Emosi dengan Tenang

1464 Kata
Gita dan Enam Anak Onta nya memutuskan untuk makan di restoran ayam goreng ternama, setelah mereka mendapatkan barang yang akan dijadikan sebagai kado untuk Chika. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, setelah sebelumnya mereka memanjakan diri di salon kecantikan yang masih berada di deretan Mall tersebut, sehingga membuat badan mereka kembali terasa segar. Bagaimana ketiga Cere itu tidak cemburu terhadap Gita, disaat mereka yang menjadi kekasihnya, tapi malah Gita yang selalu di prioritaskan oleh para Anak Onta nya, bahkan seringkali kali mereka tidak dianggap kehadirannya. Hubungan mereka sudah berjalan selama enam bulan lamanya, jangankan dimanjakan atau disayang, bahkan di lihat pun tidak. "Gimana semalem si, Niko?" tanya Andra tentang kelanjutan hubungan Gita dengan kekasih mesumnya. "Dia SMS gue, katanya lebih baik jadi adeknya aja. Dia lagi gak bisa pacaran, soalnya lagi banyak tugas," jawab Gita dengan membacakan SMS dari Niko semalam, setelah ia sampai di rumahnya. Anak Onta nya tertawa mendengar Gita yang membacakan isi pesan dari Niko. "Sebenarnya bukan karna banyak tugas, tapi karna gak bisa dapet jatah," kata Getta. "Jatah apaan?" tanya Gita heran. "Jatah grepe-grepe," jawab Hendrik membuat mereka tertawa. "Anjing lah, untung gue gak pernah ketemu sama dia. Pantesan ya si Joe kaget pas gue bilang punya pacar selain lu semua, terus gue tunjukin nomor nya." Gita mengingat ekspresi Joe yang kaget ketika ia memberitahu siapa pacar barunya. "Asal terima aja sih," cibir Kenn. Disaat Gita dan Enam Anak Onta nya sedang menikmati makanan dengan diiringi obrolan kejadian semalam, di luar restoran yang terhalang oleh kaca transparan, Sheryl dan Salsa sedang menatapnya penuh kebencian. Gita menghela napasnya jengah, mengapa hari liburnya harus terganggu dengan kedua gadis tidak tahu diri itu. "Cewek lu ada di luar tuh," kata Gita memberitahu Rian dan Getta menggunakan ekor matanya. Gita tersenyum miring ketika dua Cere itu berjalan menghampiri mereka. Rasa-rasanya Gita ingin mempraktekkan cara Oncom untuk semakin memanas-manasi keduanya, tapi sayang Gita tipe manusia yang suka dengan kedamaian, jadi ia lebih memilih mengabaikan tatapan penuh permusuhan dari kedua gadis yang kini semakin mendekat kearah mereka. Dan untungnya Gita duduk diantara Wildan dan Andra yang merupakan jomblo. "Ehem," dehem Sheryl mencoba mencari perhatian. Tidak ada yang bereaksi apapun, mereka hanya diam. "Kak," rengeknya dengan manja pada Rian dengan manarik ujung kaos Rian. "Apaan sih lu?" tanya Rian kesal karena bajunya di tarik-tarik. "Aku mau duduk," jawabnya dengan memanyunkan bibirnya. "Lu gak liat disini penuh?" tanya Kenn. "Di pangku juga gak apa-apa kok," jawabnya dengan percaya diri. Seketika mereka tertawa mendengar jawaban yang menurut mereka menjijikkan dari Sheryl. "Lu gak waras ya? Apa gak minum obat?" ledek Wildan. "Enak aja, masa aku cantik begini dibilang kaga waras sih." Sheryl mengibaskan rambut yang menurutnya cantik. "Iyain aja sih, daripada guling-guling di lantai dia," balas Andra dengan nada sangat menjengkelkan. "Kakak gak mau ajak aku nonton gitu?" tanya Salsa pada Getta, mencoba peruntungan siapa tahu Getta mendapatkan ilham dan mengajaknya walaupun hanya berkeliling Mall. "Ajakin, Ta. Kasian loh anak orang udah cantik begitu masa lu anggurin aja," goda Hendrik yang beruntung karena Kimmy tidak ada. "Nah bener tuh kata Kak Hendrik," balas Salsa senang. "Tar malem lu kencan deh berempat. Eh, berenam deng sama lu juga," ujar Gita dengan menunjuk Rian. "Apa sih, Kak?" tolak Rian tidak setuju. "Mereka juga pengen kali, Ta. Ngerasain jalan berdua sama pacarnya," jawab Gita yang mengerti dengan kemauan Tiga Cere. "Setuju gue," kata Andra. "Gue juga setuju," kata Kenn. "Gue juga setuju," kata Wildan dengan tersenyum jahil. "Ngapain kayak lagi voting sih? Gak mau ah, males!" tolak Getta. "Ajakin," perintah Gita seakan tidak mau dibantah. "Gak usah ngatur-ngatur lu. Emang lu siapa?" sewot Sheryl. "Oh ya udah kalo gak mau mah. Gue 'kan cuma ngasih saran, mumpung gue lagi baik. Tapi bagus deh kalo gak mau, biar Anak Onta gak pada protes." Gita tersenyum meremehkan karena sarannya tidak diterima, padahal ia sendiri sudah bisa memastikan bahwa ketiga Anak Onta nya mau berkencan dengan mereka bertiga atas permintaannya. Karena Gita sendiri sudah menyiapkan rencana agar mereka berpisah secara baik-baik, Gita kasian juga melihat ketiga Anak Onta nya yang selalu mengeluh karena tidak nyaman berhubungan dengan ketiga Cere itu. "Gimana, Kak?" tanya Sheryl memastikan ucapan Gita. "Tanya si Kakak," jawab Rian santai. "Kok tanya dia sih? Aku loh yang pacarnya Kakak, kenapa harus tanya dia," tunjuk nya pada Gita, yang langsung ditepis oleh Wildan. "Tangan lu mau gue potong?" tanya Wildan dengan datar yang membuat Sheryl menciut. "Gue udah bilang sama lu, jangan pernah temuin gue sebelum lu minta maaf sama si Kakak!" gertak Rian tanpa melihat Sheryl. "Gue heran ya, lu pake pelet apa sih? Kok mereka semua bisa nurut gitu sama lu," cibir Sheryl tanpa menghiraukan perkataan Rian, membuat Gita menatapnya dengan senyuman yang sangat menjengkelkan bagi Sheryl. "Menurut lu? Gue udah nawarin lu baik-baik ya, jadi tolong dengan sangat jangan bikin gue kesel." Gita sudah terbiasa dengan tuduhan seperti itu, tapi jika lama-lama panas juga kupingnya mendengar tuduhan yang tidak pernah dilakukan olehnya. "Cewek gak tau diri," cibir Salsa yang akhirnya mengeluarkan suara. "Lebih gak tau diri mana sama lu yang udah di bantuin bukannya bilang terima kasih malah nuduh gue yang enggak-enggak? Lebih gak tau malu siapa ngejar-ngejar cowok yang jelas-jelas gak mau sama lu?" Gita tersenyum miring setelah mengatakan itu, untuk pertama kalinya ia berkata kasar yang pasti akan menyakiti perasaan wanita lain. Sheryl dan Salsa diam tanpa bisa menjawab, perkataan Gita sepenuhnya benar. Karena disini mereka yang mengejar bukan di kejar, sedangkan Gita sendiri selalu dikejar-kejar oleh para Anak Onta nya. Hal yang selalu menjadi bahan pertanyaan mereka semua, apa istimewanya Gita sehingga Anak Onta selalu memprioritaskan nya. Wajar jika mereka selalu menganggap Gita memakai hal-hal mistis untuk menarik perhatian semua orang, terutama lawan jenisnya. "Kenapa diem? gak bisa jawab?" tanyanya lagi dengan nada meledek. "Tapi 'kan seenggaknya status gue jelas buat Kak Rian, gue pacarnya. Sedangkan lu sendiri?" Sheryl masih tidak bisa terima jika harus dipermalukan oleh gadis kampung seperti Gita. Gita berdiri dengan kedua tangan menekan meja, tersenyum miring pada Sheryl yang dari kemarin selalu menyudutkannya dan berkata, "Coba lu tanya sama mereka, pernah gak gue minta perhatian kayak lu sama mereka semua? Pernah gak gue minta sesuatu sama mereka? Pernah gak gue nyuruh mereka buat jauhin lu semua?" Para Anak Onta nya hanya diam mendengarkan penuturan Gita yang jawabannya tentu saja tidak. "Disini yang gak tau diri itu lu, Udah gue bantuin bukannya bilang makasih malah mojokin gue terus." Gita pergi setelah meluapkan seluruh isi hatinya, Gita berkata dengan tenang dan pelan, tidak berteriak seperti orang yang sedang meluapkan amarah, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya semua benar. "Bangke!" Andra menyusul Gita yang sudah berjalan ke arah pintu keluar restoran, disusul oleh yang lainnya. "Tar malem temuin gue di kafe biasa," pesan Rian pada Sheryl sebelum pergi menyusul Gita. Gita dan para Anak Onta nya telah pergi, meninggalkan Sheryl dan Salsa yang masih diam mencerna setiap ucapan Gita. Namun Sheryl tetap pada sikap angkuhnya. "Gimana ini?" tanya Salsa panik. "Gimana apanya?" tanya Sheryl yang tidak mengerti. "Eh, b**o! Lu gak liat tadi si Gita marah begitu?" Salsa tidak habis pikir dengan sikap Sheryl yang tenang. "Bodo amat, yang penting Kak Rian gak marah. Lu denger 'kan tadi dia bilang apa? Gue suruh nemuin dia di Kafe biasa, gue yakin selama ini sikap dia kayak gitu cuma karena gak enak sama Anak Onta yang lain doang, dia sebenernya peduli dan Cinta sama gue. Kemaren dia bilang jangan temuin dia sebelum gue minta maaf sama si Gita, tapi sekarang? Dia malah mau jalan berdua sama gue," ujarnya dengan bangga. Sikap angkuhnya tidak bisa membedakan jenis orang yang sedang marah dan orang sedang jatuh cinta. "Terserah lu! Siap-siap aja tar malem lu nangis," cibir Salsa. Salsa yakin jika Rian sedang marah, karena yang diucapkan oleh Gita semuanya benar, tapi Salsa juga sempat berpikir sama seperti Sheryl, karena tadi Rian mengajak Sheryl bertemu dengan raut wajah biasa saja. "Liat aja tar malem, gue yakin Kak Rian bakal jujur sama perasaannya sama gue," balas Sheryl dengan percaya diri. "Hunting yuk." Sheryl menarik lengan Salsa untuk mencari baju yang akan ia gunakan nanti malam untuk bertemu Rian, ia harus tampil cantik agar Rian terpesona. "Hunting apaan?" tanya Salsa ketika mereka sudah keluar dari dalam restoran. "Baju dong, gue gak punya baju buat candle light dinner sama Kak Rian." "Gak waras lu," cibir Salsa heran darimana Sheryl mendapatkan rasa percaya diri yang begitu tinggi. "Udah hayu bawel." Sheryl mempercepat langkahnya untuk menuju toko pakaian, memilih dengan segera beberapa dress yang menurutnya cantik dan cocok dengan tubuh rampingnya. "Bagus gak?" Sheryl menunjukkan dress selutut dengan lengan sampai siku berwarna navy. Dress simpel dengan bahan tile di bagian bahu. "Bagus sih." Salsa menjawab seadanya, jujur saja mood belanjanya sudah hilang terbawa bersama Getta yang pergi begitu saja tanpa meliriknya. Perasaannya tidak nyaman, Salsa takut Getta marah, walaupun Getta tidak mengatakan apapun seperti Rian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN