TWELVE

1778 Kata
Pintu di belakangnya tertutup rapat dan Virgo menarik napas panjang. Baru saja, di depan sahabatnya sendiri, dia mengungkapkan isi hatinya untuk Fitri. Dia mengeluarkan semua rasa sesak dan sakit yang ditanggungnya karena mencintai Fitri. Walau bagaimanapun, dia ingin melihat Fitri bahagia, meski bukan bersama dengannya. Meskipun semua itu mungkin nanti akan membunuhnya, namun Virgo rela. Asalkan Fitri tersenyum bahagia setiap harinya.             Leo menyuruhnya keluar dan berbicara serius di ruang tamu. Karenanya, Virgo keluar dari kamar Fitri, setelah sebelumnya laki-laki itu meminta beberapa menit pada Leo untuk tetap berada di samping Fitri yang sedang tertidur. Leo tersenyum mengerti dan mengangguk. Dia menepuk pundak sahabatnya itu kemudian berjalan terlebih dahulu ke ruang tamu rumah gadis itu.             “Sori gue kelamaan.”             Nada suara lelah itu membuat Leo mendongak dan bertemu mata dengan Virgo. Wajah sahabatnya benar-benar berantakan. Sorot matanya menyiratkan rasa sakit yang teramat dalam. Kalau berada dalam posisi Virgo, Leo juga pasti akan putus asa seperti itu. Bagaimana tidak putus asa kalau gadis yang dicintainya justru mencintai saudaranya sendiri? Yah, walaupun kasusnya juga tidak berbeda jauh dengan kasus Virgo, sih.             Dia mencintai Lilian Aulia, sementara gadis itu mencintai Virgo, remember?             “Kalau ada casting pemilihan zombie, lo pasti langsung lolos tanpa harus ikut casting itu. Soalnya, tampang lo benar-benar kacau, man!” seru Leo. Laki-laki itu kemudian tertawa pelan dan menggelengkan kepala. Niatnya hanya ingin mengeluarkan candaan supaya wajah Virgo tidak harus seperti itu.             Namun, Virgo hanya menanggapinya dengan senyum.             “Gue menyedihkan banget, ya?” tanya Virgo dengan nada pelan. Leo berhenti tertawa dan menghembuskan napas berat. Ditatapnya dengan serius wajah sahabatnya itu.             “Lo berharapnya gue ngasih jawaban apa, Go?” alih-alih menjawab pertanyaan Virgo, Leo justru melontarkan pertanyaan lain. Virgo sendiri hanya diam. Dia balas menatap kedua mata Leo. “Kalaupun gue ngasih jawaban yang niatnya untuk menghibur elo, gue yakin lo nggak akan ketawa.”             Mendengar jawaban Leo, Virgo hanya bisa menarik napas panjang kemudian terkekeh hambar. Dia menunduk, menggelengkan kepala lantas menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Otaknya mendadak buntu, tidak bisa berpikir jernih.             “Tadi, waktu gue liat dia nangis di resto Jepang itu, gue benar-benar hancur, Yo. Terlebih, disana ada adik lo dan Veloz. Fitri nangis karena ngeliat mereka berdua. Entah dia nangis setelah dia ngeliat adik lo dan Veloz atau sebelum dia ngeliat mereka berdua, karena Fitri lagi sama Ravina.” Virgo menopang dagu dengan kedua tangan yang saling ditautkan di atas kedua lututnya. Tatapannya menyiratkan kesedihan dan kesakitan, saat Virgo menatap meja di depannya. “Rasanya gue mau ngehajar Veloz, tapi gue sadar dia saudara gue.”             Leo tetap diam.             “Gue nggak tau harus gimana lagi, Yo. Gue rela ngelakuin apapun asalkan Fitri bahagia. Asalkan Fitri selalu tersenyum, meskipun senyuman itu bukan karena gue dan bukan ditujukan untuk gue.”             “Tapi lo cinta sama dia, Go!”             “Gue emang cinta sama dia, tapi dia nggak cinta sama gue.” Virgo tertawa datar dan memejamkan kedua matanya. Punggungnya disandarkan di sofa dan laki-laki itu kembali menarik napas. ”What should i do?”             “Bikin dia lupa sama Veloz dan hanya melihat ke arah lo.”             Satu suara bernada tegas itu membuat Leo dan Virgo menoleh. Disana, di dekat pintu utama rumah Fitri, sosok Ravina muncul. Gadis itu menatap Virgo dengan tatapan tegas, setegas suaranya tadi. Leo mengangkat satu alisnya, ketika dia menyadari jaket yang melingkupi tubuh mungil Ravina bukanlah milik gadis itu. Jaket itu terlalu kebesaran untuk Ravina.             Jaket siapa?             Perlahan, Ravina berjalan mendekati Leo dan Virgo. Gadis itu duduk di samping Virgo dan menatap laki-laki itu lekat. Ravina tahu jika Fitri sebenarnya sudah mulai menyukai Virgo, hanya saja saudara sepupunya itu tidak sadar sepenuhnya. Bukannya bermaksud untuk melihat buku diari Fitri, hanya saja waktu itu dia tidak sengaja membacanya, ketika dia menemukan buku tersebut berada di atas meja belajar Fitri. Saat itu, Ravina datang untuk meminjam novel. Disana, Fitri menuliskan sesuatu yang sanggup membuat Ravina kaget.             Fitri menulis jika dia merasakan hal aneh ketika bersama Virgo. Entah perasaan aneh seperti apa, yang jelas gadis itu merasakan kenyamanan yang tiada tara.             “Lo tau sendiri kalau Fitri hanya menatap Veloz.” Virgo mendengus dan berniat untuk mengalihkan tatapannya, ketika dua tangan kecil milik Ravina menangkup wajahnya dan memaksa laki-laki itu untuk tetap menatapnya.             “Gue bilang, lo harus bikin Fitri lupa sama Veloz dan hanya melihat ke arah lo!”             “Rav, lo apa-apaan, sih?” tanya Virgo mulai gusar. Sampai kapanpun, dia tidak akan memenangkan hati Fitri.             “Lo akan menyesal belakangan, Go, kalau lo menyerah sekarang. Gue jamin itu.” Ravina bangkit dan memberikan tatapan tegasnya sekali lagi, sebelum kemudian gadis itu berjalan menuju halaman belakang rumah Fitri. Leo menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh. Keningnya mengerut. Dia penasaran setengah mati. Bukannya bermaksud untuk ikut campur, tapi, ini kedua kalinya dia melihat raut wajah sendu milik Ravina. Pertama kali dia melihatnya saat di pesta ulang tahun teman sekolah Leo waktu itu. Waktu itu, saat Leo menanyakan perihal raut wajah Ravina, gadis itu tidak mengatakan apapun.             Apakah masalah yang sama?             “Gue nggak apa-apa, Yo. Mendingan, lo samperin Ravina.”             Leo kini menoleh ke arah Virgo.             “Hah?”             “Ck! Bukan cuma lo yang ngerasa Ravina seperti nyembunyiin sesuatu, gue juga bisa ngerasain dan ngeliat. Sana, lo samperin dia dan lo tanya. Gue rasa, ini berhubungan sama laki-laki.”             Laki-laki?             “Serius, lo?” tanya Leo. “Menurut lo, dia punya pacar?”             “Mana gue tau.” Virgo mengangkat bahu dan tertawa pelan. Perasaannya sedikit membaik, ketika dia mendapatkan saran dari Ravina barusan. Walau bagaimanapun, jika ini memanglah perang untuk memenangkan hati Fitri, setidaknya dia tidak boleh menyerah sebelum memulai perang, bukan?             “Gue cabut dulu kalau begitu.” Leo bangkit dari duduknya dan segera berlari menyusul Ravina. Di tempatnya, Virgo menarik napas panjang dan tersenyum tipis. Dia ikut bangkit dan berjalan keluar rumah untuk sekedar mencari udara segar. Saat itulah, tatapannya beradu dengan tatapan seseorang yang berdiri di depan pagar rumah Fitri. Sosok itu menatapnya tegas yang dibalas dengan tak kalah tegasnya oleh Virgo.             “May i have a word with you?” tanya orang itu. Virgo tidak langsung menjawab. Dia tetap menatap sosok yang berdiri tak jauh di depannya itu. Untuk sesaat, atmosfer yang tercipta mulai terasa tegang. Sampai kemudian, suara Virgo menggema. Begitu datar dan dingin.             “Masuk.” ### Elkansa melempar ponselnya ke kasur diikuti dengan menghempaskan tubuhnya sendiri. Tatapannya kini mengarah pada langit-langit kamarnya. Kedua lengannya dijadikan sebagai bantal dan laki-laki itu berdecak gusar. Entahlah, saat melihat raut wajah Ravina tadi, ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Rasanya, dia ingin menghambur ke arah gadis itu dan memeluknya. Dia mendapati diri tidak suka melihat raut wajah sendu milik gadis itu.             Astaga, ada apa dengan dirinya?             “Nggak! Nggak mungkin,” kata Elkansa, ketika sebuah gagasan yang menurutnya sangat absurd melintas begitu saja di kepalanya. Laki-laki itu sontak bangkit dan meremas rambutnya kesal. Lalu, kedua tangannya saling bertautan untuk kemudian menopang dagunya sendiri. “Gila aja kalau gue sampai ada rasa sama tuh cewek!”             Tiba-tiba, bayangan Ravina melintas begitu saja di benaknya. Bayangan ketika gadis itu menatapnya dingin dan membalas semua ucapannya tadi. Kemudian, bayangan Ravina ketika gadis itu ada di rumah ini tempo hari. Dan entah kenapa, semua itu justru menimbulkan sesuatu yang aneh pada hati Elkansa.             “Sial!” umpatnya kesal. Dia mengambil sebuah buku yang berada di meja tak jauh di dekatnya kemudian melempar benda tersebut ke dinding. Untung Mamanya sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang menginap di rumah adiknya. Rado? Entahlah, dia tidak tahu dimana keberadaan adiknya itu. Sejak ribut dengan Rado mengenai Ravina, Elkansa dan Rado seolah mengibarkan bendera perang. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyapa satu sama lain.             “Damn!” Lagi, Elkansa mengumpat saat bayangan Ravina melintas di benaknya lagi. Kali ini, bayangan gadis itu tersenyum ke arahnya. Demi Tuhan, bagaimana dia bisa membayangkan Ravina tersenyum seperti itu sementara dia belum pernah melihat gadis itu tersenyum kepadanya? ### Suasana di ruang tamu rumah Fitri mencekam. Baik Virgo maupun Veloz tidak ada yang membuka percakapan. Sampai akhirnya, suasana tegang itu berubah saat mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Keduanya sontak menoleh dan menatap Fitri yang berdiri tak jauh dari mereka.             “Kak Veloz....” Fitri memanggil nama laki-laki itu. Dia membasahi bibirnya yang terasa kering dan berusaha mengabaikan rasa sesak yang mendadak hadir. Namun anehnya, rasa sesak itu seolah menghilang ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Virgo.             Aneh, bukan?             Kehadiran Virgo seolah membawa kenyamanan tersendiri bagi Fitri. Gadis itu seperti merasa terlindungi. Hal yang beberapa hari belakangan ini selalu menjadi beban pikiran Fitri. Bagaimana tidak? Dia bingung dengan apa yang dirasakannya pada laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai musuhnya itu.             Dulu.             Karena sekarang, Fitri tidak tahu berdiri sebagai apakah seorang Virgo Oritama Pradipta baginya. Apakah tetap sebagai musuh, atau justru sebagai seorang... savior.             “Fit,” panggil Veloz. Laki-laki itu berdiri, mengabaikan tatapan tajam dan dingin menusuk yang dilayangkan oleh Virgo untuknya. Veloz mendekati Fitri dan menatap gadis itu seraya tersenyum khawatir. “Lo nggak apa-apa, kan? Tadi, elo... pingsan.”             Fitri hanya bisa mengangguk. Kemudian, saat melalui ekor matanya Fitri melihat Virgo bangkit dari sofa dan hendak menuju pintu rumahnya, gadis itu otomatis memanggil nama Virgo.             Tanpa dia sadari sepenuhnya.             “Lo mau kemana?” tanya gadis itu cemas. Cemas dalam artian... entahlah. Dia hanya tidak ingin Virgo pergi, entah kenapa.             Langkah kaki Virgo terhenti. Dia tetap berdiri pada posisinya, membelakangi gadis itu juga Veloz.             “Gue mau pulang. Buat apa gue disini? Lo udah sehat, kan?” tanya Virgo dengan nada suara tajam tanpa dia sadari. Seperti ditusuk oleh pisau yang dipanaskan di atas bara. Tepat menghujam jantungnya. “Lagipula, di taman belakang ada Leo sama Ravina. Disini juga udah ada... dia.”             Ketika Virgo kembali melanjutkan langkahnya, lengannya mendadak ditahan. Laki-laki itu menoleh dan tertegun. Fitri menatapnya dengan kedua mata berkaca. Wajahnya merah, entah karena demam—tangan Fitri yang mencengkram lengannya dengan kuat itu terasa panas di kulitnya—atau karena gadis itu menahan emosi. Di tempatnya, Veloz memperhatikan semua itu dalam diam.             “Lo mau pergi? Lo mau pergi setelah apa yang udah lo perbuat ke gue, iya?!” seru gadis itu keras. Lalu, Fitri tidak bisa menahannya lagi. Gadis itu membiarkan Virgo melihat air matanya yang jatuh membasahi pipi.             “Apa maksud lo?” tanya Virgo heran bercampur frustasi. Sungguh, dia benar-benar tidak suka melihat Fitri menangis seperti ini.             Fitri diam. Dia mendadak tidak bisa melanjutkan kalimatnya tadi. Kepalanya tertunduk. Tangannya yang mencengkram lengan Virgo bergetar. Di tempatnya, Virgo semakin frustasi dengan keterdiaman Fitri. Sampai akhirnya, gadis itu melepaskan cengkramannya pada lengan Virgo, kemudian sebagai gantinya, dia mengalungkan lengannya di leher Virgo.             Membuat Virgo terpaku di tempatnya.             “Gue... gue butuh elo, Go.”             Gadis ini... benarkah...?             “Jangan pergi dari sisi gue. Jangan....”             Bolehkah dia berharap, Tuhan?             “Gue... entah sejak kapan... gue... gue sayang sama lo.”             Tuhan... rasanya dia benar-benar lega.             Kedua tangan Virgo kemudian bergerak, merangkul pinggang Fitri dengan posesif. Dengan begitu eratnya. Laki-laki itu memejamkan mata dan menyurukkan wajahnya di leher Fitri. Menghirup aroma gadis itu. Melepaskan semua rasa sakit dan sesak yang sempat membelenggunya.             Dia lega.             Benar-benar merasa lega dan plong.             “Gue cinta sama lo, Fit. Gue cinta sama lo.”             Dan yang dilakukan oleh Fitri hanya mengangguk dan menangis sejadinya. ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN