Hujan yang tak terlalu deras itu mengguyur tanah ibu kota, namun para pekerja kantor tak pernah meninggalkan jam makan siang. Banyak dari mereka turun menyambangi Kedai Cuanki Nini. Meski hanya bekerja sendiri dengan sisa tenaga, nene tetap bersyukur bisa terus berjualan menghidupi kedua cucunya. Setidaknya uang Kalila dan Nini bisa digunakan untuk kepentingan bersama.
“Nek.. cuanki 3, baso aci 2, ama es teh 5!” kata seorang pelanggan perempuan.
“Ini ditulis ya, Neng!” Nini memberikan buku catatan, “nini pelupa, yang pesan juga banyak.”
Sekitar 6 buah mangkuk berjajar rapi di hadapan Nini. Wanita tua itu hendak menyiapkan pesanan pelanggan yang sudah mengantri.
“Oh iya. Saya tulis.” kata pelanggan tersebut. Menulis dengan cepat dan segera mencari tempat.
Suasana di kedai itu begitu pecah. Semua orang datang bersama kelompoknya. Melepas penat. Saling mengobrol asyik satu sama lain, memenuhi gendang telinga sehingga membuatnya pecah konsentrasi.
“Baso Aci yang pake ceker berapa tadi?” Nini menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ingatannya telah termakan usia.
“Makanya pakai pekerja, dong! Biar nggak bingung.”
Suara itu membuat Nini terkesiap. Berbalik dan menemukan seorang lelaki berpakaian blazer suit warna biru langit. Mendung yang memurungkan bumi perlahan lenyap akan hadirnya. Nene masih menganga melihat lelaki berparas oriental yang sedang menuangkan kuah beserta isian baso aci.
Satu hembusan napas melena kasar. Jordan menoleh, menatap mata nene yang sejak tadi masih terjerembab dalam tanya, “Tuh catatannya ada di samping Nini.”
“Oh!” Nini tersadar, mengambil catatan disampingnya. Kemudian beralih lagi pada Jordan, “k-kamu? Anak itu?”
Jordan menghentikan aktifitasnya lagi “Iya. Itu aku, Ni.”
Sikap kaku dan dinginnya masih sama. Ia juga masih pandai meracik cuanki dan baso aci, seperti dulu. Itulah mengapa Nini dapat mengingat Jordan. Kesan pertamanya sangatlah kuat. Dia punya karakter yang melekat. Terlihat dingin, namun dia adalah anak baik.
“K-kamu kenapa bisa---”
“Ayo buruan, Ni! Itu ngantri keburu pada masuk kantor!” cerocosnya segera meletakkan mangkuk-mangkuk ke atas nampan. Pun wanita tua itu menyambut dengan mengiyakan seluruh omelan anak itu.
Jordan membantu nene menjual cuankinya. Agar wanita tua itu tak kelelahan berjalan kesana-kemari, ia dengan senang hati mengantarkan pesanan dari meja ke meja. Keringat bercucuran yang tampak di sekitar dahi membuat parasnya semakin memikat penuh pesona.
Gerah yang dirasa, membuat Jordan melepas blazer-nya. Menyisakan kaos putih polos yang menampilkan otot lengan super kekar. Sesekali pria itu mengusap rambut curtain hair-nya kebelakang. Itu semakin membuat wanita tergila-gila. Tak sedikit para pelanggan, khususnya wanita yang berbisik dan mengabadikan momen ini di aplikasi kekinian. Nampaknya Jordan akan segera viral.
Namun Jordan selalu menutup mata dan telinga. Ia sama sekali tak peduli dengan bisikan dan kamera-kamera itu. Ia hanya ingin membantu Nini dan tak jua ingin menebar pesona. Semua yang dilakukan seolah alami. Jika memang banyak yang terpikat, tentu sudah menjadi takdir pria berkulit putih itu. Toh, jodoh belum juga membawa ke pelaminan, meski di usia 33 tahun.
“Bang, foto bareng, dong!” segerombolan wanita menahan lengannya.
Tak disangka, Jordan justru menghempaskan tangan wanita itu secara kasar, “Bukan mahram!” Ketusnya, berlalu pergi. Meninggalkan kekecewaan pada mereka.
Plak!
“Akhh!” Jordan meringis kesakitan saat mendapatkan pukulan dari nini di lengannya, “kenapa sih, Ni?”
“Seharusna teh kamu iya aja kalau mereka mau poto bareng!” Keluh Nini dengan aksen sunda yang kental, “lamun mereka henteu datang lagi, kumaha?”
“Aissh!” Jordan menarik satu kursi, “nini masih sama, ya. Ngomelnya begitu terus.”
Pada masa itu, Jordan yang dulu tetaplah Jordan yang sekarang. Ia membantu menjajakan dagangan Nini dengan cara dan perilaku yang sama. Selalu banyak wanita yang mengajaknya berfoto bersama, namun ia selalu menolak dengan kasar dan itu memicu omelan Nini yang tiada habisnya.
“Lagian udah gede begini masih sama aja,” Nini turut mengambil satu bangku di samping. Suasana di kedai juga mulai berangsur sepi setelah hujan mereda. Nini menangkup wajah tampan Jordan. Ia sempat terkejut, "kamu kurus banget sekarang."
"Yaa Allah! Ini namanya glow up! Nini tau, nggak?"
Nini menjauhkan tangannya dari wajah mulus Jordan, "Kamu kurang tepung!"
"Hah?!"
"Sana makan baso aci!" suruh Nini.
Jordan memutar bola matanya, "Nini pikir aku datang kesini mau ngapain kalau nggak makan baso aci."
Nini tergelak penuh tawa, "Nini bercanda," Pun kening Jordan mengerut, "kamu seger banget sekarang. Tapi kamu kelihatan lelah. Kamu pasti sudah banyak bekerja keras."
Jordan menarik napasnya yang begitu bertenaga dan menghembuskannya perlahan. Menekuri lantainya, "ya, begitu lah, Ni."
“Jadi, kenapa kamu bisa tau tempat Nini disini?”
Jordan menatap gurat wajah Nini yang semakin keriput sambil menarik satu napas begitu dalam sebelum akhirnya menjelaskan kenapa dirinya bisa bertemu kembali dengan Nini. Pun wanita tua itu nampak menganga tak percaya akan pertemuan yang menakjubkan tersebut.
“Jadi, Kalila menolak tawaran kamu?” tanya Nini memastikan yang disambut dengan anggukan Jordan. Napas itu melena diam-diam, “ya sudah, toh naskahnya sudah ada yang diterima penerbit lain.”
“Hah?!” Jordan membulatkan mata sempitnya. Pun Nini ikut tersentak, “dia ngirim naskah ke penerbit novel lain?”
Nini mengedikkan kedua bahu, “Mana gue tau. Tau-tau Kalila bilang begitu beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Portugal. Penerbit Sand Box ceunah.”
Jordan mengangguk-angguk sembari mengais hipotesa, “Gue yakin, dia pasti ngirim naskah ke penerbit dan penerbit yang menerimanya adalah penerbit kecil, penerbit indie.”
“Ah! Nini mah nggak tau begituan.”
“Kenapa dia milih penerbit itu alih-alih penerbit aku, Ni?” Jordan tak habis pikir dengan pilihan Kalila, “Sebagai bos penerbit raksasa, aku tau betul apa yang penerbit besar dan penerbit kecil cari dari sekian banyak naskah masuk.”
“Biarin aja. Toh kamu memberikan tawaran itu untuk kebaikan bersama, kan?” Nini mengusap satu bahu Jordan, “kalau Kalila kekeuh nggak mau, ya sudah. Jangan halangi impian orang.”
“Aku nggak menghalangi impiannya. Tapi dia yang aneh.”
“Memang,” Nini tertawa, “kamu tau? Nini sekarang nggak mau lagi mengatur Kalila. Biarkan dia mencari pintu untuk keluar dari masa lalu. Nini nggak mau Kalila terluka lagi.”
Sepanjang wanita tua dalam balutan hijab itu bertukas, pria rupawan 33 tahun tersebut menyimak seraya mengerutkan kening, “Pintu keluar?”
"Kalila sudah banyak mempertaruhkan apa yang dia punya. Kalila sudah banyak menanggung kesulitan," Nini menyambung lagi. Membayang kepedihan hidup yang cucunya jalani, "biarkan Kalila dewasa memilih jalan yang dia mau. Asal Kalila senang dan tidak lagi tertekan. Itu sudah cukup buat Nini."
Jordan memandang penuh gurat wajah Nini yang begitu serius. Keriputnya semakin banyak. Dan ada ketulusan dari setiap bahasa tubuhnya untuk Kalila. Itu semakin membuat Jordan justru mengkhawatirkan Kalila.
"Ni.." panggil Jordan, "Bukannya jika ingin mencari keluar, Kalila harus mencari kuncinya, bukan?"
Nini mengangguk pelan, "Uhmm.. sekarang Kalila sedang mencarinya."