Putus

1772 Kata
Sheryl merebahkan diri di atas kasur dalam kamarnya, kakinya cukup pegal karena berkeliling Mall selama empat jam untuk mencari barang yang ia pun tidak tahu jenis apa, yang pasti hari ini ia ingin berbelanja dan menghabiskan sedikit uang. Membuka paper bag yang berisi barang belanjaannya, satu dress, satu snikers berwarna putih dari brand ternama. Snikers Sheryl hampir semuanya berwarna putih, hanya ada beberapa yang berwarna blue, hitam dan marun. Sheryl juga membeli aksesoris untuk kepalanya, seperti bando, jepit rambut, anting-anting lucu. Sheryl sangat suka memakai bando, koleksi bandonya hampir satu lemari penuh dengan berbagai jenis bando yang menurutnya lucu. Buayan dari hawa sejuk yang menyentuh kulitnya, juga kenyamanan kasur yang sedang meluruskan tulang punggungnya membuat mata Sheryl perlahan terpejam. Memasuki alam mimpi yang sangat menyenangkan dimana ia bertemu dengan Rian. Dalam mimpinya Rian begitu memanjakannya, begitu takut kehilangannya. Mimpi yang membuatnya tersenyum dalam tidurnya, sebelum Gita datang dan menarik tangan Rian untuk pergi. Sheryl terbangun dengan sangat kesal, bahkan di dalam mimpinya pun Gita hadir untuk menghancurkan kebahagiaannya, membuat mimpi Sheryl menjadi berantakan. Sheryl membenci Gita. "Cewek udik sialan," teriaknya frustasi dengan memukul-mukul bantal sebagai bahan pelampiasan kekesalan. "Di mimpi aja lu ngancurin kebahagiaan gue," geramnya dengan terus memukul bantal. Napasnya kembang kempis menahan marah, dadanya bergemuruh karena kesal, bertanya pada diri sendiri apa kurangnya ia. Sheryl bahkan tidak sudi jika harus dibandingkan dengan Gita. Setelah meluapkan amarahnya pada bantal, Sheryl merenggangkan kedua tangannya ke atas, tidurnya cukup nyenyak dengan mimpi yang indah, sebelum Gita hadir dan membawa Rian pergi. "Jam berapa sekarang," tanyanya entah pada siapa. Mungkin pada dinding kamar dengan menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri. Matanya bergerak melihat jam yang menempel dinding, seketika Sheryl melotot tak percaya dengan jarum yang sudah menunjuk pada angka enam lewat tiga menit. "Kak Rian ngajakin ketemu, mampus gue!" Dengan kekuatan super, Sheryl berlari kedalam kamar mandi. Mandi dengan cepat karena tidak mau pertemuan yang diartikan candle light dinner olehnya gagal. tujuh menit Sheryl sudah keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan tergesa, memakai baju yang baru dibelinya dengan cepat, memoleskan make-up untuk menambah kesan dewasa pada wajahnya, memakai Snikers yang juga baru dibelinya tadi siang. Jam terus berputar dan tanpa terasa hampir menyentuh angka delapan, Sheryl berlari kecil menuruni tangga hingga sang mama menegurnya. "Hati-hati, Sayang! Kenapa buru-buru gitu sih?" tanya Sang Mama yang tidak pernah di anggap olehnya, karena yang ia tahu itu adalah ibu tirinya. "kenapa gak bangunin sih? udah mau telat nih?" bukannya menjawab Sheryl malah membentak. "Mamah 'kan gak tau," bela sang Mamah. "Terserah! gak pulang jangan di tungguin." Tanpa menunggu jawaban dari sang Mamah, Sheryl pergi tanpa pamit seperti biasanya. Meninggalkan wajah sendu Ibu Tirinya yang menurutnya penuh drama. "Kapan kamu menganggap Mamah ini Mamah kamu, Nak?" lirih sang Mamah dengan kembali mengusap air matanya. Sudah sangat biasa Sheryl memperlakukannya seperti itu, tapi rasanya tetap sakit setiap kali Sheryl memperlakukannya seperti itu. Kesalahannya dalam mengambil keputusan membuatnya harus menanggung rasa benci dari anak kandungnya sendiri. Tanpa ingin berlarut dalam kesedihannya, wanita paruh baya itu memilih untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang desainer yaitu menggambar. Pekerjaan yang ia jadikan sebagai pelampiasan setiap kali sedih dan emosi menghampirinya. Sheryl berlari menuju mobilnya, masuk dengan tergesa dan langsung menyalakannya, melesat ke jalan raya berbaur dengan pengendara lainnya. Berharap tidak akan terjadi kemacetan di tengah waktu yang sedang dikejarnya. Jarak yang cukup lumayan jauh dari rumah menuju tempat yang telah di tunjuk oleh Rian, membuatnya beberapa kali mengumpat akan kebodohannya yang tertidur. Salahkan Salsa yang terlalu lambat dalam berbelanja tadi siang, juga salah kan ibu tirinya yang tidak membangunkannya, sampai kumandang adzan maghrib pun tidak terdengar olehnya. Walaupun ia tidak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai muslim walaupun panggilan dari masjid sudah menggema. "Gak usah macet bisa gak sih?" geramnya pada kemacetan yang membuat mobilnya harus jalan merayap. "Mana masih jauh lagi." Jarak yang harus ditempuhnya sekitar lima kilo meter lagi, jarak yang cukup jauh disaat seperti ini. Sambil menunggu mobilnya bisa kembali berjalan akibat lampu merah, Sheryl mengirimkan pesan pada kekasihnya melalui BBM. Bibeh : Kak, tungguin ya, jalannya macet. 15 menit lagi aku sampe. Sheryl meletakkan kembali handphonenya di atas pahanya setelah pesan yang dikirimnya terkirim. Mobilnya kembali bergerak setelah lampu lalulintas berganti hijau, menginjak pedal gas dengan sedikit dalam agar segera sampai ke tempat yang telah dijanjikan. Sepuluh menit mobil yang dikendarainya telah sampai di depan Kafe yang berada di kawasan Kota Tua, keluar dari mobil setelah memarkirkan dengan rapi. Sheryl kembali berkaca di spionnya untuk melihat penampilannya, setelah di rasa oke, Sheryl masuk dengan senyum bahagianya. Begitu masuk Sheryl melihat Rian yang sedang menunduk sambil tersenyum dengan tangan yang bermain di handphonenya. Sepertinya Rian sedang asyik membalas pesan entah dari siapa. "Hai, Kak. Maaf ya nunggu lama." Sheryl mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Rian. Rian mendongakkan wajahnya sebentar sebelum kembali fokus pada handphonenya. "Kakak udah makan?" tanyanya mencoba mencari perhatian Rian. Rian meletakkan ponselnya, menatap Sheryl yang malam ini menggunakan make-up yang cukup tebal untuk ukuran anak yang masih menggunakan seragam putih abu-abu. "Langsung aja, gue gak suka lu sama temen-temen lu selalu mojokin si Kakak. Dia udah baik banget mau ngebantu lu bertiga buat ikut kumpul sama Para Anak Onta nya," tanpa sapa Rian langsung to do points dengan apa yang akan di ucapkan nya. Mendengar perkataan Rian secara langsung, bahkan tidak menyapanya terlebih dahulu apalagi menawarkannya minum, membuat emosi Sheryl kembali naik. "Gita lagi, Gita lagi. Yang pacar kamu sebenernya Aku apa cewek tomboi ga jelas itu sih?" Sheryl bertanya dengan menunjukan wajah kesal. "Jangan pernah menghina Gita ya. Lu emang pacar gue, tapi Gita tetap jadi prioritas Anak Onta, termasuk gue!" jawaban Rian membuat Sheryl semakin kesal, wajah nya pun sudah memerah menahan marah. Sheryl menggelengkan kepala dan mencibir, sungguh tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rian. "Heran gue, pake pelet apa sih itu cewek udik!" ejekan Sheryl membuat Rian menahan marahnya. "Kalo lu ga bisa terima Gita di antara Kita, kita putus!" keputusan Rian membuat Sheryl semakin marah. "Fix! kalo tuh cewek Udik pake cara ga bener, nggak mungkin banget lu semua sampe segitunya kalo nggak pake dukun," tuduhan dari Sheryl untuk kesekian kalinya, Rian tersenyum sinis dengan semua Perkataan Sheryl. Bahkan Sheryl menggunakan kata -Gue-Lu-. "Terserah lu mau ngomong apa. Setelah ini tolong jangan ganggu gue, apalagi Gita!" tegas Rian seraya pergi meninggalkan Sheryl . Sheryl tersenyum sinis, dan memikirkan rencana untuk membalas dendam kepada Gita. Karena Sheryl berpikir jika tidak ada Gita, hubungannya dengan Rian tidak akan menjadi seperti inI. Sheryl sudah sangat lama menyukai Rian. Setelah berhasil menjadi pacar Rian, Sheryl berpikir Gita adalah pengganggu hubungannya. Sikap sombong dan angkuhnya membuatnya menjadi tidak tahu diri, jika bukan karena Gita tidak mungkin Rian mau menjadi kekasihnya. Sheryl tahu itu, tapi ia menolak kenyataanya, egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dirinya dibantu oleh Gita yang menurutnya gadis tomboi tidak jelas, alias kampungan. "Ini semua gara-gara si b**o Salsa yang ngedoain gue nangis malam ini." Sheryl mengingat omongan Salsa yang mengatakan bahwa dirinya harus siap-siap menangis malam ini karena Rian yang marah, bahkan kini Rian memutuskan hubungan dengannya. "Nyesek serius." Sheryl menepuk pelan dadanya yang terasa sesak. Air matanya jatuh tanpa diminta, ia merasa terhina karena kalah oleh Gita. Orang-orang disekitarnya melihatnya dengan heran, apalagi orang baru datang dan melihatnya mengusap kasar air matanya. "Hai, Kok nangis? Kenapa?" Seorang remaja seumuran dengannya menghampirinya, duduk di sebelahnya dengan gaya sok akrab. Hatinya yang sedang kesal bertambah kesal. Tanpa berniat untuk meladeni Sheryl pergi dengan mendorong kursi yang didudukinya. "Gak usah sok akrab," geramnya dengan kesal. Remaja itu mengedikkan bahunya ke arah teman-teman yang sedang menyorakinya. "Mampus di cuekin," ledek salah satu dari tiga remaja yang duduk tak jauh darinya. "Ntar juga ketemu lagi," jawabnya santai. Mendapatkan penolakan dari seorang gadis sudah biasa untuknya yang bertampang badboy, mudah pula baginya untuk mendapatkan gadis dengan cara apapun itu. *** Jam yang menunjukkan pukul delapan kurang membuat Rian harus terburu-buru untuk menuju tempat Gita dan Para Anak Onta yang lainnya berkumpul, malam ini Gita dan Para Anak Onta nya akan menghadiri acara pernikahan anak guru mereka dulu ketika zaman putih abu-abu. Anak Onta sengaja mengajak Gita untuk menemani mereka, agar mereka bisa memfokuskan perhatian pada Gita, hal itu dilakukan untuk menghindari para wanita yang akan mendekati mereka. Gita dan Anak Onta lainnya keluar dari mobil secara bersamaan ketika melihat mobil Rian sudah terparkir. "Edass! Puteri Indonesia nyasar disini," kagum Rian yang melihat penampilan Gita malam ini. Gita memakai kebaya berwarna coklat muda dengan kain jarik sebagai pasangannya, wedges setinggi tujuh centimeter sebagai alas kakinya. Walaupun tomboi, Gita sangat luwes ketika memakai sendal tinggi, jadi ia tidak takut akan jatuh ketika berjalan. Rambutnya ditata dengan rapi, wajahnya di poles make-up tipis, karena ketika perias mendandaninya Gita banyak protes tidak mau memakai ini dan itu yang memberatkan wajahnya. Sedangkan untuk para Anak Onta sendiri memakai setelan yang sama dengan warna baju Gita, celana bahan slimfit berwarna hitam dipadukan dengan kemeja panjang berwarna coklat muda. "Muka gue berat! gue berasa cewek banget sumpah," balas Gita yang aneh sendiri dengan penampilannya. "Lu cantik banget, Kak." Andra masih terus memuji Gita. "Lu udah ngomong berapa kali, Ta?" tanya Gita yang tidak dijawab oleh Andra. "Masuk yuk, jangan lama-lama di dalemnya," ajak Getta. Mereka berjalan dengan saling bersisian, di barisan pertama ada Getta dan Rian, baris kedua Andra, Gita dan Wildan, dan baris ketiga, Hendrik dan Kenn. Gita mengaitkan tangan kanannya pada Wildan, sedangkan tangan Kirinya digenggam oleh Andra, membuat para tamu undangan yang hadir heran akan pemandangan seperti itu. Gita masih belum mengetahui tentang status baru Rian yang kini kembali menjadi jomblo. Sampai di dalam tempat acara, Anak Onta nya langsung membawa Gita menuju pelaminan untuk memberikan selamat pada pasangan pengantin dan orangtuanya. Sang guru yang didatangi oleh murid-murid istimewanya begitu tersanjung dan tidak menyangka bahwa mereka akan datang. "Selamat ya, Pak. Atas pernikahan Putrinya," ucap Getta yang memimpin barisan. "Terimakasih Ya buat semuanya, udah mau datang ke undangan Bapak." "Kebetulan kita gak sibuk, Pak. Jadi Kita bisa datang," jawab Rian dengan tersenyum. "Wah, Andra udah punya calon?" tanyanya sang guru yang melihat tangan Andra yang tidak terlepas dari Gita. Sedangkan tangan Gita sudah tidak merangkul tangan Wildan ketika menaiki pelaminan. "Amin, doain ya Pak," jawab Andra dengan tertawa, Gita hanya tersenyum canggung mendengarnya. "Ya udah Pak, sekali lagi selamat. Kami turun dulu ya," pamit Andra. "Iya, iya. Sekali lagi terimakasih, maaf kalo jamuannya gak sesuai ya." Mereka memberikan selamat pada pengantin dan turun secara bergantian. Hendrik mengulurkan tangannya untuk membantu Gita, yang disambut dengan segera oleh Gita. Kali ini Gita merangkul tangan Hendrik dan menggenggam tangan Kenn. Setelah berbasa-basi sebentar dengan orang-orang yang mengenal mereka, Anak Onta memutuskan untuk segera pergi dari sana, hal yang membuat Gita bernapas dengan lega.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN