3. Algarve

1277 Kata
Kalila menarik satu kursi dan menempatkan diri di ruang rapat. Pun gadis itu tak sengaja membidik seseorang yang hendak mengambil tempat di sampingnya. Mata keduanya saling beradu untuk beberapa detik. Semakin lawannya menatap, semakin tajam pula Kalila memandang. “Issh!” Keluh Mak Lampir membanting kursi, lalu menjauh dari Kalila. Sebegitu jijiknya ia berdekatan dengan gadis ayu nan jelita itu. Alih-alih berkecil hati, Kalila justru menggerutu melihat tingkah seniornya yang kekanakan. Kalila tak peduli. Ia tak masalah jika dirundung, mentalnya sudah setebal baja. Ia tetap percaya diri. “Hai, Kal!” Kalila menoleh, menemukan mata cantik bulat milik Mbak Helen. Perempuan itu mengambil tempat yang dibuang Mbak Tari begitu saja. “Aku nggak apa-apa kan duduk disini?” Tanya Mbak Helen ramah. Kalila mengerutkan kening sejenak sambil mengais beberapa hipotesa yang terasa janggal “Kal?” “O-oh?!” Kagetnya “Boleh.. sok, atuh.” Kalila melebarkan senyumnya, kemudian kembali menerka. Ia merasa sikap ramah Mbak Helen ini terlalu langka. Sebab ia adalah satu dari komplotan Mak Lampir itu. Tapi kini perempuan manis tersebut justru seolah berpihak padanya. Astaghfirullah, nggak boleh su’udzon. Apapun itu, tetap perlakukan orang dengan baik. Tak boleh mengotori hati dengan prespektif yang tak berdasar. Tak lama Pak Bagus datang. Semua siap menyambut penuh hormat, sampai pria itu duduk. Ia menjelaskan beberapa hal yang disimak dengan baik oleh para karyawan dari berbagai divisi. “Jadi, dalam event ini, saya minta agar fokus utamanya pada pembalap asal Indonesia, Rayden Faaz,” tukasnya, menatap tegas setiap karyawan, “Kita tau bahwa diluaran sana banyak orang yang masih belum mengenal pembalap mereka sendiri. Yang masyarakat tau, hanyalah Valentino Rossi lagi, Valentino Rossi lagi. Kita ingin mengenal pembalap negeri sendiri secara luas sebagai bentuk minat masyarakat pada ajang olahraga ini.” “Meskipun fokusnya pada Rayden di kelas Moto-2, kita tetap mengulas kegiatan dari kelas lain, Moto-3 dan pastinya kelas utama, Moto-GP.” lanjutnya disambut dengan anggukan paham seluruh penghuni ruangan. Kemudian Pak Bagus menyambung lagi kalimatnya. Memberikan arahan kepada semua tim redaksi tentang berita yang akan dimuat. “Jadi---” Pak Bagus mengenakan kaca mata, membuka lembaran buku agendanya “Saya sudah menyusun tim sebanyak empat anggota. Karena ini bukan liputan biasa, saya memberangkatkan orang-orang luar biasa. Helena Audina reporter utama, kemudian campers ada Rasheed Maulid dan Bambang Agustin, kemudian tambahannya ada Kalila Shafiya yang nanti bisa membantu pengayaan tim editor.” Kalila yang sedang asyik membuat ornamen di buku agendanya itu mendadak terhenyak. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar saat namanya disebut. Sebab, ia hanya sebagai pegawai magang yang beruntung langsung ditempatkan sebagai asisten editor. Sebenarnya tugas editor lebih berkutat pada tehnis, bukan di lapangan. Tetapi jika ada hal tertentu, kemungkinan terjun ke lapangan bisa terjadi seperti pengayaan tim. Lagi, Kalila belum sepenuhnya sanggup untuk bertemu masa lalunya. Sama kagetnya dengan Kalila, Si Mak Lampir—Mbak Tari, ia sudah tersulut api dendam bercampur iri. Ia menatap Kalila dengan tatapan sinis dan menyebalkan. “S-saya? Ke Algarve?” Tanya Kalila berharap dirinya salah dengar. “Iya, kamu,” timpa Pak Bagus, “apa kamu masih punya PR?” Kalila menggeleng canggung, “Enggak, Pak. Nggak ada. Cuma ada beberapa laporan yang harus saya berikan pada redaktur pelaksana.” Pak Bagus mengangguk paham, lalu bertitah, “Segera selesaikan hari ini juga, agar bisa fokus pada event ini!” “Nggak bisa, Pak. Dia kan cuma asisten!” Mbak Tari menyergah, “Kalila itu masih pemula, belum ada satu tahun disini. Rasanya kalau harus terjun ke lapangan itu nggak masuk akal, Pak. Apalagi untuk memberikan pengayaan! Ini acara besar dan kita ini sedang menjadi jurnalis perwakilan negara, mana bisa kita bawa orang-orang yang nggak bermanfaat kaya dia?” Mata Kalila terbelalak, “Nggak bermanfaat? Gue?” Sementara Pak Bagus hanya tersenyum santai menanggapinya, “Sebagai pemimpin redaksi, saya lebih mengerti segala situasinya. Kamu mau mengajari saya?” “Bukan.. maks---” “Mbak Tari!” Pekik Rasheed yang sudah tak nyaman dengan tingkah Mbak Tari “Udahlah. Ini udah keputusan pimpinan, hargai. Jaga sopan santunnya!” Mbak Tari dibuat mematung, namun rahangnya masih setia membeku. Tatapan dingin dengan tanda mengecam dari mata-mata anggota lainnya. Pada akhirnya Mbak Tari mengalah, ia tak bisa lagi membela diri. ^^^ “Nggak. Saya nggak akan terima kontrak itu.” “Kenapa? Lo nggak mau jadi penulis? Kita bahkan bisa langsung membesarkan nama lo. Lo hanya perlu bikin karya terbaik. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan?” “Menjadi seorang penulis novel memang impian saya. Bahkan saat inipun saya masih berharap untuk itu. Tapi jika dengan cara yang ngga jelas gini, saya nggak mau. Memangnya Bang Jordan ini pernah baca karya saya? Pernah tau tulisan saya? Nggak, kan? Bang, sesuatu yang didapatkan dengan mudah, maka akan hilang dengan mudah. Dan saya nggak mau itu terjadi. Cukup pekerjaan saya saat ini saja yang akan hilang, jangan sampai impian tertinggi saya ikut tertimbun.” Pertemuannya dengan Kalila membuat Jordan mengganggu pikiran Jordan, apalagi saat dirinya tau bahwa Kalila adalah mantan istri dari Rayden. Dan gerangan itu membuatnya berakhir di depan gedung MejaOlahraga.com—tempat Kalila bekerja. Di dalam mobil, sembari memegang roda kemudi, Jordan terkekeh mengulas percakapan panjangnya dengan Kalila—si keras kepala. Ia benar-benar tak bisa berkutik dibuat gadis itu. Jual mahal atau apa? Bagaimana kontrak fantastis itu ditolaknya mentah-mentah? Jika ditawarkan pada orang lain, tentu saja diterima. Kendati demikian, sikap gigih dan tegas gadis mungil itu membuat Jordan semakin penasaran. Ia lantas keluar dari mobil saat melihat sosok itu keluar gedung, berjalan cepat menyusuri jalanan ramai kendaraan yang dilewati Kalila sebagai arah pulang. Bahkan rela meninggalkan mobilnya di tempat parkir gedung. Jordan terus mengikuti langkah Kalila dengan gaya khas tersendiri, menenggerkan kedua tangan ke dalam saku celana. Menyusuri jembatan penyeberangan orang Bundaran Senayan atau yang akrab disebut JPO Bunsen. “Lo!” Kalila mengarahkan telunjuknya tepat di hadapannya. Menyeringai, “Gue tau lo ngikutin dari tadi.” “G-gue?” Jordan menunjuk dirinya sendiri. Ia kaget. Dalam hati ia juga bertanya-tanya, kenapa ia mengikuti gadis itu? Semua itu seolah terjadi begitu saja di luar kendalinya. “Mau mas-nya apa, sih?” Ia maju satu langkah, matanya mengintimidasi, membuat Jordan sempat mengerutkan kening. “Jangan salah paham! Gue cuma pengen jalan aja." “Serah elo, dah!” Kalila tertawa kesal, “Gini, ya.. asumsi gue mungkin ‘nggak banget’, tapi kalau sampai lo ngikutin gue lagi---” Ia mengulum bibir sejanak, “Gue anggep lo suka sama gue.” “Cih!” Jordan berdecak kesal, kemudian menertawai kalimat Kalila yang terkesan tak masuk akal baginya. “Emang dasar gila lo, ya. Denger! Gue cuma mau memastikan lo aman sampai rumah, anggep aja sebagai timbal balik karena kebaikan lo di ATM, lagian perempuan nggak baik kluyupan sendiri, malem-malem pula.” Kalila mengernyit. Kalimat-kalimat itu terdengar basi. Sebab, ia sudah terbiasa melakukan segalanya sendirian. Gadis itu lantas berputar 180 derajat dengan cepat dan akurat sembari mengarahkan satu tendangan lurus dan epik sesuai dengan tehnik, tepat di hadapan Jordan. Nyaris mengenai batang hidung mancungnya, andai pria itu tak memundurkan wajahnya. “Gue ini jago taekwondo! Yang ada gue yang jagain lo, bukan lo yang jagain gue!” ucap Kalila dengan nada mengancam, masih dalam kuda-kudanya. Ia lantas menurunkan kakinya, “Awas kalau lo yang macem-macem!” “Woah!” Jordan membuang napasnya dengan kasar, sebab sempat tertahan akibat ulah gadis eksentrik itu, “Gila tu orang!” Diam-diam, Jordan tetap nekat. Ia bahkan mengambil jarak jauh untuk tetap mengikuti Kalila sampai akhirnya langkah jauh itu berakhir di sebuah Kedai di kawasan pinggiran Jakarta. Jordan hanya ingin memastikan gadis eksentrik itu pulang dengan selamat. Namun, satu pandangan membuatnya terkejut. Sosok Nenek yang sangat familiar. “Nini?” Kagetnya saat teringat akan masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN