Selalu ada kenangan yang tertinggal dari setiap langkah di masa yang lalu, walau hanya satu detik. Selalu ada pertemuan tak terduga yang membawa ke dalam lubang masa yang lalu.
***
Menjelang malam, semua orang di langit Jakarta beranjak pulang, sibuk membunyikan klakson di jalanan ataupun memenuhi setiap pemberhentian angkutan umum sampai langit jingga yang perlahan berubah menjadi gelap.
Hari ini hujan cukup deras, Kalila yang biasanya pulang dari kantor berjalan menikmati langkah, terpaksa menaiki bus Transjakarta. Bus merayap meninggalkan halte, mencecap segala ramai. Alhamdulillah, meski harus berdiri diantara sesak manusia, Kalila tetap bersykur bahwa ia tak banyak kehujanan.
Kalila harus pulang sedikit larut karena banyak rapat dan persiapan penting sebelum keberankatannya ke Portugal untuk membantu pengayaan tim editor, meski dirinya hanyalah asisten editor pemula.
Kalila masih dirundung rasa penasaran, kenapa harus dirinya yang berangkat? sedang ia bukan reporter yang harus terjun ke lapangan? Atau bahkan seorang editor tetap, jika memang ingin melakukan pengayaan tim. Seperti biasa, Pak Bagus hanya tertawa dengan alasan agar Kalila bisa menguasai banyak hal sebagai pekerja baru. Beban yang cukup rumit, namun ia sudah banyak belajar selama menjalani pelatihan sebelum menjadi asisten editor.
Tak peduli apapun alasannya, toh Kalila belum pernah menjejakkan kaki ke tanah Eropa. Meski ini tugas, setidaknya dia sudah menghiasi paspornya sebagai pengalaman.
“Ah! Payah!... Gila Bang Rayden gasp---” teriakan histeris Ochan belum tamat saat mendengar suara salam dari sang kakak yang datang sembari menenteng sneaker. Remaja itu buru-buru mematikan televisinya penuh gugup.
“O-oh, lo udah balik?” Tanyanya menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Sementara Kalila hanya menatap datar, bersamaan dengan Nini yang muncul dari dapur.
Kalila melangkah. Mengambil remot dari atas meja, menyalakan lagi televisi yang sedang menampilkan kejuaraan balap motor dunia kelas Moto-2, “Lanjutin aja, nggak apa-apa.”
“Kamu yakin minggu depan mau berangkat?” tanya Nini menghentikan langkah Kalila “Maksudnya, kalau kamu belum siap, mendingan nggak usah.” nampak gurat rona khawatir dari air wajahnya.
Kalila tersenyum lembut nan cantik, “Ni.. itu tugas kantor, jadi Insyaa Allah Eneng akan berangkat. Eneng harus amanah dalam menjalankan tugas.”
“Sejak awal lo udah salah!” Tiba-tiba Ochan menyergah, mengejutkan Kalila dan Nini, “ngapain lo terima pekerjaan yang bakalan berhubungan sama mantan lo?!” Entah kenapa ia begitu emosi. Biasanya ia tak pernah peduli dengan apapun, apalagi kehidupan kakaknya.
Kalila terkekeh, “Karena gue dapat kesempatan! Toh gue kerja juga buat lo. Denger, ya.. siapa yang bakal tau kalau gue bakal kejebak masa lalu lagi?”
“Terus kenapa lo berangkat?!”
“Karena ini amanah. Gue dipercaya karena kemampuan gue!” Kalila memberikan penekanan di akhir, “gue nggak akan bisa melupakan masa lalu. Sepahit apapun itu, gue akan tetap menghadapinya. Jika tidak dihadapi, gue cuma jadi bocah dengan jiwa yang nggak bertumbuh. Sampai kapan gue terus bersembunyi dari masa lalu?”
“Gue nggak terima kalau lo kesakitan lagi!” katanya melenggang begitu saja.
Bah?! Kalila terhenyak bukan main saat mendengar kalimat adiknya. Tau apa remaja kencur itu tentang kehidupan Kalila yang cukup rumit dan pelik di masa lalu? Yang ia tau, adiknya itu acuh dan bahkan memusuhi sang kakak.
^^^
Tampak seorang perempuan berhijab itu sedang menyalakan keran wastafel kamar mandi kantor. Suara airnya menyeruak, saking derasnya. Ia mencuci wajahnya berulang kali sampai tepi hijabnya ikut membercak basah. Kemudian menatap wajah polosnya itu dari balik cermin.
"Sejauh apapun gue menjauh, nyatanya perputaran semesta masih sama." ungkapnya. Dalam detik-detik, ia masih menikmati waktunya. Terus menatap wajah basah itu. Lalu mematikan keran dan kembali menyapa bayangan dari balik cermin lagi. "Ini pertanda gue harus membuktikan kebangkitan gue di hadapan masa lalu."
"Gue harus profesional. Jelas!" tambahnya meyakinkan diri.
Setelah membersihkan diri, Kalila ingin membaca buku dongeng lawasnya karya Paman Gembala di masa kecil. Ia mencari di berbagai nakas, hingga kotak. Namun terperangah saat yang ditemukan adalah sebuah pigura foto. Menampakkan sebuah gambar terlipat. Seorang gadis sepuluh tahun nan mungil, pemilik rambut sebahu dan satu anak remaja lima belas tahun nan rupawan pemilik hidung mancung, alisnya begitu tegas. Matanya ketika itu masih tampak mungil namun bercahaya. Keduanya saling merangkul, tersenyum ceria, berpose di samping motor balap. Sementara di sisi keduanya terdapat dua lelaki dewasa yang tak lain adalah ayah dari mereka.
Rentang teramat panjang. Laut kelewat luas. Gunung kelewat tinggi. Ujung entah dimana. Nyatanya waktu begitu cepat berlalu. Dan hanya dalam hitungan hari, mereka yang terpisah karena keharusan itu akan bertemu lagi.
^^^
Portugal tak melulu soal kampung halaman sang bintang sepak bola, Christiano Ronaldo. Portugal memiliki banyak rahasia. Negeri mediterania tersebut cukup menarik perhatian saat Autodromo Internacional do Algarve atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sirkuit Portimao menjadi salah satu sirkuit kebanggaan. Sirkuit rancangan Ricardo Pena ini memiliki akreditas grade 1 dari federasi Otomotif Internasional. Bagaimana tidak? Sirkuit balap tersebut memiliki lintasan yang berbeda dari sirkuit pada umumnya dengan panjang 4.658 meter.
Julukan Sirkuit Portimao diambil dari lokasinya sendiri. Portimao merupakan kota dan kotamadya di Distrik Faro yang terletak di wilayah Algarve, tepatnya di Portugal bagian Selatan, sehingga memiliki banyak garis pantai nan indah.
Sehari sebelum free practice[1], para jurnalis dari MejaOlahraga.com berkesempatan untuk mewawancarai pembalap kebanggaan negeri asuhan Tim Idemitsu Honda, Rayden Faaz. Pria berparas oriental yang selalu berpenampilan santai itu menjawab pertanyaan dari Helen dengan santai dan jelas, meski sesekali ia nampak gelisah akibat kehadiran Kalila disana. Pun perempuan berbalutkan tudung islami itu berusaha profesional, meski hati nyata berdesir.
“Makasih banyak, ya.” kata Helen hendak menjabat tangan Rayden, namun pria itu menangkupkan kedua tangan di depan d**a, “oh, maaf,” Helen merasa tak enak hati “Uhmm.. Enaknya saya panggil apa nih? Kita seumuran.” lanjutnya menutup rasa canggung.
“Seenaknya aja, deh.” tawa Rayden kemudian menjabat tangan para juru kamera satu-persatu dengan akrabnya. Sementara seseorang tengah mengawasi pergerakannya sampai tangan itu tepat berada dihadapan. Tawa sang pembalap terhenti, berubah menjadi rona canggung nan kaku.
Kalila berusaha bergeming sembari menangkupkan kedua tangan ke depan d**a, sebab lelaki itu bukan lagi mahram-nya.
“O-oh?!” sadar Rayden buru-buru menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “udah lama bang---”
“Mas Bambang!” Kalila memutus kalimatnya, seolah tak peduli yang disambut kaget oleh sosok pria rupawan itu. Pun Rayden menyatukan alisnya, memberikan tatapan tajam pada Kalila, “Habis ini kita ada interview sama pembalap Moto GP, kan? Fabio Quartararo dan Franco Morbidelli dari livery Yamaha?”
“Oh iya. Masih ada 30 menit lagi, kurang lebih.” ujar Bambang melirik arlojinya, “kalau begitu terima kasih semua atas kerja kerasnya, sampai bertemu besok!” lanjutnya pada Rayden dan tim, kemudian berhamburan melenggang dengan sopan.
Pria pemilik tinggi 177 senti dengan wajah rupawan itu mematung. Matanya terus saja menatap gadis berkerudung mint yang semakin lama, semakin menghilang dari pelupuk mata. Entah mengapa ulu hati begitu nyeri dengan sikapnya yang acuh.
Dua insan yang sempat disatukan, lalu dipisahkan dan dipertemukan lagi itu punya satu pikiran yang mestinya sama. Menelisik takdir Allah yang tak terduga. Tentu ini hanyalah jalan hidup. Kita bisa saja bertemu dengan orang lama dimana saja dan kapan saja, namun entah berakhir apa. Terkadang manusia memang seperti itu, kebetulan yang terjadi begitu saja berubah menjadi takdir yang dilebih-lebihkan.
“Ray!” Adam menyenggol satu lengan Rayden, membuatnya mengerjap, “ngapain lo ngelamun?”
“Ng-nggak” elaknya.