Mobil yang di kendarai oleh Andra berhenti di parkiran arena Gokart kecil milik salah satu temannya. PIK sangat sepi malam ini, hanya terdapat beberapa mobil yang lewat. Mungkin karena ini malam kamis dan orang-orang terlalu malas untuk keluar. Biasanya jika malam minggu, kawasan ini akan ramai oleh kendaraan maupun para pejalan kaki.
Andra dan Gita turun dari mobil, Andra masuk ke dalam untuk menitipkan mobilnya terlebih dahulu. Tidak lama kemudian Andra sudah kembali dan langsung menghampiri Gita yang berdiri bersandar di mobilnya.
"Sepi banget ya?" tanya Gita heran, karena kali ini benar-benar sepi, bahkan para pedagang pun tidak ada.
"Iya, tumben banget. Pada istirahat kali," jawab Andra.
"Temennya si Bapak juga katanya main bola disini, tapi itu lapangannya juga sepi begitu."
"Batal kali, mau ke mana kita?"
"Mumpung sepi begini, kita jalan-jalan aja yuk ke sana."
Andra mengangguk, mereka akhirnya berjalan untuk menyusuri kawasan tersebut. Andra menggenggam tangan kecil Gita, berjalan dengan saling bertautan jari. Gita mengayunkan pelan tangannya yang otomatis tangan Andra pun akan ikut, mereka bernyanyi santai.
Andra tersenyum melihat Gita bernyanyi, sesekali Gita berputar dan menyandarkan tubuhnya pada Andra dengan terus berjalan. Entah mengapa rasanya Andra justru ingin menangis melihat kebahagiaan kecil Gita yang tercipta hanya karenanya.
Andra tidak tahu kapan terakhir kali ia membahagiakan Gita hanya karenanya seorang seperti saat ini. Karena biasanya Gita bahagia ketika mereka berkumpul bersama, yang artinya bahagia itu tercipta bukan hanya darinya saja.
Momen seperti ini tidak di sia-siakan oleh Andra. Andra mengangkat tubuh kecil Gita dan berputar-putar pelan, Gita tertawa di buatnya.
Sama seperti Andra, Gita pun heran akan dirinya pada malam ini. Entah mengapa Gita ingin sekali rasanya bermanja-manja dengan Andra. Padahal ketika status mereka masih menjadi pacar pun Gita tidak pernah seperti itu, tapi malam ini? Gita bahkan bernyanyi, berputar, dan tertawa bersama Andra.
Perasaannya bahagia, Gita tahu Setelah putus darinya Andra kembali sering murung. Maka dari itu, kali ini Gita rasa-rasanya ingin memberikan kembali warna bahagia di wajah mantan kekasihnya. Laki-laki yang sampai saat ini selalu ada untuknya.
"Lu kenapa?" tanya Andra heran dengan sikap Gita malam ini.
"Gak tau, gue cuma pengen begini aja."
Saat ini Gita bahkan seperti koala yang sedang di gendong oleh induknya. Tangannya melingkar di leher Andra dan kakinya melingkar di pinggang Andra, kepalanya berada di ceruk leher Andra. Andra menyatukan kedua tangannya untuk menahan p****t Gita agar tidak jatuh.
"Enteng banget sih," kata Andra setelah ia berhenti berputar.
"Segini aja gue udah makan mulu gara-gara lu semua."
"Beratan juga semen satu sak."
"Emang lu pernah angkat semen?"
"Kaga sih."
Gita mendengus mendengar jawaban Andra, ia menyamakan Gita dengan semen satu sak, yang dia sendiri belum pernah merasakan berat semen satu sak itu seperti apa.
"Geli Kak," dengan jahilnya Gita meniup leher Andra, membuat Andra menjauhkan lehernya karena Geli.
Bukannya berhenti Gita malah terus meniup-niup lehernya, membuat Andra kembali berputar. Mereka kembali tertawa bersama, Gita bahkan mendongakkan kepalanya ketika Andra berputar dengan cukup kencang.
"Udah, Ta. Pusing kepala gue," pinta Gita yang merasakan kepalanya berputar.
Andra berdiri dengan sedikit limbung, ia pun merasakan tubuhnya masih berputar. Gita bahkan menyembunyikan wajah di dadanya. Andra menundukkan kepalanya dan menyatukan keningnya dengan Kening Gita, menatap Gita dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedikit lagi bibirnya akan mencapai bibir Gita, sebelum Gita menolehkan kepalanya ke samping kiri untuk menghindar.
"Mau ngapain?" tanya Gita dengan menggoda.
"Mau nyium lu," jawab Andra jujur.
"Enak aja! Gak boleh, lu bukan pacar gue."
"Ya udah sekarang kita pacaran."
"Gak mau! Kalo gue pacaran sama lu, ntarnya gue gak bisa pacaran sama Anak Onta lainnya."
Gita tertawa dengan jawabannya sendiri. Sedangkan Andra mendengus mendengarnya.
"Mau jadi leboy, hemm?" tanyanya dengan mencubit pelan hidung Gita.
"Kan kalo punya pacar banyak keren," jawab Gita.
"Kata siapa?"
"Kata gue barusan."
Andra mengacak rambut Gita, tidak habis pikir dengan pikiran polos mantan kekasihnya.
"Ada-ada aja lu. Jalan lagi yuk," ajaknya setelah merasa semuanya kembali normal.
Gita mengangguk, mereka kembali berjalan santai dengan diiringi tawa canda.
***
Sheryl masih terus memperhatikan Andra dan Gita yang sedang tertawa bahagia, matanya menatap nanar pada keduanya. Hatinya tak henti menggerutu dengan semua kebahagiaan Gita. Lihatlah gadis tomboi yang menjadi alasan Rian memutuskannya.
Gita terlihat sangat bahagia dengan Andra malam ini. Dalam hatinya tak henti mencibir dengan sikap Gita yang seperti w************n karena setiap malamnya jalan bergilir dengan para Anak Onta.
Menurutnya Gita munafik, seharusnya jika Gita masih mencintai Andra ia lebih menjaga jarak dan sikap terhadap Anak Onta lainnya. Karena jika diperhatikan sepertinya Gita masih mencintai Andra, hanya saja ia sok jual mahal, itulah pemikiran Sheryl.
Sheryl menelpon seseorang yang telah di bayar olehnya, Sheryl ingin bermain-main sedikit dengan keselamatan Gita. Gita pantas mendapatkannya, itu menurutnya, karena orang yang telah merebut kebahagiaannya harus mendapatkan pelajaran darinya.
Me: Sekarang!
Sheryl mengirimkan perintahnya langsung tanpa menunggu jawaban apapun dari orang yang di telponnya. Malam ini ia akan melihat drama kecelakaan sepasang kekasih. Sheryl menyiapkan rencananya dengan sangat matang, orang yang dibayarnya menggunakan masker dan juga topi, motor yang digunakan pun tidak menggunakan nomor polisinya, karena itu motor anak muda yang sudah dimodifikasi untuk balap liar. Sheryl sedang menunggu orang bayarannya untuk menjalankan aksinya.
"Jangan salahin gue, karna ini lu sendiri yang minta, cewek Udik!" katanya dengan tersenyum sinis.
***
"Kakak … Awas!"
Brakk
Teriakan Andra masih terngiang jelas di telinga Gita, Ketika terbangun Gita merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Gita membuka mata dan hanya melihat dinding berwarna putih dengan bau khas obat. Gita tahu ini Rumah Sakit, seketika Gita panik, muncul di kepalanya berbagai pertanyaan. Di mana Andra? Jika ia saja yang diselamatkan harus dibawa ke Rumah Sakit, lalu bagaimana dengan Andra?
Gita melihat sekeliling, di atas sofa panjang ada Rian, Hendrik dan juga Kenn yang menunggunya, di tangan bagian kanannya terpasang jarum infus. Dengan suara yang serak Gita mencoba membangunkan mereka,
"Onta."
Setelah memanggil untuk yang ketiga kalinya, barulah Hendrik terbangun, dengan segera Hendrik menghampiri Gita.
Begitu Hendrik sampai di depan Gita, Hendrik langsung memeluk Gita.
"Apa yang lu rasain sekarang, Kak?" tanya Hendrik dengan lembut.
Bukannya menjawab, Gita justru menangis dan menyebut nama Andra, Kenn yang mendengar Gita menangis akhirnya dan menghampiri mereka.
"Andra nggak kenapa-napa, Kak?" jawaban lembut yang diberikan Kenn yang juga memeluk Gita.
"Tapi gue liat si Andra mental, Onta!" Gita menjawab masih dengan diiringi tangisan.
Rian pun ikut terbangun ketika mendengar suara Kenn, dengan segera ia menghampiri mereka dan juga ikut memeluk Gita.
"Apanya yang sakit?" tanya Rian dengan mengusap pelan rambut Gita.
"Si Onta gimana?"
Gita kembali menanyakan keadaan Andra, karena ia mengingat dengan jelas bagaimana motor itu menghantam tubuh Andra.
"Si Onta gak kenapa-napa. Lu gak usah khawatir," jawab Rian menenangkan Gita
"Lu inget kejadian nya?" pertanyaan dari Hendrik dan Gita mengangguk pelan.
"Coba lu ceritain pelan-pelan sama kita."
Perintah dari Kenn membuat Gita terdiam dan menarik napas sebentar. Kenn mengeluarkan handphonenya untuk merekam cerita Gita dan akan ia kirimkan pada pihak kepolisian.
"Gue lagi jalan-jalan sama si Onta di PIK, keadaannya sepi banget, gak ada satu orangpun ataupun pedagang yang biasa mangkal. Gue sama si Onta lagi jalan santai, terus kita denger suara motor dari belakang, awalnya kita pikir itu motor jalannya ditengah, tapi pas makin deket tau itu motor kenceng, si Onta noleh ke belakang terus teriak. Gue di dorong sama dia, dan motor itu nabrak si Onta. Gue jatoh tapi gue masih bisa liat si Onta mental, tapinya gue gak bisa apa-apa, karna kepala gue sakit dan pusing banget. Abis itu semuanya gelap."
Gita bercerita dengan sesenggukan ketika mengingat bagaimana kejadian tersebut.
"Ntar siang ada polisi buat nanya-nanya. Lu bisa?" tanya Kenn lembut.
Gita mengangguk, "Si Onta dirawat disini juga?" tanya Gita memastikan.
"Si Onta di bawa ke Singapore sama Bokap nya semalem," jawab Rian.
Karena begitu mendapatkan kabar bahwa Andra mengalami kecelakaan dengan luka serius, Ayahnya memutuskan untuk langsung membawa Andra ke Singapore menggunakan Jet pribadi miliknya. Andra hanya berada beberapa jam di rumah sakit yang sama dengan Gita.
"Maksudnya? Emang gue pingsan berapa lama?" tanya Gita heran.
Karena perasaannya ia hanya pingsan beberapa jam saja. Gita hanya mengalami sedikit luka di kepalanya, dan juga tubuhnya yang sakit itu di akibatkan oleh dorongan dari Andra hingga ia terjatuh.
"Sekarang udah mau jam enam, Kak. Lu gak usah khawatir, si Onta pasti baik-baik aja." Hendrik coba menenangkan Gita.
"Tidur lagi yah," bujuk Rian.
Gita menggelengkan kepalanya. "Mpo gue di kasih tau gak?" Gita takut Yola marah karena tidak pulang dan tanpa kabar.
"Belom, semalem si Oncom udah telpon dan niruin suara lu. Alhamdulillah nya Teh Yola percaya," jawab Hendrik. Salah satu kelebihan Oncom adalah bisa menirukan suara orang lain.
"Jam segini udah bangun belom?" tanya Kenn bermaksud pada Yola. "Gue mau ke sana buat ngasih tau."
"Teh Yola biasa bangun jam empat subuh pagi setiap harinya," jawab Gita yang baru bisa mengehentikan tangisnya karena pusing kembali menderanya.
"Gue panggil dokter dulu ya." Karena terlalu khawatir mereka sampai lupa memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Gita.
Hendrik keluar untuk memanggil dokter, tidak lama ia kembali lagi dengan diikuti seorang dokter perempuan yang sepertinya mereka saling kenal, jika di lihat bagaimana cara mereka mengobrol dalam perjalanan.
Setelah dokter memeriksa keadaan Gita dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, juga mengatakan setelah cairan infusnya habis Gita sudah boleh pulang. Mereka kembali mengerumuni Gita, Kenn tidak jadi memberitahu Yola karena siang nanti juga Gita pulang. Karena hari ini tanggal merah, jadi Gita pun tidak perlu repot-repot untuk meninta izin agar tidak bekerja.