Penjahat Kelamin
"Bahasa lu." Andra menoyor kepala Getta.
"Woi maen toyor aja kepala gue, tiga liter setengah ini."
Getta mengikuti perkataan Rian, Andra dan Gita jika kepala mereka di toyor.
"Apaan yang tiga liter setengah?" tanya Andra heran, "Zakat aja kagak," ledek Andra. Mereka tertawa mendengarnya.
"Zakat fitrah kayak lu," jawab Getta dengan cengiran.
"Emang lu tau artinya?" tanya Rian.
"Gak sih." Getta tertawa dengan jawaban polosnya. "Gue 'kan ngikutin lu," sambungnya lagi.
"Si Pea," balas Andra.
"Terus reaksinya gimana pas lu tinggalin tuh Cere," Wildan meneruskan pertanyaan untuk Rian.
"Ya mana gue tau, 'kan gue langsung pergi pas udah bilang lo gue end."
Rian memang langsung pergi tanpa kembali memalingkan wajahnya untuk melihat Sheryl. Selain karena ia dikejar waktu semalam untuk datang ke acara kondangan bersama Gita dan Anak Onta lainnya, baginya sudah cukup dengan beban yang di tanggungnya selama enam bulan terakhir, Rian sekarang bebas.
"Bahagia banget lu, kasian tau anak orang," kata Kenn yang sebenarnya meledek.
"Ya udah lu pacarin lah kalo kasian," dengus Rian.
Setelah itu mereka melanjutkan obrolan dengan semua rencana mereka. Rian benar-benar merasa lega atas hilangnya beban dalam hatinya. Mulai saat ini Rian akan fokus pada pendidikannya, tanpa mau berharap lagi pada Gita untuk perasaannya.
Rian sadar bahwa sampai kapanpun Gita tidak akan pernah membalas perasaannya, bukan hanya karena perbedaan kasta yang menjadi persoalan pertama, tapi juga karena perasaan Anak Onta yang lainnya. Karena perasaan Rian dan Anak Onta lainnya sama terhadap Gita, saat ini yang paling penting bagi Anak Onta adalah kebahagiaan Gita, yang berarti kebahagiaan mereka juga.
Karena bahagia yang sesungguhnya adalah ketika melihat Gita bahagia, apalagi jika mereka yang bisa menciptakan kebahagiaan untuk Gita. Itu sudah lebih dari cukup bagi para Anak Onta.
***
Gita sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur busa empuk yang baru sebulan menjadi penghuni baru kamarnya, kasur pemberian Andra, juga kipas angin dinding pemberian Wildan tanpa sepengetahuan Gita.
Gita ingat begitu ia pulang kerja di dalam kamarnya terdapat kasur busa dan juga kipas angin yang membuat kamarnya sempit. Tanpa perlu bertanya dari siapa barang-barang itu, karena setelah itu Chika datang memberitahukan semuanya.
Chika juga berkata jika dirinya dibelikan banyak makanan oleh om Getta. Gita sedang mendengarkan musik dari handphonenya dengan menggunakan headphone untuk merilekskan pikirannya.
Gita menyukai lagu-lagu barat, seperti grup band Gun's & Roses, Red Hot Chili Peppers, Stevie B, Scorpion, Avenged Sevenfold, Europe, Green Day, Michael Learns To Rock dan masih banyak lainnya.
Lagu yang sebenarnya tidak dimengerti artinya, lagu yang awalnya ia dengar dari kamar Unang yang sekarang menjadi lagu-lagu favoritnya.
Beberapa chat yang masuk diabaikan olehnya, tubuhnya kembali lelah karena sekarang ia dipindahkan ke bagian tim ekspor, Gita dipercaya untuk mengoperasikan mesih Obras kecil jarum satu yang disebut dengan Obras Neci oleh karyawan di sana.
Mesin yang tidak semua orang bisa mengoperasikannya. Walaupun bentuk dan cara menggunakannya sama seperti Obras biasa, tetapi dalam ukuran, ketelitian serta ke hati-hatian sangat di perlukan dalam mengoperasikan mesin tersebut. Karena jika sampai salah sedikit saja, apalagi sampai Spons nya terpotong, maka sudah bisa dipastikan bahwa bahan tersebut akan gagal dan tidak bisa digunakan kembali.
Yola hanya mempraktekkan dua kali pada Gita, karena ia pun harus mengajarkan bagian lainnya. Yola percaya bahwa adiknya bisa melakukannya. Di hari pertama Gita mengoperasikannya, Gita hanya mendapatkan satu setengah lusin, tapi bos nya begitu mengapresiasi Gita dengan kecepatan belajar dan juga kelihaiannya.
Ruangannya bekerja tetap berada di balkon, walaupun dengan pegangan mesin yang berbeda. Sekarang di area balkon ada tiga orang. Yani penjahit bagian karet d bagian jarum dua dipindahkan ke bagian Gita. Jahitan Gita pun memerlukan tempat yang luas dan bersih, dan hanya area balkon yang memadainya.
Musik di handphonenya berhenti dan berganti nada dering panggilan dari Anak Onta, tertera nama Getta sebagai pemanggilnya.
"Halo," sapanya dengan mengubah posisi menjadi tidur terlentang.
"Ngapain, Kak?" tanya Getta.
Gita menebak para Anak Onta nya sedang bersama, dan mereka sedang berada di luar rumah, karena Gita mendengar suara kendaraan.
"Tiduran sambil musrikan," jawabnya.
Mereka selalu menyebut musrikan yang artinya sedang mendengarkan musik.
"Pulang jam berapa tadi?" Itu suara Andra, Pasti Getta men-loudspeker panggilannya.
"Jam empat, Si Onta semalem jadi ketemu Ceweknya gak?" tanya Gita yang bermaksud pada Rian.
Kemarin malam ia tidak sempat bertanya karena terlalu gugup dengan kondangan ala orang kaya menurutnya.
"Jadi dong, udah bebas gue!" Rian menjawab dengan bahagia.
"Serius? Kok bisa?"
"Gak usah kaget, Kak. Lu tau kenapa gue bisa sampe pacaran sama tuh Cere. Sekarang tinggal menikmati kebebasan seperti dulu," jawab Rian.
"Eh Onta, di mana-mana yang namanya orang baru putus tuh galau, sedih. Nah, Lu, ngapa malah bahagia?"
"Au ah gelap." Gita tertawa mendengar jawaban Rian. "Oh iya, ya. Kayak si Onta di sebelah gue, diputusin sama Lu galaunya sampe dua bulan."
Andra mendelikkan matanya mendengar ucapan Rian, yang membuat mereka semua tertawa.
"Bangke!" serunya dengan melemparkan botol minuman kosong.
"Sabar, Nak. Ujian masih belum berakhir."
Gita mengeluarkan kata bijaknya yang membuat mereka semakin bahagia melihat wajah kesal Andra.
"Sungguh kau kejam, Zubaedah!" balas Andra.
"Zubaedah.. hah hah hah."
Mendengar balasan Andra, Gita malah menyanyikan lagu yang berjudul Zubaedah milik penyanyi dangdut ternama, Mansur S.
"Lu kepedesan, Kak?" tanya Hendrik polos membuat mereka lagi dan lagi tertawa.
Hendrik hanya mengetahui beberapa judul lagu, karena dalam hidupnya selalu berkutat dengan buku, kepolosannya terhadap lagu apalagi yang bergenre Dangdut selalu menjadikannya bahan olokan teman-temannya.
"Si Bege!" seru Getta, "Itu lagu dangdut, judulnya emang Zubaedah. Cuma karena yang nyanyi orang yang otaknya rada geser jadi ya gitu," jelas Getta yang membuat Hendrik ber-oh-ria.
"Siaul ngatain gue kurang waras. Gue bukannya kurang waras, Ta. Cuma kurang se-Ons aja, hahaha." Gita tertawa sendiri dengan ucapannya.
"Nah, 'kan dia ngaku," sela Kenn.
"Tidur, Kak. Udah malem," perintah Andra.
"10 menit lagi, tanggung satu lagu lagi ini. Onta gue yang dua kemana ini? Kok gak kedengeran suaranya," tanya Gita pada Wildan dan Kenn.
"Apa Sayang, kangen ya sama gue?" tanya Wildan.
"Oh masih idup, kirain udah gak."
"Si Bangke!" balas Wildan dengan tersenyum.
"Si Onta kemana?" tanyanya lagi yang ditunjukkan pada Kenn.
"Gak mau ngomong kalo gak di panggil, Sayang!" ujar Kenn membuat Rian yang duduk disebelahnya berseru.
"Uh, Sayang. Kenapa diem aja? Nahan kentut ya?" olok Gita yang membuat mereka tertawa lagi.
"Sue!" balas Kenn.
"Ya udah gue matiin ya, dadah semua, princess mau tidur dulu, I Love sagede Nyiru. Babay!"
"Love u to, have a nice dreams," dengan kompak mereka membalas kata cinta dari Gita.
Gita mematikan sambungan teleponnya, dan mendengarkan kembali musik yang langsung berputar otomatis. Lagu yang berjudul Hotel California milik The Eagles yang Gita tidak tahu artinya, yang penting enak di pendengarannya.