Previously on Call Your Name...
Leo mengkonfrontasi Lilian.
Ketika Lilian tidak sengaja menyuarakan pikirannya di hadapan Leo, menanyakan kepada Leo siapa itu Gendis yang terlihat sangat dekat dengan Leo. Meskipun merasa senang dengan perilaku Lilian yang terkesan seperti orang yang cemburu kepadanya dan Gendis, namun Leo tidak mau terlalu berharap. Maka dari itu, dia mencoba mengkonfrontasi Lilian dengan menggunakan strategi.
Leo memancing Lilian lebih dulu, membuat Lilian kesal agar cewek itu mau menatap ke arahnya. Ketika dia mendapat perhatian Lilian sepenuhnya, barulah Leo melancarkan aksinya. Dia berusaha untuk membuat Lilian mengakui kalau dirinya cemburu pada kedekatannya dengan Gendis. Tapi, usahanya tidak begitu berhasil. Lilian rupanya sanggup berkelit dari semua interogasinya.
Karena terlalu lama berusaha untuk memenangkan perdebatan antara dirinya dan Lilian, Leo menjadi tidak enak dengan Lilian karena sudah menyita waktu makan siang cewek itu. Akhirnya, Leo melepaskan Lilian. Bukan hanya itu, Leo pun menjelaskan kepada Lilian bahwa dirinya dan Gendis tidak ada hubungan apa-apa. Bahwa Gendis hanyalah sahabatnya sejak kecil dan cewek itu pun anak dari sahabat kedua orang tuanya. Lilian yang mendengar itu, entah kenapa merasa lega. Saking leganya, kedua kaki Lilian terasa lemas dan cewek itu nyaris terjatuh kalau saja Leo tidak segera menahan lengannya untuk mencegahnya terjatuh.
Saat Leo menggoda Lilian dengan berkata bahwa Lilian terlalu senang ketika mengetahui fakta mengenai hubungannya dengan Gendis hingga nyaris terjatuh, Lilian membantah. Cewek itu berkata bahwa dia hanya merasa pusing akibat belum makan siang. Ketika Leo melihat sebungkus roti di tangan Lilian, cowok itu jadi semakin merasa bersalah karena sudah membuat Lilian terlambat makan. Akhirnya, Leo mengusap kepala Lilian, tersenyum dan menyuruh Lilian untuk segera makan sebelum waktu istirahat selesai.
Begitu Leo menghilang dari pandangan Lilian, Lilian mendengar suara Leo yang sedang menerima panggilan telepon dari seseorang. Ternyata, Leo menerima telepon dari Gendis. Tentu saja Lilian menjadi tidak tenang. Cewek itu merasa matanya memanas dan ingin sekali menangis. Tapi, sekuat mungkin Lilian menahan diri agar tidak kelepasan menangis, walau entah kenapa, rasanya dadanya begitu sesak. Lalu, ketika Lilian melihat Leo hendak keluar kelas, Lilian langsung menahan tangannya. Dengan tatapan tegas, Lilian menyuruh kepada Leo untuk tidak pergi menemui Gendis.
###
Hari yang sama, di tempat berbeda...
Elkansa sedang membeli minuman dingin di sebuah supermarket yang tak jauh dari rumah sakit tempat Ravina dan Fitri dirawat, karena dia sedang ada urusan di dekat tempat tersebut.
Pikirannya masih tertuju pada Kean dan ucapan Virgo. Virgo bilang, Kean terobsesi pada Ravina. Sahabat yang terobsesi. Elkansa yakin, Kean itu sebenarnya menyukai Ravina dan menginginkan Ravina menjadi miliknya, hingga akhirnya menjadi terobsesi. Dan Virgo pun bilang, kemungkinan besar Rado pernah menjadi korban dari Kean di masa lalu, ketika adiknya itu masih memiliki hubungan dengan Ravina. Namun, karena Elkansa belum terlalu yakin dengan informasi kedua ini, dia belum menanyakannya kepada Rado. Lagi pula, hubungannya dan Rado belum terlalu baik untuk saat ini.
“Jenguk nggak, ya?” gumam Elkansa pada dirinya sendiri, saat dia baru saja meminum minuman berwarna orange tersebut. Dia mengusap mulut untuk membersihkan sisa minuman di sana dan masuk ke dalam mobilnya. “Jenguk aja, deh.”
Setelah memarkir mobil di pelataran parkir rumah sakit, Elkansa memasuki lobi dengan langkah santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans dan masuk ke dalam lift yang kebetulan langsung terbuka. Dia tidak perlu menanyakan nomor kamar Ravina kepada bagian informasi karena memang Elkansa sudah tahu di mana kamar inapnya Ravina dan Fitri. Yang Elkansa tahu, kedua cewek itu sudah disatukan dalam satu kamar supaya Virgo dan Leo bisa menjaga mereka dengan mudah.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, Elkansa langsung menuju kamar inap Ravina dan Fitri. Dia mengetuk sebanyak tiga kali dan ketika mendengar suara balasan dari dalam kamar, Elkansa langsung membuka pintu dan berdeham ketika hanya menemukan Fitri di dalam kamar sambil memegang ponsel dan tersenyum geli. Ketika cewek itu menyadari kehadiran Elkansa, Fitri langsung mengangkat sebelah tangan untuk menyapa.
“Halo, Kak El.”
“Halo,” sapa Elkansa sedikit kikuk. Walau dia tidak memiliki masalah dengan Fitri sebelum ini, tapi dia pernah sedikit dikonfrontasi Fitri dan Virgo yang merupakan pacar dari Fitri, yang mana cowok itu bucin luar biasa kepada Fitri, sempat melakukan adu mulut dengannya juga di masa lalu akibat membela Ravina dan Fitri. “Sendirian?”
“Iya,” jawab Fitri. “Ravina lagi ke kafetaria. Dia paling nggak bisa diam soalnya kalau dirawat di rumah sakit. Tadi juga sempat berantem sama suster karena suster ngelarang dia jalan-jalan, tapi tuh bocah emang keras kepala dan susah diatur.”
“Hm,” gumam Elkansa. Cowok itu menutup pintu di belakangnya dan mendekati ranjang Fitri. “Emang kalian hobi jadi penghuni rumah sakit?”
Fitri tertawa. “Gue lumayan sering, kalau Ravina nggak terlalu. Kecuali kalau dia telat makan atau lagi banyak pikiran.”
Setelah mengambil kursi dan meletakkannya di hadapan ranjang Fitri, Elkansa menjatuhkan tubuhnya di sana dan tersenyum ke arah Fitri. “Kalau lo? Sering masuk rumah sakit kenapa?”
“Napas tikus kejepit.”
Kening Elkansa mengerut. “Pardon?”
Lagi, Fitri tertawa. “Itu yang suka dibilang sama Leo dan yang lain. Napas tikus kejepit. Asma.”
Mendengar itu, Elkansa melongo sejenak, sebelum akhirnya ikut tertawa bersama dengan Fitri. Cowok itu menggeleng dan menarik napas panjang. “Lagi ngeliatin apaan? Kayaknya seru banget.”
“Nih.” Fitri memperlihatkan ponselnya, di mana Narsya sedang melakukan panggilan video call kepadanya untuk menunjukkan aksi Leo yang sedang berusaha mendapatkan Lilian. “Lagi video call-an sama sahabat di sekolah, dan dia lagi ngeliatin aksinya Leo.”
“Oh, cowok galak dan seram yang selalu ada di sekitar lo, Ravina dan Virgo?”
“Yep. Saudara sepupu gue.” Fitri kembali menatap aksi Leo melalui layar ponselnya. “Dia suka sama Lilian, cewek yang lagi dikurung itu. Tapi, Lilian sukanya sama Virgo.”
Elkansa mengangkat satu alisnya. “Virgo? Pacar lo?”
“Yep.”
“Lo... nggak cemburu?”
“Karena?”
“Karena cowok lo disukain sama cewek lain.”
Fitri tersenyum. “Kak El, perasaan seseorang kan nggak bisa dipaksa. Lilian bebas menyukai Virgo. Yang penting, Virgo cuma menyukai dan mencintai gue. Itu udah cukup buat gue. Dan gue percaya sama dia.” Cewek itu memiringkan kepalanya. “Kak El suka kan sama Ravina?”
“H—Hah?” Elkansa berdeham dan memalingkan wajah. “Kata siapa? Nggak. Gue cuma... mm, nggak mau kalau dia dicap cewek perebut cowok orang karena suka sama Rado, adik gue, yang udah bertunangan. Tapi, ternyata itu cuma tuduhan nggak berdasar gue aja.”
“Heh.” Fitri terkekeh geli. “Kenapa harus repot-repot mikirin reputasi Ravina kalau Kak El nggak ada perasaan apa pun buat dia?”
Cowok itu diam. Dia meresapi semua kalimat Fitri. Sebagian logikanya membenarnya ucapan Fitri, tapi sebagian lagi menolak karena egonya tidak membiarkan. Menyukai Ravina hanya dalam waktu singkat? Rasanya itu tidak mungkin. Tapi, dia pun tidak tahu bentuk perasaannya untuk Ravina saat ini.
Saat itulah, pintu kamar inap Fitri terbuka, membuat Fitri dan Elkansa menoleh. Elkansa langsung memanjatkan syukur kepada Tuhan karena mengirimkan Ravina untuk mencegahnya merespon pertanyaan Fitri barusan. Dia melirik Fitri ketika mendengar tawa kecil dari cewek itu.
“Eh, ada Elkansa.” Ravina tersenyum lebar dan melangkah ringan menuju ranjangnya sendiri yang berada di samping ranjang Fitri, kemudian menaruh dua kantung plastik berukuran besar di atas kasurnya. Lalu, Ravina mengeluarkan isinya yang ternyata berupa makanan ringan, gorengan juga kue-kue basah. “Udah lama?”
“Baru aja,” jawab Elkansa. Dia tersenyum ke arah Fitri saat cewek itu menyuruhnya secara tersirat untuk pindah ke ranjang Ravina. “Emang lo boleh makanin makanan kayak gitu?”
“Boleh.” Ravina membuka satu bungkus kue kesukaannya. Kue lapis berwarna pink. “Kan gue nggak apa-apa. Kata dokter, gue cuma kecapekan dan banyak pikiran. Bukannya sakit keras yang dilarang makan ini-itu.”
“Hm.” Elkansa meraih satu bungkus kue. Kue bolu kukus berwarna cokelat. “Kenapa nggak makan siang dulu baru makan kue dan yang lainnya?”
“Jam makan siang udah selesai,” keluh Ravina sambil cemberut dan mengunyah kuenya.
“Dan Ravina masih kelaparan.” Fitri menyumbang suara, kemudian tertawa ketika mengingat bagaimana Ravina melempar tantrum seperti seorang anak kecil.
“Badan sekecil itu, makanannya pada masuk ke mana emang?”
“Selalu ada ruang untuk dessert, El,” jawab Ravina polos. “Omong-omong, ada apa lo datang ke sini?”
“Cuma mau jenguk. Kebetulan gue ada urusan di sekitar sini,” jawabnya sambil melirik ke arah Fitri yang menahan senyum. “Lagian, lo kan yang minta ke gue supaya menjadi teman lo.”
“Cih,” cibir Ravina. Cewek itu menatap Fitri. “Ada berita apa di sekolah?”
“Leo berantem sama Virgo?”
Kening Ravina mengerut dan dia memukul tangan Elkansa yang mencoba mengambil kue lapis kesukaannya. “Kok bisa?”
“Karena Leo menganggap kalau Virgo ada rasa ke Lilian dan mengasihani dia yang perasaannya ditolak sama Lilian.”
“Hm. Dasar baperan,” komentar Ravina. Dia tidak sadar kalau Elkansa sedang membersihkan sudut bibirnya yang terdapat minyak akibat gorengan yang baru saja dia makan. “Terus?”
“Leo mengkonfrontasi Lilian karena Lilian tanpa sadar nanyain soal Gendis ke Leo.”
“Gendis?” ulang Ravina. Sekali lagi, Ravina tidak menyadari kalau Elkansa sudah duduk manis di sampingnya, sangat dekat dengannya bahkan sempat mengusap kepalanya. Elkansa sendiri sepertinya tidak menyadari kelakuannya barusan, sementara Fitri mengulum senyum. Dia harus melakukan sesuatu untuk mendekatkan Ravina dan Elkansa karena menurutnya, kedua orang itu sebenarnya saling tertarik satu sama lain hanya saja belum sadar sepenuhnya. “Gendis yang temennya Leo dari kecil itu? Anaknya dari sahabat tante Krystal?”
“Iya.”
“Padahal mah kalau emang si Lilian mulai suka sama Leo, ngomong aja. Yang gue tangkap sih, dia cemburu sama si Gendis.”
“Benar,” jawab Fitri. Cewek itu melirik Elkansa. “Lilian mungkin udah suka sama Leo, tapi menolak untuk mengakui perasaannya sendiri. Sama seperti seseorang.”
“Hah?”
Sementara Ravina merasa bingung dengan kalimat Fitri barusan, Elkansa seperti dipukul oleh kenyataan. Cowok itu memalingkan wajah, tapi sempat melirik ke arah Fitri yang mengedipkan sebelah mata dan terkekeh geli. Tak lama, cowok itu mendesah berat dan mengusap wajah. Mendadak salah tingkah dan merasa wajahnya memanas hanya karena ucapan dari Fitri tersebut.
I’ll be damn! Elkansa mengumpat di dalam hati.