12. Malam di Algarve

1131 Kata
Algarve merupakan daerah paling selatan di Portugal, termasuk Portimao. Selain itu, Portimao juga merupakan kota terbesar kedua di Algarve. Berada di tepi kanan sungai Arade tepat sebelum mencapai samudera. Karena memiliki banyak garis pantai, Algarve memiliki silsilah bahari. Kalila beserta tim dan Rayden, juga Adam bertandang ke sebuah kedai cukup sederhana. Satu pintu yang disambut dengan lampu-lampu kuning sebagai permulaan. Suasana kedai yang damai dan tenang semakin membuat mereka tertarik. Interior tempo dulu yang cukup classy namun sederhana dan tak berlebihan cukup nyaman, terlebih saat suara aliran sungai Arade menyeruak bagai relaksasi. Portugal memang kaya bangunan kuno dan antik. Mereka menggabungkan dua meja agar mencukupi jumlah peserta makan malam yang dikepalai oleh Kalila. Semuanya saja senang bukan kepayang saat mendapat makan malam gratis. Melepas jaket mereka saat sudah berada di kursi masing-masing, saling berhadapan. Memesan beberapa kudapan yang menjadi menu terbaik sampai pelayan kembali pula dengan cepat bersama pesanan. Semua mata membulat berjamaah saat menatap aneka masakan laut yang mempesona. Pun asapnya masih betah mengepul di udara. Semua seafood tersebut seratus persen fresh, membuat pesonanya semakin menggelitik indera pengecap. Selain nikmat, pilihan hidangan laut menjadi yang terbaik bagi turis muslim seperti mereka. Sebelum menikmati hidangan istimewa dari Negeri tersebut, biasanya ada semacam ritual pembuka. Seperi diawali dengan roti, buah zaitun dan keju. Yang mana roti orang Portugis lebih renyah berbeda dengan roti dari Negeri Valentino Rossi, Italia yang cenderung manis. Setelah makanan pembuka, akan ada ritual khusus untuk para wisatawan asing. Mereka biasanya akan diberikan semacam white wine. Namun karena Kalila, Rayden dan kawan-kawan adalah muslim, mereka tak perlu mencicipi ritual tersebut. Pelayan hanya menyajikan salad. Selanjutnya ada beberapa hidangan spesial dari Portugal yang tersaji rapi diatas meja makan. Pertama ada olahan Ikan Cod. Ini juga tak boleh dilewatkan dari Negeri Christiano Ronaldo ini. Masyarakat biasa mengolahnya dengan cara dilapisi tepung roti kemudian digoreng dan disajikan dengan salad atau nasi dalam pie. Dalam Bahasa Portugis, Ikan Cod biasa disebut Bacalhoada. Ada pula Sopa De Cacao, yakni olahan Ikan Hiu yang tak biasa. Hiu dalam Bahasa Portugis adalah Tubarao. Ikan tersebut direndam dalam air ketumbar, lemon dan bawang putih sebelum didihkan. Kemudian disajikan bersama roti berbahan dasar tepung jagung yang dikenal sebagai Broa. Sang Ratu dari segala makanan laut. Warna merahnya mempesona. Ini dia, Cataplana De Marisco. Cataplana adalah sup aneka hewan laut, mulai dari lobster, cumi, kerang dan udang yang dimasak dalam wajan tembaga dan disajikan dengan nasi atau keripik. Dan Algarve adalah wilayah yang terkenal dengan masakan tersebut. Semua kompak memainkan alat makan mereka untuk mencicipi silsilah bahari yang sesungguhnya dari Portugal. Terlebih, ini adalah malam terakhir bagi para jurnalis. Sedang malam esok, mereka sudah harus melakukan penerbangan menuju tanah air. “Gue denger dari bos kita, katanya kalau kita datang kemari di bulan Agustus, ada festival ikan sarden---” Cerocos Rayden di tengah aktifitas makannya. Mulutnya terus beradu dengan cumi dan udang. Ia juga menyempatkan untuk menyeruput kuah merah panas dari Cataplana De Marisco sebelum melanjutkan kalimatnya “Pada manggang ikan gitu di pinggiran sungai, mana harganya miring lagi”. “Iya bener-bener, katanya pertengahan agustus, bro!” Sambung Adam sembari mengambil roti dan diletakkannya tubarao di atas permukaan. “Woah gokil juga sih negara ini! Surga yang tersembunyi” Bambang menimpali. Mulutnya penuh dengan makanan yang disambut acungan jempol oleh mereka “Sayang kita belum mampir pantai cantik”. “Kalian serius pulang besok?” Tanya Adam. Ia tak memandangi lawan bicara, sedang asyik dengan dunianya. “Uhmm” sambut Helen malas. “Oh?!” Kaget Bambang saat menemukan sebuah panggilan masuk yang dihadiahi tatapan penuh tanya dari yang lain “Pak bos” Ia mengecilkan volume suara sebagai peringatan agar tak membuat kegaduhan. Sudah dipastikan Pak Bagus akan menanyakan persiapan mereka untuk kembali ke Indonesia. Bambang lantas menuju sudut ruangan untuk menjawab panggilan tersebut. “Eh iya!” Rasheed teringat akan sesuatu, menoleh ke samping kanan “Makasih banyak loh Kalila. Lo biasanya dingin banget di kantor, tapi ternyata lo humble, yah” Kalimat-kalimat Rasheed menarik perhatian yang lain. “Iya, thanks, loh. Belum ada yang ngajakin Rayden makan malam kalau abis balapan. Ya nggak, Ray? Kesian amat sih lo” Adam menyenggol lengan Rayden. Alih-alih menimpali, sang pembalap justru sedang sibuk mengamati air muka hening dari Kalila. “L-lo kenapa, Kal?” Tanya Rayden perlahan “M-makasih ya ud----” Tiba-tiba ia tersadar akan makanan yang ada di atas piring gadis itu, Sopa De Cacao “Eh lo nggak boleh makan ikan, ka---”. Tak! Semua mengerjap, saat menyadari sebuah piring yang hendak ditarik oleh Rayden tertahan oleh sebilah pisau di atasnya. Perlahan dengan sangat hati-hati, Rayden mengalah. Melepas tangannya, membiarkan Kalila melakukan apa yang dia mau. Dengan tatapan tajam ke arah piring. Setajam belati. Kalila menarik pisau tersebut hingga menimbulkan decitan saat ujung benda tajam itu bertautan dengan piring. Sontak mereka melindungi telinga mereka dari aksi bar-bar gadis berparas menggemaskan itu, pun juga dengan Rayden. ^^^ "Assalamualaikum!" Pria pemilik tinggi badan standar yang gemar sekali mengenakan pakaian-pakaian terang itu menyapa nini. "Waalaikumussalaam. Astaghfirullah, Alshad!" kaget wanita tua itu, "Kenapa kamu itu nggak pernah berubah. Makin hari bajunya malah makin tabrakan nggak jelas." Alshad mengambil satu mangkuk dan meracik cuankinya sendiri, “Lagi tren tau, Ni." "Silau diliatnya! Kuning ama ungu terong. Besok apa lagi?" Pria itu tertawa. Ia memang suka hidup seenaknya. Asal dia bahagia dan tak pernah memikirkan pendapat orang lain. Daya tariknya sangat unik. Kebetulan Alshad ini memang tinggal di sebuah kos yang berada tepat di samping rumah nini. Jika sedang tak bekerja, Alshad suka membantu nini jualan. Tapi, lebih seringnya mengganggu pekerjaan nini. Hihi. Dia suka sekali makan-makan di kedai nini dan bayar belakangan. "Gimana kerjaannya. Lancar?" tanya nini perhatian sambil menuangkan kuah cuanki. "Alhamdulillah. Syukuri aja." Alshad menaikkan satu alis. "Biasanya kamu kan pindah-pindah tempat kerja. Tapi kayanya kali ini enggak." Alshad menuangkan sambal ke mangkuk cuanki, "Udah rejekinya disitu kali." kemudian sempat mengedarkan pandangan sejenak sebelum melanjutkan aktifitas makan sorenya, "Sepi amat. Pada kemana, Ni?" Nini mengembuskan satu napas bertenaga, "Ochan selalu pulang-pergi nggak jelas." "Kalila kerja?" "Kalila nggak ngasih tau kamu?" Alshad yang sedang sibuk mengunyah mendadak terhenti bersama mulutnya yang penuh, "Apa?" "Kalila berangkat ke Portugal. Udah 4 hari ini." "Oh~ Syukurlah kalau Kalila dipercaya kantor." sahutnya santai dan kembali lahap menyantap cuanki. Sampai akhirnya teringat jika akhir pekan kemarin adalah pekan balap. Dan pagelaran tersebut bertepatan di Portugal. Alshad menghentikan lagi aktifitasnya, "Apa?! Kalila ke Portugal?!" Nini hanya mengangguk. "B-berarti bakal ketemu Rayden?" terka Alshad. "Mungkin. Dan.. pasti?" Nini mengedikkan kedua bahunya. Alshad segera meneguk es jeruk yang sempat diambilkan nini. Lalu tertegun sejenak bersamaan dengan pembeli yang datang. Selagi nini melayani, Alshad membuka ponselnya untuk menghubungi satu nomor dengan cukup panik dan tergesa. "Halo? Kalila kenapa diberangkatkan ke Portugal, Pak?" katanya langsung pada inti pembicaraan. tanpa basa-basi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN