#18

2191 Kata
Previously on Call Your Name...   Elkansa mendapat tantangan tersirat dari Kean, sahabat Ravina sejak kecil.             Tentu saja  Elkansa menerima tantangan tersirat itu dengan santai. Dia ingin tahu, apa yang bisa dilakukan oleh cowok SMA seperti Kean. Apalagi, Virgo dan Leo pun terlihat seperti tidak menyukai Kean dan terkesan melindungi Ravina dari Kean. Kemudian, Elkansa mengetahui sebuah fakta dan Elkansa bahwa Kean itu sahabat yang sangat terobsesi dengan Ravina. Kemungkinan besarnya juga, Kean pernah menjadi benalu dalam hubungan Ravina dan Rado di masa lalu.             Mendapat informasi seperti itu jelas membuat Elkansa bersikap waspada. Meski tidak terlalu menunjukannya, tapi Elkansa berniat untuk melindungi Ravina dari Kean. Apalagi, Ravina juga berkata bahwa mereka sekarang adalah teman. Elkansa juga tidak menyukai kedekatan Kean dan Ravina. Karenanya, cowok itu akan melindungi Ravina dan menjauhkan Kean dari Ravina, dengan caranya sendiri.             Sementara itu, Lilian semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Belum lama ini, dia selalu memikirkan Virgo, cowok yang sangat dia sukai. Tapi sekarang, cewek itu kerap memikirkan Leo, si playboy yang juga merupakan sahabat dari Virgo. Semenjak kejadian di rumah sakit, yang juga melibatkan seorang cewek bernama Gendis, perasaan Lilian semakin tidak karuan. Cewek itu selalu memikirkan kedekatan antara Leo dan Gendis, juga hubungan di antara kedua orang tersebut. Hal itu jelas menjadi beban tersendiri bagi Lilian dan membuatnya bingung bukan main.             Cemburu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini, karena dia merasa tidak senang dengan kedekatan antara Leo dan Gendis. Tapi, Lilian juga tidak ingin mengakui perasaan itu. Masalahnya, rasanya sangat mustahil dan tidak mungkin jika dia belum lama ini masih sangat menyukai Virgo, tetapi justru cemburu dengan hubungan Leo dan Gendis.             Karena hal itulah, Lilian berusaha untuk menghindari Leo. Setiap harinya, jika Lilian sudah sampai di sekolah, cewek itu akan terlebih dahulu mengintip dari balik pintu kelas untuk memastikan apakah Leo sudah datang atau belum. Lilian tidak ingin berduaan saja dengan Leo di dalam kelas karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Leo.             Tanpa disadari oleh Lilian, rupanya Leo sudah berada tepat di belakang Lilian dan mengagetkan  Lilian secara tidak sengaja dengan suaranya. Lilian yang kaget, jelas kehilangan keseimbangan dan nyaris terjungkal kalau saja Leo tidak segera menangkap pinggang cewek tersebut. Perasaan gugup dan jantung yang berdebar keras itu kembali menjerat Lilian, membuatnya tanpa sadar jadi memarahi Leo. Otomatis, kedua orang itu kembali berdebat dan bertengkar. Namun, Lilian tidak bisa menyangkal lagi.             Setiap dia ada di sekitar Leo, jantung Lilian akan berdegup dengan kencangnya dan itu sama sekali bukan pertanda yang bagus untuk Lilian. ### “Sikap lo sangat kekanakkan, Leo.”             Komentar itu membuat Leo yang sedang melahap bekal makan siangnya yang tadi pagi disiapkan oleh adiknya, Liz, menoleh. Cowok itu mengangkat satu alisnya, mengunyah makanannya hingga pipinya menggembung dan mengarahkan kotak bekalnya ke arah Virgo.             “Mau? Nasi goreng ini buatan Liz.”             Virgo berdecak dan meraih kotak bekal Leo. Dia tidak mencicipi nasi goreng tersebut, walau aromanya memang sangat menggiurkan, melainkan mengambil sosis goreng dan chicken nugget.             “Kok bekal gue nggak dibalikin?” tanya Leo dengan kening mengerut.             “Gue butuh ngomong serius sama elo, Yo.”             “Ya udah, ngomong aja sambil makan.”             Virgo menggeleng dan menatap tegas Leo. “Nggak bisa.”             “Tapi, lo pun lagi mengunyah makanan saat ini,” kata Leo polos, kemudian dia menoleh ke belakang. “Iya, kan, Sya?”             “Gue nggak tau apa yang lagi kalian omongin, tapi, gue iyain aja biar cepet.” Narsya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya dan melanjutkan mengunyah bekal makan siangnya.             Virgo berdecak jengkel, kemudian memberikan kotak makan Leo kepada cowok itu. Leo tersenyum lebar, kemudian kembali melahap nasi goreng buatan Liz tersebut. “So,  lo mau ngomong apa?”             “Sikap lo sangat kekanakkan.”             “Maksud lo apa?”             “Soal Lilian.”             Alis Leo terangkat satu. Mendadak kesal karena Virgo menyebutkan nama Lilian. Cemburu? Mungkin. Walau bagaimanapun, dia menyukai Lilian dan dia tahu Lilian menyukai Virgo, meskipun Virgo sudah menjadi pacar dari Fitri. “Kenapa lo sibuk mikirin sikap gue ke dia? Lo suka sama dia?”             Kini, Virgo pun mulai terusik karena ucapan Leo. “Kenapa lo ngomong kayak gitu? Lo kan tau kalau gue cuma mencintai sepupu lo si Fitri. Gue bahkan udah jadi pacarnya dia. Kenapa sekarang lo tiba-tiba nuduh gue yang aneh-aneh? Gue kan cuma bilang kalau sikap lo sangat kekanakkan ke Lilian.”             “Cemburu dia.”             Leo dan Virgo serempak menoleh ke belakang dan disambut oleh cengiran lebar dari Narsya.             “Diam, Sya,” kata Leo dengan nada tegas. Yang dimarahi justru terkekeh geli dan ikut mendengarkan percakapan antara Leo dan Virgo. “Lo selalu membela cewek itu. Jelas gue jadi curiga. Siapa yang tau kalau ternyata lo ada sedikit rasa buat dia dan milih untuk diam-diam. Meskipun lo udah jadian sama Ipit.”             Virgo menarik napas panjang dan meminum jus jeruk yang diberikan oleh Narsya dan tinggal setengahnya. Cewek itu memang terkenal baik hati dan tidak pelit. Dari tempatnya, Narsya sendiri hanya tersenyum tipis dan menatap Virgo dengan tatapan kagum. Ketenangan Virgo dalam menghadapi apa pun patut diacungi jempol.             “Otak lo ketukar sama dengkul kayaknya.” Virgo menggeleng dan mengucapkan terima kasih kepada Narsya seraya mengacak gemas rambutnya. “Gue nggak punya perasaan apa pun buat Lilian, Yo. Gue tau dia suka sama gue, tapi gue nggak pernah suka sama dia. Dan gue yakin, dia mulai suka sama lo.”             “Sok tau.”             “Dari semua cerita lo mengenai gelagat dia, gue yakin dia cemburu sama lo dan Gendis. Cuma, dia belum sadar kalau dia mulai suka sama lo dan mulai melupakan gue.”             Leo diam. Dia tidak ingin berharap terlalu banyak. Dia bahkan masih cemburu pada Virgo karena disukai dan dicintai oleh Lilian, meskipun Virgo hanya mencintai Fitri. “Nggak mungkin, lah.”             “Yo—“             “Go,” potong Leo tegas. “Gue nggak seterpuruk itu sampai harus lo cemasin.”             “Ck. Bukan gitu maksud gue.”             “Terus maksud lo apa?” tanya Leo. Suaranya mulai meninggi. Di tempatnya, Narsya mulai memasang sikap waspada. Dia langsung menoleh ke arah Kelvin, wakil ketua kelas mereka, karena cowok itu jago karate dan sangat mencintai kedamaian. Jadi, kalau nantinya Virgo dan Leo memutuskan untuk adu jotos, Narsya akan langsung memanggil Kelvin. Dan rupanya, Kelvin pun memahami sikap waspada Narsya. Sejak dia melihat Leo dan Virgo berbicara, dia memang sudah mulai mengawasi keadaan.             “Kenapa lo jadi marah?” Virgo balas bertanya. Nada suaranya memang biasa saja, tapi terdapat ketegasan di dalam suaranya itu. Dia ikut berdiri di saat Virgo melihat Leo sudah lebih dulu berdiri. Keadaan kelas yang tadinya cukup ramai karena sedang jam istirahat makan siang, mendadak hening. Kelvin pun bangkit dari kursi dan mulai mendekati keduanya.             “Go, Yo, jangan coba-coba ribut di dalam kelas.” Kelvin memberi peringatan, tapi tidak digubris oleh kedua orang tersebut.             “Lo mengasihani gue, itu maksudnya, kan? Karena cewek itu sukanya sama elo dan gue ditolak, jadi lo mengasihani gue, kan?” tuduh Leo berapi-api. Dia mendorong-dorong d**a Virgo dengan menggunakan jari telunjuknya.             Virgo menepis tangan Leo. Emosinya mulai terpancing, ketenangannya mulai terusik. Dia berbaik hati ingin mendekatkan Leo dan Lilian, dia khawatir dengan keadaan Leo, tapi ini yang dia dapatkan dari cowok itu? Unbelievable!             “Gue sama sekali nggak ada pikiran buat mengasihani elo!” seru Virgo. Dia menunjuk wajah Leo. “Gue cuma khawatir sama elo! Tapi, karena lo bersikap kayak gini dan juga membawa-bawa masa lalu yang sayangnya udah nggak berguna untuk masa sekarang, gue jadi berubah pikiran. Lo emang pantas dikasihani, Yo.”             Narsya tersentak begitu melihat Leo menarik kerah kemeja Virgo. Cewek itu menjerit dan buru-buru berdiri di antara Virgo dan Leo, berusaha mencegah dan menengahi keduanya supaya tidak baku hantam.             “Virgo! Leo! Lo berdua kayak anak kecil, tau nggak?!” seru Narsya.             Melihat Narsya dalam kesulitan dan keadaan mulai tidak terkontrol, Kelvin segera ambil tindakan. Dia maju, menyeruak di antara Virgo dan Leo seperti Narsya, membawa Narsya ke belakang punggungnya untuk melindungi cewek itu, kemudian mendorong tegas d**a Virgo dan Leo untuk menjauhkan keduanya. Beberapa teman sekelas mereka pun mulai mendekat, mencoba membantu Kelvin untuk memisahkan Virgo dan Leo.             “Lo berdua bisa tenang dulu, nggak?! Bisa nggak usah pakai kekerasan, kan?!” teriak Kelvin. Dia menunjuk Virgo dan Leo. “Jangan kayak anak kecil! Nggak liat ada cewek di sini, hah?! Dia bisa jadi korban kalian tanpa kalian sadari!”             Virgo dan Leo diam. Kedua cowok itu sama-sama menatap lantai dan mengepalkan kedua tangan. Menolak untuk melihat satu sama lain. Ketika terdengar suara langkah yang memasuki kelas, Virgo, Leo, Narsya, Kelvin dan yang lainnya serempak menatap ke arah pintu kelas.             Di sana, berdiri Lilian. Cewek itu baru saja kembali dari kantin dan langsung menghentikan langkah. Mendapatkan tatapan dan perhatian dari hampir sebagian penghuni kelas jelas bukan keinginan Lilian. Kemudian, Lilian menyadari bahwa atmosfer yang tercipta di sekitar Virgo dan Leo sangatlah mencekam. Tanpa sadar, jantungnya berpacu cepat dan cewek itu menelan ludah.             “Ada apa?” tanya Lilian takut-takut. Cewek itu berusaha untuk tersenyum.             “Bukan urusan lo, sialan!”             “Leo!” seru Virgo. Cowok itu berniat untuk menghajar, ketika Kelvin langsung menahan tubuhnya dan menggeleng tegas. “Lo benar-benar kekanakkan dan keterlaluan!”             Leo mendengus dan tertawa. “See? Lo bereaksi seperti ini. Tuduhan gue ternyata terbukti, kan? Lo benar-benar cowok b******k, Virgo.”             “Elo?!” geram Virgo. Dia sudah akan menerjang Leo, ketika Narsya menahannya dan menggeleng. Kemudian, cewek itu berdiri tepat di hadapan Leo dan mengarahkan ponsel di tangannya tepat ke hadapan wajah Leo.             “Yo?”             Suara itu membuat Virgo, Leo, Lilian dan teman-teman sekelas mereka terkejut. Mereka sama-sama menatap ke arah Narsya yang hanya diam dan tetap mengaktifkan mode loud speak ke arah Leo.             “Hm.” Leo hanya bergumam. Memang selalu seperti ini. Di hadapan adik dan para sepupunya yang kebetulan cewek semua, Leo selalu mengalah dan tidak pernah bisa menunjukkan amarahnya. “Gimana kabar lo?”             “Baik,” jawab Fitri, orang yang tadi ditelepon oleh Narsya ketika situasi mulai tidak terkendali. Narsya melirik ke arah Lilian. Cewek itu masih nampak syok di tempatnya. Kemungkinan besar karena bentakan Leo barusan. Ugh, ingin sekali rasanya Narsya menampar wajah Leo detik ini juga. “Gue dengar kabar nggak enak barusan. Ada apa?”             “Cih,” cibir Leo. Dia menatap malas ke arah Narsya. “Dengar kabar atau dapat laporan, Pit? Sahabat lo ini tukang ngadu rupanya.”             “Leo,” panggil Fitri dengan nada tenang.             “Iya, sori.” Leo menarik napas panjang dan mengacak rambutnya. “Gue lagi nggak bisa mengontrol emosi gue aja. Lagi banyak pikiran.”             “Jangan pernah kayak gitu lagi, Yo.”             “Lo sekarang jadi lebih sering ngebelain pacar lo dibandingin gue sepupu lo sendiri, ya?”             Di seberang sana, Fitri mendengus dan tertawa pelan. “Lo tau itu nggak benar.”             “Hm. Maaf.” Leo menatap tegas ke arah Virgo. “Sori, gue tadi kelepasan.”             Virgo hanya mendesah berat dan mengedikan bahu. “Gue juga kelepasan tadi. Sori.”             Narsya menatap keduanya dengan tatapan bete. Gampang sekali bagi kedua orang itu untuk berbaikan. Padahal, kalau cewek yang sedang bertengkar, ada kali sebulan baru bisa berbaikan lagi. Benar-benar enak sekali pertemanan antar sesama cowok itu.             “Lo juga harus minta maaf sama seseorang, kan?” tanya Fitri mengingatkan.             Di tempatnya, Leo memicingkan mata ke arah Narsya. “Lo benar-benar tukang ngadu, Sya.”             “Gue pembela kebenaran dan keadilan, Yo.”             “Sailor Moon kali.” Leo mendengus dan memutar bola matanya. Kemudian, dia memutar tubuh dan berjalan ke arah Lilian.             Didekati oleh Leo tentu saja membuat Lilian panas-dingin di tempatnya. Dia menunduk, menghindari kontak mata dengan Leo dan rasanya ingin sekali kabur. Tapi, kedua kakinya sangat sulit digerakkan. Ketika dia menyadari Leo sudah berada di depannya, Lilian otomatis melangkah mundur dan Leo langsung mencekal pergelangan tangannya. Hal itu membuat Lilian refleks mengangkat kepala dan tatapan tegas Leo menyambutnya.             “Sori,” kata Leo kemudian. Suaranya terdengar tulus dan lembut. “Karena tadi udah ngebentak elo dan memaki elo. Maaf.”             Lilian mengerjap. Cewek itu mengangguk kikuk dan menatap tangannya yang dipegang oleh Leo. “Mm... tangan....”             Leo mengikuti arah yang ditatap oleh Lilian dan melepaskan pegangannya. “Sori.”             “Mm, nggak apa-apa.” Lilian tersenyum tipis dan mengangguk. Senyuman yang membuat Leo mematung sesaat, sebelum akhirnya menarik napas panjang.             Aah, lelah sekali rasanya menyukai orang secara sepihak seperti ini. “Puas, Pit?” teriak Leo, yang dibalas juga oleh teriakan Fitri.             “Jangan diulangin dan jangan bandel, ya.”             Ketika Leo akan pergi dari hadapan Lilian, Lilian berkata, “Siapa itu Gendis?”             Pertanyaan itu membuat langkah Leo terhenti dan cowok tersebut menoleh. Dia mengerjap, menatap Lilian dengan pandangan bertanya. “Apa? Gendis?”             Lilian yang sadar bahwa dia sudah kelepasan berbicara, langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Cewek itu dengan cepat memutar tubuh untuk pergi keluar dari dalam kelas, namun Leo lebih cepat lagi. Cowok itu langsung menahan lengan Lilian dan mendorongnya pelan namun tegas ke arah dinding, sehingga dia saat ini sedang mengurung Lilian.             “Gendis? Kenapa sama Gendis?” tanya Leo menuntut. “Kenapa lo nanya soal Gendis?”             Di saat Lilian tidak mampu menjawab, Narsya justru mencolek Virgo. “Nggak apa-apa tuh dibiarin begitu?”             Virgo melirik sekilas dan mengibaskan sebelah tangan. “Nggak apa-apa. Toh Leo nggak akan mungkin ngapa-ngapain Lilian di dalam kelas yang banyak isinya begini.”             Narsya hanya diam dan mengedikan bahu. Namun, dia tetap mengawasi Leo dan Lilian dari tempatnya. Leo yang mendadak berubah menjadi singa dan Lilian yang terperangkan seperti seekor kelinci.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN