Sheryl berdiri dengan kesalnya, menghentakkan kakinya berjalan ke arah Rian dan Gita, Sheryl menarik tangan Rian untuk lepas dari bahu Gita, hal itu membuat semua orang melihatnya.
"Bisa gak, gak usah rangkul-rangkulan kayak gitu? Bikin sakit mata tau gak?" bentaknya tepat di depan wajah Gita.
Getta menghampiri mereka bertiga, "Woi... Woii... Maksud lu apa? Ngapain lu bentak-bentak di depan muka si Kakak?" tanya Getta dengan sengit, tidak terima Gita di bentak-bentak seperti itu.
"Emang apa urusannya sama lu kalo gue ngerangkul si Kakak?" tanya Rian dengan tersenyum sinis.
"Gara-gara nih cewek aku gak di anggep sama sekali tau gak?" tunjuk nya dengan marah pada Gita.
"Pergi lu dari rumah gue," usir Getta dengan kesal.
Sheryl melongo mendengar perkataan Getta, "Baru beberapa bulan jadi cewek gue aja lu udah belagu," timpal Rian.
"Si Onta ya yang ngerangkul gue, bukan gue yang ngerangkul dia." Gita akhirnya bersuara setelah tadi hanya diam.
"Harusnya lu hargain gue dong, Dia ini cowok gue, gak pantes lu dirangkul sama dia di depan gue!" bentak Sheryl dengan emosi.
"Udah Sher." Kimmy menenangkan Sheryl yang terlihat sangat emosi.
"Bawa temen lu pergi dari sini," usir Andra dengan nada dingin.
"Jangan pernah nongol di depan muka gue sebelum lu minta maaf sama si Kakak," tegas Rian.
"Udah Ta. Lier ngadengena."
Gita berjalan menuju sofa, malas menanggapi hal yang tidak penting menurutnya. Bukan Gita tidak menolak untuk semua perlakuan Anak Onta nya, hanya saja mereka yang terlalu berkuasa akan ruang lingkupnya.
"Munafik."
Sheryl pergi dengan emosi yang membuat darahnya mendidih. Disusul oleh kedua temannya dengan sedikit berlari, Gita dan Anak Onta nya hanya diam melihat aksi ngambek dari Sheryl.
"Dikiranya selama ini gue takut kali sama dia," gerutu Gita yang sudah tidak mau terlihat takut.
"Mangkanya kalo mereka bertingkah tuh dilawan, kayak si Oncom." Kenn.
"Asal lu tau ya, cewek lu pernah ngirim SMS sama gue pas lu berdua baru jadian." Rian melongo mendengar perkataan Gita.
"SMS apa?" tanya Wildan penasaran.
"Intinya dia minta gue buat jauhin lu semua, karena katanya sekarang 'kan yang pacar lu itu dia, minta gue buat ngehargain perasaannya. Intinya mereka lebih berhak buat lu semua," tutur Gita yang akhirnya memberitahu pesan yang dikirimkan oleh Sheryl kepadanya.
"Lu sih pake acara buat kita-kita pacaran sama tuh Cere, jadinya rese, 'kan."
Getta yang sudah jengah dengan kelakuan Salsa yang sama dengan Sheryl, yaitu manja.
"Ya... Ya... Ya... Salah gue semua," dengus Gita dengan kesal. "Terus itu gimana sama Cere?" Gita tetap memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga.
"Au ah, gelap," jawab Rian, malas memikirkan hal yang tidak penting dalam hidupnya.
"Gue cape, Ta." Gita menyandarkan kepalanya pada bahu Andra. Andra memijit pelan kepalanya.
"Mulai lembur lagi ya?" tanya Andra yang melihat mantan kekasihnya kembali lesu.
"Iya," jawab Gita pelan.
"Besok ke salon lagi yuk?" ajak Hendrik.
"Gak mau, gue mau tidur."
Gita yang mengetahui harga sekali treatment tidak mau lagi pergi ke sana, walaupun ia akui badan begitu segar setelah di pijat oleh pegawai profesional.
"Jangan nolak." Andra selalu bisa membuat Gita untuk menuruti ajakannya.
"Bodo amat," balas Gita cuek.
"Sayang banget sama lu," balas Andra dengan mengecup puncak kepalanya.
"Gue gak!"
"Bodo amat."
Malam itu mereka melanjutkan dengan bermain, lebih tepatnya Anak Onta yang bermain PlayStation. Seperti biasa mereka akan bertaruh, kali ini Gita yang menentukan hukumannya. Hukuman yang akan diberitahukan oleh Gita esok hari. Kenn dan Andra bertugas untuk mengantarkan Gita di jam 10 malam, karena esok Gita libur kerja, jadi ia bisa pulang lebih malam.
"Lu chat si Niko ajakin ketemuan sekarang," perintah Andra ketika mobil baru saja keluar dari kompleks rumah Getta.
"Dih, ngapain? Kata si Onta dia m***m?" tanyanya yang masih belum yakin.
"Mangkanya lu ajakin ketemu," perintah Andra lagi.
Gita akhirnya menuruti perintah Andra, mengirimkan chat pada Niko untuk mengajaknya bertemu, dengan alasan dirinya akan pulang kampung sehingga ingin bertemu terlebih dahulu.
"Udah malem katanya, dianya jauh lagian."
Gita menunjukkan balasan dari Niko yang mengatakan tidak baik jika bertemu malam-malam seperti ini.
"Paksa, bilang aja kangen," saran Kenn.
Gita kembali mengirimkan pesan pada Niko, memaksanya untuk bertemu. Gita tidak tahu apa maksud dari kedua Onta nya ini.
"Katanya mau dikasih apa kalo maksain buat ketemu."
Andra dan Kenn tersenyum mendengar Gita membacakan balasan pesan dari Niko.
"Bilang aja tar dipeluk, kalo gak dicium," saran dari Andra yang membuat Gita menolak.
Andra menjelaskan maksudnya, barulah Gita setuju dan mengetik apa yang Andra bacakan.
"Oke katanya, nanti kalo dia udah sampe di samping hotel bakal telpon. Ini kalo ketauan Anak depan heboh lagi loh."
"Gue bakalan ajak Mang Unang," balas Andra.
Mobil mereka telah sampai dan parkir sempurna di depan hotel, mereka berjalan untuk masuk ke kontrakan Gita. Andra dan Kenn ikut bergabung di kamar Unang yang sedang kedatangan temannya yang lain, mereka sedang bermain kartu dengan diiringi musik dari grup band Gun's & Roses. Sedangkan Gita pergi ke kamarnya untuk berganti baju.
Gita kembali turun dan memberitahu Andra jika Niko sebentar lagi sampai, dan saat ini sedang mengantri di pom bensin karena bensinnya mau habis.
"Ta, dia udah di pom."
"Hayu Mang," ajak Andra pada Unang.
Mereka berempat pergi menuju samping hotel, Andra, Kenn dan Unang duduk di warung tidak jauh dari tempat Gita menunggu. Tidak lama kemudian Niko datang dengan motor RX-King nya.
"Nunggu lama ya?" tanyanya pada Gita begitu sampai.
"Gak kok, maaf ya ngerepotin."
Gita sebenarnya tidak nyaman, tapi ini untuk membuktikan Perkataan Anak Onta nya.
"Gak apa-apa. Terus ini udah ketemu mau ngapain?" tanya Niko pura-pura polos.
"Ya gak ngapa-ngapain, aku 'kan cuma mau ngeliat pacar aku doang," jawab Gita dengan senyum manis yang mulai paham maksud Niko.
"Perasaan tadi ada yang bilang mau peluk sampe nyium segala deh kalo ketemu sekarang," katanya mengingatkan Gita dengan memegang tangan Gita.
"Kapan aku bilang gitu?" Gita pura-pura lupa membuat Niko memutar bola matanya.
Andra dan Kenn yang melihat Niko memegang tangan Gita saling pandang.
"Kita samperin, Mang." Ajak Andra.
"Gita! Lu lagi ngapain malem-malem disini?" tanya Unang pura-pura tidak tahu.
"Tau lu, bukannya pulang," sambung Kenn.
"Abis ngasiin ini, Mang. Punya si Joe kemaren ketinggalan," bohong Niko. "Ya udah kamu pulang, tidur ya udah malem. Mari semua," pamitnya pada mereka semua.
Niko menjalankan motornya dengan kencang mungkin karena kesal.
"Marah 'kan dia," kata Andra yang melihat ekspresi Niko saat pergi dengan ngebut. "Gue yakin abis ini lu diputusin," sambungnya lagi.
"Lagian lu ngapain pacaran sama model begitu?" tanya Unang heran.
"Mau menghindar dari kita itu," sela Kenn sebelum Gita menjawabnya.
Gita hanya mencebikkan bibirnya, Gita dan Unang pulang ke kontrakan mereka, sedangkan Andra dan Kenn pamit pulang. Mereka tidak mengantarkan Gita karena sudah ada Unang.
***
Sedangkan Sheryl yang kesal tingkat Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berteriak di sepanjang jalan untuk melampiaskan kekesalannya.
"Cewek sialan," teriaknya dengan penuh emosi.
"Pelanin dikit, b**o! Gue gak mau mati konyol," bentak Salsa yang berada di sebelahnya.
"Lu kalo mau celaka gak usah ngajak-ngajak gue," timpal Kimmy yang duduk dibelakangnya.
"Liatin aja apa yang bakal gue lakuin," ancamnya dengan tersenyum miring.
Sheryl memperlambat laju mobilnya, Sheryl akan membuat perhitungan dengan Gita. Begitulah cinta, siapa yang salah siapa yang menanggung akibatnya.
Jangan salahkan Gita atas semua perlakuan Anak Onta terhadapnya. Gita sudah berusaha menghindari mereka, Gita selalu menolak semua perlakuan mereka, tapi mereka memang tidak pernah mau mendengar protes dari Gita.
Mereka memperlakukan Gita lebih dari kekasihnya, karena sesungguhnya perasaan mereka pada Gita hanya mereka yang tahu. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Gak usah mikirin itu, mending sekarang kita party," ajak Salsa untuk menenangkan hati Sheryl. Salsa tahu dimana tempat yang bisa membuat pikiran Sheryl bisa tenang dan santai. "Depan belok kiri," perintah Salsa pada Sheryl.
Sheryl membelokkan kemudinya mengikuti perintah Salsa, terlihat Joker's Club', sebuah club malam cukup elite di kawasan Jakarta Utara.
"Lu yakin kita kesini?" tanya Kimmy yang sedikit takut.
"Buat party tempat kayak gini yang kita butuhin," jawab Salsa santai.
"Asal jangan mabok aja lu," ancam Kimmy.
"Gue gak cemen kayak lu ya," ledek Salsa pada Kimmy yang tidak biasa minum.
Jika Salsa dan Sheryl sudah biasa, apalagi Salsa yang bahkan memiliki ruang khusus untuk minuman beralkohol koleksi orangtuanya.
Mereka bertiga turun dari mobil, berjalan menuju gedung berlantai tiga dengan fasilitas memadai. Setelah menunjukkan identitas pada security, mereka masuk kedalam gedung. Hentakan musik dari DJ yang sedang bermain begitu memekakkan telinga, Kimmy menutup kupingnya yang terasa berdengung, dadanya terasa berdentam-dentam seiring dengan suara musik yang menggema.
"d**a gue sakit woi!" teriaknya tepat di kuping Salsa.
"Bacot lu, kuy masuk." Salsa menarik keduanya untuk masuk.
Mereka berjalan semakin kedalam, duduk di sofa yang masih kosong.
"Mbak!"
Salsa memanggil pelayan dengan menyalakan korek gas yang tersedia. Seperti yang sudah sangat biasa mendatangi tempat haram itu.
"Vodka ya," pesannya pada pelayan. Pelayan itu mengangguk dan tersenyum, lalu pergi untuk mengambil pesanan tiga Cere.
"Lu udah mahir banget sih?" tanya Sheryl dengan suara yang kencang, agar tidak kalah oleh suara musik.
"Gue pernah dua kali," jawab Salsa. "Tempat ini punya Abang sepupu gue, jadi aman buat kita."
Semua pegawai di sana mengetahui siapa Salsa, maka dari itu dua pria berbadan tegap berada di belakang mereka bertiga, itu atas perintah Abang Sepupunya.
"Pantesan," kata Kimmy yang sedikit merasa tenang.
Sejujurnya dari pertama mereka masuk Kimmy sedikit takut, walau bagaimanapun Kimmy cukup alim dan tidak pernah ketempat seperti itu. Kimmy memikirkan jika sampai Hendrik mengetahui kelakuannya, akan semakin hancur reputasinya jika sampai Hendrik mengetahui ia pergi ke tempat seperti ini.
dua botol vodka dan beberapa camilan telah tersedia di meja, Sheryl yang kesal langsung meminumnya. Kimmy meringis melihatnya, sedangkan Salsa hanya tersenyum.
"Gue bakal bikin perhitungan sama si Gita," oceh Sheryl yang sudah mulai mabuk.
"Heh b**o! Bosen gue denger lu ngomong kayak gitu mulu dari tadi," ujar Salsa dengan menoyor kepala Sheryl, karena dari perjalanan sampai saat ini hanya Kalimat itu yang di ulang-ulang oleh Sheryl.
"Udah-udah, lu mabok tar nyusahin gue."
Kimmy mencegah Sheryl yang akan kembali minum. Bisa repot jika mereka berdua mabuk. Kimmy tidak minum, selain karena ia tidak kuat pada alkohol, Kimmy juga takut jika ia mabuk akan ada laki-laki yang mendekati mereka dan memanfaatkan kesempatan, walaupun Salsa berkata sudah ada yang menjaga mereka, tetap saja Kimmy harus berjaga-jaga bukan.
"Bacot banget sih lu?" bentak Sheryl.
"Terserah lu berdua, gue mau balik. Serem di tempat kayak gini."
Kimmy berdiri dan pergi tanpa menghiraukan kedua temannya, ia lebih baik menghindar sebelum Salsa dan Sheryl memaksanya untuk minum-minuman beralkohol itu, dan membuatnya celaka.
Sedikit berlari untuk keluar dari tempat haram itu, untung saja club itu belum ramai, karena ini masih jam sepuluhan lewat, jadi ia tidak terlalu khawatir. Kimmy pulang dengan menggunakan taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya.