Bahkan 2 Minggu sebelum keberangkatan, Kalila masih disibukkan pekerjaan lain. Semua disponsori oleh ulah Mak Lampir.
“Eh! Udah kelar belom?!” Tanya Mba Tari
ketus. Bibir yang selalu cetar, merah paripurna. Tatapan mata yang selalu sinis setiap kali mengarah pada Kalila, seolah ia adalah makhluk paling menjijikkan di Dunia.
“Udah, Mbak.” Kata Kalila kemudian mengekor, mengikuti Mbak Tari sampai ke mejanya “Tapi, Mbak.. gimana kalau bahasanya saya ganti dikit?
Enggak~ bukan apa-apa, cuma kesannya, tulisan Mbak Helen terlalu melebih-lebihk...“
“Ssssh!” Gertak Mbak Tari. Mata bulat dan jahat—demikian Kalila memberinya julukan, “dasar nggak tau diri! Berani-beraninya kamu mau ngubah konsep?! Kamu sudah tau kebijakan redaksi, bukan?” Perempuan yang sejatinya hanya lebih tua tiga tahun dari Kalila itu nampak semakin tua setiap harinya, sementara Kalila hanya mendengarkan dan menjadi sorotan banyak orang, “saya sudah bilang berapa kali sama kamu?! Kamu hanya perlu finishing saja. Semuanya urusan saya sebagai Executive Editor, ngerti?!”
“Ya, Mbak.”
Dalam dunia jurnalistik, editor atau yang bisa disebut redaktur mempunyai beberapa cabang tugas. Mulai dari mengusulkan dan menulis suatu berita serta foto atau gambar yang hendak dimuat untuk edisi selanjutnya pada setiap artikel. Membuat lembar penugasan pada reporter, fotografer dan lain-lain.
Hhhh.. “Gini nih, kerja sama orang yang nggak pernah kuliah. Nggak berpendidikan! Cuma modal orang dalem.”
Kalimat itu membuat telinga Kalila mendengung. Gerah dan geram bukan main. Tapi tak mengapa, ia sudah terbiasa dengan cemoohan seperti itu. Tak hanya dari Mak Lampir seperti Mbak Tari, melainkan masih banyak orang lainnya. Namun w***********l itu adalah yang terparah. Meski sudah hampir setahun Kalila bekerja di media tersebut, Mbak Tari lah yang tak pernah bisa menerimanya dengan baik.
Tak mengapa. Kalila punya setumpuk kesabaran. Masa lalu sudah mengajarinya banyak hal, bagaimana manusia harus memelihara kesabaran. Mendistribusikan sikap baik dan melapisi segala tindakan dengan penuh keikhlasan.
Memangnya kenapa jika seseorang tidak kuliah? Apa seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana adalah yang tidak berpendidikan? Apa gelar seseorang mempengaruhi kualitas kerja mereka, bahkan adab mereka?
Cih! Percuma memiliki gelar namun etika lenyap.
“Kalila, dipanggil Pak Bagus. Disuruh ke kafe rooftop.” Kata Fadli, rekan setimnya.
Sepanjang perempuan berhijab itu melenggang, Mbak Tari tak hentinya membisik dengan mulut pedasnya, “Tuh! Enak banget hidup dia! Gue bener-bener curiga. Jangan-jangan beneran ada hubungan gelap sama Pak Bagus.”
“Heran gue.. kenapa dia nggak pernah terusik dengan kejulidan lo?” timpa Naura, rekan sejawat Mbak Tari.
“Savage Girl!” Mbak Helen menyambung. Diam-diam menyimpan kekaguman pada Kalila. Si mungil nan tangguh.
“Hah?!” Sadar Mbak Tari dan Naura kompak saat salah satu dari anggota mereka membela musuh sendiri.
Pun Mbak Helen mengerutkan kening menatap keduanya secara bergantian, “What’s wrong?”
^^^
Pak Bagus—Pemimpin redaksi, tertawa setelah meletakkan sendok ke atas mangkuk yang berisikan sup iga. Ia mengusap sekitar bibirnya dengan tisu, “Kenapa? Kenapa kamu nggak pernah menikmati makan saat bersama?”
“Kenapa bapak mempekerjakan saya?” Kalila justru melontarkan pertanyaan tak terduga.
“Berapa kali kamu nanya itu? Nggak ada pertanyaan lain?” Pak Bagus memposisikan dirinya lebih tegap, “saya sudah bilang berkali-kali, kalau saya selalu tertarik dengan blog kamu. Cara kamu menulis, literasi yang bagus dan indah. Kamu punya tata cara kepenulisan yang bagus. Dan lagi, saya tidak memperkerjakan kamu. Tapi mendidik kamu.”
Masih dengan nada santai namun tetap berwibawa, pria yang masih gagah di paruh baya itu melanjutkan “Ah! tadi pagi saya baru saja baca blog baru kamu.. kamu sedih nggak bisa dapat novel terbaru karya Lelaki Hujan, kan?”
Kalila mengerjap. Ia baru ingat jika semalam sempat menuliskan kekesalannya di blog. Alih-alih mengumpat layaknya curhatan pada umumnya, Kalila justru membuat uneg-unegnya terkesan indah dengan berbagai puisi.
“Jadi, selama ini Pak Bagus bener-bener merhatiin blog aku?” gumamnya membatin.
“Dari literatur dan bahasa yang menarik, kamu layak bekerja sebagai editor. Jadi, kamu harus dididik dulu sebagai asisten. Kenapa? Kamu mau langsung diangkat menjadi Executive editor?”
Kalila buru-buru menyergah, “Nggak.. Nggak, Pak. Saya jadi asisten editor aja udah bersyukur. Cuma pengen tau aja bahwa saya ada disini bukan karena kekuatan orang dalem, saya ingin diakui karena kemampuan saya.”
Pak Bagus mendengus pelan. Mengambil satu centong nasi yang diarahkan ke piring kosong Kalila, pun perempuan itu mengamati seluruh aktifitasnya, “Mau karena orang dalem, ataupun karena kemampuan. Yang terpenting dalam sebuah pekerjaan adalah amanah dan kejujuran.”
Kalila mengangguk samar sembari berterima kasih, “Ah!” Ia teringat sesuatu “Bicara tentang amanah dan kejujuran... apa Pak Bagus pernah membaca artikel terkait Moto-GP belakangan ini?”
“Selalu. Saya selalu memantau hasil kerja kalian.”
“Bukankah ada yang tak biasa? Maksud saya, dari konsep penataan bahasanya, apalagi ketika membahas tentang rider Moto-2 Indonesia. Semua orang tau kalau Rayden tidak mampu berkompetisi dengan baik selama berlaga di Moto-2, bahkan kita tau jika di tahun depan dia akan didepak dari Moto-2. Apa kita bisa terus-terusan memuji perkembangannya yang tidak terlalu signifikan itu?”
"Saya merasa tidak enak bilamana masyarakat tak mempercayai tulisan kita, Pak. Bapak sendiri yang bilang bahwa kita harus amanah dan jujur.” lanjutnya.
“Maksudmu pembohongan publik?”
“Ya.. kasaranya seperti itu, Pak.”
Pak Bagus meletakkan gelas setelah meneguk minumannya, “Kalila.. kita sama sekali tidak mencuri keuntungan diatas karir seorang pembalap. Kita juga tidak melakukan pembohongan publik. Kalimat itu benar adanya. Secara individu, Rayden memang memiliki perkembangan yang pesat, tapi mungkin terlalu lambat dalam sebuah kompetisi besar dunia. Dan bukankah bahasa dalam artikel itu bisa membuatnya bersemangat ketika dia tau alih-alih terlalu gamblang?”
“Secara tidak langsung, kita mendukung dengan caranya sendiri. Hal kecil yang terlihat biasa bagi kita, bisa jadi begitu berharga untuk orang lain,” sambungnya, "nanti kamu akan melihat perkembangannya sendiri secara langsung di Portugal, bukan?"
"Kenapa saya, Pak?"
Pak Bagus tergelak. Suaranya sangat khas, "Karena aku ingin kamu berkembang dan aku tau kamu benar-benar paham Dunia Moto-GP."
“Sekarang aku mau tanya. Kenapa kamu mempermasalahkan hal kecil ini?” Pak Bagus menatap Kalila intens, “satu, kamu takut reputasi sebagai seorang jurnalis ternodai dengan omongan orang di luar sana. Atau kedua, kamu tidak terima orang-orang menilai Rayden dengan sebelah mata saat tau keduanya tidak sinkron?”
Kalila membeku untuk beberapa saat, “D..dua-duanya, Pak. Sebagai jurnalis saya tidak mau dinilai buruk dan kalau saya jadi Rayden, saya juga nggak akan terima dengan nyinyiran orang tanpa tau proses yang dijalani.”
“Kalila, sebagai seorang jurnalis, mental harus didepankan. Jangan mudah tersinggung dengan kalimat apapun. Dan aku tau kamu bukanlah orang yang mudah tersinggung hanya dengan omongan orang.”
Kalila mengangguk paham, “Baik, Pak. Mungkin saya aja yang belakangan rada sensi, saya akan belajar lebih banyak lagi, Insyaa Allah. Kalau begitu, terima kasih atas makan siangnya” Ia menunduk sebagai penghormatan sebelum beranjak dan pergi.
“Kamu mengkhawatirkan Rayden, bukan?”
Perempuan itu mengerem langkah. tercekat. Ada tarik napas bertenaga, lalu melena diam-diam menghembus. Dinding-dinding seolah meruntuh. Jantungnya bergumuruh dahsyat bersamaan dengan kesiur angin yang perlahan menerbangkan sisi kerudungnya.
“Seberapa jauh dari kehidupanku yang dia tau? Bahkan Rayden?” bisik Kalila tercenung.
“Bukan apa-apa.. sebab, kamu adalah perempuan tangguh yang tidak pernah terpengaruh dengan omongan orang. Itu saja.”
Kalila merasa lega saat dirinya menyadari jika Pak Bagus berucap berdasarkan asumsinya, bukan yang lain. Tapi tetap saja, ucapan itu membuat Kalila resah. Benarkah dirinya yang sekarang sedang mengkhawatirkan Rayden, pembalap itu?