Apabila Daniel belum lupa, ia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mengejar sesuatu yang bukan keinginannya sendiri. Daniel ingat ketika Baskoro menekannya untuk mendapatkan peringkat satu selama dua belas tahun menempuh jenjang pendidikan formal. Dan, seperti yang sudah terjadi, Daniel akan mengabulkan permintaan ayahnya. Ia belajar mati-matian, siang dan malam mengingat Daniel bukanlah tipikal manusia yang lahir dengan otak jenius. Daniel juga mengabaikan waktu bermainnya yang terpangkas habis hanya untuk duduk di depan buku dan membedah soal ulangan. Di balik jendela kelas, terkadang Daniel memandangi anak-anak yang bermain bola. Ia juga ingin seperti mereka, lepas dan bebas. Jadi, ketika Arif menawarkan dua hal tersebut dengan segera Daniel menerimanya. “Lo bisa nendang bola ‘kan?”

