#19

1494 Kata
Previously on Call Your Name...   Leo dan Virgo bertengkar.             Awalnya, Virgo hanya berniat untuk menanyakan keadaan Leo sekaligus ingin mendekatkan Leo dengan Lilian karena Virgo tahu bahwa Leo sangat menyukai dan mencintai Lilian. Tapi, Leo salah mengartikan niat dari Virgo tersebut. Leo beranggapan bahwa Virgo menyukai Lilian, walau cowok itu sudah menjadi pacar dari Fitri. Virgo sudah membantah, tapi Leo tidak ingin mendengar. Kemudian, Leo juga menuduh bahwa Virgo mengasihani dirinya.             Dengan setenang mungkin, Virgo mencoba menjelaskan kalau dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun untuk Lilian dan tidak pernah mengasihani Leo. Dia hanya mencemaskan keadaan Leo dan ingin Leo bahagia. Namun, Leo terlalu terbakar emosi dan rasa cemburu. Dia terus menyerang Virgo melalui kata-katanya, hingga akhirnya Virgo terbawa emosi dan balas menyerang Leo. Keduanya nyaris saja saling hajar kalau Narsya dan Kelvin tidak segera mencegah.             Ketika sedang bersitegang itulah, Lilian masuk ke dalam kelas. Cewek itu langsung menjadi pusat perhatian karena kemuncullannya di tengah-tengah pertengkaran Virgo dan Leo. Tidak suka menjadi pusat perhatian, Lilian memutuskan untuk bertanya. Namun, pertanyaannya itu justru dijawab dengan bentakan dan makian oleh Leo. Lilian yang kaget hanya bisa terlonjak dan gemetar di tempatnya. Sementara itu, Virgo yang mendengar hal tersebut, langsung berniat untuk menghajar Leo supaya sahabatnya itu sadar bahwa dia sudah kelewatan. Tapi, Kelvin segera menengahi.             Di saat keadaan sudah tidak terkendali, Narsya rupanya menelepon Fitri yang memang masih dirawat di rumah sakit. Narsya mengaktifkan mode loud speak sehingga Leo dan semua orang di dalam kelas bisa mendengar suara Fitri.             Leo, yang sejak dulu memang tidak pernah bisa marah dan membantah adik serta para sepupunya yang kebetulan cewek semua, langsung tunduk pada Fitri. Fitri menceramahi Leo dan menyuruh Leo untuk meminta maaf kepada Virgo juga pada Lilian. Ketika Leo akan meminta maaf pada Lilian, cewek tersebut langsung merasa gugup dan tanpa sadar berjalan mundur. Namun, Leo lebih cepat. Dia menahan Lilian dan meminta maaf kepada cewek itu atas sikap brengseknya tadi.             Setelah memberikan maaf untuk Leo dan tersenyum kikuk, Lilian membiarkan Leo pergi dari hadapannya. Namun, belum jauh Leo melangkah, dia mendengar suara Lilian yang mempertanyakan siapa itu Gendis. Kaget, Leo berhenti melangkah dan menoleh. Dia mengurung Lilian yang berniat untuk kabur setelah kelepasan menanyakan perihal kedekatan antara Gendis dan Leo tersebut.             Meskipun senang karena merasa Lilian cemburu pada kedekatannya dan Gendis hingga membuat Lilian bertanya mengenai Gendis kepadanya, namun Leo tak mau terlalu berharap. Tapi, Leo tidak akan pernah menyerah. Dia akan membuat Lilian melupakan perasaannya untuk Virgo dan membuat Lilian berpaling ke arahnya, serta mencintainya. ### “Le—Leo....”             “Lo nggak akan bisa kabur ke mana pun, sebelum lo menjawab pertanyaan gue.” Leo menurunkan sedikit tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Lilian yang sejak tadi berada dalam kurungannya dan terus menunduk. Leo bahkan tidak peduli jika saat ini tindakannya tersebut menjadi pusat perhatian teman-teman sekelas mereka. “Kenapa lo bertanya soal Gendis?”             “Gu—gue cuma nggak sengaja menyuarakan pikiran gue,” jawab Lilian gugup. Dia memainkan jemarinya dan membasahi bibirnya yang terasa kering. “Plis, biarin gue pergi. Gue mau ke kamar mandi.”             “Nggak elit banget kaburnya ke kamar mandi,” ejek Leo.             Merasa sedikit terhina dan tersinggung dengan ucapan Leo tadi, Lilian langsung mengangkat wajah dan menatap bete ke arah Leo yang menyeringai puas.             “Nah, dari tadi kek ngeliat ke arah gue.”             “Lo benar-benar kekanakkan, Yo!” seru Lilian. Mulai emosi dengan sikap Leo saat ini.             “Baru aja gue dikatain seperti itu tadi sama si Virgo,” sahut Leo santai sambil menoleh untuk menatap Virgo. “Go, gue dikatain nih sama si Lilian. Katanya gue kekanakkan!”             “Whatever,” balas Virgo malas sambil mengibaskan sebelah tangannya. Dia kembali fokus pada bekal makan siang milik Narsya yang cewek itu tawarkan kepadanya.             “Cih,” cibir Leo. Fokusnya kini kembali pada Lilian. “Dasar cowok menyebalkan.”             “Lepasin gue, nggak?!” seru Lilian, emosi. Matanya semakin tajam kala menatap Leo.             “Emangnya lo gue kurung?”             “Iya, bego!”             “Bagi gue sih, gue sama sekali nggak mengurung lo. Lo bebas pergi dari sini. Tuh, ada ruang untuk lo pergi.”             Lilian memicingkan mata, kemudian mengambil langkah ke kanan, agak ke bawah. Namun, tangan Leo langsung menurun ke bawah, mencegah Lilian untuk pergi. Ketika Lilian mencoba ke celah sebelah kiri, Leo pun kembali melakukan hal yang sama. Kini, Lilian menatap kesal ke arah Leo yang mengulum senyum.             “Leo!”             “Apa?”             “Gue mau pergi!”             “Kan gue udah bilang, lo bebas pergi kapan pun lo mau. Gue nggak ngelarang.”             “Tapi, lo—“             “Gue nggak ngelarang, Li,” potong Leo langsung. Dia memajukan wajah, membuat Lilian refleks memundurkan kepalanya. Lalu, Leo berbisik, “Gue nggak ngelarang, tapi gue mencegah.”             Lilian mengerjap. “Apa bedanya, sialan?”             “Beda.” Leo mengangguk berulang kali. “Ngelarang, berarti lo nggak gue izinin untuk pergi. Mencegah, berarti gue menahan lo untuk nggak pergi.”             Kini, bukan hanya Lilian yang melongo, melainkan juga Virgo, Narsya, Kelvin dan semua penghuni kelas. Virgo bahkan langsung menepuk jidatnya sendiri dan mengatai Leo dengan suara pelan, sedangkan Narsya terbahak. Tidak menyangka akan mendapat hiburan dari Leo.             “Oke, semua itu nggak penting,” kata Leo setelah berdeham dan mengibaskan sebelah tangan. Agak malu juga dengan leluconnya barusan untuk mencairkan suasana. “Yang jadi masalah sekarang adalah, kenapa lo kepengin tau soal Gendis?”             Lilian bungkam. Cewek itu, yang tadinya sudah tidak gugup lagi karena merasa kesal dengan kelakuan Leo, mendadak kembali gugup. Dia mengalihkan pandangannya. “Iseng aja.”             “Kurang kerjaan banget lo sampai harus iseng nanyain soal cewek lain segala.” Leo melirik Lilian yang masih tidak ingin menatap ke arahnya. “Cemburu ya?”             “Hah?!” seru Lilian. Cewek itu kemudian menatap Leo dan membelalakkan matanya. “Siapa yang cemburu?”             “Elo.”             “Gue?” tunjuk Lilian kepada dirinya sendiri dengan nada tidak percaya.             Leo mengangguk. “Yep.”             “Cemburu sama?”             “Gue.”             “Elo?”             Lagi, Leo mengangguk dengan mantap. “Yep.”             “Sinting emang ini anak,” gerutu Lilian. “Dengar, Yo. Gue nanyain soal Gendis karena gue ngerasa dia kebagusan buat cowok rese kayak lo. Dia nggak pantas buat lo.”             “Terus yang pantas buat gue itu siapa? Elo?”             Lilian mengerjap. “Gue nggak pernah ngomong begitu dan nggak pernah mikir begitu!”             Hening. Semua orang nampak terhibur dengan drama yang tersaji di hadapan mereka. Narsya bahkan sampai melakukan video call segala dengan Fitri supaya sahabatnya itu bisa melihat kelakuan Leo dan Lilian. Virgo yang tahu akan kelakuan Narsya hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum geli.             Leo diam sebentar, kemudian mundur untuk membebaskan Lilian. Tidak menyangka Leo akan melepaskannya, Lilian langsung mengambil jarak yang cukup jauh dari Leo dan menghela napas lega.             “Gendis itu bukan pacar gue.”             Lilian mengerutkan kening dan menatap Leo. Cowok itu nampak tersenyum. Senyuman yang begitu lembut dan sanggup menciptakan desiran aneh pada d**a Lilian. Senyuman yang membuat Lilian lupa bagaimana caranya bernapas dengan baik dan benar. Senyuman yang membuat jantung Lilian berdegup dengan begitu kencangnya.             “Gendis itu sahabat gue. Sejak kecil. Dia anak dari sahabat nyokap gue. Virgo dan Fitri pun mengenal Gendis.” Leo mendekati Lilian dan mengusap kepalanya. “Jadi, lo nggak perlu mikir yang aneh-aneh soal dia.”             Entah kenapa, Lilian merasa sangat lega. Dia bahkan sampai kehilangan keseimbangan tubuhnya dan nyaris terjatuh kalau Leo tidak segera menahan lengannya. Kelegaan itu membuat kedua kakinya lemas dan tidak bisa berpijak dengan kuat.             “Eh, kenapa lo? Saking senangnya karena Gendis bukan cewek gue, lo jadi lemes?” gurau Leo.             Mendengar gurauan itu, Lilian langsung mendengus dan mendorong Leo. “Siapa bilang? Itu tadi gue agak pusing karena belum makan, tau!”             Leo melirik ke arah tangan Lilian dan melihat sebungkus roti di tangan cewek tersebut.             “Hm.” Cowok itu lantas mengusap lagi kepala Lilian dan berkata, “Makan, gih. Jam makan siang udah mau habis.”             Lilian mengangguk kikuk. Dia menatap kepergian Leo, yang saat ini kembali berhenti sebelum sempat mencapai daun pintu kelas. Cowok itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mendekatkannya ke telinga.             “Halo? Gendis?”             Sapaan Leo tadi membuat Lilian mematung. Cewek itu menunduk, tidak ingin melihat punggung Leo yang sedang berbicara dengan Gendis di telepon. Matanya tiba-tiba memanas, membuatnya ingin sekali menangis. Entah kenapa, dadanya mulai terasa sesak.             “Ndis? Lo kenapa? Ada apa? Kok lo nangis?” tanya Leo dengan nada cemas. Cowok itu berniat untuk pergi keluar kelas, melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, ketika sesuatu menahan tangannya. Ketika dia menoleh, dia mendapati sosok Lilian yang sedang menunduk sambil mencekal lengannya dengan kuat.             “Lilian?”             Lilian mendongak. Mata merahnya menatap tegas ke arah Leo, membuat Leo membelalak dan mematung. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga dan fokus pada Lilian yang entah kenapa terlihat... entahlah, tidak rela?             “Lilian? Lo kenapa?” tanya Leo lagi, sepenuhnya mengabaikan panggilan masuk dari Gendis di ponselnya. “Ada yang sakit?”             “Jangan pergi.”             Kening Leo mengerut. Dia tidak begitu mendengar dengan jelas kalimat Lilian barusan karena volume suaranya yang begitu kecil.             “Apa?”             “Jangan pergi!” tegas Lilian. Membuat Leo dan seisi kelas kaget dengan seruan Lilian barusan.             “Pergi?”             “Jangan pergi ke Gendis!” seru Lilian lagi. “Lo nggak boleh pergi ke Gendis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN