6. Limited Editon

1273 Kata
Danya—Perempuan berambut sebahu itu datang membawa secangkir teh untuk dinikmatinya sendiri, duduk di sebuah ruang keluarga, menemani sang ibu yang sedang menonton televisi. Beberapa iklan sedang menghiasi layar kaca. “Gimana? Ada berapa operasi hari ini?” Tanya mama menggebu-gebu pada putri keduanya yang merupakan seorang dokter spesialis bedah syaraf. Danya meneguk teh sejenak lalu fokus pada ponsel tanpa memandangi lawan bicaranya, “Cuma satu tapi makan waktu 8 jam.” “Anak mama pasti capek.. mau mama buatin apa?” Tawar mama Puput. “Nggak usah, Ma. Sejam lagi Mas Adit sama anak-anak jemput kesini” Jawabnya lagi-lagi tak mengindahkan sang ibu. “Secepat itu?!” Guratan kecewa itu terpartri jelas di wajah mulus nan awet muda sang ibu. “Iya, Ma. Besok Mas Adit harus keluar kota, aku ada praktik pagi.” Jika sudah mengungkapkan tentang kesibukan putrinya seperti ini, Mama Puput hanya bisa mengulum bibir. Bagaimana mungkin ia meminta putrinya untuk tinggal, sedang mereka sudah berkeluarga dan memiliki pekerjaan super padat sebagai seorang dokter. “Kalau Mega, kapan dia pulang? Dia jarang banget angkat telepon mama” Mama berusaha mencari jalan lain. “Tau sendiri kan, Ma.. Kak Mega itu dosen terbang lintas Amerika. Mana sempat pulang kalau nggak ada libur panjang” Sahut Danya kemudian meletekkan cangkir ke atas meja setelah meneguknya. “Ah iya!” Sejatinya mama tak perlu bertanya, toh ia juga tau jika putri sulungnya yang tinggal di New York itu nyaris tak pernah pulang selama mengabdi di negara tersebut bersama keluarga kecilnya. Detik selanjutnya suara mobil mendengung. Danya sudah menduga bahwa itu adalah mobil milik sang suami. Ya, sebuah mobil pabrikan Eropa dengan suara klakson yang tentunya lebih terdengar berwibawa dari pada mobil pabrikan lain. Ia lantas menghampirinya. Mama ikut menyusul menyambut menantu dan dua cucunya. Namun baru setengah jalan sampai di teras rumah mewah nan klasik, Danya kembali menghampiri sang ibu tergesa-gesa. “Ma, kita langsung pulang, ya.. si bontot rewel nggak mau turun.” “Oh.. ya sudah buruan pulang, mungkin dia ngantuk.” Kini mama hanya bisa memandangi punggung sang putri yang sedang berlarian menuju mobil dan menghilang saat mobil sudah memelesat ke jalanan. Semakin hampa dan kosong saat menapaki ruang tamu. Perempuan 55 tahun itu hanya bisa menatap setiap sudut rumah besarnya dengan tatapan kosong menyemai rindu dan pilu. Bagaimana bisa rumah seluas itu hanya tinggal dirinya seorang? Pekerja memang ada, namun bukankah itu tak cukup untuk menemani hari-hari di masa tuanya?. Ia memandangi pigura besar yang terpampang di ruang tamu. Itu adalah foto mama dan kedua putrinya. Mega dan Danya berseragam kebanggan mereka menggenggam tangan mama. Dari foto itu bisa terlihat jelas aura kesuksesan kedua putrinya. Mama bangga sekaligus merasa sedih karena ekspektasinya memiliki putri sukses tak seindah realita. Meski begitu, mama tetap membangga-banggakan kedua putrinya dihadapan banyak orang. Mulai dari teman bisnis, tetangga, hingga kelompok sosialitanya. Itu semua tak pelak membuat iri orang di sekeliling, karena tak pernah ada yang tau kisah sedih tanpa kehadiran anak-anak di masa tua. *** “Shodaqallahul ‘adziim” Kalila menutup Al-Qur’an, meletakannya lagi ke atas meja belajar. Kamar milik Kalila memang bisa dibilang sempit, tapi terlihat rapi dan bagus karena ia menatanya dengan begitu aesthetic kata orang sekarang mah. Serta tiga rak kayu berisi koleksi novelnya. Tak sembarang novel, melainkan novel-novel edisi terbatas bertanda tangan penulis favoritnya yang selalu didapatkan dengan penuh perjuangan. Pun ponselnya kembali bergetar. Lantas ia mengambilnya dari atas nakas. Selanjutnya ia terbelalak. Matanya melebar, mulut terbuka saat melihat sebuah alarm pengingat yang dipasangnya sebulan lalu. Sebuah warna biru tebal menghiasi tanggal 10 Agustus 2021 beserta keterangan disampingnya yang berbunyi: Perilisan Novel ‘Duri Mawar’ karya Lelaki Hujan jam 21.00 WIB di Gram-Media. Kerudung bergo serta hoodie merah langsung dikenakannya. Ia keluar kamar dengan tergesa. Berlari secepat kilat, melewati Ochan dan Nini yang sedang makan malam. “Mau kemana?” Tanya Nene keheranan “Makan dulu, atuh”. Kalila melambaikan tangannya, “Sebentar ya, Ni. Ini penting banget untuk hidup Eneng. Assalamu’alaikum” Perempuan itu langsung hilang dalam sekejap dari pelupuk mata neneknya yang saat ini masih diselimuti tanya. Sementara Ochan tak mempedulikan sikap kakaknya yang terkadang konyol. “Biarin aja, Nini.. nggak usah dipikirin.” Celoteh Ochan asal-asalan sambil sibuk memisahkan duri dari daging ikan yang disantapnya. Kaki kirinya bertengger di atas kursi. Bug.. bug! “Akh.. akh! Sakit, Nini!” Rengek Ochan saat pukulan maut Nini menghujam tubuhnya. “Kakakmu itu perempuan. Bahaya atuh di luar! Gimana Nini nggak khawatir” Pekik Nini terus memukul cucunya yang bandel tersebut. *** “Bang, tolong cepetan dikit, ya!” Kalila mengeraskan suaranya, karena jalanan terlalu ramai. Riuh klakson dan suara kendaraan memenuhi telinga. “Iya, Neng,” kata Abang Ojol “saya bisa lebih negbut dari Marc Marquez, tenang aja.” Tawanya. Kalila mengernyit. Iyain aja deh, masa bisa selevel sama pembalap? Bagi gadis berhijab yang saat ini mengenakan helm berwarna hijau, sampai di toko buku adalah yang utama. Sebab bilamana Lelaki Hujan sudah mengeluarkan karya barunya, maka akan ludes dengan singkat pula. Sesampainya di toko buku, Kalila berlari kencang. Jika sudah seperti ini, ia harus bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Sesekali ia nyaris terpeleset namun masih mampu tuk bertahan. Matanya berbinar bak bintang sirus saat menemukan banner yang menampilkan tempat dimana novel ‘Duri Mawar’ karya penulis favoritnya itu dipampang. Kakinya memelesat lebih cepat. Meski di waktu malam, ia sudah melihat banyak orang yang memburu novel karya Lelaki Hujan tersebut. Matanya kian membulat saat tau hanya tersisa satu eksemplar di sana. Ambisinya semakin kuat dan.... dapat! Kalila menghembuskan napasnya kasar tanpa sadar bahwa ada tangan lain yang turut memegang novel itu. Keduanya saling menatap. Dengan sisa tenaga dan napas yang tersengal-sengal, Kalila berucap “Saya duluan, Mas.” “Saya dulu yang ambil” Pria itu tak mau kalah, “mbaknya aja yang nggak lihat.” Perebutan novel milik Lelaki Hujan itu semakin sengit. Kalila tak mau kalah. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan novel edisi terbatas itu. Novel berjudul 'Duri Mawar' itu terbatas. Bahkan dirilis 2 kali di waktu yang berbeda untuk mengatisipasi peminat yang sangat memberludak. “Hey! Jelas-jelas saya dulu yang ambil. Perlu lihat CCTV sebagai bukti?” Kalila tetap kuat pada pendiriannya. “Aissh!” Pria itu melepas dengan kesal novel buruannya yang dihadiahi senyum bahagia Kalila, “ambil aja sono! Ribet banget sih urusannya ampe CCTV.” Dengan girang, Kalila berlari ceria menuju kasir untuk membayar novel edisi terbatas tersebut. Bagi pecinta novel sejati, novel dengan tanda tangan penulis adalah benda sakral yang harus dimiliki, sekalipun itu bukan novel dari penulis terkenal. “Jadi... 150.000, Mbak.” tutur penjaga kasir. “Ok!” Kalila memasukkan tangan ke dalam saku celana, namun yang ia temukan hanyalah keheningan. Mencoba meraba di saku sebelah, matanya berbinar, namun itu tak berlangsung lama saat yang ditemukan hanyalah tisu bekas. “Aku nggak bawa uang?!” Kagetnya kebingungan, “bentar, pake M-banking aja, ya!” pintanya pada penjaga kasir “Ia kembali merogoh saku celana dan hoodie-nya,” Matanya membulat, “kok nggak ada? Aku nggak bawa hape juga?” “Kalau begitu saya bayar.” Suara itu menghentikan kepanikan yang sempat melanda Kalila bersamaan dengan matanya yang terbelalak saat menemukan seorang laki-laki berkemeja biru yang sedang mengedipkan sebelah mata kepadanya. Kalila meradang. Ingin mengumpat, namun kehilangan suaranya. Tenggorokan terasa begitu kering. Bagaimana bisa pria yang tadi sempat kalah adu argumen dengannya, kini justru mengalahkannya telak. “Makasih, Mbak.” ucap pria berkemaja biru itu kegirangan setelah penjaga kasir memberikan novel yang sudah dibayarnya. Saat melewati Kalila, ia menjulurkan lidahnya, membuat Kalila kesal bukan kepalang. Guratan emosi itu terlukis jelas di wajahnya. Bibir mungil gadis itu mengerucut. Untuk yang kedua kalinya, Kalila kehilangan kesempatan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN