Part 2
Tidak Ingin Curiga
Efek dari pesan yang masuk ke ponsel suaminya tadi, membuat Lunar tidak bisa tidur. Ia terus saja berbalik ke kanan dan ke kiri agar mendapat posisi nyaman untuk terlelap, tetapi rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk yang hilang begitu saja.
Sejak awal menikah dengan Birawa, ia tidak pernah sama sekali membuka sembarangan ponsel suaminya. Jika tidak diizinkan oleh pria itu atau memang sedang diminta untuk membuka dan membalas pesan dari beberapa pasien suaminya, barulah ia akan membukanya. Namun, jika untuk membuka ponsel itu sendiri secara diam-diam, ia tidak pernah berani melakukannya. Ia tidak mau lancang dan sekarang, setelah membaca pesan yang tidak tuntas tadi, Lunar benar-benar resah.
Wanita itu akhirnya turun dari tempat tidur setelah suara dengkuran suaminya begitu keras. Ia menekan cukup lama tombol kecil berbentuk memanjang di sisi kanan ponsel Bira. Logo ponsel dan tema pocong pun muncul di sana. Lunar sudah biasa, tidak kaget, ataupun takut lagi.
Lunar mencoba membuka ponsel suaminya, tetapi gagal. Semua kode yang pernah ia ingat tidak pernah cocok hingga akhirnya ponsel itu terkunci otomatis dan tidak bisa dibuka untuk beberapa waktu. Lelah karena usahanya tak juga membuahkan hasil, Lunar pun memilih tidur saja. Besok ia akan menayakan perihal pesan tersebut pada suaminya.
Pukul setengah lima pagi Lunar bangun untuk mandi dan salat subuh. Sebenarnya matanya masih mengantuk, tetapi ia harus bangun menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Bang, bangun. Salat subuh dulu!” panggil Lunar sambil mengusap pipi suaminya.
Seperti biasa, Bira tertidur seperti orang pingsan jika semalaman sedang banyak pasien. Lelaki itu tidak bergerak saat dibangunkan, walaupun Lunar sudah mengguncang tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah, saat lagi-lagi suaminya melewatkan salat subuh. Salat lima waktu pun sama, suaminya melaksanakan kewajiban itu ketika sedang ingin, bukan karena kesadaran akan kewajiban.
Lunar pun pergi ke halaman belakang rumah untuk menjemur cucian yang sudah ia putar di mesin kemarin sore.
“Jemur, Mbak Lunar,” tegur Bu Tejo yang belakang rumahnya berhadapan dengan halaman belakang rumah Lunar.
“Iya, Bu. Sore kemarin saya nyucinya, biar pagi tinggal jemur. Cucian memang nggak terlalu banyak, makanya nyuci tiga hari sekali,” jawab Lunar sambil tersenyum.
“Em, tapi kalau nyuci celana dalam suaminya setiap hari ya, Mbak?” tanya Bu Tejo lagi.
“Iya, Bu. Bukan saya yang cuci, tapi Bang Bira. Setiap mandi, pasti nyuci sendiri dalamannya. Katanya biar sekalian,” jawab Lunar.
“Wah, Pak Bira keren sekali mau nyuci dalaman. Kalau suami saya dari itu sempak bau keringat sampai bau mayit nggak bakalan dia mau nyuci, kalau bukan saya yang nyuci,” puji Bu Tejo dengan intonasi sedikit sewot di akhir kalimat. Lunar pun tertawa melihat ekspresi Bu Tejo.
“Sabar, Bu. Namanya juga lelaki.” Lunar pun pamit masuk ke dalam rumah. Keasyikan ngobrol dengan Bu Tejo di belakang, bisa-bisa membuatnya kesiangan ke warung sayur.
Pulang dari warung sayuran, Lunar membuatkan sarapan nasi goreng dengan telur dadar. Suaminya masih juga belum bangun, padahal sudah pukul tujuh pagi.
“Bang, bangun. Sarapan dulu, nanti lanjut tidur lagi,” seru Lunar berbisik di telinga Bira.
Bira membuka kelopak mata perlahan. Mulutnya menguap lebar menandakan ia masih sangat mengantuk.
“Bang, ayo sarapan dulu!” Kata Lunar lagi mengguncang tubuh suaminya.
“Aduh! Jangan cerewet dong, Lunar. Aku ngantuk nih! Bangunin aku jam sembilan. Udah, sana! Aku mau tidur lagi.” Bira melanjutkan tidurnya, sedangkan Lunar hanya bisa menghela napas. Ia keluar dari kamar untuk menyantap sarapan sendirian.
Pukul sembilan pagi tanpa perlu dibangunkan, Bira sudah bangun sendiri. Pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Pria itu menghampiri Lunar sambil yang sedang duduk bersantai menonton televisi. Di tangannya ada sepiring nasi goreng yang sudah dingin. Lunar tersenyum ke arah Bira yang ketampanannya maksimal jika bangun tidur seperti ini.
“Bang, semalam ada WA masuk ke ponsel kamu. Tulisannya, ‘Bang Bira, nanti sore saya datang lagi. Seperti permintaan Bang Bira, dari rumah saya nggak pakai dalam’, tapi ponsel Abang keburu mati. Saya nggak bisa baca lanjutannya, memangnya kalau mau pijat nggak boleh pakai apa, Bang?” Bira menelan ludah sambil berpikir keras jawaban apa yang akan ia berikan untuk istrinya.