32. Potret

2368 Kata
Cekrik.. cekrik.. suara Camera yang sedang memotret Rara. "Aku senang kau Datang." ucap Raiyen sembari Tersenyum dan berdiri di Samping Lilia yang sedang asik terpesona melihat Pemotretan Rara." Heh!.. Jika bukan karena Acaman mu aku tak akan mau datang!" ujar Lilia yang tampak kesal." Hahaha.. kan kau sendiri yang memilih mematuhi Perkataan ku! Padahal kan jika aku membalas dengan Ini.. Tuk! Tuk!." ucap Raiyen Sembari mengetuk ngetuk Bibir nya." Akan lebih mudah." Lilia LuzQiana: "HaH! Diam!.. kan kau sudah berjanji untuk Tidak membahas nya lagi dasar Pembohong Rasakan Ini!" Ujar nya dengan pelan namun Menginjak injak Kaki Raiyen dengan keras. Raiyen Qin: "Bercanda ya? Jika kaki ku terluka Resikonya Akan sangat menyusahkan mu Loh Hehehe." ujar nya yang membuat Lilia berhenti menginjak injak kaki nya. " Aneh Yaa.. padahal aku baru bertemu dengan nya mengapa aku merasa Sangat Akrab? Dan juga Baju Itu.." Gumaman Lilia yang kini melihat pemotretan Rara yang memakai Baju SMA Bimasakti Untuk Iklan Promosi sekolah." Apaan sih! Sumpah katanya hari ini iklan Sampo kok jadi sekolahan! Bimasakti lagi, Aneh nya kenapa dengan Lilia? Ada yang mencuriga kan." ucap Rara yang terlihat sangat tidak nyaman." Rara kau baik baik saja? Kau terlihat tidak nyaman." Ucap juru Foto Rara." Eh? Maaf.. sepertinya Rara Blong Karena akhir akhir ini jadwal nya padat, mari lanjutkan." ujar Rara langsung melanjutkan pemotrettannya." Maaf kan jika aku membuat mu tidak nyaman Rara, aku hanya ingin Lilia mengingat kenangan Itu bagaimana pun aku ingin mengembalikan ingatannya walaupun akan sangat menyakitkan." 6 tahun yang lalu Disaat semua murid berusaha tepat waktu datang ke sekolah agar tidak terlambat dan ada saja yang berusaha Naik pagar bahkan tembok sekolah untuk tidak terkena hukuman oleh guru Jiytak yang terkenal suka memberi hukuman dengan menjitak Sesuai Namanya itu. namun terkadang Ada murid yang suka Terlambat dan malas berusaha dan akhirnya memilih cabut. " Hah! Gimana nih udah telat, jika ketawan sama pak Jiytak bisa Darurat Nih Jidat! Masa harus manjat tembok si? Aihhh.. Kan make Rok! Tinggi pula! Hmm.. Salah satu pilihan merayu pak Dion Tapi kan kumisnya itu loh.." Gumaman Lilia yang kini berada di depan pagar sekolah yang terlihat Terkunci Itu sembari melirik pak Dion yang kini sedang tertidur di pos Penjaga dengan kumis panjang nya yang berterbangan karena terkena Angin. Tap.. tap.. tap tiba tiba terdengar Suara Langkah kaki dari belakang Lilia dan berusaha memegang pundak nya. Taps!!" Aaaa!!! Ma.. maaf pak saya berjanji tidak akan telat lagi! Jangan jitak jidat saya! Ampunn.. Ampunn." Teriakan Lilia karena kaget." Siapa Ituh! Anak anak sekarang Memang Suka sekali terlambat akan kulihat siapa Anak nakal itu!" ucap pak Dion yang terbangun karena mendengar teriakan Lilia. Drappp.. Drapp.. Suara Lari yang begitu cepat mengarah menjauh dari Sekolahan SMA Bimasakti." Hos.. hos.. hos Hauss! Hauss!" ucap Raiyen dan Lilia yang kini terengah engah." Aduhh! Kau itu Lari sangat cepat tau! Kaki mu itu panjang beda dengan kaki ku! Aku tadi terseret seret tau!" ucap kesal Lilia sembari menuding nuding Raiyen." Woi! Semua ini kan salah mu! Kenapa kau berteriak tadi! Bikin kaget saja Dan gara gara mu pak Dion bangun tau! Dan bukan salah ku jika kau terseret seret! Salahkan Kaki mu!" ujar Raiyen kembali menuding nuding Lilia." S#wj*hsh.. dasar Jerapah! Nggak ada adap Huh!" gumaman kecil Lilia masih terdengar Raiyen." Ee? Udah kecil macem curut lambatnya kek siput! Dasar Boghel!" ucap nya kembali menghina Lilia." Ahh.. Gini nii malesnya jika bertemu dengan mu! Aku pulang saja!" ucap Lilia berjalan pergi. Greb!" Mau kemana? Kita kan sama sama terlambat dan tak mungkin jika kita kembali, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat? toh jika kau pulang pasti akan kena Omel kan? Bagaimana?" ucap Raiyen sembari memegang Tangan Lilia." Perayaan Festival umum Selalu buka tanpa tutup sering memberikan kesan bahkan kegembiraan Turun menurun yang tiada habis nya dan sering di jadikan kenangan yang membetika bekas terindah sepanjang Massa. "Woahhh.. Sudah lama aku tak kesini.. ngomong ngomong kenapa kau mengajak ku kesini? Kukira dengan wajah sangar mu itu kau tak suka Perayaan Festival yang penuh dengan kebisingan." ujar Lilia yang kini berada di Perayaan Festival yang sering Ia kunjungi Sejak Kecil." Wajah ku tak kasar tuh! Ini nama nya wajah yang menjanjikan! Tidak semua orang memiliki nya tau!" ucap Raiyen langsung menjawab." Haha.. maaf maaf jangan ngambek dong, Oh Ya.. apa kau tau.. Aku dulu sangat menyukai tempat ini, bagi ku tempat ini adalah tempat aku bisa membuat kenangan Indah." ujar Lilia dengan senyum kecil nya." Begitu ya?.. apa aku bisa membuat kenangan indah juga? Kaya nya tidak akan.." gumaman Raiyen." Bisa! Semua orang bisa membuat kenangan indah! Jika kau merasa kau tidak bisa membuat nya sendiri maka Buat lah dengan orang lain, kenangan akan lebih berkesan jika kita membuat nya bersama orang lain." ucap Lilia seketika membuat Raiyen terpanah dengan perkataannya." Jika begitu.. Aku akan membuat nya bersama mu! Ayoo, Rekan kenangan ku! Mari kita buat kenangan yang tak akan terlupakan!" ucap Raiyen menarik Lilia membawa nya bermain wahana yang menyenang kan dan di sertai Tertawaan yang sangat indah di dengar." Lilia! Lilia! Lihat sini! Cekrik!!" ucap Raiyen tiba tiba Berfoto bersama Lilia yang sedak Asik memakan permen kapas." Arghhh.. curang! Lihat tuh wajah ku komuk sekali! Ulang ulang!" ujar Lilia yang tampak tidak terima." Apa sih Cewe pasti begitu! Udah ahh nggak mau Wlee!" ujar Raiyen langsung mematikan ponsel nya agar Lilia tidak bisa menghapus foto itu karena harus memakai sandi." Ahhh! Kau curang! Muka ku jelek tau pipi nya Kegedean!" Hahahha.. bodo amat yang penting aku Guanteng!" Hehe.. Itu lah Sedikit Cerita Yang kini membuat ku sangat merindukan Kenangan itu, Dia adalah orang yang mengajarkan ku dan membuat kenangan indah itu bersama ku! Katanya Kenangan Indah akan selalu teringat namun Mengapa kau tak mengingat nya? Dan tetap berdiri santai seperti itu? Apa hanya aku yang masih tenggelam dalam kenangan itu? Kenapa kau melupakan nya? Kenapa.." ucap Raiyen sembari melihat Lilia yang kini masih menatap Rara. Keesokan Hari nya dikantor pusat Wollden Qin. "Kau jadi penurut Ya.. seharusnya aku mencium mu Sejak Lama." ucap Raiyen sembari menyeringai duduk tegak di kursi Presiden Qin seperti singgah sana nya." Hah! Bodo lah abaikan saja toh kalau di jawab Dia pasti akan memojokkan ku lagi! Yang penting aku harus mengasih makanan ini lalu cepat pergi." Fikiran Lilia mengabaikan perkataan Raiyen dan berjalan menuju Raiyen." Ini makan siang mu! Aku sudah memesan sesuai permintaan mu! Kalau begitu aku pergi." Tunggu! Apa aku menyuruh mu pergi? Kemari lah dan buka makanan itu aku ingin lihat sesuai pesanan atau tidak." ucap Raiyen dengan tegas sembari mengetik Komputer." Ini nih! Kemarin Halus sekarang sekasar tumit Emak Emak! Lama lama borokan mampus!" Fikiran kesal Lilia langsung membuka makanan itu di dekat Raiyen." Lihat.. sama kan!" Raiyen" Untuk apa di lihat? Cepat suapin aku! Tangan ku sibuk." ucap nya yang sengaja terlihat sibuk padahal hanya mengotak atik File. "Huft! Sudah kuduga pasti tak akan mudah! Turuti saja lah!" Fikiran Lilia Langsung menuruti Perkataan Raiyen dan terus menyuapi nya."Anjrit! Mulut nya kan sebesar itu! Masa makan aja lama bangat! Duh gimana nih pegel." Fikiran Lilia yang terus menyuapi Raiyen sembari berdiri padahal Ia memakai High Hells." Fikiran ku saja atau gimana hari ini dia benar benar Nurut! Aku merasa sudah menjinak kan Dinasaurus! Hehe." Pikiran Raiyen dengan wajah penuh Bangga." Eh? Tumit nya merah sekali! Dia kan memakai High Hells! Bodoh nya aku! Pasti sangat Capek!" Fikirannya yang melihat tumit Rara yang memerah dan kaki terus gemetaran. Grep!.. pup! Tiba tiba Raiyen menarik Lilia dan membuat Lilia duduk di pangkuan nya." Eh? I.. ini?" ucap Gugup Lilia." Apa? Cepat lanjutkan! Lelet sekali bisa bisa perutku lapar!" ucap Ketus Raiyen sembari Sibuk Mengotak atik Komputer. " Lelet? Ngaca sana! Siapa yang lelet Kan dia sendiri yang makannya lama! Hmmm.. Tapi Enak juga Duduk seperti ini serasa menyuapi suami yang sedang sibuk bekerja namun tetap meluangkan waktu untuk di suapi istrinya, Eee? Aku berharap Apa sih! Mana bisa orang seperti dia bisa sebaik itu sama istri nya Nanti! Heleh! Tapi bagaimana Dia orang baik, aku merasa tidak sakit lagi tapi bukan kah Dia akan pegal?" Fikiran Lilia yang terus menatap wajah Raiyen yang membuat Raiyen tambah tidak Fokus." Raiyen..?" ujar Lilia." Kenapa..?" ucap Raiyen langsung menjawab." Apa kau tidak pegal? Eee.. maksud ku jika kau terus memangku ku seperti ini aku takut paha mu akan Keram Nanti." ujar Lilia." Kenapa..? Kau menyadari Berat badan mu yang sangat besar itu? Tenang lah aku bisa menahannya, kau teruskan saja menyuapi nya!" ucap Raiyen serius mengotak atik komputer namun tak di sangka Semua wajah nya Merah bahkan sampai ketelinga nya." Dia itu sekali nya ngomong ngejeplak Ya! Dasar Ampedu!" Gumaman Lilia." Dasar bodoh justru jantung ku yang keram sangking Berdetak sangat kencang! Akhhhh.. Gimana Nih! Aku terus berkeringat jika Tercium bau yang tidak sedap gimana?" fikiran Raiyen yang sangat Gelisah sampai membuat wajah beserta leher nya berkeringat." Duhh! Wajah mu merah dan berkeringat Padahal kan di sini Tidak panas! Aku mengelap nya dengan Lengan baju ku saja ya.. Aku tidak membawa Sapu tangan." ujar Lilia sembari mengelap Keringet Raiyen mulai dari wajah sampai Leher yang tanpa sengaja membangkitkan Rangsangan Raiyen." Taps! Suara tangan nakal mendarat di b****g Lilia." Jangan menyentuh Lagi! Dorong saja jika kau tak mau." ujar Raiyen yang kini melihat ke arah bibir cantik Lilia dengan wajah seperti tomat." Ughhh.. lagi lagi mulut ku tak bisa berbicara." fikiran Lilia langsung memaling kan wajah nya. Lilia" Aku tak pandai dalam Berciuman aku takut.." ucap pelan Lilia dengan wajah seri seri malu nya. Raiyen" Biar aku yang melakukannya kau hanya cukup mengikuti." Mmmmm.. mmmm! Suara saling mengemut antar bibir satu dan yang lainnya." Lilia..?" Suara Lembut Raiyen sembari menatap Lilia dengan tatapan m***m nya." Sial! Aku tak bisa menolak! Kau bilang aku hanya perlu mengikuti nya, kurasa aku sudah bisa!" Ucap Lilia langsung membalas Ciuman Raiyen. Raiyen pun yang tak bisa mengendalikan Nafsu nya Ia mulai meraba b****g Lilia dan menidurinya Di Atas meja." Apa aku boleh seperti ini?" Ucap m***m Raiyen yang kini berada di atas Lilia." Lebih baik melakukannya tanpa meminta Izin!" ucap Lilia sembari menarik Leher Raiyen kedekat Bibir nya dan berbisik." Tentu saja jika kau bertanggung jawab!" Raiyen yang mendengar Kabar lampu hijau pun langsung tarik gas dan berkata!" Harus kah kita Ke KUA sekarang?" Ucap serius Raiyen." Tidak Perlu terburu buru, Toh KUA tidak akan ke mana mana." Ucap Lilia dengan senyum nakal nya." ...! Sesuai perkataan mu Nyonya Qin." ucap lembut Raiyen berbisik di telinga Lilia yang membuat mereka makin terbawa suasana. Rara" Dasar l***e! Enak saja Ia merebut Bibir itu dari ku! Dan terbaring santai di bawah kak Raiyen! Tempat itu seharus nya aku yang memiliki! dan juga bibir nya! Aku tak bisa mengabaikan lagi! Aku harus cari tahu!" ucap kesal Rara sembari berjalan keluar dari Kantor Wollden Qin. Beberapa menit yang lalu. " Hehehe.. Masakkan ini pasti sangat enak karena aku buat dengan cinta! Hahaha.. ajaran Sepongbob nih! Ku harap Kak Raiyen Juga menyukai nya seperti para pembeli di Krasty krab yang sangat tergila gila." fikiran Rara berjalan Menuju Ruang Raiyen Qin. "Eh? Itu bukannya Dewi Kebahagiaan? Maksud ku Rara, dia ingin kemana?" Seperti nya ingin menemui Presiden Qin." Kita berhentikkan atau tidak? Sekarang pak Presiden Qin lagi bersama Nona Lilia." Sudah lah tak usah! Toh pak Qin dan Nona Lilia hanya membahas bisnis, dan tidak melakukan apa pun, kecuali mereka diam diam sedang.." ucap para Karyawan yang suka bergosip." Kok sepi ya? Kak Zen yang biasa duduk di sini kemana kok kosong? Mmmmm.. mmmm.. tiba tiba terdengar suara Emutan Raiyen dan Lilia." Suara Itu..?" Ucap Rara mengintip Dari jendela dan mendengar.  "Kau bilang aku hanya perlu mengikuti nya, kurasa aku sudah bisa!" Apa aku boleh seperti ini?" Lebih baik melakukannya tanpa meminta Izin!" Me.. mereka sudah sampai ke jenjang ini? Ukh! Hati ku sakit sekali seperti ada yang meremas nya! Mata ku tak sanggup melihat nya! Tap.. tap.. tap." fikiran Rara yang melihat Raiyen dan Lilia saling Meraba Satu sama Lain karena Sakit Hati nya, Ia pun pergi terburu buru keluar dari kantor Wollden Qin. "Sudah Cukup, Ekting mu bagus juga." Ucap Raiyen Langsung memberhentikan ciumannya." Y.. Ya! Apa wanita yang mengejar ngejar mu sudah pergi? Apa dia sangat mengganggu mu sampai kita harus berpura pura tadi?" Ucap Lilia sembari merapihkan Pakaiannya yang berantakkan Akibat Ulah Raiyen." Yaa.. begitulah untung Resepsoris baru memberitahu." ujar Raiyen. beberapa menit Lalu ketika Rara berjalan ke arah Ruang Raiyen." Eh? Itu Rara? Aku harus menghubungi pak Qin." Pak Saya melihat Rara sedang berjalan ke ruang Anda Apa Saya perlu memberhentikannya?" ucap Suci Si Resepsonis Baru." Tidak perlu.. kau cukup mengosong kan para Karyawan Yang berada Di Lobi Ku." ucap Raiyen yang membalas Telephone dari Suci." Raiyen" Kau ingin bebas kan dari Ku? Aku memiliki Satu hal yang harus kau lakukakan." ucap Raiyen seketika membuat Lilia menengok ke Arah nya. Lilia" Tentu! Aku akan melakukannya! Memang nya apa Itu?" ujar nya yang terlihat sangat bersemangat. "Apa! Kau gila! Aku tidak mau! Bagaimana pun aku tidak mau melakukannya!" ucap Lilia yang terlihat menolak keras ucapan Raiyen." Kau Yakin? Jika kau melakukan ini Aku tak akan menyuruh mu lagi Loh! Plus Vidio Saat di Perayaan Festival Akan ku hapus." ujar Raiyen." Kalau di pikir kami memang sudah Ciuman saat Itu jika melakukannya lagi.. Tak apa si, ini kan hanya Ciuman Saja dan Dia akan berhenti menyuruh ku!" Baiklah! Aku akan melakukannya! Kau harus menepati janji mu dan Ya! Tidak boleh ada salinan tentang Vidio Itu!" Ucap Lilia yang kini berada Di pangkuan Raiyen." Yaa.. Ya Bawel! Tapi kau harus Melakukannya seperti Normal! Juga kau harus berusaha menikmati momen nya, Kau bisa kan..?" Ucap Raiyen yang terus berbisik di telinga Lilia." Okeh! Aku Lilia tentu saja bisa mari kita mulai!" Itu lah yang sebenarnya terjadi di antara Lilia dan Raiyen Yang kini masih Tersipu malu. Sementara Itu di kantor Makeup Luz. Davit" Sial! Kenapa Lilia tidak bilang Kalau hari ini Harus bertemu pak Qin! Dan kenapa Aku tidak Tahu! Ini pasti ulah nya yang sengaja Untuk aku tidak Ikut! Dasar Pria Ular!" ucap nya yang dari tadi sibuk karena Rapat. Breummmmmm.. Cekritt suara mobil Davit Yang berhenti karena Ada nya Lampu merah." Tringg.. tringg suara Handphone Davit berbunyi." Halo? Bibi kenapa Menelephone?" ujar nya mengangkat telephone dari Vivia Luz." Nak Davit kau sedang sibuk Atau tidak? Bibi ingin meminta Tolong." ujar Vivia Luz.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN