Kedai Cuanki Nini.
Menuruni tanjakan, lampu-lampu terang itu sudah nampak. Banner kedai cuanki milik Nini juga sudah jelas terbaca. Tak peduli keberadaan Jordan, nyatanya ia sudah sampai rumah dengan selamat. Berlari menghampiri wanita tua itu. Senyum cerianya menghangatkan hati.
“Adudu Cucu Nini,” Nini mengusap punggung Kalila sangat lembut, “cucu Nini acem!” Wanita tua berjilbab itu merenggangkan pelukannya.
“Masa sih?” Kalila mengangkat kedua tangannya, memeriksa aroma-aroma dari ketiak.
Bug!
Nini memukul lengan Kalila begitu keras sembari melirik ke arah beberapa pelanggan, hingga cucu perempuannya itu merengek kesakitan, “Pamali atuh diliatin banyak orang!”
“Iya.. iya.. Eneng masuk, mandi dulu.” Gadis itu buru-buru masuk ke dalam rumah. Pun waniat paruh baya tersebut hanya bisa menggeleng kepalanya heran sembari menatap punggung Kalila yang perlahan semakin menghilang.
Dari kejauhan seseorang memandang sama herannya. Jordan, pria itu sengaja bersembunyi dari Kalila di balik semak, sebab tak ingin menghadapi kegilaannya lagi. Setelah gadis itu menghilang, ia baru keluar dari persembunyian dan menyaksikan semua tingkah konyol Kalila.
Jordan tertawa tipis, kemudian menahannya, “Ada gitu orang antik di zaman ini?” Menggeleng tak habis pikir sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
Ketika hendak berbalik, Jordan mengerem langkah. Ia menoleh lagi untuk memastikan sesuatu. Mendekat ke kedai sembari menyipitkan mata saat melihat wanita tua yang tak lain adalah nenek dari Kalila. Sosok itu nampak familiar.
“Nini?” Kagetnya saat teringat akan masa lalu.
Dunia seolah bergerak mundur dengan sangat cepat. Pikiran-pikiran berubah menjadi kaleidoskop, tidak dalam urutan tertentu.
20 tahun lalu, Jordan remaja memilih menjadi sosok penyendiri setelah sang ayah meninggal dunia. Ia yang kala itu berusia 13 tahun harus pindah dari Jakarta ke Bogor bersama sang ibu. Perekonomian keluarganya mulai merosot.
Sang ibu yang berprofesi sebagai penulis buku dongeng anak berjuang seorang diri demi membesarkan Jordan. Menjajal berbagai bisinis hingga sering mengabaikan putranya. Suatu waktu Jordan kesal karena sang ibu tak kunjung menjemputnya dari sekolah, ia berjalan tak tau arah bagai berlayar tanpa peta hingga berakhir di sebuah warung dekat SMP-nya.
Jordan lapar, tapi warung itu sangat ramai. Ia tak mau berkecimpung diantara banyaknya manusia disana. Rasanya melihat banyak orang bagai melihat pelayat saat hari pemakaman ayahnya. Itu menyesakkan.
Tiba-tiba si penjual datang menghampirinya.
“Nak, mau makan?”
Seorang nenek yang sangat ramah. Awalnya Jordan menolak keras dengan kasar, tapi nenek tetap sabar dan memilih untuk kembali melayani pelanggan di warung. Ketika orang-orang mulai pergi, wanita tua itu kembali lagi menghampiri.
“Nini lapar, tapi nggak punya temen, mau temenin Nini?”
“Makan aja sendiri!”
Tiba-tiba hujan deras mengguyur tanpa permisi, membuat Jordan tak punya pilihan. Ya, begitu rapi takdir mengisahkan semua ini. Sejak hari itu, Jordan sering datang ke Kedai Nini dan berpisah ketika Jordan masuk perguruan tinggi di luar negeri bersamaan dengan kesuksesan ibunya mendirikan sebuah penerbit besar yang sekarang dikembangkannya.
^^^
“Pak Jordan!.. Pak Jordan!”
“Berisik, lo!” Teriak Jordan keluar dari kamar, tepatnya dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Masih dengan kimono handuk putih serta rambutnya yang setengah basah. Tatapan matanya sedingin bongkahan es di kutub utara.
Bara memasang senyum innocent-nya, “Ini, kontak mobilnya.” Ia meletakkan kunci mobil ke atas meja makan sembari mengulum bibir dan berjalan mundur perlahan tanpa memandangi wajah ngeri bos-nya yang sedang mengawasi pergerakannya. Kebetulan Jordan meminta sang asisten mengambil mobil yang ditinggalkan di depan kantor Kalila.
“Jangan panggil gue bapak!” semprot Jordan lagi saat asistennya sudah sampai di ujung pintu penthouse atau griya tawang. Yang mana merupakan tipe unit apartemen paling mewah dan luas yang berada di lantai paling atas dari hunian vertikal.
“Maaf, pak—eh mas—eh Bang Jordan.”
“Isssh!” Gerutu Jordan hendak melempar sandalnya ke arah Bara, namun asisten tengilnya itu sudah terlanjur keluar lebih dahulu, “emangnya gue kaya bapak-bapak?”
Pria 33 tahun itu menarik sehelai handuk yang bertengger di leher. Mengeringkan rambutnya sembari berjalan menuju sofa besar yang langsung berhadapan dengan jendela dengan pemandangan gemerlap Kota Jakarta.
Tiba-tiba aktifitasnya terhenti mengingat satu kejadian.
Nini dan Jordan selalu bersama. Sepulang sekolah, awalnya Jordan hanya memperhatikan bagaimana wanita tua itu berjualan dengan sangat ramah, namun semakin ia mengenalnya, pemuda itu semakin nyaman dengan keramahannya, hingga ikut membantu berjualan.
Penjualan cuanki nini pada saat itu semakin meningkat akibat banyak anak-anak gadis dari berbagai sekolah yang ingin melihat Jordan muda. Terbukti pria rupawan itu selalu konsisten dengan ketampanannya, bahkan dengan sikap dinginnya. Ia sama sekali tak ramah saat menjajakan cuanki. Gengsinya terlalu besar.
“Nini.” Anak mungil nan menggemaskan itu menghampiri melalui pintu belakang.
“Oh, cucu nini sayang” Nini langsung menggendong peri kecil tersebut, “Papa sudah berangkat kerja?”
“Udah.”
“Oh iya, kenalin itu Kak Jordan.”
Sementara Nini mengenalkan, Jordan sibuk dengan pura-pura tak melihat. Si mungil itu turun dari gendongan wanita tua itu. Meraih satu tangan Jordan. Tanpa bahasa, ia hanya tersenyum luas, menampakkan barisan gigi kecilnya beserta mata indah bak bulan sabit sembari mendongak menatap Jordan yang jauh lebih tinggi dari gadis 5 tahun itu. Tak bisa dipungkiri, Jordan terhenyak melihat senyum anak itu, sebab ia begitu menggemaskan.
“Jadi.. itu Kalila?” kagetnya. Ia menggeleng tak habis pikir betapa sempit dunia ini. Kemana manusia melangkah, ia akan selalu bertemu orang-orang lama “beda banget. Dulu imut sekarang tengil.”
“Kenapa juga gue harus berhubungan lagi sama anak itu?!” Jordan mengacak rambut frustrasi. Detik selanjutnya ia tertawa mengingat sekumpulan tingkah Kalila yang dilihatnya sejak malam di ATM itu, “unik sih.. aneh—auh!” Ia tersadar dan merutuki dirinya sendiri, “gila dia!”
“Nggak.. ini nggak bisa didiemin, sejauh ini gue udah berusaha keras, nyatanya Kalila tetep nggak mau kerja sama ama gue. Oke, ini saatnya mengakhiri semua sebelum terlambat.” Celoteh Jordan mantap. Lantas menghubungi satu nomor di ponselnya.
“Halo... Ray---” Belum sempat menyapa, seseorang di seberang sana sudah terlebih dahulu menyambung.
“Nanti telepon lagi, ya. Biasa, lagi latihan di trek, Bos.”
^^^
Sudahkah kalian mencapai langit yang bernamakan impian?
Sejak kecil hingga saat ini, aku tak pernah mengubah impianku. Pun sejak kecil hingga saat ini pula, semua itu hanya bunga tidur belaka.
Pernahkah kalian menyalahkan orang lain atas satu impian yang belum tercapai?
Egoku begitu adanya. Namun aku tak semerta melakukannya, karena menyalahkan orang lain tak kan mengubah apapun. Pun itu hanya dari sudut pandang diri sendiri. Tentu diri sendiri juga menjadi penyebab dari tertundanya impian.
Tertunda?
Ya.. aku menganggapnya sesuatu yang tertunda. Aku tak pernah berniat mengubur impian. Dalam kondisi seperti ini, sebagai tulang punggung keluarga, aku akan terus berjuang. Hanya saja waktu yang bisa menjawab.
Di sela waktu yang cukup, aku berusaha untuk mewujudkan impian meski terlalu sering tuk gagal. Aku yakin, lambat laun akan besar pula impian itu menjadi nyata.
*k_lilaaashafiya@blogspot.com
Klik!
Kalila—berbalutkan piyama pastel, beserta kaca mata bulat yang bertengger di batang hidung minimalisnya itu berhasil memublikasikan blog terbaru. Lantas bersandar di punggung kursi sembari melipat kedua tangan di depan d**a, serta kaki yang menyila di atas pangkuan kursi.
Gadis cantik nan ayu itu menarik satu napas berat. Membayang impiannya yang entah kapan bisa terwujud, meski berbalut keyakinan. Tercekat akan masa lalu yang pahit, membuat skenario hidupnya berubah—tentu Allah sudah merancangkan sejak awal.
Selanjutnya ia beralih ke ponsel. Menantikan notifikasi sejak tiga bulan lalu. Bibir mungilnya seketika berubah bentuk menjadi huruf U terbalik saat sadar hanya ada kehebohan grup kantor.