14. Sisa Kenangan

1118 Kata
“Apa dunia benar-benar sesempit itu?” Rayden bertanya-tanya pada semesta, “apa aku salah jika nantinya melebih-lebihkan takdir?” Kalila dan Rayden menikah enam tahun lalu. Saat itu Kalila masih berusia 18 tahun dan Rayden 24 tahun. Tepat seminggu setelah kepergian ayah mereka yang meninggal bersamaan dalam sebuah tragedi pengeboman sebuah sirkuit kecil yang diperuntukkan untuk latihan para pembalap motor. Sebelum ayah mereka meninggal, keduanya sempat berniat menjodohkan putra dan putrinya kelak. Hal itu bahkan sudah dibicarakan sejak Kalila dan Rayden kecil. Kalila 10 tahun selalu murung dan dingin akibat kelahiran sang adik yang mengharuskan ibundanya menggadai nyawa, berubah menjadi riang saat kehadiran Rayden. Pun Rayden yang juga memilki kehidupan kelam akibat cemoohan yang bertubi dari ibu dan kedua kakaknya karena pilihan bungsu dari tiga bersaudara itu mengikuti sang ayah setelah perceraian kedua orang tua, serta ketidaksempurnaannya dalam bidang akademis. Semua itu berangsur tenang dan bersemangat saat mendapat dukungan sepenuhnya, bahkan mendapatkan pujian dari perempuan pertama dalam hidupnya, Kalila. Hal baik tersebut yang pada akhirnya membuat Kalila dan Rayden yakin akan sebuah pernikahan. Tak masalah menikah muda, toh usia bukanlah takaran tepat untuk sebuah pernikahan. Pun Rayden juga tak kan mungkin diterima oleh ibunya setelah kepergian sang ayah ke pangkuan Illahi kecuali dirinya mau menjadi dokter. Bagi pembalap tersebut, menikah dengan Kalila adalah jalan yang terbaik. Bersama Kalila, Rayden bisa menemukan jati dirinya. Kalila cantik, cekatan, sopan dan sholatnya selalu tepat waktu, meski saat itu ia belum mengenakan hijab. Lagi, Rayden juga sudah mengenalnya sejak gadis itu berusia 10 tahun. Pun hal sama juga dirasakan Kalila. Rayden adalah sandaran baginya. Kehilangan ibu bukanlah hal mudah, terlebih pada saat itu usianya masing sangat muda. Namun kehadiran Sang Pangeran dengan sejuta pesona membuatnya tenang. Jauh dari kemurungan dan bisa menjadi diri sendiri apa adanya tanpa perlu berpura-pura. Sepeninggal ayah, Kalila tak sepenuhnya rapuh, sebab ada bahu Rayden. Namun ternyata menikah muda tak semudah yang dibayangkan. Meski jika dilihat, banyak pasangan muda yang nampak hidup bahagia dan baik-baik saja di sosial media, bahkan terkesan menyenangkan. Tetapi perbedaan isi kepala dan segala ego masih bergelut dalam kungkungan rumah tangga. Pernikahan mereka dilakukan secara siri atas kesepakatan bersama. Sebab posisi Rayden pada saat itu masih harus fokus dengan karirnya di puncak kelas Moto CEV. Bukannya pembalap tidak boleh menikah, pembalap jelas boleh menikah. Namun biasanya para pembalap yang masih dalam fase rintisan harus memiliki tingkat fokus yang lebih tinggi untuk membangun masa depan. Oleh karena itu Rayden tak ingin hal tersebut menjadi sebuah gosip yang tak berdasar, ia memutuskan untuk merahasiakannya, toh itu juga demi kebaikan Kalila dan keluarga. Namun lagi-lagi perjalanan rumah tangga yang sudah berjalan hampir dua tahun itu harus berakhir. Keharmonisan dua insan itu harus disudahi. Rayden yang meminta. Bukan soal karir, melainkan soal ego, pikiran dan hatinya yang berkecamuk penuh tekanan. Antara harus selalu menyenangi istri, karir dan juga ibu serta kakak-kakaknya. Selama musim balapan di mulai, Rayden jarang pulang ke rumah. Ia meninggalkan Kalila keliling dunia demi mengejar impian menjadi lawan Valentino Rossi ataupun Marc Marquez di ajang balap motor terbesar dunia. Toh Kalila sebagai istri mendukung penuh keinginan suaminya itu. Perempuan itu menuangkan waktu dan rindunya pada sang suami di atas lembaran kertas. Sembari berusaha mewujudkan impian menjadi penulis dengan mengirimkan naskahnya ke beberapa penerbit buku, koran maupun majalah. Suami-istri itu sama-sama memiliki impian yang harus diwujudkan bersama. Ketika musim balap usai, Rayden kembali. Alih-alih menyambut sang istri dengan penuh kebahagiaan lantaran selalu membawa medali saat pulang, ia justru murung. Tak membalas dengan baik sambutan dari Kalila yang meriah—tentu, istri mana yang tak bangga melihat suaminya memenangkan kompetisi bergengsi. Terus seperti itu dan menggores luka bagi Kalila, namun wanita itu tabah dan tetap memberikan yang terbaik untuk Rayden. Kalila sangat mencintai Rayden. Suatu hari, Rayden memutuskan sebuah keputusan teramat ngawur dalam hidupnya. Berpisah, bercerai dari istri yang selalu setia menyambutnya dalam keadaan apapun. Bukan tanpa asalan, Rayden merasa hidupnya sedang tak bisa dikontrol. Setiap musim balapan usai, kembali ke Tanah Air, ibu adalah tempatnya pulang sebelum dirinya menemui sang istri di rumah. Sebab, bagi seorang lelaki, sampai kapaun, ibu adalah yang utama di atas segalanya. Alih-alih mendapat sambutan baik dari Sang Ibu, Rayden justru dimaki terus-terusan tiada henti. Ditambah kalimat provokasi dari dua kakaknya. Meski Rayden memenangkan kejuaraan, ada saja hal-hal yang membuat sumpah serapah itu keluar. Semua tak lepas dari bisikan gila dua kakaknya yang semakin mendukung ibu untuk bertahan dengan eksistensinya. Sejak kecil, Rayden selalu terinjak. Sementara dua kakaknya selalu dibanggakan sebagai dokter dan juga doktor, terlebih saat ayah dan ibunya bercerai. Rayden sama sekali tak dipedulikan. Rayden merasa dianak-tirikan. Hidupnya semakin kacau. Ia pikir, ibunya akan menerimanya seperti anak-anak di luar sana setelah pembuktiannya dengan sekian penghargaan yang didapat sebagai pembalap. Namun, ibunda hanya ingin Rayden memiliki jalan yang sama seperti kedua kakaknya. Rayden sama sekali tak berharap bisa tinggal satu atap dengan ibu, ia hanya berharap sang ibu mengatakan ‘kamu sudah melakukan yang terbaik’ sembari mengusap kepala. Hanya itu. Pun ia tak pernah menanam benci. Setiap tahun selalu datang meski tau akhir pahitnya. Lantaran terlalu lama menahan rasa sakit yang bertubi, Rayden seolah melampiaskan semuanya pada sang istri, Kalila. Bukan amarah, melainkan ego. Rayden memang tak pernah membentak Kalila. Tapi semakin lama hatinya bergejolak, ia bahkan tak bisa lagi memberikan senyum pada istri tercinta. Murung dan selalu meleng dalam setiap hal. Seringkali, secangkir teh yang disiapkan oleh tangan dingin Kalila terlantar hingga barisan semut hitam menemukan cawan tempat pesta pora. Sedangkan Rayden hanya fokus menghilangkan kegelisahan hati dengan gawainya. Ia berusaha keras untuk kembali normal saat dihadapan Kalila, namun ia tak bisa. Tekanan dalam batinnya terlalu sakit untuk dipaksakan. Rayden merasa bersalah, selalu abai dengan istri yang begitu tulus. Mengingkari janjinya yang tersemat saat akad nikah. Membelenggu Kalila—gadis remaja yang rela mengorbankan masa depan demi dirinya. Rayden menghancurkan hidupnya, hingga keputusan itu terjadi. Kalila dan Rayden berpisah. Bagi Rayden, Perpisahan itu agar bisa membuat Kalila yang masih muda bisa bebas dan tak perlu lagi menyambut seorang pria yang tak tau diri, meski rasa masih seutuhnya ada. Rayden memilih keputusan gila itu. Melapangkan jalan kebahagiaan bagi orang lain adalah kemuliaan. Membiarkan Kalila mengambil langkah menuju masa depannya yang lebih baik. Rayden terkekeh. Tak bisa memungkiri jika banyak kenagan indah yang telah mereka lalui bersama. semua masih terekam jelas, “Kalila menjadi lebih bersemangat. Syukurlah.” “Setidaknya balapan hari ini membuat dia bangga.” Lanjutnya. Ia meraih dompet. Membuka sebuah lipatan kecil yang ternyata adalah foto pernikahan Rayden dan Kalila. Disana tampak Rayden mengenakan jas hitam dan kemeja putih sederhana. Sementara Kalila hanya dengan dress putih vintage sederhana bersama sebuah tudung yang menutupi setengah bagian rambut hitamnya. Bayangan cantik Kalila selalu datang menghampiri bersama kesiur angin malam yang mencumbu dedaunan. Menyulamkan diri pada lika-liku diantara dahan dan ranting.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN