Tidak ada ikan bilamana tak ada umpan terbaik
***
Alat pancing itu tetap tabah berada di pinggiran empang. Menanti ikan menyambar di kail berisikan umpan. Sementara sang empu bersandar santai di pepohonan rindang.
Akhir pekan seperti ini kerap kali digunakan Kalila untuk memancing. Bukan hobi, ia hanya ingin adiknya bisa makan-makanan yang bergizi dengan harga yang lebih murah. Toh, berbaur dengan udara dan suasana tenang bisa membuat pikiran yang berkecamuk dan lelahnya terurai. Apalagi setelah rapat redaksi yang diumumkan Pak Bagus membuat Kalila semakin tertekan.
“Woy! Ngapain lo?!” Seru seorang lelaki remaja melemparinya dengan buah kersen.
Dengan santai, Kalila menyingkirkan topi yang sejak tadi menghalangi wajahnya. Ia menyipit saat sinar matahari terasa menyilaukan. Bergeming meski peluru kersen itu menghujam wajahnya secara bertubi, ia justru mengambil kersen-kersen itu, duduk lalu memakannya.
Embusan napas kasar itu melena kencang. Anak remaja itu melangkah saat tau peluru-peluru kersen tak membuat sang kakak goyah, “Lo ngapain sih? Gua laper nih!”
“Kamu nggak liat kakak lagi mancing?” sarkas Kalila, mulutnya tak berhenti beradu dengan merahnya buah kersen “Menurut kamu apa tugas seorang pemancing?” sambungnya lagi menunjuk alat pancing “Duduk santai dan tunggu ikan terpancing, kan?”
“Jangan lupa, lo juga harus memasang umpan yang segar, duduk dan diam aja nggak akan dapat ikan!” Ochan menjulurkan lidahnya, kemudian mendorong sang kakak yang sedang berjalan menuju bibir empang.
Byur!
Kalila tercebur begitu saja. Beruntung, kedalamannya masih sepinggang orang dewasa.
“Astaghfirullah!” Kalila mengusap wajahnya pasrah. Ia melihat sang adik sudah berlari terbirit-b***t.
“Anak bandel!! Och...” Ia menghentikan teriakannya dan tersadar bahwa mengumpat tak kan menyelesaikan apapun, “sabar.. sabar.. jadi kakak harus banyak-banyak sabar.”
^^^
Dengan pakaian setengah basah, Kalila membawa satu ember yang berisikan beberapa ekor ikan untuk dikonsumsi. Ia menyusuri gang-gang sempit ibu kota. Kemudian berhenti sejenak di sebuah warung gubuk yang dipenuhi oleh bapak-bapak.
“Mpok, teh melati satu renceng.” kata Kalila pada Mpok Nina.
Sembari menunggu, Kalila duduk di atas sebuah tong. Kericuhan para bapak-bapak beserta pemuda lainnya begitu menyeruak. Akhir pekan seperti ini, mereka sering berkumpul untuk ngopi bareng sembari menonton bola atau acara olahraga lainnya di televisi warung. Kali ini mereka sedang menyaksikan kejuaran balap motor bergengsi dunia kelas Moto-2. Sesekali Kalila melirik dan ikut memperhatikan.
“Pedro Acosta emang keren, sih.” seru salah satu diantara mereka. Kemudian tak lama setelah kalimat itu, pembalap yang dimaksud harus mengalami crash[1] dan tak bisa melanjutkan balapannya yang disambut kesedihan bapak-bapak dan pemuda disana.
“Makasih ya, Mpok.” Kalila memberikan uang padanya.
“Sama-sama, Neng,” jawabnya dengan aksen betawi kental setelah menerima uang “baju lo ngapa basah begitu dah. Mancing lagi?”
Kalila tersenyum lebar, “Iya, Mpok. Lumayan kalo mancing di tempat Haji Asep jatuhnya lebih murah dari pada beli di pasar.”
Mpok Nina menggeleng heran, “Bisa gitu ya, cewek mau macing. Kemane aje Si Ochan kaga mau bantuin mpok-nye, maunye makan doang.”
“Namanya juga anak ABG, Mpok.. duluan, yah.” Kalila menutup perbincangan akrab mereka. Ia segera membereskan piranti yang dibawanya.
Ini bukan kali pertamanya Mpok Nina bercerocos ria dengan lantang khas betawinya, memberikan penilaian pada sosok Fauzan Jamal atau yang akrab disapa Ochan. Pasalnya pemuda itu memang kerap membangkang dan bertingkah seenaknya sendiri. Wanita berkepala tiga itu merasa iba pada sang kakak yang harus bekerja keras membesarkan dan mendidik si kepala batu, Ochan.
“Ada pembalap dari negara kita, kenapa nggak lo jagoin, Bang?” Tanya yang lain berhasil menghentikan langkah Kalila. Hatinya berdesir.
“Ngapain nanya?! Lo tau sendiri kan kalau dia selalu finish di belakang? Bukannya banggain negara, tapi malu-maluin.” Lalu ditutup dengan tawa.
“Tapi dia sudah punya banyak kemajuan. Dari start 27, finish ke posisi 15,” Ia terkekeh “hebat loh, udah dapat poin. Biasanya dia nggak pernah ada di posisi ini. Kita liat aja race hari ini dia ada di posisi ke berapa.”
“Mau dilihat apa lagi? Nggak akan merubah apapun. Tetap aja kita nggak pernah bangga punya perwakilan kaya dia. Kalau dia bisa finish di P10, mungkin tepuk tangan boleh, lah.” Tawa demi tawa menyeruak. Menyepelekan dan memandang sebelah mata perwakilan dari negara sendiri.
“Jangan baca artikel online! Bokis.. mereka cuma mau bikin kita tertarik baca doang, nyatanya dia cuma pembalap karung,” Yang lainnya terkekeh, “bisnis, bro!”
Entah mengapa kalimat-kalimat itu membuat hati Kalila teriris. Sesak dan pengap. Semua pikiran itu bercampur pekat di benaknya. Resah dan marah. Alasannya? Kalila tak punya alasan. Semua itu terjadi begitu saja. Tak mau lolos dari amarah, ia segera beranjak pergi.
***
Kedai Cuanki Nini.
Suara lonceng yang tergantung itu menyeruak saat Kalila berhasil membuka pintu. Sebuah ruangan penuh meja dan kursi makan yang sunyi nan remang termakan waktu menyambut kehadiran gadis berkulit putih itu.
Sebuah rumah sederhana yang bagian depannya digunakan untuk membuka kedai jajanan khas sunda idola masyarakat Indonesia. Sedang bagian belakangnya yang berukuran sedang, cukup untuk ditinggali tiga orang. Terdapat satu ruang tamu kecil beserta televisi konde yang hits di era 90an. Tiga kamar berukuran kecil pula, satu dapur yang menyambung dengan tempat makan. Semua berlantaikan teraso lawas. Lalu ada satu kamar mandi yang selalu diperebutkan dua kakak beradik, Kalila dan Ochan setiap harinya.
“Oh?! Eneng sudah pulang?” sambut Nini sembari membuat adonan cuanki untuk dijajakannya esok.
Kalila bergeming. Diam tanpa bahasa. Begitulah cara gadis ayu itu menahan amarahnya. Lebih baik diam dan tak menimpali apapun dari pada api itu harus lolos dan menyembur.
“Kalila mandi dulu, Ni.” katanya sembari mengulas senyum. Sebuah senyum yang kini tak selaras dengan isi hatinya.
“Oh, sok atuh.. biar Nini yang bersihkan ikannya.” Wanita paruh baya tersebut sudah mengenal betul sang cucu. Ia memilih untuk tetap diam dan tak mau ikut campur, karena Kalila tidak akan sudi pula untuk bertutur perihal hatinya.
^^^
Iklan-iklan di layar televisi sudah berlalu, kini menampilkan siaran balapan paling bergengsi di dunia, kelas Moto-2. Sang narator sedang membahas sosok Rayden Faaz yang kini tersorot kamera dalam persiapan balapnya. Menduduki start di posisi 22, nyaris menjadi yang terbelakang.
“Mama ngapain nonton dia?!”
“O-oh kepencet!” Mama buru-buru mengganti tontonan.
Cih! Danya berdecak sinis sembari menatap layar ponselnya “Lihat deh, Ma! Di artikel MejaOlahraga.com, si kutu beras itu selalu dibangga-banggain. Nyatanya finish 10 besar aja nggak pernah, apalagi naik podium. Pantes aja dia nggak naik-naik kelasnya. Udah berapa lama coba dia di kelas Moto-2 terus! Ibarat orang sekolah, dia nggak naik kelas terus. Bayangin! Sebodoh apa dia, Ma?!” Ia tak hentinya mengucapkan sumpah serapahnya.
“Malu-maluin keluarga aja, sih!” Sambungnya lagi mengumpat “tiap di rumah sakit, banyak yang nanyain aku, Ma.. Oh dokter, kok adiknya nggak pernah naik kelas sih.. Dokter, kok adiknya nggak maju-maju sih... Kok adiknya nggak jadi dokter juga, nggak pinter, ya?....” Danya menirukan seluruh omongan dan bisik-bisik orang lain sembari mengacak rambutnya frustrasi “Ah! Danya pusing tau, Ma!”
“Kamu aja pusing. Apalagi mama?” Mama turut menampakkan kekesalannya, “kamu tau sendiri mama sudah berkali-kali nyuruh dia belajar supaya jadi orang-orang berkelas seperti kalian, tapi dia malah ngeyel. Semua itu gara-gara bapak kalian tuh yang mendorong adik kalian buat motor-motoran.”
“Untung kalian berdua ikut Mama. Lihat! Seberapa keren nasib kalian sekarang,” Mama berbangga pada dirinya sendiri, mampu mendidik anak-anak menjadi perempuan-perempuan hebat dan berkelas yang selalu disanjung dimana-mana, “Mama jamin kalian nggak akan nyesel ikut sama Mama.”
“Semua ini karena mama sudah memberikan umpan yang terbaik. Aku juga jamin mama nggak nyesel mendidik Aku dan Kak Mega.”