FOUR

3202 Kata
Previously on Call Your Name...     Fitri merasa ada yang salah pada dirinya, karena tiba-tiba saja dia jadi berdelusi mengenai Virgo. Saat itu, Fitri merasa dalam keadaan sadar. Bahwa dia benar-benar terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang. Saat Virgo menolongnya dan memberinya napas buatan pun, gadis itu merasakan kelembutan bibir Virgo pada bibirnya dengan jelas. Bahkan, dia merasa tidak bisa bernapas ketika napas buatan yang diberikan oleh Virgo berubah menjadi ciuman yang begitu liar. Namun, semuanya lenyap hanya karena Leo menepuk pundaknya. Begitu Fitri bertanya dimana Virgo dan kenapa dirinya tidak basah kuyup padahal dia baru saja tercebur kedalam kolam renang, Leo justru dilanda kebingungan yang begitu besar. Pasalnya, sejak Fitri datang, tidak ada Virgo disana juga gadis itu tidak jatuh kedalam kolam renang. Itu berarti hanya ada satu kemungkinan: dia positif gila!             Leo mengantar Fitri dan Ravina pulang dengan ditemani oleh Virgo. Seperti biasa, bukan Virgo dan Fitri namanya kalau mereka berdua tidak bertengkar satu detik saja. Leo bahkan langsung kaget ketika Fitri menyuruhnya untuk menghentikan mobil, sesaat setelah Virgo meledeknya. Leo mati-matian menyuruh Fitri untuk tidak usah menanggapi ledekan Virgo. Virgo melirik gadis itu ke belakang dan kembali melancarkan ledekannya. Entah kenapa, dia benar-benar menikmati ekspresi meledak-ledak yang dikeluarkan oleh Fitri. Sejak mereka kecil, Fitri selalu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Virgo dan hal itu justru membuat Virgo keranjingan untuk membuat Fitri marah dan kesal.             Ternyata, Fitri menyuruh Leo untuk menghentikan mobil hanya karena gadis itu ingin membeli roti bakar. Gadis itu segera berlari ke tenda penjual roti bakar dan memesan makanan kesukaannya itu. Tanpa diduga, Virgo melihat Fitri sedang mengobrol dengan seorang laki-laki melalu kaca spion mobil. Virgo bertanya pada Leo siapa laki-laki yang bisa membuat gadis galak seperti Fitri itu bisa tertawa dan jawaban Leo membuatnya kaget. Orang itu ternyata mantan pacar Fitri. Herannya, ada sesuatu yang menggelitik hatinya saat mendengar kenyataan itu. Sesuatu yang membuat darahnya mendidih tanpa sadar.             Ravina benar-benar stress memikirkan pertemuannya dengan Rado kembali pada saat ulang tahun Harry tempo hari berlangsung. Padahal, dia sudah melupakan laki-laki itu. Kisah mereka sudah berakhir dua tahun yang lalu. Tapi, bertemu kembali dengan Rado rupanya membuat hati gadis itu bimbang. Juga kesal. Bimbang karena ada getaran aneh dalam dadanya ketika bertemu muka dengan laki-laki itu, kesal karena dia mengira dia sudah bisa melupakan rasa sakit hatinya dua tahun yang lalu. Dan untuk membuat otaknya menghilangkan bayangan Rado yang muncul lagi semenjak dia menghilang dua tahun yang lalu, Ravina mengajak Leo yang kebetulan datang untuk ikut tawuran.             Lalu, semuanya menjadi kacau balau saat Ravina diseret  pergi dari arena tawuran oleh seseorang yang menjadi hantu di pikirannya beberapa hari terakhir ini...     Part 4-I Don’t Wanna Ruin Anything   Untuk sesaat, Rado merasa tidak mengenal sosok gadis di depannya itu. Dia sangat mengenal Ravina untuk tahu bahwa gadis itu tidak akan pernah bersikap dingin dan tidak sopan di depan orang lain. Bahkan di depan orang yang tidak dikenalnya pun, Ravina akan bersikap sopan dan ramah. Meskipun orang tersebut mungkin berkelakuan tidak baik padanya, gadis itu tetap akan menunjukkan sikap sopannya.             Bukannya bersikap dingin dan menantang seperti saat ini.             Dua tahun yang lalu, Rado mengenal Ravina saat gadis itu masih menjadi siswi baru di SMA Brajaya. Saat itu, Rado sedang bermain basket dan melihat Ravina melintas di depannya. Gadis itu terlihat ceria dan bersemangat. Senyumnya begitu mempesona hingga membuyarkan semua konsentrasinya. Dan Rado sama sekali tidak marah atau mengamuk ketika bola basket yang besar itu mengenai kepalanya. Padahal, Sonny, oknum yang melempar bola tersebut sudah ketakutan setengah mati. Takut kalau Rado akan mengomelinya habis-habisan. Nyatanya, senyuman Ravina saat itu membuatnya terbuai dan terlena. Bahkan rasa sakit itu tidak terasa sama sekali, meskipun dia sempat melihat beberapa bintang menari-nari di depan wajahnya.             “Aku anggap itu sebuah sapaan buat aku, Rav,” ucap Rado pelan dengan nada mengintimidasi. Balasan atas ucapan Ravina beberapa saat yang lalu.             “Aku nggak nyapa kamu, Do... aku sama sekali nggak ada niatan untuk menyapa kamu. Aku bahkan nggak sudi ngomong sama kamu lagi.” Ravina menyunggingkan senyum dinginnya dan bersedekap. Ditatapnya Rado dengan tatapan menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Masih sama seperti dua tahun yang lalu. Laki-laki yang membuatnya jatuh hati dan sakit disaat yang bersamaan. Tidak ada yang berubah. Meskipun Rado terlihat babak belur saat ini, entah mengapa itu justru membuatnya seksi.             APA?! SEKSI?! Ravina menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. Otaknya pasti mendadak tidak waras detik ini. Mungkin tanpa disadarinya, saat tawuran tadi, ada sebuah batu yang mengenai kepalanya sampai dia bisa berpikiran seperti itu.             “Tapi kamu ngomong sama aku barusan,” sahut Rado sambil mengangkat bahu tak acuh. Dia membalas senyuman dingin yang diberikan Ravina untuknya. “Apa kabar, kamu?”             “Apa kabar aku itu penting buat kamu?” tanya Ravina dengan nada rendah. Gadis itu mendengus dan tertawa hambar dengan keras. “Kabar aku, yah? Hmm... Let’s see... waktu kamu mutusin untuk pergi ninggalin aku demi sahabat aku yang kamu taksir itu, aku ngerasa sakit bukan main. Terus, aku mulai move on dan akhirnya aku emang moved on. Setelah itu, aku bahagia. Sangat bahagia. Jadi, kalau kamu berharap aku terpuruk dan mungkin bunuh diri karena ngerasa sedih ditinggalin sama kamu, sorry... not gonna happen.”             Demi Tuhan! Rado benar-benar terkejut dengan ucapan Ravina barusan. Dia tahu, dia memang laki-laki b******k dan plin-plan dua tahun yang lalu. Dia sudah berpacaran dengan Ravina saat itu, saat dia duduk di bangku kelas tiga dan gadis itu masih duduk di bangku kelas satu. Dia yang terpesona pada senyuman Ravina mencoba untuk mendekati gadis itu dan berhasil mendapatkannya. Sayangnya, tiga bulan setelah menjalin hubungan, dia dan Ravina terlibat pertengkaran hebat. Rado cemburu pada Virgo, karena selalu melihat gadisnya dijemput saat pulang sekolah. Meskipun Ravina berkata bahwa Virgo hanyalah temannya, namun Rado tidak percaya. Dia menganggap Ravina sengaja menggunakan kesempatan pulang bersama dengan Virgo disaat dirinya harus ikut PM dan les-les tambahan sepulang sekolah demi lulus UN dengan nilai gemilang.             Saat itulah, Rado dekat dengan Shinta, sahabat Ravina. Dia curhat mengenai hubungannya dengan Ravina pada Shinta dan merasa nyaman dengan gadis itu. Lama-lama, Rado selalu pergi bersama Shinta dan mulai merasa memiliki perasaan khusus pada sahabat Ravina itu. Sampai akhirnya, Ravina mengetahui hal tersebut dan marah besar. Dia menuding Shinta menggoda Rado disaat hubungannya dengan laki-laki itu sedang renggang. Namun, Rado justru berkata bahwa dirinya lebih menyukai Shinta ketimbang Ravina, karena Shinta lebih bisa membuatnya nyaman dan bahagia.             Sejak itulah, Rado meninggalkan Ravina demi Shinta. Meninggalkan luka besar yang baru bisa sembuh satu tahun berikutnya. Itu semua karena dia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Rado dan meninggalkan semua hal-hal yang berkaitan dengan RADO di MASA LALU.             “Aku sama sekali nggak pernah berharap kalau kamu terpuruk apalagi sampai bunuh diri segala!” seru Rado. Matanya berkilat-kilat penuh emosi. Dia mungkin memang b******k dua tahun yang lalu, dia mungkin memang sudah menyakiti hati Ravina. Tapi, dia tidak pernah punya memiliki pikiran sekejam dan sekeji itu. “Aku justru ngerasa bersalah sama kamu! Aku nyesel udah nyakitin kamu! Aku nyesel udah ninggalin kamu karena aku baru sadar, setidak-tidaknya setelah aku dengan sangat teganya ninggalin kamu dan lebih memilih Shinta, kalau aku cintanya cuma sama kamu!”             “Sinetron banget, ya?” Ravina menyindir dengan nada yang begitu dingin. Sungguh, semua hal mengenai Rado tidak akan pernah dia izinkan lagi untuk membuatnya terpuruk dan sakit hati. “Simpan aja semua omong kosong buaya kamu itu untuk ngebodohin gadis lain, Do! Aku nggak butuh semua bualan bullshit kamu itu.”             Tanpa menghiraukan ekspresi wajah Rado saat ini, Ravina langsung memutar tubuh dan pergi meninggalkan laki-laki itu. Rado sendiri bahkan tidak berusaha untuk mengejar gadis itu. Rado hanya bergeming dan menatap punggung Ravina yang semakin menjauh lalu berhenti untuk kemudian menoleh ke arahnya. Tatapan matanya, sikap tubuhnya, ekspresi wajahnya, semua yang ada pada diri gadis itu membuat Rado yakin seratus persen bahwa Ravina tidak pernah memaafkannya.             Tapi... dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan maaf dari gadis itu sekaligus mendapatkan gadis itu kembali.             “Kamu nggak boleh move on dari aku, Rav....” ### “Aku nggak akan lama di toko buku, Mah... Mama bisa nunggu aku sebentar disini, dan aku janji bakalan udah ada di mobil dalam waktu dua puluh menit.”             Tawanya hampir saja menyembur keluar ketika melihat wajah masam sang Mama. Dia tahu bahwa waktu dua puluh menit itu tidak bisa disebut dengan kata ‘nggak akan lama’. Tapi, dia tidak akan mungkin bisa hanya menempuh waktu lima menit untuk mencari novel yang dia cari. Oke, mungkin bisa, tapi, jarak dari lantai satu mall ini ke lantai lima, tempat dimana toko buku berada, tidak akan mungkin bisa ditempuh dalam waktu lima menit, bukan?             “Kamu benar-benar bikin Mama naik darah, Loz... cepat, sana! Harusnya kamu minta diantarin sama Papa kamu aja. Dia pasti lagi istirahat di kantornya sekarang. Kalau dipikir-pikir lagi, untuk jabatan direktur seperti Papa kamu, dia pasti bisa punya waktu luang yang banyak!” Celsi menggerutu seraya membaca satu BBM yang masuk ke BlackBerry-nya. Wanita itu memutar kedua bola matanya dan memperlihatkan isi BBM yang baru saja dia terima itu ke arah anak laki-lakinya.             “See? Your Dad is always enjoys his time.” Celsi buru-buru mengibaskan sebelah tangannya ke arah anak laki-lakinya yang sudah terbahak itu dan menyuruhnya untuk segera masuk kedalam mall, sementara dia membalas BBM dari Azka, suaminya.             Ketika berada didalam toko buku dan mencari novel incarannya, kedua matanya menangkap sesosok gadis berseragam SMA. Gadis yang begitu larut dalam bacaan di tangannya. Gadis yang begitu manis dan cantik. Gadis yang membuatnya terpesona dua kali. Langsung saja dia mendekati gadis manis itu dengan gagah berani.             “Elo yang tempo hari ketemu sama gue di toko buku, kan?”             Pertanyaan bernada ramah dan lembut itu tidak langsung dijawab Liz. Gadis manis itu hanya bisa terdiam, menatap ke arah laki-laki di depannya itu dengan tatapan kagum dan memuja. Liz merasa terbang ke langit ketujuh dan bermain bersama para  bidadari di atas sana. Sampai kemudian, dengan sangat enggan, gadis itu harus kembali ke alam sadarnya, ketika sebuah tepukan kecil mendarat pada pundaknya.             “Hah? Apa? Apa?” Liz menggeram keras didalam hati ketika sadar bahwa ulahnya itu membuatnya malu setengah mati. Bagaimana tidak? Laki-laki tampan di depannya itu kini sedang mengulum senyum dan terlihat jelas sekali sedang menahan tawa.             “Kita ketemu lagi,” ucap laki-laki itu sambil menyeringai geli. Sejurus kemudian, laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya. “Kenalin... nama gue Veloz. May i know your name, princess?”             SUMPAH MATI TADI DIA DIPANGGIL PRINCESS SAMA LAKI-LAKI TAMPAN ITU?! Liz menjerit senang didalam hati. Dengan tangan yang agak sedikit gemetar, gadis itu menyambut uluran tangan laki-laki bernama Veloz di depannya itu. “Nama gue... Liz. Candice Lizaria Aprilio....”             “Nama yang cantik, secantik orangnya.” Veloz menjabat tangan Liz dengan erat dan tanpa disangka-sangka, laki-laki itu menarik tangan Liz yang berada dalam genggamannya, hingga tubuh mereka berdekatan. Liz harus menahan napas dan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Veloz kalau laki-laki itu tahu bahwa jantungnya kini berdetak dengan sangat keras dan liar. Dia sendiri sampai takut akan mendapatkan serangan jantung. “Kalau gue ketemu lo lagi, gue bakal ngajak lo kencan dan lo harus mau.”             Selesai berkata demikian, Veloz menarik diri juga genggaman tangannya pada Liz. Dia mengedipkan sebelah mata dan mengacak rambut Liz sebelum kemudian melambaikan tangan dan pergi meninggalkan gadis itu.             Yakin bahwa sosok Veloz sudah menghilang dari pandangannya, Liz menaikkan satu tangannya ke d**a dan mulai mengontrol debar jantungnya. Sia-sia saja, karena sampai saat ini, debaran jantung itu masih meliar dengan begitu hebatnya.             “What should i do?” tanya Liz pada dirinya sendiri. Bingung sekaligus senang. Karena kenyataannya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. ### Keesokan harinya, Leo turun dari lantai dua dengan wajah yang mulai membiru di beberapa tempat akibat aksi tawurannya kemarin. Oh, sebenarnya dia malas untuk mengikuti tawuran. Kalau bukan karena Ravina yang nekat terjun ke lapangan—yang membuat Leo yakin bahwa sepupunya itu sepertinya mulai tidak waras—dia mungkin tidak akan mengalami luka-luka seperti ini.             Kemarin, saat melihat Ravina diseret oleh laki-laki yang tidak dia kenal, laki-laki yang memiliki wajah dewasa, Leo merasa sangat cemas. Dia meninggalkan arena tawuran demi mencari keberadaan gadis itu. Rasa sakit dan luka yang dia dapatkan tidak dia hiraukan. Omelan Oom Elang akan jauh lebih menyakitkan dan menakutkan ketimbang dengan luka-luka ini.             Dia berhasil bertemu dengan Ravina dua puluh menit kemudian. Gadis itu memasang wajah datar serta tidak berkomentar apa-apa ketika Leo memarahinya habis-habisan. Ravina hanya diam, menganggukkan kepalanya dan berkata, “Maafin gue, Yo,”.             “Pagi, Yah, Bun,” sapa Leo pelan dan duduk di meja makan. Dia sedang memindahkan nasi goreng kedalam piringnya sendiri, ketika sadar sedang diperhatikan. Ketika kepalanya mendongak, dia mendapati tatapan penuh tanda tanya yang dilayangkan oleh kedua orangtuanya juga Liz. Kemarin, Leo memang pulang larut malam. Dia tidak ingin keluarganya tahu tentang wajahnya yang babak belur ini. Alhasil, dia mendatangi rumah Virgo dan mengobrol dengan sohibnya itu sampai larut. Dia sepertinya sudah lupa dengan rasa kesalnya terhadap Virgo karena membawa Lilian keluar dari dalam kelas waktu itu.             Tapi, itu bukan berarti bahwa dia cemburu, ya!             “Yo?” panggil Rizky dengan kening berkerut. “Itu, muka kamu kenapa biru-biru? Abis dikasih blao, ya?”             “Bukan,” sahut Leo bete. “Abis dicat!”             “Oh. Kenapa nggak pakai yang warna hijau, aja, Yo? Lebih bagus kayaknya.”             “Ayah! Nggak lucu amat bercandanya,” omel Leo keki seraya mengunyah nasi gorengnya. Lewat ekor matanya, dia bisa melihat sang Bunda dan Liz menahan tawa karena percakapan tidak bermutu ini.             “Kamu lagian, ditanyain baik-baik malah ngajakin bercanda. Ya udah, Ayah ladenin.” Rizky menjawab santai sembari mengangkat bahu tak acuh. Dia mengedipkan sebelah matanya kepada Krystal dan Liz.             “Ayah duluan yang ngajakin aku bercanda, ngerti?” Leo mencibir dan melanjutkan acara makannya. “Ini kemarin abis diajakin tawuran sama Ravina.”             “Akhirnya....” Rizky bertepuk tangan heboh dan tertawa keras. “Kamu mau ikut tawuran juga, Yo! Bukannya ngegombalin cewek-cewek di sekolah kamu itu.”             Mendengar ucapan Ayahnya, Leo mendelik dan mendesis. Dia meneguk air jeruknya dengan cepat dan bangkit berdiri. “Aku berangkat dulu. Liz, kamu udah selesai, belum?”             Sadar bahwa sang Kakak sedang bete, Liz buru-buru menyudahi sarapannya kalau tidak mau ditinggal pergi ke sekolah oleh laki-laki itu. Setelah mencium pipi Rizky dan Krystal, Leo dan Liz berangkat ke sekolah. ### “Mati gue!”             Fitri mengutuki nasib dirinya yang sangat sial pagi ini. Pasalnya, saat akan berangkat ke sekolah dan menunggu angkutan umum, dia melihat dua kubu dari dua sekolah berbeda sedang melakukan aksi baku hantam. Padahal, ini masih pagi hari. Para pengendara mobil dan sepeda motor lebih memilih untuk menghindar dan putar arah jika tidak ingin kendaraan mereka rusak atau lebih parah, mereka sendiri yang akan menjadi korban.             Setelah membaca situasi dan menggeram kesal karena tidak memiliki jalan keluar, Fitri menggigit bibir bawahnya dengan senewen. Saat sedang berpikir itulah, dia tidak menyadari seseorang datang dari belakang tubuhnya, menarik lengannya dengan kasar untuk menjauh dari tempat kejadian.             Rasa panik yang menyerang dirinya membuat Fitri menjerit keras. Gadis itu juga memberontak dan berusaha melepaskan diri. Dia bahkan sudah ingin menangis dengan kencang ketika tubuhnya mendadak di gendong oleh orang yang menyeretnya itu. Kemudian, dia sudah berada didalam sebuah mobil yang bagus, dengan jok yang membuatnya nyaman serta AC yang mulai membuatnya menggigil.             Lalu, Virgo muncul tepat di sebelahnya.             “Virgo?! Lo udah gila, ya?!” seru Fitri keras.             “Sama-sama,” jawab Virgo kalem. Laki-laki itu menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya ke arah sekolah dengan rute jalan lain. Dia tidak mungkin nekat menerobos gerombolan anak-anak SMA yang sedang baku hantam itu. Selain tidak ingin mengambil resiko untuk merusak mobil kesayangannya, saat ini Fitri sedang bersamanya. Tidak masalah kalau dia yang terluka, tapi kalau sampai Fitri yang terluka, dia tidak akan bisa berpikir jernih lagi.             Nah! Pikiran macam apa, itu? Kenapa tiba-tiba dia jadi mengkhawatirkan keadaan Fitri segala, sih?             “Gue lagi nggak berterima kasih sama lo, Go! Gue lagi ngomelin elo, ngerti nggak, sih?!” sungut Fitri. Gadis itu menggembungkan kedua pipinya dengan kesal dan bersedekap. Diliriknya wajah Virgo yang hanya terdiam namun tersenyum sangat tipis.             “Jadi, elo lebih milih jadi santapan para berandal-berandal itu ketimbang diselamatin sama gue? Gitu?”             Ucapan Virgo membuat Fitri tergagap. Bagaimana bisa laki-laki itu balas menyerang kata-katanya? Ugh! Sejak mereka kecil, Virgo memang selalu membuatnya naik darah! Arrrrghhhh!!!             “Lo... nggak apa-apa, kan?”             Pertanyaan pelan itu membuat Fitri menolehkan kepalanya dengan cepat. Kedua mata gadis itu terbelalak dan mulutnya menganga. Seakan dia baru saja mendapatkan pengumuman bahwa para alien dari planet Mars berbondong-bondong datang ke bumi untuk melamarnya.             “Hah?” hanya itu reaksi yang diberikan oleh Fitri untuk pertanyaan Virgo barusan. Sementara itu, Virgo menoleh sekilas dan berdecak dengan tidak sabaran. Dia menepikan mobil dan langsung melepas sabuk pengaman. Kemudian, dengan gerakan tak terduga, Virgo mendekatkan dirinya ke arah Fitri yang langsung menyandarkan diri ke pintu mobil. Gadis itu semakin tersudut sekarang, karena Virgo mengurungnya dengan rentangan kedua tangan laki-laki itu. Wajah Virgo yang sangat dekat dengannya membuat Fitri menahan napas dan teringat lagi dengan delusi sialannya itu!             “Ma—mau apa lo?” tanya Fitri dengan suara gemetar. Demi Tuhan! Dia benar-benar tidak berkutik saat ini, saat melihat senyuman iblis milik Virgo itu.             “Meriksa elo,” jawab Virgo pendek. Dia meneliti keseluruhan wajah Fitri dengan seksama. Setelah dirasa yakin bahwa gadis itu tidak mengalami luka atau semacamnya, Virgo menarik dirinya kembali dan memasang sabuk pengaman. Fitri yang terlalu terkejut dengan tindakan Virgo barusan hanya bisa terdiam dan tetap dalam posisinya.             “Fit?”             “A—apa?”             s**t! Kenapa suaranya masih terdengar begitu gemetar?!             “Ada yang mau gue tanyain.” ### Leo mengetuk jari telunjuknya di atas meja dengan irama cepat. Dia menoleh ke arah kursi Lilian dan mendapati gadis itu sedang sibuk membaca novelnya. Leo sebenarnya ingin meminta maaf atas insiden penyembunyian ponsel gadis itu, namun dia tidak... berani. Oke, bukan tidak berani, tetapi dia gengsi!             “Anjrit! Gue lebih mirip banci sekarang ketimbang laki-laki jantan!” Leo mengacak rambutnya frustasi dan berdecak jengkel. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi dan dia bahkan belum melihat kemunculan Virgo. Dia membutuhkan saran dari Virgo tentang Lilian.             “Eh... eh... Yos!” panggil Leo keras. Yossi menoleh dan menaikkan satu alisnya. Leo segera menghampiri laki-laki itu dan menepuk pundaknya beberapa kali.             “Kenapa, Yo?”             “Nggak apa-apa,” jawab Leo cepat. “Eh, itu lo bawa apaan?”             Yossi mengerutkan kening dan menatap Leo dengan tatapan aneh. “Ini, kan, gitar. Lo nggak tau?”             “Boleh gue pinjem sebentar?” tanya Leo seraya tersenyum lebar. Dan, tanpa meminta persetujuan Yossi, Leo langsung mengambil gitar tersebut, meninggalkan Yossi yang menggelengkan kepalanya.             “PERHATIAN SEMUANYA!”             Bukan hanya Yossi yang tersentak hebat, tetapi juga Lilian dan semua teman sekelas Leo. Mereka mengenali suara tersebut sebagai suara Leo. Langsung saja, mereka semua termasuk Lilian berhamburan keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi.             Semua siswa-siswi berkerumun di lapangan, Lilian bisa melihat dengan jelas akan hal tersebut dari balkon lantai tiga di depan kelasnya. Yang membuat Lilian tidak habis pikir adalah, ketika Leo mendongak dan menatap tepat pada kedua matanya. Gadis itu hanya menatap Leo balik dengan tatapan datar dan memutar tubuh, berniat untuk masuk kembali kedalam kelas. Namun, suara keras Leo membuat tubuh gadis itu membeku.             “LILIAN! GUE TAU, GUE UDAH b******k BANGET SAMA LO TEMPO HARI! GUE UDAH NYEMBUNYIIN PONSEL LO DAN BIKIN LO NANGIS! TAPI, ASAL LO TAU... GUE NGGAK PERNAH MEMBEDA-BEDAKAN DAN MEMBANDING-BANDINGKAN STATUS SOSIAL SESEORANG! GUE NGGAK SEKEJI ITU DAN NGGAK SEPICIK ITU! GUE MAU MINTA MAAF SAMA LO DAN GUE MOHON LO MAU MAAFIN GUE!!!”                   Suara Leo yang berasal dari mikrofon dicampur dengan gemuruh tepuk tangan serta sorak-sorai para siswa-siswi membuat Lilian terpaku. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.             Permainan macam apa lagi yang sedang dilakoni oleh Leo?             Kemudian, suara petikan terdengar sangat merdu. Disusul suara lembut Leo yang menyanyikan sebuah lagu.   Kau boleh acuhkan diriku... Dan anggapku tak ada... Tapi takkan mengubah, perasaanku... kepadamu... Kuyakin pasti suatu saat... semua kan terjadi... Kau kan mencintaiku, dan tak akan pernah... melepasku...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN