Chapter 3

760 Kata
Part 3 Tanda Merah di leher Bira “Oh, itu mungkin dia typo saat mengirimkan pesan,” jawab Bira berusaha santai. Kening Lunar semakin mengerut. “Oh, jadi yang Abang pijat perempuan? Itu Abang tahu kalau yang mengirimkan pesan perempuan?” tanya balik Lunar dengan hati cemas. Ia was-was suaminya main belakang, meskipun tidak mungkin. “Ya, karena rata-rata yang ke sana pasien Abang perempuan. Mulai dari pijat keseleo, turun berok, sakit pinggang, terkilir, sakit leher, patah tulang pun Abang bisa. Kamu cemburu ya? Hehehe ... senang Abang kalau istri cemburu gini, tapi jangan cemburu buta. Abang, kan, mengobati pasien. Sama kaya dokter kandungan lelaki, pasti dia setiap hari malah ketemunya perempuan terus ya, kan? Sudah, masakin Abang air hangat dulu sana. Habis mandi, kita ke pasar yuk!” Lunar yang tadinya curiga sampai tidak bisa tidur, akhirnya luluh juga. Ucapan Bira selalu masuk akal. Bukan membela diri, tapi karena keadaannya yang seperti itu. “Eh, malah bengong! Mau ke pasar nggak?” tanya Bira lagi menegur Lunar yang masih tertutup sambil menatapnya. “Eh, iya. Mau, Bang.” Lunar bergegas ke dapur untuk menjerang air mandi Bira. Selagi menunggu air bergolak, Lunar bersiap. Mengganti pakaian yang bagus. Tak lupa ia berdandan yang cantik agar suaminya senang dengannya dan tidak melirik pasien pijatnya. Suara kecipak air di kamar mandi menandakan suaminya tengah mandi. Lunar segera merapikan kasur yang berantakan dan juga mengambilkan baju suaminya. Semua ia taruh di atas ranjang. Pintu kamar terbuka, Bira berjalan masuk dengan gagahnya. Lunar sampai menelan ludahnya, karena setiap hari tidak pernah bosan untuk menikmati pemandangan tubuh suami yang sangat menggoda. Tetes air dari ujung rambut, jatuh di pundak dan juga punggung suaminya. Sangatlah seksi, tentu saja. Lunar baru sadar ketika ia melihat warna agak kehitaman ada di leher suaminya, seperti bekas yang biasa ia berikan di malam sabtu. “Bang, di leher Abang kenapa merah gitu?” tanya Lunar. Bira kembali merasa hari ini istrinya terlalu cerewet terhadapnya. “Memangnya kenapa? Ini merah karena kemarin ada anak kecil pundaknya patah, Abang pijat, malah Abang digebukin.” Bira memegang bagian merah di leher, lalu tanpa sepengetahuan Lunar, ia menancapkan kuku jari kelingkingnya di sana. Seolah-olah bekas cakaran. “Ini, lihat saja!” Bira mendekat setelah memakai celana dalam yang sudah disiapkan Lunar di atas kasur. “Oh, saya salah lihat ya, Bang? Itu malah kayak cakaran?” komentar Lunar sambil menghela napas lega. Bira mengangguk. Jauh di dalam hatinya berkata, mulai hari ini ia harus berhati-hati pada Lunar, jangan sampai istrinya mendapati hal aneh lagi tentang dirinya. Dengan mengendarai motor N-nax, Bira membawa Lunar pergi ke mall. Niat awal mau ke pasar terpaksa ia batalkan. Lebih baik ke mall, mengajak istrinya berkeliling sambil membelikan beberapa helai baju, dan juga make up. Keluar uang lebih tidak apa-apa, asalkan Lunar tidak curiga lagi padanya. Puas berbelanja hingga pukul tiga sore, Bira pun mengantar Lunar pulang, sedangkan dirinya langsung pergi ke tempat praktek. Memang jam praktek mulai dari jam empat sore sampai dengan jam dua belas malam jika sedang banyak pasien. Lunar benar-benar sudah menepis kecurigaannya terhadap Bira, setelah ia puas berbelanja, dan juga mendapatkan uang bonus lima ratus ribu dari suaminya. Bira sampai di tempat praktek pukul empat lebih lima menit. Sudah ada Bu Dasmi yang bertugas mencatat pendaftaran pasien yang rata-rata adalah wanita dan juga anak kecil. “Pasien pertama silakan masuk!” kata Bu Dasmi berseru. Bira sudah berada di balik meja persegi panjang dan tengah duduk bersila. Di depannya ada banyak minyak, mulai dari minyak urut, minyak khusus keseleo, minyak bulus, minyak kelapa, dan ada satu lagi dalam botol besar minyak khusus yang bisa membuat birahi pasien tersulut. Seorang wanita berjalan pincang masuk ke dalam kamar periksa. “Selamat sore, Bang Bira.” “Selamat sore, Mbak Intan ya?” sapa Bira ramah, memperlihatkan senyuman di bibirnya. “Iya, Bang. Saya yang semalam WA itu.” Bira mengangguk. Tak lama kemudian suara musik relaksasi pun terdengar mengisi kamar periksa. Tidak akan ada yang mendengar jika ada bunyi-bunyi aneh, selain suara musik mengalun dari dalam kamar itu. Intan sudah berbaring pasrah. Bira tersenyum hangat, lalu menaikkan rok wanita itu. “Bagus, sudah tidak memakai dalaman dari rumah, tapi tolong hutan ini nanti dirapikan ya? Akan susah saya memijatnya jika rimbun seperti ini,” kata Bira dengan suara serak. “Ba-baik, Bang. Nanti saya cukur. Ta-tapi benar, kan, Bang? Nanti setelah dipijat Bang Bira, rahim saya bisa kencang lagi? Biar suami juga puas nggak ngomel bilang kendor terus.” Bira tertawa pendek. “Kalau yakin, pasti bisa. Ayo, kita mulai.” Intan pun memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN