“Fitri.”
Panggilan itu membuat Fitri menoleh dan mengabaikan ponselnya yang sedang menayangkan drama Korea. Video call-nya dengan Narsya sudah berakhir karena jam istirahat sudah selesai dan nanti Virgo yang akan menceritakan sisanya di rumah sakit karena katanya, ada kejadian seru di antara Leo dan Lilian. Cewek itu menatap Elkansa yang sedang... cemberut?
“Iya, Kak?” respon Fitri, sibuk menahan senyum. Ravina sendiri sudah menghilang lagi, katanya ingin ke kafetaria—lagi—karena kelupaan membeli sesuatu. Elkansa sebenarnya sudah ingin menemani Ravina, tapi Ravina menolak. Katanya dia bukan anak kecil yang harus selalu dijaga.
“Keliatannya lo seneng banget karena abis menggoda gue secara tersirat mengenai Ravina.”
“Jelas,” jawab Fitri. Dia terkekeh geli. “Karena Kak El terlalu pengecut, sih. Jadinya gue bantu, deh.”
Elkansa menghela napas berat dan memijat pangkal hidungnya. “Bukan gitu, Fit. Gue cuma belum tau dan belum ngerti, bentuk perasaan gue buat Ravina itu seperti apa. Lo kan tau kalau sebelum ini, hubungan gue dan Ravina itu sangat jauh dari kata bersahabat. Kita selalu bertengkar karena gue ingin melindungi seseorang yang berpotensi besar akan terluka akibat hubungan Rado dan Ravina. Walau Ravina bilang itu semua udah jadi history, tapi Rado, adik gue itu, selalu aja ngejar Ravina.”
“Hm.” Fitri menerima potongan buah apel yang diberikan oleh Elkansa. Kapan Elkansa mengupas buah tersebut, Fitri pun tidak menyadarinya. “Seseorang yang Kak El coba untuk lindungi itu, seseorang yang Kak El sayang? Kak El cinta?”
Elkansa sempat mematung, sebelum akhirnya tubuhnya kembali rileks. “Iya.”
“Kok kayak nggak yakin gitu jawabannya?”
Karena mendadak, gue nggak lagi menyukai dan menyayangi Shilla, seperti yang seharusnya gue lakuin selama ini. “Entahlah.”
Baru saja Fitri akan membuka suara, pintu kamarnya terbuka. Cewek itu dan Elkansa menoleh, kemudian memasang sikap waspada ketika sosok yang tidak pernah mereka duga akan datang, berdiri tegak di ambang pintu. Sosok itu tersenyum misterius, menutup pintu di belakangnya dan masuk ke dalam sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana sekolahnya.
Kean.
“Kalian kayak yang lagi ngeliat hantu aja, deh,” komentar Kean dengan nada geli. Tapi, Fitri dan Elkansa tahu kalau nada geli itu tidak seperti yang seharusnya terdengar alias memiliki makna tersembunyi.
“Lo nggak sekolah?” tanya Fitri. Setiap kali bertemu dengan Kean, tingkat kewaspadaan Fitri selalu meningkat. Bukannya apa-apa, tapi, Fitri kenal betul watak dan tabiat dari Kean karena cowok itu merupakan teman bermain Ravina sejak kecil dan tidak pernah takut untuk memperlihatkan sifat aslinya.
“Udah pulang. Ada rapat guru di sekolah.” Kean melirik ke arah Elkansa dan mengangkat satu alis. “Kok ada dia di sini?”
“Dia tamu gue dan Ravina. Lo nggak berhak buat ngelarang siapa yang boleh dan nggak boleh datang untuk menjenguk kami.” Fitri menatap tegas Kean yang nampak santai dan biasa saja, yang kini sudah duduk di hadapannya.
“Ravina mana?”
“Keluar.”
Di tempatnya, Elkansa mengawasi. Cowok itu tidak akan membuka mulut dan memulai perdebatan, kecuali si cowok ingusan bernama Kean tersebut yang memulainya. Dia harus meneliti lebih dalam lagi mengenai sifat dari Kean.
“Ke mana?”
“Kenapa lo harus tau dia ke mana?”
“Fitri,” panggil Kean dengan nada tajam. Tatapannya berubah dingin. “Gue tanya sekali lagi, ke mana Ravina?”
Fitri yang sadar kalau Elkansa mulai tersulut emosi akibat sikap Kean, langsung menahan lengannya begitu dia melihat Elkansa yang sudah akan berdiri melalui ekor matanya. Cewek itu mempererat cekalannya, memberi penegasan pada Elkansa untuk tetap duduk dan diam di tempatnya.
“Gue nggak ada kewajiban apa pun untuk jawab semua pertanyaan lo, Kean,” jawab Fitri tenang.
Mendadak, Kean berdiri. Cowok itu sudah akan menarik kerah seragam rumah sakit Fitri, ketika bahunya diputar keras dari belakang hingga membuatnya mundur beberapa langkah. Kean, Fitri dan Elkansa serempak menoleh dan menemukan sosok Virgo. Virgo yang terlihat sangat marah dan memberikan tatapan membunuhnya untuk Kean.
“Virgo?” panggil Fitri dan Elkansa bersamaan. Tidak menyangka cowok itu akan muncul, meskipun jam pulang sekolah masih sekitar satu jam lagi.
“Kalian berdua punya kemampuan berbicara bersamaan?” tanya Virgo dengan nada bete. Tatapan membunuhnya kini dia layangkan pada Elkansa yang langsung mendengus.
“Bucin. Posesif,” gerutu Elkansa pelan, tapi bisa didengar oleh Virgo.
“Ngomong apa barusan?”
“Nggak,” jawab Elkansa. Malas berdebat dengan Virgo karena dia sudah tahu bagaimana kemampuan berdebat Virgo jika cowok itu sedang marah.
“Go, kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Fitri dengan kening mengerut. “Sekolah?”
“Guru pada rapat.” Virgo tersenyum ke arah Fitri. “Lo nggak apa-apa? Nggak diapa-apain sama si b******k ini, kan?”
“Hei,” sela Kean sambil terkekeh. “Lo terlalu berlebihan. Memangnya gue bakal ngelakuin apa ke Fitri. Dia teman gue juga.”
“Nggak usah sok baik di hadapan gue dan Fitri, Yan. Kita tau wujud asli lo kayak apa.”
Kean berhenti tertawa kemudian mendengus. Cowok itu bersedekap. “Lo benar-benar selalu bikin gue naik darah, Virgo! Lo dan cewek b******k lo itu! Juga si b******k yang ada di sana.”
Virgo langsung menarik kerah seragam sekolah Kean hingga yang bersangkutan tercekik, tapi masih bisa untuk tertawa mengejek ke arah Virgo karena berhasil membuat cowok itu marah dan kehilangan kontrol.
“Virgo!” teriak Fitri.
Melihat itu, Elkansa langsung bertindak. Cowok itu segera menghampiri Virgo dan Kean, kemudian melepaskan tangan Virgo dari kerah Kean. Setelah terlepas, Kean langsung terbatuk, tapi sekali lagi, dia masih bisa tertawa.
“Go, tahan diri lo,” kata Elkansa mengingatkan. Dalam hati, dia mengumpat karena tenaga Virgo saat sedang marah begini benar-benar tidak terkendali. Bisa-bisa, Virgo akan membunuh Kean kalau dibiarkan begitu saja.
“Jangan pernah lo memaki Fitri seperti tadi, Kean! Gue akan membunuh lo, b******k!”
“Wah, menakutkan sekali.”
Mendengar nada ejekan pada suara Kean, Elkansa langsung menoleh dan memberikan tatapan dingin serta tajamnya. Tatapan yang sangat ditakuti semua orang, jika dia sedang marah. Dan tatapan itu rupanya juga sanggup membuat Kean membeku di tempatnya dan menelan ludah. Kean bisa merasakan aura tidak biasa dari Elkansa dan detik itu juga, Kean tahu bahwa Elkansa tidak bisa diremehkan olehnya.
] Heh, menarik sekali.
“Kalau lo mau cari gara-gara,” kata Elkansa. Bukan hanya tatapannya saja yang terlihat dingin dan tajam, tetapi juga nada suaranya. “Lebih baik lo pergi dari sini sekarang juga.”
Kean tertawa. “Lo mengusir gue?”
“Ya!” tandas Elkansa.
“Kalau gue nggak mau?”
“Akan gue paksa.”
“Berani lo?”
“Kenapa harus nggak berani?” tantang Elkansa. Cowok itu meninggalkan Virgo dan mendekati Kean yang tidak berusaha untuk menghindar. Ketika sudah berhadapan dengan Kean, Elkansa semakin mengeluarkan aura berbahaya yang selama ini selalu dia kontrol di dalam dirinya. “Lo bukan apa-apa bagi gue, Kean. Lo hanya anak SMA ingusan yang bisa gue hancurkan kapan pun gue mau!”
Kean diam. Cowok itu mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Giginya mengertak dan dadanya bergemuruh. Dia sangat membenci tipe seperti Elkansa. Tipe orang yang tidak bisa dia kontrol dan tidak bisa dia jatuhkan tanpa membuat rencana dan strategi lebih dulu.
Sialan!
“Oho, santai, bro,” kata Kean sambil tertawa dan tersenyum lebar. “Gue cuma mau menjenguk Ravina dan Fitri, kok.” Cowok itu menatap Fitri yang saat ini sedang ditemani oleh Virgo dan Virgo langsung menghalangi akses pandang Kean agar Kean tidak menatap Fitri lagi. “Sori kalau tadi gue bikin lo takut, Fit. Maaf juga kalau gue udah mengganggu jam istirahat lo. Sampaiin salam gue ke Ravina, ya.” Tatapannya beralih pada Virgo. “Sori soal tadi, Go.”
Setelah berkata demikian, Kean bersiul dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar dari kamar, Kean menoleh dan berkata, “Oh iya, Go. Gue sih cuma mau kasih peringatan aja. Jaga baik-baik cewek lo mulai dari sekarang, karena nggak akan ada yang tau kapan dia akan dicelakain oleh seseorang. Dan, mungkin aja seseorang itu adalah gue.”
“ELO?!” geram Virgo. Dia sudah akan maju untuk menghajar Kean, tapi Fitri mencegahnya dan menggeleng.
“Dan lo, Elkansa,” kata Kean. “Siap-siap pergi ke neraka, oke? Jangan harap gue akan membiarkan lo berlama-lama berada di sekitar Ravina gue.”
“Ha! What a joke. Bring it on!”
Kean menatap tajam Elkansa yang dibalas tak kalah tajamnya oleh cowok itu.
“Asal lo tau, Kean, gue nggak akan biarin orang b******k seperti lo, yang bersembunyi dibalik tampang malaikat, berada di dekat Ravina dan mencoba mendapatkan Ravina. Lo, manusia berhati iblis, akan gue pastikan Ravina tau semua kebusukkan lo. Ingat itu.”