Virgo menguraikan pelukannya dan menatap lekat ke arah manik mata Fitri. Gadis itu tersenyum dan menghela napas lega. Rasanya benar-benar plong, saat dia mengungkapkan semua isi hatinya pada Virgo, juga bagaimana laki-laki itu mengatakan bahwa dia mencintainya. Sebenarnya, sebelum inipun, Virgo sudah pernah menyatakan perasaannya. Tepat di depan Ayahnya. Hanya saja, saat itu Fitri masih belum sadar sepenuhnya akan isi hatinya sendiri. Apakah dia masih mencintai Veloz, atau dia sudah mulai mencintai Virgo.
Ngomong-ngomong soal Veloz, Fitri langsung sadar jika laki-laki yang pernah dicintainya itu masih ada di ruangan ini. Karenanya, Fitri langsung melepaskan kedua lengannya dari leher Virgo dan memutar tubuh. Senyuman lembut dan hangat milik Veloz menyambutnya, membuat gadis itu ikut menyunggingkan seulas senyum lembut yang sama.
“Makasih, Kak...,” ucap Fitri tulus. Di tempatnya, Veloz mengerutkan kening.
“Makasih? Untuk?” tanya laki-laki itu bingung. Dia melirik tangan Virgo yang menggenggam tangan Fitri dengan begitu eratnya, membuat gadis itu menoleh ke arah Virgo dan disambut dengan senyuman laki-laki itu.
Semoga kalian berdua selalu berbahagia, batin Veloz tulus.
“Karena lo, gue bisa mengetahui isi hati gue yang sebenarnya.” Fitri kembali menatap Veloz lalu detik berikutnya, gadis itu kembali mengalihkan tatapannya ke arah Virgo. “Karena lo, gue bisa menyadari isi hati gue, kalau gue cinta sama Virgo.”
“Gue nggak melakukan apapun, Fit,” sahut Veloz. “Lo sendiri yang sadar akan hal itu. Selamat untuk kalian. Gue berdoa yang terbaik untuk hubungan kalian yang baru.”
Fitri tertawa dan mengangguk. Dia membiarkan Virgo merangkul pinggangnya dan mencium kepalanya. Sama seperti Fitri, hati Virgo pun benar-benar lega. Semua beban yang sempat dia rasakan menghilang tak berbekas. Ini adalah awal yang baru dari kisah hidupnya bersama Fitri.
Betapa dia sangat mencintai gadis itu...
Suara dehaman yang berasal dari pintu halaman belakang membuat Virgo, Fitri dan Veloz menoleh. Disana, Ravina mengerjap dan si pemilik dehaman barusan, alias Leo, melongo. Dia menunjuk wajah Fitri dan Virgo bergantian dengan kening berkerut.
“Lo... kalian... kok....” Benar-benar bukan kosakata yang bagus sama sekali! Leo justru terlihat seperti seorang i***t kelas berat. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu dia melihat keterpurukan Virgo dan bagaimana sahabatnya itu menangis karena perasaan cintanya untuk Fitri. Dicatat, ya... MENANGIS! Lalu... sekarang... sahabatnya itu memancarkan aura bahagia dan merangkul pinggang sepupunya dengan begitu posesif sambil tersenyum? Fitri juga bahkan tersenyum malu-malu. Gadis itu berniat untuk melepaskan diri, namun Virgo tidak membiarkan. Dan... sejak kapan si pembuat lingkaran setan diantara Virgo, Fitri dan adiknya—Veloz—berada disini?
“Gue pacarnya sekarang!” Virgo menyahut mantap. Dia kemudian merangkul pundak Fitri dan kembali mencium kepala gadis itu. Di tempatnya, Ravina melompat heboh sambil bertepuk tangan dan langsung menghambur ke arah Virgo dan Fitri seraya mengucapkan selamat berkali-kali dan meminta traktiran. Leo sendiri tersenyum untuk keduanya dan turut mendoakan yang terbaik untuk mereka.
Hanya tinggal satu masalah.
Lilian Aulia.
Jika gadis itu tahu kalau Virgo dan Fitri berpacaran, apa yang akan dia lakukan? Bagaimana dia bisa menghapus kesedihan dan keterpurukan yang dirasakan oleh Lilian nantinya? Leo sama sekali tidak menyukai keadaan Lilian yang sedang bersedih.
“Leo....”
Panggilan itu membuat Leo tersadar dari lamunan dan menoleh. Sikap hebohnya Ravina pun menghilang, ketika gadis itu mendengar Veloz memanggil Leo. Virgo dan Fitri pun mengawasi dari tempat mereka masing-masing.
Ah... betapa Fitri sangat nyaman dengan perlakuan Virgo, dimana laki-laki itu menggenggam tangannya dengan sangat erat.
Veloz mendekati Leo dan berhenti tepat di depan laki-laki itu. Keduanya saling tatap dalam diam, sampai akhirnya, Veloz berdeham dan bersedekap lalu tersenyum tipis.
“Boleh gue dekatin adik lo?”
Leo mengangkat satu alisnya. “Lo tau darimana kalau gue Kakaknya Liz?”
“Kalau lo lupa, kita pernah nggak sengaja ketemu di rumah Virgo waktu itu. Lagipula, Liz udah cerita ke gue mengenai semua anggota keluarganya. Orangtua lo juga ternyata sahabat dari orangtua gue. Just for your information, bokap gue pernah naksir nyokap lo waktu zaman mereka sekolah dulu. Sayangnya, bokap lo ngalahin bokap gue dalam hal memenangkan hati nyokap lo. Padahal waktu itu, bokap gue udah mapan, dibandingin sama bokap lo yang masih SMA.”
Leo mendengus dan menggelengkan kepalanya. Dia baru mengetahui fakta ini dan benar-benar tidak bisa percaya kalau Ayahnya yang katanya doyan tawuran itu bisa juga menaklukan hati perempuan.
Lalu kenapa dia tidak bisa menaklukan hati Lilian seperti dulu Ayahnya menaklukan hati Bundanya, sih?!
Kesal!
“Yo?”
Leo tersentak. Ditatapnya Veloz tepat di manik mata.
“Gimana?” tanya laki-laki itu lagi.
Di tempatnya, Leo menarik napas panjang dan bersedekap. “Kalau sampai gue tau dia nangis karena lo, lo nggak akan lolos begitu aja dari gue! Paham?”
Veloz terkekeh lantas mengangguk. Dia mengulurkan tangan kanannya, menunggu Leo menjabat uluran tangannya tersebut. Ketika kedua laki-laki itu saling berjabat tangan, Ravina kembali berteriak heboh. Kali ini, bukan karena teriakan heboh seperti di awal, melainkan teriakan heboh karena melihat Fitri yang jatuh tak sadarkan diri begitu saja dan berhasil ditangkap oleh Virgo.
###
Ravina menguap kecil dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. Didalam sana, tepatnya di ruang UGD, Fitri sedang ditangani oleh dokter. Gadis itu masih belum sadarkan diri sejak pingsan di rumahnya tadi. Suhu tubuhnya sangat tinggi namun kedua tangan dan kakinya begitu dingin. Wajah Fitri bahkan sangat pucat dan gerakan naik-turun dadanya terlihat sangat lemah.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi Virgo, karena Ravina tidak bisa membayangkannya lagi. Virgo benar-benar panik. Laki-laki itu memanggil nama Fitri dengan keras berulang kali dan langsung membawa gadis itu kedalam mobil seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Ravina maklum dengan keadaan Virgo yang seperti itu. Dia baru saja mendapatkan cinta Fitri, setelah sebelumnya laki-laki itu harus menelan dan merasakan sakit yang tiada tara karena beranggapan bahwa Fitri masih mencintai Veloz. Dan ketika dia melihat binar kebahagiaan terpancar dari wajah Virgo dan Fitri, Ravina turut berbahagia. Namun, kebahagiaan itu bahkan harus cepat berakhir karena sakitnya Fitri hingga menyebabkan gadis itu pingsan.
Helaan napas berat dari Ravina membuat Leo menoleh. Laki-laki itu bisa melihat bagaimana saudara sepupunya tersebut memijat pelipisnya dan masih membiarkan jaket milik Elkansa melingkupi tubuhnya. Ya, Leo sudah menginterogasi Ravina habis-habisan saat berada di taman belakang rumah Fitri dan gadis itu akhirnya mau membuka mulutnya juga. Kemudian, keluarlah nama Elkansa dan Rado. Kakak-beradik yang sepertinya sama sekali tidak akur menurut Leo ditilik dari cerita Ravina.
Veloz masih ada disini. Menemani Virgo dan juga khawatir dengan keadaan Fitri. Mereka sepakat tidak akan memberitahu orangtua Fitri dulu sebelum gadis itu sadar dari pingsannya. Tapi, Leo terpaksa mengatakan hal ini kepada kedua orangtua-nya karena bagaimanapun juga, Papihnya Fitri adalah saudara sepupu Bundanya. Pun dengan Mamihnya Fitri yang notabene saudara sepupu Ayahnya. Meski begitu, orangtua Leo berjanji tidak akan memberitahu kedua orangtua Fitri terlebih dahulu dan sebagai gantinya, mereka akan langsung ke rumah sakit.
Virgo? Sekali lagi, jangan tanyakan keadaan Virgo yang sudah seperti orang gila. Laki-laki itu mondar-mandir di depan pintu ruang UGD sambil meremas kedua tangannya—terkadang dia meremas rambutnya sendiri—dengan wajah berantakan dan kedua mata memerah.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Leo kepada Ravina, ketika dia mendengar helaan napas berat milik gadis itu untuk yang kedua kalinya. Dia melirik Virgo sekilas dan Veloz ternyata berhasil membujuk sahabatnya itu untuk duduk dan tenang. “Apa lo masih mikirin ucapan si Elkansa?”
“Menurut lo?” tanya Ravina balik. Gadis itu kini memutar tubuhnya untuk menghadap Leo. Wajahnya sarat akan kegelisahan dan kegusaran, Leo sadar akan hal itu. “Gue harus gimana, Yo? Gue sama sekali nggak ada niat untuk balikan sama Rado, walaupun dia bilang dia masih cinta sama gue lah, gue nggak boleh move on dari dia lah, dan lain sebagainya. Bahkan, Elkansa sendiri juga bilang kalau Rado masih cinta sama gue, tapi gue disuruh mundur karena Rado udah punya tunangan. Tunangannya itu kata Elkansa adalah orang yang dia sayang! Gimana gue nggak pusing?”
Leo diam.
“Lo bisa bayangin nggak sih jadi gue? Dua kali! Pertama, dia selingkuh sama sahabat gue sendiri waktu itu. Gue bahkan sama sekali nggak bertegur sapa sama Shinta setelah kejadian itu. Terus sekarang, disaat Rado balik lagi dan bilang dia masih cinta sama gue, dia bahkan udah bertunangan? Unbelievable!” Ravina tertawa hambar dan menggelengkan kepala. “Gue bahkan tau Rado udah bertunangan dari Elkansa! Kalau Elkansa nggak negur gue, bahkan sampai nyuruh gue mundur, gue mungkin akan terperangkap lagi sama Rado. Mungkin gue akan luluh sama semua bualan manisnya itu!”
Masih diam. Leo yakin, Ravina masih ingin menumpahkan semua unek-uneknya. Gadis itu bahkan mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya sendiri.
“Gue emang kesal waktu Elkansa ngomong seolah-olah gue ini cewek rusak yang hobinya ganggu hubungan orang. Tapi, di sisi lain, kalau Elkansa nggak ngomong ke gue soal itu, mungkin gue nggak akan pernah tau kebenarannya.”
Leo mengernyit. Ada yang berubah disini.
“Mungkin Elkansa emang bersikap dingin ke gue, tapi sedikit-banyak, gue mulai paham kenapa dia ngelakuin hal itu ke gue. Mungkin dia nggak ingin gue termakan rayuan Rado karena akan menyebabkan gue sakit hati, mungkin juga karena Elkansa ingin melindungi perasaan cewek yang dia sayang, yang katanya udah jadi tunangan Rado itu.”
“Rav....”
Ravina menoleh dan mengangkat satu alisnya, ketika dia melihat Leo memasang raut wajah aneh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kenapa, Yo?”
“Mmm....” Leo berdeham sejenak dan tersenyum tipis. “Koreksi kalau gue salah, ya... tapi, sejak lo mulai cerita, lo selalu nyebut nama Elkansa. Lo yakin, lo kesal sama dia?”
DEG!
Kenapa sekarang rasanya jantung Ravina berdetak dua kali lebih cepat daripada seharusnya? Kenapa saat Leo menanyakan hal tersebut, wajah Elkansa melintas di benaknya dan tersenyum padanya?
Demi Tuhan!
Elkansa itu laki-laki menyebalkan yang selalu bersikap dingin kepadanya!
“Ya... karena, gue tau semua ini dari Elkansa, Yo,” jawab Ravina setelah diam beberapa saat. Gadis itu membasahi bibirnya yang mendadak kering dan berdeham untuk menetralisir kegugupan yang bahkan dia sendiri tidak tahu datangnya darimana.
“Yakin karena itu?”
Ravina melirik Leo sekilas dan kembali berdeham.
“Bukan karena lo, tanpa sadar, mulai ada something ke dia, kan?”
“Ih, amit-amit!” Ravina memperagakan adegan orang yang ingin muntah, kemudian mengibaskan sebelah tangannya. “Nggak akan ada, deh, cerita yang kayak begitu, Yo!”
Baru saja Leo ingin mengucapkan sesuatu, sebuah suara bernada dingin dan tajam menginterupsi. Baik Leo maupun Ravina, bahkan Virgo dan Veloz yang duduk agak jauh dari mereka, menoleh ke sumber suara. Leo mengerutkan kening, sementara Ravina terpaku di tempatnya.
“Oh... jadi, lo emang seorang playgirl, Ravina? Hmm? Lo menggoda adik gue, dan sekarang lo lagi berusaha untuk menggoda... dia?” tanya sosok itu sambil menunjuk Leo dengan menggunakan dagunya.
Dia, Elkansa.
###
Lilian kembali membaca ulang SMS yang dikirimkan oleh Virgo beberapa saat yang lalu. Entah kenapa Virgo memintanya untuk bertemu. Lilian senang dan juga khawatir dalam waktu bersamaan. Senang karena dia bisa melihat wajah Virgo yang sudah sangat dirindukannya itu sekaligus khawatir karena hatinya berkata akan ada sesuatu yang terjadi. Dan Lilian sangat benci dengan kegelisahan yang kini merayap di hatinya itu.
Setelah berganti pakaian, Lilian segera pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh Virgo. Ketika Lilian membalas SMS Virgo dengan menanyakan kenapa harus bertemu di rumah sakit, laki-laki itu tidak membalasnya. Sebagai gantinya, Virgo menelepon dan berkata, “Lo bisa datang, kan? Ada yang mau gue omongin.”
Sesampainya di rumah sakit, Lilian segera masuk kedalam lift dan menekan angka tiga. Dalam hati, gadis itu menerka-nerka, siapa gerangan yang sedang sakit hingga Virgo memintanya untuk bertemu disini dan bukannya di tempat lain. Mungkin, orang yang sedang sakit itu adalah orang yang paling penting untuk Virgo sehingga laki-laki itu tidak mau meninggalkan sisi orang tersebut.
Ting!
Lilian terlonjak dan menggerutu dalam hati ketika suara dentingan lift itu terdengar. Gadis itu kemudian keluar dan berbelok ke arah kanan. Lalu, langkah kakinya terhenti ketika dia melihat sosok itu. Sosok itu menyandarkan punggungnya ke dinding sambil bersedekap dengan kedua mata terpejam. Dengan langkah cepat, secepat debaran jantungnya saat ini hingga membuat gadis itu bingung dengan dirinya sendiri, Lilian menghampiri orang tersebut dan berhenti tepat di depannya.
“Ngapain lo disini?” tanya Lilian pelan, nyaris berbisik.
Pertanyaan itu membuat Leo membuka kedua matanya dan menatap langsung ke manik mata Lilian. Dia memang sudah mengetahui rencana Virgo yang memanggil Lilian kesini. Virgo akan berusaha menjelaskan situasi yang sudah terjadi sekarang kepada gadis itu. Berharap Lilian akan mengerti bahwa hanya Fitri lah yang dicintai oleh Virgo.
“Nemenin Virgo buat jagain Fitri.”
DEG!
Berarti... orang yang sedang sakit sehingga kemungkinan besar Virgo ingin menemaninya dan sampai menyuruhnya datang kesini untuk berbicara dengannya adalah... Fitri?
Tuhan... sesak sekali.
“Lo udah ditunggu Virgo.” Leo bangkit berdiri. Diliriknya Lilian sekilas melewati bahunya, ketika dia sudah berada di depan gadis itu. Lilian masih terpaku di tempatnya, menatap kursi yang dia duduki tadi dengan tatapan datar dan kosong. Sakit sekali hati Leo kala melihat Lilian seperti ini. Kedua tangannya bahkan terkepal kuat di sisi tubuhnya. “Ikut gue.”
Dengan sekuat tenaga, Lilian menahan mati-matian rasa sakit pada hatinya juga air mata yang bersiap tumpah. Ditegakkannya punggung dan diikutinya Leo yang telah berjalan lebih dulu. Laki-laki itu membawanya ke salah satu ruangan pasien namun tidak ada orang disana. Hanya ada Virgo. Laki-laki itu berdiri menghadap jendela sambil melipat tangannya di depan d**a.
“Go, she’s here.” Leo mempersilahkan Lilian untuk maju dan mendekati Virgo. Detik berikutnya, Virgo membalikkan tubuh dan tersenyum ke arah Lilian. Senyuman yang selalu dia sukai selama ini, namun entah mengapa, senyuman itu tidak lagi memiliki magnet kuat seperti dulu.
Astaga! Ada apa ini?
Bukankah dia sangat menyukai senyuman Virgo?
“Gue tinggalin lo berdua,” ucap Leo. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ketika Lilian menoleh dan bertemu mata dengan Leo, laki-laki itu bahkan menatapnya seolah-olah dia berasal dari dimensi lain. Benar-benar berbeda dengan tatapan-tatapan Leo kepadanya sebelum ini.
Dia rindu dengan tatapan Leo yang dulu.
Tunggu dulu!
Demi Tuhan, ada apa dengan dirinya saat ini?!
“Kenapa lo liatin gue kayak gitu?” tanya Leo datar. Di tempatnya, Lilian tersentak. Suara Leo benar-benar datar dan nyaris terdengar dingin di kedua telinganya. Gadis itu hanya menggeleng kaku dan menelan ludah susah payah. Terlebih ketika Leo mendengus pelan dan meninggalkannya begitu saja.
“Jangan lama-lama ninggalin pacar lo di ruangannya, Go. Dia baru sadar dan dia sangat membutuhkan lo. Dan lo pasti tau kalau gue nggak akan ngebiarin siapapun lolos begitu aja kalau sampai mereka nyakitin saudara-saudara gue. Nggak peduli lo sahabat terbaik gue sekalipun.”
Selesai berkata demikian, Leo benar-benar menghilang dari balik pintu. Lilian masih terpaku di tempatnya. Memikirkan semua keanehan sikap Leo padanya. Bagaimana laki-laki itu menatapnya datar dan suaranya yang terdengar dingin di kedua telinganya. Kenapa... kenapa rasanya sangat tidak enak?
“Lo nggak kaget waktu dengar gue udah pacaran sama Fitri tadi?”
Barulah Lilian bereaksi. Gadis itu menoleh dan bertatapan dengan Virgo yang tersenyum tipis ke arahnya.
“Apa?” tanya gadis itu tidak mengerti.
“Tadi, Leo bilang ke gue kalau gue nggak boleh terlalu lama ninggalin gue karena pacar gue—Fitri, baru sadar dari pingsannya.” Virgo berjalan mendekati Lilian dan berdiri tepat di depan gadis itu. “Lo dengar hal itu dan lo menanggapinya dengan biasa. Kenapa?”
Lilian mengerjap dan menunduk. Kalau dipikir-pikir, apa yang diucapkan oleh Virgo benar juga. Kenapa dia tidak kaget? Kenapa dia tidak menangis dan berlari dari ruangan ini? Kenapa justru perubahan sikap Leo lah yang menyita seluruh pikirannya?
Kenapa?
“Lilian... maaf, karena gue nggak bisa membalas perasaan lo. Tapi, gue amat sangat berterima kasih karena lo menyukai gue. Seandainya gue menerima perasaan lo karena kasihan, gue yakin lo akan tersakiti. Dan gue nggak mau menyakiti hati gadis sebaik lo.” Virgo kembali berbicara dan menepuk kepala Lilian pelan sebanyak tiga kali. “Gue harap, lo akan menemukan orang yang tepat untuk lo dan hati lo. Hati sebaik lo nggak boleh diberikan ke sembarang orang, Lilian. Semoga kita bisa tetap berteman, ya.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Virgo memperhatikan wajah Lilian. Gadis itu terlihat biasa saja. Bahkan tidak ada ekspresi sakit hati terlihat pada wajahnya. Virgo tersenyum simpul dan menarik napas lega.
Saat ini, tinggal membantu Ravina menyelesaikan masalahnya, karena Virgo yakin Veloz akan menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Liz. Dan Lilian... cepat atau lambat, gadis itu pasti akan menyadari sesuatu.
Bahwa sebenarnya, yang selama ini ada didalam hatinya bukanlah Virgo, tetapi... Leo.
Bukan untuk sembarang hati...
Aku katakan ini... sungguh aku cinta kamu...
Bukan untuk sembarang hati...
Hingga nafas berhenti...
Aku rela berlelah untukmu...
(SHE-Bukan Untuk Sembarang Hati)