10. Live Race

1293 Kata
Selama liputan di The Iberian Peninsula, para jurnalis tak pernah berkesempatan menikmati kepentingan pribadi. Kalila yang baru pertama bertugas di luar negeripun sering berkhayal akan dirinya menikmati setidaknya lima menit saja untuk menengok pantai-pantai di selatan Portugal yang katanya sangat indah itu. Apalah daya, pekerjaan adalah prioritas. Empat hari berlalu tak menjadikannya tumbang. Kalila dan tim banyak melakukan wawancara dan mengumpulkan berita di sirkuit. Dari free practice, kemudian kualifikasi sampai live race tiba. Selama itu, Kalila tetap fokus, meski setiap tak sengaja menemukan pembalap bernomor 99 itu cukup mengganggu. Bersyukur Portugal memiliki iklim sedang dengan musim gugur yang relatif ringan. Lokasi lintang selatan negara adalah alasan cuaca negeri ini termasuk karakteristik iklim mediterania. Apapun itu rintangannya, semua sudah menjadi bagian dari resiko pekerjaan seorang jurnalis. Di mulai dari balap kelas Moto 3 yang disambung dengan Moto 2 hingga kelas utama, Moto-GP. Balapan Moto Grand Prix sendiri dibagi menjadi tiga kelas. Dari yang terbawah, ada kelas Moto-3 yang saat ini menggunakan motor dengan mengusung 250 cc 1 silinder. Dengan rentang usia pembalap remaja hingga awal dua puluhan. Mereka ini adalah pembalap jebolan perpecahan ajang balap dari kelas pemula seperti FIM CEV, Asian Talent Cup, British Talent Cup, Redbull Rookie Cup dan lain-lain. Sementara kelas Moto-2 adalah tingkatan selanjutnya dari Moto-3. Meski tak bisa dipungkiri, jika dari kelas Moto-3 bisa langsung melompat ke gerbang kelas utama seperti yang dialami Leon Haslam, Jack Miller dan Darryn Binder dengan berbagai alasan dan pertimbangan tentunya. Para pembalap Moto-2 menjejal sirkuit dengan mesin kapasitas 765 cc. Untuk usia, disini lebih dominan di awal dua puluhan tahun meski nyatanya acak. Adapula yang sudah berkepala tiga seperti Sam Lowes, jagoan asal negeri Ratu Elizabeth dan Rayden Faaz dari negeri Khatulistiwa. Kemudian jika pembalap memiliki performa epik dan tersedianya sponsor—tak harus juara dunia, mereka bisa segera menaiki kelas utama. Sementara di kelas utama Moto-GP, persaingan semakin kuat. Seluruh ‘gong’ alumni kelas Moto-2 dari berbagai tahun akan beradu cepat di lintasan dengan motor yang jauh lebih besar dengan 1000 cc 4 silinder dan bentuk konfigurasi mesin bebas. Kini giliran kelas anak-anak Moto-2 yang siap menampakkan eksistensinya. Semua pembalap sudah berada di posisi masing-masing yang didampingi oleh para tim. Si pembalap menyiapkan mental dan pikiran, serta keselamatan dengan menggunakan pakaian khusus. Sementara tim menyiapkan piranti penunjang balapan. Mulai dari helm yang selalu baru, hingga ban motor yang disesuaikan dengan cuaca setempat. “Stand by!” kata Mas Bambang langsung menginterupsi yang disambut kesiapan masing-masing jusrnalis MejaOlahraga.com. Rasheed memainkan tangan dan matanya untuk membidik beberapa gambar terbaik. Helen sedang melaporkan suasana jelang balap bersama sang juru kamera, Bambang. Sedang Kalila berdiri di dekat pembatas antara tribun jurnalis dan lintasan balap. Mencatat beberapa hal yang diperlukan untuk pengayaan atau evaluasi tim editor sembari sesekali bersin-bersin akibat angin laut yang tiba-tiba terasa dingin, sebab ia mempunyai riwayat alergi cuaca. Hatchih! Hidungnya memerah. “Melaporkan langsung dari sirkuit Autódromo Internacional do Algarve, Portugal,” Helen mendekat ke starting grid[1] untuk melaporkan situasi sebelum berjalannya balapan, “kita bisa melihat persiapan para pembalap ini secara langsung. Disamping saya ada pembalap kebanggaan kita, Rayden Faaz yang sedang bersiap-siap.” “Jangan lupa kita beri semangat lebih untuk Rayden supaya bisa mendapatkan poin di race hari ini.” lanjutnya. Entah kenapa kesiur angin yang berhembus selalu mengingatkannya akan sebuah bayangan merah disana. Di atas starting grid, seorang pria yang kini sedang duduk gagah di atas kuda besinya sedang menenangkan diri sambil meminum air. Lalu mengusap rambut bergaya curtain bangs dengan medium hairstyle melalui celah jemarinya. Posisi 18 cukup membuatnya bersyukur. Kalila bisa melihat jelas gurat penuh semangat dari wajah tampannya. Banyak pikiran yang mengganggu gadis itu. Ia tau betul segala perjuangan Rayden hingga dirinya bisa berada di ajang bergengsi dunia. Perasaan itu berkecamuk saat teringat bahwa keduanya pernah menjalani kehidupan yang sama. Melangkah seirama. Meski hanya bertahan satu tahun. Tanpa Kalila sadari, mata indah nan teduh dari seberang sana membalasnya. Kedua pasang mata itu saling beradu dengan tatapan sendu di bawah semilir angin yang menabur rindu di atasnya. Dunia seolah hanya milik mereka. Menyemai rasa yang pernah ada. Selama pertemuan setelah lima tahun berlalu, Kalila dan Rayden hanya melakukan isyarat mata. Entah apa yang tersirat dari tatapan-tatapan yang selalu bersemayam. “Good luck!” Hanya beberapa detik sampai akhirnya seseorang menepuk bahu Rayden. Pria bule itu memberikan helm baru untuknya. Pun waktunya sudah dekat, Rayden harus memulihkan fokusnya hanya pada lintasan. Entah mengapa saat para pembalap sedang bersiap, membungkukkan badan, menyala-nyalakan gas, hati Kalila menggelayut. Jantungnya bergemuruh. Matanya tak pernah beralih ke tempat lain selain pada sosok dibalik nomor 99 itu. Para pembalap lantas melakukan warm up lap sebelum menuju balapan inti. Warm up lap jika dalam terjemahan adalah putaran pemanasan. Merupakan suatu putaran khusus yang difungsikan sebagai ajang pemanasan motor dan pembalap sebelum memulai balapan. Setelah para riders kembali ke starting grid masing-masing. Mereka kembali bersiap untuk live race. Perpaduan antara bendera merah dengan lampu merah yang dikibarkan staff, maka para pembalap harus memasuki pit stop dengan perlahan. Sinyal lampu merah dinyalakan agar pembalap tidak meninggalkan pit stop sampai bendera merah tak lagi dikeluarkan. Lalu tiga lampu merah menyala antara dua sampai lima detik. Ketika lampu mati, maka balapan MotoGP langsung dimulai. Saling beradu cepat, bahkan jarak tak kasat mata. Saling mengerahkan potensi dan kehebatan saat berada pada tikungan Portimao yang sangat tajam membuat beberapa dari mereka harus gugur akibat sempitnya jarak di antara puluhan motor yang memiliki tujuan sama, bersamaan dengan penonton yang terbawa suasana ikut histeris, tak terkecuali para jurnalis dari MejaOlahraga.com. Alih-alih menjerit heboh seperti Helen dan yang lainnya, Kalila hanya terdiam dalam hening, namun siapa yang tau jika saat ini hatinya berguncang. Takut-takut Rayden turut gugur dan berpotensi mengurangi poin klasemennya. Kini Rayden berada di posisi 19, turun satu posisi dari singgahsananya saat start. Sementara hanya tersisa dua pembalap di belakangnya. Lantas itu tak membuatnya jengah. Dengan basmalah dan segala keyakinan penuh semangat membara, Rayden berusaha melahap habis beberapa orang dihadapannya. Menyusuri trek yang menanjak, melakukan slipstream[2], kemudian turun dengan curamnya membuat ban depan nampak terangkat seperti melayang, lalu lean angle[3] tajam tanpa terjatuh. “Hah?!” Kalila menutup mulutnya yang sempat menganga lebar. Ia tak percaya bilamana trek di sirkuit ini begitu curam dan mengerikan, “wah! Ngeri, coy!” Ini bukan kali pertamanya menyaksikan balapan motor secara langsung. Ditarik ke belakang, Kalila sudah beberapa kali menonton balapan Moto-GP di negara tetangga serta balapan seri lain, seperti Asian Talent Cup dan FIM CEV. Semua itu tak lepas dari kecintaan almarhum sang ayah yang sempat menjabat sebagai petinggi polisi dengan motor. Rayden boleh berbangga, semangat yang membara itu berhasil membawanya menelan banyak pembalap hingga berhasil bertengger di posisi 14. Meski begitu, ia tak ingin merasa puas. Ia harus bisa mencapai target. Setidaknya ia ingin menorehkan sejarah di sepuluh besar selama karirnya di dunia balap kelas Moto-2, bila tak sampai podium yang terasa mustahil itu. Sederhana, keinginannya hanya ingin diakui sang ibu dan kakak-kakaknya, tak perlu masyarakat Indonesia, sebab mereka sudah sering mengabaikannya. Seluruh penghuni sirkuit semakin terpana. Alih-alih dengan pemimpin balapan, melainkan dengan Rayden yang kini menjadi fastest lap rider[4] untuk kali pertama dalam perjalanan karirnya sebagai pembalap Moto-2. Sepertinya ini akan menjadi berita terheboh bagi GP mania di negeri berbunga. Bahkan ketika balapan berakhir, Rayden kembali mencetak rekor dalam hidupnya di posisi ke 12 dan berhasil mengantongi 4 poin untuk kali pertama. Ini juga merupakan pencapaian terbaiknya sepanjang ajang tersebut. Para tim dan kru di paddock menyambut Rayden penuh bangga. Dia benar-benar meningkat. “You did well, Bro!” "Proud of you!" Helen dan tim langsung berlarian ke depan paddock menyambut Rayden dengan suka cita penuh bangga, tak terkecuali Kalila. Meski gadis berhijab imut itu hanya berdiri santai, namun rasa lega saat tau Rayden bisa menambah poin kelasemen, dirinya cukup bersyukur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN