13. Kembali Hadir

1245 Kata
Seberapa jauh jarak membentang. Seberapa luka ini bernanah nyatanya rasa ini tak pernah pudar. Ratusan purnama berlalu, tak cukup untuk membersihkan dosa. Adanya pertemuan dan perpisahan, tak lain dan tak bukan adalah takdir Allah. Sekalipun kita kembali dalam langkah yang sama. Itulah mengapa manusia harus selalu membersihkan hati. ^^^ Rayden sedang menikmati malamnya bersama secangkir kopi. Memandangi langit pekat bertabur bintang dari balkon kamar hotel. Sesekali terdengar suara daun jatuh yang sudah semestinya terjadi pada musim gugur. Meski begitu, Algarve memiliki iklim sedang yangmana suhunya tidak terlalu rendah. Lusa, Rayden harus pergi ke negeri kincir angin untuk persiapan seri balapan selanjutnya. Senyum manisnya semakin merekah saat tangannya berhasil membuat sketsa seorang perempuan berhijab yang sangat cantik. Pria tampan nan gagah itu meraih ponsel berlogo apel dari saku. Membuka sebuah kontak. Alih-alih langsung mengetik pesan. Ia justru membuka profil dari kontak yang dinamainya ‘Preman Menteng’. Hanya ada warna hitam polos nan sepi dari gambar itu, namun mampu membuat Rayden tertawa. “Ternyata dia sudah banyak berubah. Tapi kenapa jadi bar-bar?” Menghela napas sejenak seraya mengulas momen lama. Pria berparas oriental itu ingat betul sosok Kalila di masa lampau. Seorang gadis dingin yang hanya ingin membagikan senyum cantik itu padanya. Hanya pada Rayden. Ia lalu berucap sembari mengetik “Alhamdulillah.. baguslah kalau sekarang Kalila sudah bisa menjadi lebih baik setelah perpisahan itu.” To: Preman Menteng Besok jam 8 di Paraia do Vau Beberapa menit berlalu tanpa ada balasan dari seberang. Namun tak menjadi masalah besar bagi Rayden. Ia punya keyakinan besar bahwa Kalila sudah semestinya datang. Bagaimana bisa ia tak ingin menemuinya secara pribadi setelah lima tahun berlalu? Tidakkah ia ingin menyemai rindu, meski dalam rona canggung? “Rayden!” Suara itu membuat Rayden terpekik. Buru-buru menutup ponsel, “Apa?” Adam mendekat, “Jangan lupa lusa kita berangkat loh.” “Ya masa gue lupa sih, Kang!” Balasnya santai, mencecap minuman hangat sejenak sebelum mengedipkan sebelah mata menggoda Adam yang bertugas sebagai asistennya, “kan, ada elo” tawanya. Adam menghela napas kencang, “Kebiasaan. Ya udah lah.. gue mau rebahan.” “Lo nggak mau jalan-jalan bentar gitu? Masih ada besok.” Lanjut Rayden menghentikan langkahnya. “Kalau gue jalan-jalan, siapa yang ngurusin elo, Bambang?!” Semprotnya. Rayden menyunggingkan senyum tak berdosa. Barisan gigi nan putih itu nampak berbanjar rapi “Bambang tuh campers MejaOlahraga, loh!” Kemudian membentuk love sign kecil dengan menyatukan ibu jari dan telunjuk ke udara. “Bodo!” Geli Adam meninggalkan kegilaan Rayden. ^^^ Berbalutkan hening malam, Kalila menyempatkan diri untuk membuka laptop demi mempersiapkan proses editing naskah novelnya bersama editor yang sudah dijadwalkan pekan depan. Kemudian ia juga tak lupa mampir ke blog pribadinya dan tersadar bahwa selama di Portugal, ia belum menuliskan apa-apa lantaran tak sempat. Sebelum menulis, Kalila mencoba membuka blog terakhirnya berkenaan dengan bodohnya ia saat mengejar novel terbaru karya Lelaki Hujan. Menemukan beberapa komentar disana. yaelahdinda@blogspot.com Hay Kak Kal.. aku nge-fans banget sama kakak. Kata-katanya bagus banget dari setiap blog, padahal aku tau itu cuma curhatan kakak.. Bikin buku, dong. Kalila tersenyum haru. Ia merasa sangat bahagia dan bangga saat tau ada orang yang masih menyukai dan menghargai karyanya. Gadis yang berbalutkan sweater mustard itu mulai mengetik. k_lilaaashafiya@blogspot.com Terima kasih sudah mampir ke blog bar-bar aku hihi. Secepatnya doakan yang terbaik untuk karya versi bukunya. Kemudian kembali scrolling kometar lainnya. hanifaalindha@blogspot.com Aku rajin banget mampir ke blog Kak Kal, banyak yang mewakili hidupku juga. Sumpah tulisannya bagus banget. Kayanya kalau lebih dari sekedar prosa bagus deh. Macem novel gitu. Move ke w*****d yuk kak!. k_lilaaashafiya@blogspot.com Wah ide bagus.. Sebernernya sudah ada niat sejak awal, cuma waktunya aja yang nggak ada. Banyak kerjaan. Tapi insyaa Allah aku sudah siapkan karya versi novel yang akan dibukukan. Please support me! Kalila bersyukur, blog iseng-isengnya itu terbilang cukup ramai. Sejak kecil, Kalila sudah mencintai dunia literasi, terlebih saat dirinya mengenal dekat sang legenda penulis buku dongeng anak, Paman Gembala. Namun selama ini ia hanya menulis karyanya di atas lembaran kertas. Mungkin sekitar lima tahun ini, dirinya mulai beralih ke blog dengan dalih meluapkan apa yang sedang ia rasakan disaat titik terendahnya di masa itu. Menulis membuat hatinya lega dan tenang. Kalila adalah seorang introvert. Bagi penulis, menulis bukan hanya tempat menumpahkan halusinasinya, melainkan cara mereka berkomunikasi pada dunia. Bagi dara ayu pemilik bulu mata lentik itu, dirinya sudah melalui banyak masa berat dan pedih dalam hidup yang berpuncak pada 6 tahun lalu saat sebuah perpisahan membawa petaka besar. “Gila! Ternyata lo bar-bar juga, ya” Tiba-tiba Helen keluar dari kamar mandi sembari membawa handuk kecil “Gue kira lo pendiam. Abisnya di kantor nggak pernah berkutik. Gimana nggak pada sensi ama lo” Ia lantas menarik satu kursi di depan wardrobe. Mereka berdua menempati kamar sederhana yang cukup nyaman di sebuah hotel pinggiran Portimao. “Ah~” Kalila terkekeh, menggaruk belakang kepala penuh rona canggung. “Pada kaget tau waktu lo nahan piring pake pisau dari Rayden” Helen mengeringkan rambut dengan alat pengering, “nggak jelas!” “R-reflek aja gitu” Kalila terbata-bata, sibuk mencari kalimat, “lagian Rayden tiba-tiba banget mau ambil piring aku” Ia lantas tertawa canggung sembari merutuki diri yang terkesan bodoh. “Ah bener!” Helen menekan tombol off. Meletakkan pengering rambut ke atas meja, “kok dia bisa tau kalau lo alergi ikan? Emang bener?” Kini wanita berparas manis dengan rambut sebahu itu menatap Kalila begitu dalam, mengharapkan jawaban yang pasti. Lagi-lagi gadis berhijab itu kehilangan akal. Ah, berantakan semua, kan!!—kurang lebih sebegitu kacau pikirannya saat ini “I-itu. Y-ya.. karena ayah kita temenan” Kalila tertawa canggung lagi, “kebetulan emang alergi sama sarden aja sih, cuma untuk jaga-jaga, aku nggak berani makan ikan, kalo seafood lain.. okey lah.” Helen menutup mulutnya yang sedari tadi menganga lebar “Yaa Salaam.. kenapa nggak bilang sejak awal kalau kalian saling kenal?” Masih dengan nada lembutnya, perempuan 30 tahun itu kembali menyambung “Ternyata lo punya banyak banget rahasia, ya. Tau gitu liputan kita bisa berjalan lebih lancar, to?” Kalila buru-buru melambaikan tangan. Mengelak “Kita udah lama nggak ketemu, kok. Ini baru ketemu lagi setelah sekian tahun. Suer!” Ia membuat V dengan telunjuk dan jari tengah. “Ah~” Helen mengangguk paham bersamaan dengan Kalila yang kembali berbalik untuk mematikan laptop-nya, “berarti nggak masalah dong kalau gue kasih nomor lo ke Rayden.” Mata Kalila yang teduh bak telaga itu beriak. Helen melihat sebuah kerikil kecil terlempar kesana. Membuat kecipak di muka air nan tenang “Mbak Helen kasih nomer aku?” Dengan santai, Helen mengangguk sambil menepuk-nepukkan cairan toner di wajahnya “Uhmm.. Uhmm.. Emangnya salah, ya? Rayden suple banget. Kalian juga ternyata udah saling kenal. Apalagi lo juga junior gue” Wanita itu lantas menoleh, “nggak sopan, ya?” “Uhm?” Kalila masih sibuk mencerna seluruh kalimat itu. Anggukan kecil mengiringi gerak bibirnya yang hendak tersenyum ragu. Meski rekat, sulit merekah “oh saya junior, ya?” Gadis itu tak habis pikir dengan tingkah laku Helen. Ia bisa saja memaki seniornya itu, toh Kalila punya pendirian yang kuat dan tak takut dengan apapun. Hanya saja, ia harus memahami situasi. Helen tak pernah tau apa masa lalu antara dirinya dan Rayden, Si Pangeran Sejuta Pesona itu. Lantas, pasrah adalah yang terbaik. Tiba-tiba ada getaran cukup kencang dari sebuah ponsel kenamaan asal Korea Selatan milik Kalila di atas meja. Gadis itu melongo saat menemukan profil motor balap bernomor 99, selanjutnya beralih menatap Helen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN