Keadaan Andra

1581 Kata
Yola begitu kaget ketika melihat Gita diantarkan oleh tiga Anak Ontanya dan juga Oncom, di kepala bagian kanannya terdapat perban. Dari parkiran sampai ke kontrakan Gita, Kenn tak henti menggerutu karena jaraknya yang cukup jauh, hal itu terjadi karena ia tidak tega melihat Gita, sedangkan Gita tidak mau ketika ia akan menggendongnya "Sia kunaon?" tanya Yola bingung yang diiringi nada khawatir. "Biasa," jawab Gita santai, yang entah apa arti kata biasa itu bagi Oncom dan Anak Onta. "Kecelakaan Teh semalem, kita sengaja gak ngasih tau Teteh karna takut panik. Lagian gak kenapa-napa Kok, gak ada luka yang serius juga. Dia juga baru sadar tadi pagi." Kenn yang menjelaskan. "Terus semalem yang ngomong di telpon siapa kalo dia baru sadar?" Yola bingung, karena tadi malam itu suara Gita. "Aku dong," jawab Oncom bangga. "Aku 'kan bisa berbagai suara." "Waduh! Lu semua ya, berani-beraninya bohongin gue?" geram Yola dengan dramatis. "Maaf, Teh. Kita takutnya Teteh panik." Rian menunduk ketika meminta maaf. Para Anka Onta begitu menghormati Yola, dan untuk pertama kalinya mereka bohong, yang mereka anggap untuk kebaikan. "Oke kali ini dimaafin, tapi lain kali gak boleh kayak begini lagi ya. Soalnya biar gimanapun disini Teteh yang di mintain tanggung jawabnya sama Emak Abah, karna Teteh 'kan Kakak kandungnya. Teteh gak marah cuma pengen nabok doang," katanya dengan bercanda, membuat Anak Onta tersenyum ngeri. "Masa iya ganteng begini mau di tabok," canda Hendrik. "Dih justru itu, pengen ngerasin nabok orang ganteng sama gak rasanya kayak nabok orang jelek?" Mereka tertawa mendengar candaan Yola. "Eh, Gotardo lu kenapa?" tanya Dodo yang baru datang ketika melihat Gita. "Abis olahraga," jawabnya santai. "Huh ada-ada aja lu mah," balas Dodo. "Oh iya, semalem lu perginya sama si Andra, 'kan?" Gita mengangguk, "Terus si Andra gimana?" Yola baru ingat jika semalam Gita keluar dengan Andra. "Dia di bawa ke Singapore sama Ayahnya, Teh. Lukanya cukup serius." Dodo yang mendengar jawaban Kenn langsung menyela. "Maksudnya?" tanya Dodo penasaran. Gita menceritakan kembali semua kejadiannya, Yola, Dodo dan Oncom serius mendengarkannya. "Ini mah emang udah di rencanain deh kayaknya," tebak Dodo. "Polisi lagi nyelidikin sih, A. Tadi juga kita ke kantor polisi dulu sebelum pulang," balas Rian. "Tapi semalem itu emang beneran sepi banget, cuma ada mobil yang lewat keluar tol doang," jelas Gita. "Gue janji bakal temuin pelakunya, lu tenang aja. Lagian gak mungkin Ayah Adi mau ngelepasin gitu aja orang yang udah nyelakain anaknya," kata Kenn. Kenn sangat tahu bagaimana sifat seorang Adi Putra Angkasa, beliau tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai pewaris satu-satunya Angkasa Group bebas begitu saja. "Atuh ya kali yang punya Angkasa Group bakal ngediemin gitu aja," kata Dodo yang juga sudah mengetahui siapa Andra. "Iya, A. Buat tau juga 'kan motifnya apa dan dalangnya siapa? Takutnya masalah persaingan bisnis," balas Rian, karena tidak bisa di pungkiri dalam dunia bisnis persaingan pasti terjadi. "Nah bisa jadi, dunia bisnis 'kan mengerikan," balas Dodo lagi. Mereka meneruskan obrolan hingga waktunya makan siang yang di beli oleh Kenn. Oncom berseru senang ketika melihat banyaknya makanan yang sangat menggoda lidah dan perutnya. Begitupun dengan Chika yang mendapatkan banyak camilan yang sebenarnya sebagian untuk Gita, tapi langsung di akuisisi semua olehnya. *** Senin pagi di sambut dengan matahari yang cerah, biasan sinarnya mampu menyilaukan mata, membuat Gita menyipitkan matanya ketika cahaya sang surya menerpa wajahnya. Gita sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, setelah tiga hari ia beristirahat di kamarnya atas tuntutan Anak Onta, dan permohonan mereka pula pada Yola sebagai mandor di tempat kerjanya. Posisi Yola membingungkan, jia ia memaksa Gita untuk tetap bekerja Yola tidak tega, walaupun secara fisik memang Gita tidak mengalami apapun selain lecet di kepalanya. Namun, jika ia mengizinkan tanpa alasan, pasti ia dianggap pilih kasih dan memandang keluarga dalam bekerja. Sedangkan di dunia kerja tidak ada yang namanya keluarga dalam jabatan, jika kita ingin bersikap profesional. Akhirnya selama dua hari pekerjaan Gita di selesaikan olehnya dengan cara di cicil. Yola bisa saja mengatakan bahwa Gita mengalami kecelakaan, tetapi ia sangat malas karena nanti harus banyak menjawab pertanyaan ini dan itu dari karyawannya yang super kepo dan biang gosip, apalagi sampai mengatakan bahwa Gita kecelakaan karena ditabrak dengan sengaja oleh orang. "Gita sehat?" tanya Bos nya yang melihat Gita sudah masuk kerja, Yola hanya memberitahukan Bos nya. "Sehat, Koh. Maaf baru bisa masuk," jawabnya canggung. "Ya udah lu semangat kerjanya," balas si Bos yang di angguki oleh Gita. Gita menaiki tangga menuju ruang kerjanya, begitu sampai di lantai tiga tempat produksi teman-temannya langsung bertanya. "Wey dari mana lu dua hari gak kerja? Abis dikawinin ya di kampung?" tanya salah satu penjahit jarum dua dengan menggoda. Di tempat kerjanya akan langsung menyebar gosip jika orang yang tidak masuk kerja dengan keterangan ada kepentingan mendadak, dan itu di artikan bahwa ia di jodohkan. "Mana ada, orang cuma buat KTP," bohongnya pada mereka semua, untung saja mereka langsung percaya. "Wah udah buat KTP bentar lagi bikin Kartu keluarga baru ini mah," goda yang lainnya. "Amin." Gita hanya mengaminkan saja, karena setiap ucapan baik itu doa. Walaupun pikiran Gita masih jauh untuk urusan nikah. "Balik kandang dulu," pamitnya bermaksud ke area kerjanya. Gita berjalan menuju luar ke arah balkon, di sana ternyata sudah ada Oncom yang sedang sarapan dengan menu mie ayam ceker kering. "Cager sia?" tanya Oncom yang sedang mengaduk mie ayamnya. "Alhamdulillah," jawab Gita smabil duduk di hadapannya, "Sia mah lain ngomong mun sarapan mie ayam." Gita mengambil sumpit yang sedang di pakai oleh Oncom, mengaduk pelan dan menyuapkan mie berserta potongan daging ayam ke mulutnya. Hal yang biasa saling comot saat makan bagi keduanya. "Pajar aing sia te asup dei," jawab Oncom mengambil alih sumpitnya. "Bosen aing di kontrakan sorangan bae." Tiga hari berada di dalam kamar dengan ditemani Anak Onta justru membosankan, karena mereka benar-benar memperlakukan Gita seperti orang yang memiliki sakit parah. Tidak boleh melakukan ini dan itu, disediakan segala keperluannya. Bahkan disuapi saat makan dengan alasan takut tangannya sakit. "Si Andra aya kabar?" tanyanya yang memang belum mendapatkan kabar dari Andra. Gita menggelengkan kepalanya, "b***k rek nyusul cenah, kamari ngajakan." "Atuh lainan milu." "Mbung Com. Isin aing na, sien oge." "Heuh ges ke geh dikabaran iye meren." "Sugan weh." Mereka meneruskan obrolan sampai sarapan habis, Oncom masuk ke area kerjanya karena sebentar lagi bell masuk akan berbunyi. Sedangkan Gita membersihkan area kerjanya juga mesinnya sebelum memulai pekerjaannya. Gita hanya berdoa semoga Andra baik-baik saja, semoga ia segera sehat dan kembali lagi bersama mereka. Getta dan Wildan kemarin langsung ikut menemani Andra, dan hari ini Rian, Hendrik dan Kenn akan menyusulnya ke sana. Gita tidak ikut karena ia tidak berani naik pesawat, juga ia yang terkendala izin dari Yola karena pekerjaannya sudah menumpuk. Gita hanya akan menunggu kabar dari Anak Onta nya. *** Kenn, Rian dan Hendrik baru saja sampai di International Changi airport, di sana mereka sudah di tunggu oleh seorang supir yang diperintahkan oleh Getta. Memerlukan waktu sekitar 23 menit untuk menuju Mount Elizabeth Hospital tempat Andra di rawat. Getta dan Wildan menyambut kedatangan sahabatnya dengan bersalaman ala laki-laki. "Gimana keadaan si Onta?" tanya Rian langsung. Mereka langsung diantarkan menuju kamar perawatan Andra oleh sang supir. Andra tidak memakai baju, dari pundak sampai dadanya dibalut perban secara menyilang, lehernya terpasang cervical collar. "Masih belom sadar," jawab Getta "Itu dadanya kenapa di perban?" tanya Hendrik. "Empat tulang rusuk depannya remuk," jawab Wildan. "Si Kakak gimana?" Wildan dan Getta hanya melihat Gita sebentar ketika di rumah sakit, karena mereka harus siap-siap ikut bersama pesawat yang membawa Andra sampai ke Mount Elizabeth Hospital. "Si Kakak baik-baik aja, dia kaget banget pas gue bilang si Onta di bawa kesini," jawab Kenn. "Kenapa sekarang gak di ajak?" tanya Getta. "Kayak gak tau aja, udah gitu gak dibolehin juga sama Teh Yola, maaf katanya cuma bisa titip salam." Gita memang hanya menitipkan salam untuk Andra ketika mereka akan berangkat. "Tapi gak ada luka yang serius, 'kan?" tanya Getta lagi memastikan. "Gak, dia cuma shock aja," jawab Rian. Adi Putra tersenyum ketika melihat Anak Onta yang lainnya datang untuk menjenguk Andra. Selama tiga hari di sana Getta banyak bercerita tentang Gita dan juga Oncom, juga mereka yang dipanggil dengan sebutan Anak Onta olehnya. Adi Putra sedang menyelidiki kecelakaan yang menimpa putra satu-satunya itu. Berbekal informasi yang diberikan oleh polisi dari Gita dan juga satu orang pengendara mobil yang pertama kali melihat kejadian, Adi Putra sudah mendapatkan tersangkanya. Bukan hal sulit baginya untuk mendapatkan pelaku yang memang dengan sengaja ingin mencelakai anaknya. "Kapan kalian datang?" tanyanya ketika sampai di depan ruang rawat Andra. "Setengah jam yang lalu, Yah. Ayah sehat?" tanya Rian dengan mencium punggung tangannya. Diikuti oleh Hendrik dan Kenn. "Alhamdulillah sehat. Istirahat dulu aja, biar Ayah yang jaga." perintahnya pada para Anak Onta. "Gak apa-apa, Yah. Ayah pulang aja, biar kita yang jaga." Jam sudah menunjukan pukul lima sore waktu setempat. Adi Putra selalu datang disaat pagi dan sore hari, dan akan pulang saat malam hari. "Gak apa-apa, ayah disini dulu. Kalian mau makan apa?" "Apa aja," jawab Getta langsung. Adi Putra memerintahkan anak buahnya untuk membelikan mereka makanan, mereka akan makan di sana. Hari ketiga Andra di rawat dan Andra belum sadar sama sekali. Sebenarnya bukan belum sadar, Andra sempat membuka matanya tadi malam, hanya saja ia lebih memilih kembali menutup matanya, karena Andra masih berharap ini adalah mimpi. Setiap malam Adi Putra ingin sekali menemani anaknya yang masih terbaring dengan nyenyak nya di ranjang rumah sakit, tetapi kesehatannya yang sedang kurang baik dan di larang oleh Getta dan Wildan. Ia pun terpaksa harus mengkonsumsi obat tidur dosis rendah selama tiga hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN