Mama Puput—begitu orang mengenal. Ia bisa dibilang pemimpin dari skuat tersebut.
“Oh iya. Eyke juga mau ambil pesenan Eyke yang Prada itu, Mam.” Sambung Jeng Lily.
Pun Mama Puput meminta asistennya mengambilkan tas-tas itu yang disambut dengan cekatan olehnya dan kembali lagi dengan cepat membawa nampan besar berisikan tas-tas super mewah. Tangan sang asistenpun sampai berbalut gloves.
Semua mata membulat berjamaah saat melihat tas dagangan Mama Puput yang bukan sekedar tas branded biasa, melainkan edisi terbatas yang hanya dirancang beberapa buah saja di seluruh dunia.
“Ma! Itu LV baru? Aku baru liat”
“Beli di mandose?”
“Biasa, titip Mega waktu tugas ke France.” Ujar Mama Puput sembari memainkan rambut pendeknya yang super elegan.
“Woah?!” Mata Cici Windy mengerjap “Iri deh gue. Pengen gitu punya anak kaya Mega ama Danya. Udah cantik, pinter, membanggakan, punya suami tajir dan berkelas pula, bisa nyenengin mamanya!” Ia menyambung dengan teriakan histeris.
“Jaman sekrang mencari menantu itu harus all out, jeng” Yang lain menimpali “Bibit, bebet, bobot harus on top”.
“Iya. Siapa sih yang nggak iri sama anak-anak Mama Puput. Ntar gue juga mau kuliahin anak gue ke Oxford!” Sambung Jeng Indah tak kalah heboh.
“Haiyaa! Pertanyaannya, otak anak lu orang bisa nggak masuk Oxford?” Celetuk Cici Windy membuat gelak tawa seisi ruangan saat Jeng Indah mengerucutkan bibirnya.
“Eh! Eh! Si Rayden boleh juga nih, Ma~” Tiba-tiba Jeng Lily mengoyak lengan Mama Puput sambil fokus pada layar ponsel yang dihadiahi alisnya yang berkerut “Liat deh! Setelah ribuan purnama dia dapet rekor baru, jadi pembalap tercepat! Viral, euy!”
“Serius?!” Semua melongo.
“Dia menang?”
“Nggak, lah. Yang tercepat belum tentu menang.”
“Beda, ya sama kakak-kakaknya.”
Bisik-bisik dan ocehan itu masih sama. Banyak orang yang selalu menggunjing dan menyangkutpautkan Rayden dalam kehidupannya. Selalu seperti itu, seolah tak ada pembahasan lain setiap membahas tentang anak. Mengusik hati dan pikiran Mama Puput. Gelisah dengan d**a yang bergetar, terasa sesak. Marah. Tidak pada tempatnya.
“Kok bisa beda sih sama kakak-kakaknya yang sukses jadi dokter, dosen Internasional. Kenapa Rayden malah jadi pembalap, mana kalah mul---”
“Kalian udah berapa lama sih kenal aku?” Sambar Mama Puput menahan amarah yang dihadiahi tatapan canggung para teman sosialitanya. Masih dengan nada wibawa, perempuan cantik di usia paruh baya itu melanjutkan “Nggak.. Maksudku.. kalian tau aku sudah 15 tahun menjanda, kan?! Rayden itu didikan ayahnya!” Ia memberikan penekanan di akhir “Aku cuma mendidik Mega dan Danya. Itu aku! Di balik kesuksesan dua anak perempuanku.. ada pengorbanan lahir dan batinku.”
***
Helen menjadi wartawan paling cepat. Ia sempat mewawancarai Rayden paling awal dari yang lain. Ia lantas mengarahkan microphone ke arah sang pembalap, “Rayden selamat atas pencapaiannya!”
Rayden masih mengatur pernapasan yang terlampau berantakan akibat kehebohan yang terjadi di paddock. Rambutnya nampak acak-acakan. Namun tetap berkarisma, “Oh, Alhamdulillah. Terima kasih semuanya. Terima kasih dukungannya!”
“Kira-kira apa yang membuat kamu menggila pada seri ini? Mungkinkah trek ini adalah gaya kamu atau ternyata kamu punya ritual tersendiri?” tanya Helen lagi menggebu.
Pria tampan pemilik hidung mancung itu mengusap keringat dengan handuk kecil, lalu terdiam dalam beberapa detik. Merenungi luasnya lautan samudera saat matanya tak membidik sosok mungil di balik tudung islami yang berada di luar kerumunan wartawan. Saat itu, jantung Rayden berdebar tak beraturan. Matanya dan mata cantik itu bersitatap. Entah sengaja atau tidak, sepertinya inilah jawaban Rayden.
Rayden mengangguk dengan mantap dan kembali menghadap kamera dengan wajah penuh semangat. Kedua sudut bibirnya merekah luas, “Saya nggak ada ritual, saya cuma berdoa pada Allah dan saya tidak mau mengecewakannya. Yah, tidak mau mengecewakan kalian yang sudah hadir disini.”
Lalu kembali menatap Kalila penuh cinta yang hanya mematung datar di ujung sana.
Keduanya saling menatap cukup dalam dengan perasaan masing-masing. Entah perasaan yang masih sama besarnya seperti dulu, atau sudah lenyap. Terutama Kalila. Tatapannya tak bisa ditafsirkan begitu saja. Hanya datar. Ia tak goyah.
***
Kalila—berbalutkan sweetshirt, membantu membawa barang timnya sembari berjalan bersama menuju hotel yang masih dalam komplek sirkuit. Saling mengobrol dan berisik satu sama lain. Terlebih empat orang jurnalis tersebut memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai ajang balap Moto-GP.
“Gila sih kalau ngomongin Marc Marquez nggak pernah ada ujungnya.” Bambang menggeleng kepala keheranan.
“Tapi Pak Dokter selalu jadi penakluk kampung halaman, yah. Gokil!” Kalila turut menimpali. Kemudian bersin-bersin untuk yang kesekian kalinya, hatchih!
“Miguel?” Helen memastikan yang dihadiahi anggukan oleh Kalila, sebab Miguel Oliveira merupakan pembalap sekaligus dokter gigi asal Portugal yang kerap menguasi Sirkuit Portimao sejak balapan perdana di lintasan tersebut.
“Wah?! Gue nggak nyangka kita semua satu frekuensi.” Rasheed terheran-heran menyadari situasi tak terduga ini. Pun yang lain tertuju padanya, siap menyimak sembari berjalan, “iya. Selama 4 tahun di MejaOlahraga.com, gue belum pernah nemuin orang-orang yang satu frekuensi, bahkan pengetahuan mereka tentang dunia balap cuma formalitas doang. Ngaruh banget ke kerjaan. Nggak asyik gitu.”
“Memang ini alasan Pak Bagus memilih kita!” celetuk Helen membuat semua terbelalak.
Kalila mengerutkan kening. Terdiam sejenak. Asumsinya sedang berjalan. Benarkah yang dikatakan Helen? Mungkin benar bagi Helen, Rasheed dan Bambang yang memang sudah bekerja di atas 3 tahun di media tersebut, sehingga mudah dinilai dan dibaca oleh pimpinan.
Tapi Kalila? Ia bahkan belum genap satu tahun bekerja, ia bahkan tak pernah banyak bicara di kantor. Ia selalu megikuti arus yang ada dan memilih untuk mempersempit lingkaran pertemanan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Sekali lagi, bekerja di industri ini bukan dunianya, ia hanya bekerja demi uang dan tak berharap lebih mendapat reward tertentu. Toh Kalila hanya ingin menjadi penulis sukses yang karyanya bisa menjadi best seller, diadaptasi menjadi film ataupun series dan bermanfaat untuk banyak orang.
Dalam hening, matanya tak sengaja menemukan Rayden dan Adam dalam radius beberapa meter saja darinya. Kalila mengerem langkah saat menyadari Rayden nampak berbeda. Ia adalah pria yang sangat humble, ramah, lembut dan menyenangkan—low profile sekali, tapi kini ada kusut dan buram dari wajahnya. Kalila mengikuti arah mata Rayden pada kehangatan seorang ibu dan anaknya yang juga merupakan seorang pembalap.
“I wasn’t show my best.”
“Hey, i never push you for anything. You are always be my number one. No matter what!”
“I never got podium up, Mom?!”
“It’s not a promblem. I don’t care about podium and what else.. Whatever you want, just go to the restaurant with me.”
Mata teduh nan indah milik Rayden berubah mengkilat. Rahangnya mengeras, pun hidung mancungnya memerah. Hatinya teriris. Dunianya berkabut. Pikiran mengembara entah kemana bagai kemarau panjang yang tak berujung.
Sang anak nampak murung karena selalu mengecewakan ibunya. Ia tak pernah mencapai podium dan tak bisa memberikan yang terbaik. Namun ibu tersebut justru mendekap putranya. Menghibur dan menerima hasil apa adanya. Ia bahkan tak peduli tentang kemenangan. Baginya, sang anak selalu menjadi pemenang dalam hidup melebihi apapun. Hal tersebut membuat pembalap itu kembali ceria sembari berjalan menuju restoran bersama sang ibu. Harmonis dan mengharukan
Kalila menggigit bibirnya, menahan tangis haru. Mata, hidung dan pipinya memerah. Dengan cepat ia melebarkan matanya agar tampak normal kembali. Dengan satu tarikan napas, ia menghampiri Rayden.
“Hello Rayden!” Kalila melambaikan tangan tepat di hadapan pria super manis itu sembari tersenyum riang. Hal itu membuat Sang Pembalap terkesiap bukan main. Perempuan itu seolah mampu menembus mata hatinya, “woah! I know you’ve show your best! Ini rekor kamu. Keren banget parah, man!”
Semakin lama, Kalila semakin menggila. Sikap konyolnya kembali menyala-nyala. Ia menepuk-nepuk punggung Rayden cukup kencang, tanpa menyadari bahwa pria itu sedang kesakitan akibat tangan mungil Kalila yang sepertinya terbuat dari baja.
“Gue nggak bisa diem aja, nih. Ayo makan-makan! Makanan apa ini yang paling enak di Algarve? Uhmm?” Sambungnya menatap Rayden dan Adam bergantian sambil menaikkan satu alis. Sementara kedua pria itu saling menatap keheranan.
“Ayo malam ini gue traktir atas kemenangan Rayden Faaz!” Seru Kalila yang disambut dengan sama hebohnya oleh rekan se-tim dan juga Adam.
Pun Rayden masih belum memahami sepenuhnya situasi ini “Tu anak masuk angin kali, ya.”