Mencari Kado

1415 Kata
Sheryl bangun dengan kepala yang berdenyut, ia sampai tidak tahu siapa yang membawanya pulang, seingatnya semalam ia masih berada di dalam club ketika dirinya belum hilang kesadaran karena pengaruh alkohol. Sheryl memeriksa tubuhnya, pakaiannya masih lengkap, walau bagaimanapun ia takut juga jika terjadi seperti di film-film yang sering ditontonnya, di mana ketika ia sadar dari pengaruh alkohol tubuhnya tanpa menggunakan sehelai benangpun. Sheryl ngeri sendiri membayangkannya. Sheryl mengamati ruangan yang ditempatinya saat ini, ia sadar jika ini merupakan kamar Salsa, tapi entah di mana anak itu saat ini. Rasa mual dalam perutnya membuat Sheryl dengan segera berlari menuju kamar mandi Salsa, memuntahkan seluruh isu perutnya. "Bangke!" gerutunya dengan kesal. "Gita sialan." Entah apa salah dan dosanya Gita, sehingga dari semalam Sheryl terus saja memaki Gita dengan kata-kata kasarnya, walaupun Gita tidak mendengarnya. Sepertinya ia harus menyusun rencana agar bisa memisahkan Gita dari Anak Onta nya. Sheryl akan memikirkan caranya nanti, karena saat ini ia harus membersihkan tubuhnya dan juga mengisi perutnya. Ingat, berpikir untuk menghancurkan seseorang itu perlu tambahan energi, dan sarapan pagi itu penting untuk nutrisi otak. Walaupun ini sudah tidak pagi lagi, bagi Sheryl ini tetap masih pagi, karena dirinya baru bangun. "Si Pea kemana lagi ini?" tanyanya entah pada siapa. Setelah selesai dengan semua ritual tubuhnya, Sheryl pergi menuju lantai bawah untuk sarapan. Di rumah Salsa mereka sudah bebas akan melakukan apapun, karena rumah ini selalu kosong dan hanya diisi oleh pembantu Salsa. Kedua orangtuanya dan Sultan kakaknya tidak pernah mau tinggal di rumah itu, entah karena alasan apa. Hal itu pula yang membuat Sheryl dan Kimmy seperti pemilik rumah tersebut. "Udah bangun lo?" tanya Salsa dengan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Semalem kita balik sama siapa?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Salsa. Bodoh menurutnya jika harus menjawab pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya dengan sangat jelas. "Anak buah Abang Sepupu gue," jawab Salsa santai. "Kita gak di apa-apain, 'kan?" tanyanya khawatir. "Mereka masih sayang sama nyawa buat ngapa-ngapain gue," jawab Salsa. Sandi nama sepupu Salsa, sosok laki-laki yang begitu menyayangi Salsa, sosok pengganti Kakak kandungnya sendiri yang tidak pernah menganggapnya ada. "Alhamdulillah," ucap Sheryl dengan menyendokkan nasi ke dalam piringnya. "Lu waras?" tanya Salsa dengan nada mengejek. "Waras lah gue, emang lu rada gila," balas Sheryl dengan sedikit menaikan suaranya. "Gak, tumben amat lu nyebut Alhamdulillah." "Si Anjing!! Gini-gini gue muslim ya, walaupun cuma di KTP." Salsa tertawa mendengar jawaban dari Sheryl. Mereka bertiga memang muslim, dan itu hanya di status KTP saja, karena tidak pernah menjalankan perintah Tuhan-nya malah selalu menjalankan larangannya. "Ya kirain gue lu udah berpindah keyakinan gitu. Coba lu inget-inget kapan terakhir kali lu ngucapin kata-kata tauhid kayak gitu?" tanya Salsa. "Barusan," jawab Sheryl polos. "Sebelumnya b**o!" bentak Salsa kesal. "Lu nanya nya kapan terakhir kali Bangke! Benar 'kan barusan gue bilang Alhamdulillah," balas Sheryl tak kalah ngegas. "Susah emang kalo ngomong sama orang gi-a," gerutu Salsa yang jengah dengan kelakuan Sheryl. "Sesama orang gila dilarang ngatain." Dan perdebatan mereka terus terjadi sepanjang sarapan yang hampir menyentuh makan siang, dengan banyaknya bahan yang harus di debatkan yang sebenarnya sama sekali tidak berguna. Karena Kimmy sebagai penengah tidak ada di antara mereka berdua, jadi perdebatan itu belum berakhir sampai mereka lelah dengan argumen masing-masing. *** Dilain tempat, Gita dan para Anak Onta nya kini tengah berada di dalam Mall di kawasan Jakarta Utara. Gita tidak melepaskan genggaman tangan Andra, tiga tahun lebih hidup di Jakarta baru kali ini dirinya mau lagi menginjakkan kakinya ke tempat yang terdapat eskalator itu. Gita tidak pernah mau jika diajak ke pusat perbelanjaan modern tersebut, karena Gita takut akan tangga yang bergerak naik dan turun itu. Gita pernah mengalami kejadian buruk tentang eskalator, bukan dirinya yang mengalami, tapi temannya. Ketika Gita kelas tiga sekolah dasar, ia dan semua anak seusia yang ada di kampungnya dibawa ke Mall oleh orang tua temannya yang bernama Cindy, untuk merayakan ulang tahunnya dikawasan Jakarta Timur. Tempatnya di adakan di lantai dua restoran cepat saji yang terdapat di kawasan Mall tersebut. Ketika rombongan Gita akan menaiki eskalator, tiba-tiba dari arah berlawanan seorang anak lelaki tampan berwajah Chinese menjerit karena kakinya masuk kedalam putaran eskalator tersebut, darah nya mengenai wajah Gita yang memang berdiri di bagian depan dan hendak melangkah naik, seketika Gita diam dan tidak jadi melangkah. Sejak saat itulah Gita tidak pernah mau lagi pergi ataupun belanja di Mall yang hampir semuanya menggunakan eskalator. Karena Gita akan selalu terbayang wajah anak laki-laki tersebut. "Kenapa, Kak?" tanya Rian yang melihat Andra dan Gita berhenti di depan eskalator. "Gue gak berani," jawab Gita jujur. "Santai aja, lu pasti bisa! Pelan-pelan aja." Andra menyemangati secara perlahan. "Liatin gue." Getta mempraktekkan pada Gita cara yang benar dan aman ketika menaiki eskalator. Dua kali Getta bolak balik menaiki dan menuruni eskalator tersebut. "Gimana?" tanyanya yang berharap Gita mengerti. "Keliatannya mah gampang, tapi gue takut." Melihat Getta yang bolak balik di atas eskalator memang sangat gampang, tapi entah saat ia praktekan nanti. "Ayo, lu pasti bisa!" Hendrik menyemangati dengan mengepalkan kedua tangannya. "Pegangin tangan gue aja," perintah Andra. "Jangan loncat, ikutin langkah gue oke." Andra membawa Gita mendekat ke arah eskalator, bersiap menunggu Gita untuk naik. "Pegangin ya, jangan di lepas." Gita mulai melangkahkan kakinya dengan sedikit meloncat, membuatnya hampir terjatuh. "Dibilang jangan loncat," tegur Andra. "Santai aja, turunnya juga gak boleh loncat ya," peringatan Andra yang hanya diangguki oleh Gita. Andra sedikit menarik Gita ketika sudah sampai diujung tangga, Gita merasakan tubuhnya oleng seperti akan terjatuh. "Uji nyali gue," ujarnya ketika berhasil menaiki eskalator. "Lain kali gak boleh loncat ya? Itu yang bahaya, takutnya lu jatoh," kata Wildan. "Siap Bos!" balas Gita dengan sikap hormat. Setelah itu mereka berjalan untuk berkeliling Mall, sebenarnya mereka akan mencari sesuatu untuk perayaan ulang tahun Chika, karena anak kecil itu sudah mengancam jika tidak diberikan kado, maka mereka tidak boleh datang kembali. Membuat Yola memarahinya karena malu, sedangkan Anak Onta hanya tertawa ketika mendengarnya. Gita yang tidak pernah berbelanja di Mall hanya mengikuti para Anak Onta nya saja, hari ini Gita menjadi penurut tanpa protes sedikit pun. Karena sebenarnya percuma ia protes, Anak Onta nya tidak akan pernah mendengarkan semua protesnya. Mereka memasuki toko mainan yang besar, Para Anak Onta6nya langsung memilih mainan yang akan dijadikan kado untuk mereka nanti. "Lu mau beli kado apa, Kak?" tanya Kenn tang telah mendapatkan kadonya. "Gue mah udah beli dari kemaren," jawab Gita yang tidak memang sudah mempersiapkan kado untuk ponakan lemesnya itu. "Dih! Gak bilang-bilang," kata Wildan. "Udah cepet mau cari kado apaan," perintah Gita yang sebenarnya tidak nyaman karena banyak mata yang memandang mereka. Gita dan para Anak Onta nya meneruskan pencarian kado untuk Chika, sampai mereka menemukan kado yang benar-benar pas untuk balita yang akan menyentuh angka lima tahun itu. Balita pintar dan begitu lemes dalam berbicara. Beberapa kali Anak Onta bertanya pada Gita tentang barang yang mereka pilih, kebanyakan di tolak oleh Gita. Seperti Hendrik yang akan memberikan peralatan make-up, karena Chika suka sekali dengan peralatan make-up. Tentu dengan tegas Gita melarangnya, karena kulit Chika masih sangat sensitif untuk terkena make-up. *** Sheryl dan Salsa memilih untuk berjalan-jalan ke sebuah Mall yang ada di kawasan Jakarta Utara, setelah menghabiskan sarapan dan juga perdebatannya, mereka akan memanjakan diri dengan berbelanja sekaligus untuk cuci mata, menghilangkan pusing dan kesal dengan kejadian semalam. Kimmy entah kemana temannya satu itu, yang pasti sampai saat ini anak itu tidak menghubungi keduanya. Sheryl menggunakan kaos putih polos yang dipadukan dengan rok jeans selutut, snikers berwarna putih, juga sling bag sudah ada di bahunya. Rambutnya ia gerai tanpa aksesoris apapun. Sedangkan Salsa memakai dress selutut tanpa lengan berwarna blue ocean, memakai snikers yang sama dengan Sheryl. Setelah dirasa siap, mereka langsung menuju pusat perbelanjaan dengan menggunakan mobil Salsa. "Lu mau beli apa aja?" tanya Sheryl yang dengan pandangan lurus ke depan, karena dirinya yang memegang kendali setir. "Liat ntar aja," jawab Salsa santai. Sebenarnya tidak ada barang yang akan dibeli olehnya, "Apa kita nonton aja ya?" cetus Sheryl. "Gak ada yang bagus filmnya," jawab Salsa yang selalu mengetahui jadwal film yang ada di bioskop. "Kita hunting Cogan aja lah, buat ngerefres otak. Lama-lama terabaikan rasanya menyedihkan," tuturnya dengan dramatis. "Anjing sekali bahasa lu." Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Weekend membuat jalanan ibukota sedikit lengang, kemacetan hanya terjadi di beberapa titik lampu merah yang mereka lewati. Sheryl memarkirkan mobilnya di area parkir Mall. Mereka turun dengan semangat ketika masuk kedalam pusat perbelanjaan itu, sebelum akhirnya mereka harus kembali melihat Gita dan Enam Anak Onta nya sedang tertawa bahagia disebuah restoran ayam goreng ternama, yang membuat mood kedua sahabat itu langsung terjun secara bebas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN