“Dari hasil pengamatan, ada ilustrasi yang janggal dalam desain sampul novel Lelaki Hujan” Ucap seorang salah satu staf penerbit yang sedang dalam rapat evaluasi persiapan penerbitan buku milik Lelaki Hujan yang sudah dinantikan kembali dalam cetakan kedua setelah sempat menerbitkannya dalam edisi terbatas.
“Benar, Pak,” timpa Hedi—editor Paper Publishing, “sepanjang 10 tahun terakhir karir Lelaki Hujan sebagai penulis, dia selalu konsisten dalam pemilihan konsep sampul warna hitam, abu dan putih yang selalu menjadi ciri khasnya dan melekat di mata pembaca. Tetapi sekarang warna merah lebih mendominasi. Bukankah itu terlihat asing dan jauh dari citranya? Rasanya kok mirip novel thriller.”
“Pak Jordan?” panggil Hedi saat hanya ada kesunyian di ruang rapat. Pun peserta rapat lainnya turut menanti antusiasme dari sang pimpinan yang sedari tadi hanya membisu, melamun berbalut hening. Tak seperti biasanya yang selalu memaki-maki. Aneh.
“Pak Jordan?!”
“Oh?!” Kagetnya. Menurunkan dagu dari tangan yang menopang, “apa? Gimana?” Jordan kebingunan, seolah baru tersadar dari mimpi panjangnya.
Dalam hati, pria berbalut kemeja hitam itu merutuk diri atas pemilihan waktu yang salah untuk menghubungi Rayden, sedang ia hendak melakukan rapat penting. Membuatnya tak fokus. Pikirannya masih beradu dengan semua kenyataan yang tersemat dari Rayden.
“Cover, Bang!” Bara sudah mulai kesal atas sikap bos-nya, “masalah cover Lelaki Hujan memilih warna merah yang terkesan bukan gayanya. Warna merah bercampur hitam pekat untul novel roman rasanya sangat mencekam, mending kalau ada mawarnya. Disini desainnya lebih ke darah yang berceceran di lantai hitam. Gimana menurut, Bapak Jordan Fadhil?”
“Biarin aja! Namanya mawar kan merah” jawabnya ketus yang hanya disambut pasrah oleh tim.
“Ok. Berarti siap cetak ya, Pak. Tanpa ada tanda tangan khusus seperti edisi terbatas sebelumnya, bukan?”.
“Tanda tangan Penulis itu bukan sembarang tanda tangan. Mahal tau?! Pokoknya kerjakan apa maunya dia. Selesai, ya” Jordan bangkit dari tempat duduk, mengambil jas yang tersampir di punggung kursi. Ia sudah dirundung rasa gelisah luar biasa.
“Terus.. soal buku ‘Moonlight’ yang akan diadaptasi menjadi web series milik Lelaki Hujan---” Kalimat Bara menghentikan langkah Jordan “penanggung jawabnya menghubungi, mereka ingin mengubah karakter Bulan lebih tersakiti agar lebih mendramatisir.”
“Nggak bisa!” Bentak Jordan tiba-tiba mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Sorot matanya tajam dan kejam sekaligus menyebalkan, namun tetap pada tingkat ketampanan paripurnanya, “Web Series atau sinetron, sih? Kok pakai tersakiti segala! Kalau mereka mengubahnya... batalkan saja kontrak itu!”
Seluruh pasang mata membulat tak percaya. Bara langsung mewakili, “Rugi dong, Bang kalau dibatalkan.”
“Bukankah kita harus menghubungi Lelaki Hujan dulu untuk membicarakannya bersama sebelum mengambil keputusan.” Staf lain kembali memberikan jalan tengah. Pria muda berkaca mata itu berucap sangat sopan, takut-takut terkena sumpah serapah dari Jordan.
“Akh! Suruh siapa dia sembunyi mulu. Sekali-kali datang kemari gitu, loh. Kita jadi pusing kalau mau menjalin komunikasi jarak jauh terus. Mana penulis itu banyak maunya lagi. Sok misterius banget. Lama-lama gue lacak juga tu orang. Dari rekening, gue cek KTP-nya baru...”
“Baru apa, Bara?” Nada berat itu mengusik telinga Bara. Menelisik penuh takut saat menemukan tatapan dingin Jordan.
“Baru... baru..” Bara nampak kesulitan mencari kalimat, “b-baru tau kalau selama ini saya yang kirimkan royalti ke rekeningnya” Ia berucap asal-asalan, lalu pasrah, “seenggaknya muncullah sekali di depan kita aja, nggak perlu di publik. Lewat video call, deh.”
Jordan menarik satu napas begitu berat. Melipat kedua tangan di depan d**a, tanda ia akan bersiap membantai dengan mulut pedasnya, “Biarin aja. Mau Lelaki Hujan muncul ke publik kek atau nggak. Itu bukan urusan kita. Toh kalian bisa makan karena dia, kok. Ketika dia muncul, mau itu dihadapan kita ataupun di depan publik, belum tentu penjualan bukunya bisa sebesar ini dan sesukses ini!” Selama Jordan bertukas, semuanya sibuk menyimak dengan baik, “cukup dengan citra misteriusnya sudah membuat banyak orang tertarik. Paham?”
“Ya, Bang.” Jawab yang lain kompak.
Jordan meninggalkan ruangan tanpa permisi. Ia berjalan gagah sembari menenteng blazer putih menuju basement gedung. Sesekali melirik arloji di tangan kanan, menaiki lift kemudian menekan remot mobil dari kejauhan saat sudah sampai di tempat parkir.
Jordan membuka pintu bagian kanan depan mobil sedan mewah pabrikan Eropa itu. Menutupnya pelan. Alih-alih segara menyalakan mesin, ia terdiam sejenak sembari memegang roda kemudi. Gelisahnya semakin menjadi. Bagaimana bisa ia dengan mudahnya menjatuhkan harga diri perusahaan di hadapan orang yang tak dikenal seperti Kalila tanpa tau alasan dibalik semuanya? Jordan berdecak kesal karena dirinya menjadi satu-satunya yang tak paham atas situasi ini.
Hhhh.. Napasnya melena cukup kasar, “Rayden, Kalila. Kenapa mereka... akhh!” Jordan menggaruk belakang kepala, “kenapa gue harus berurusan sama mereka? Apalagi Kalila?”
“Selama ini gue nurutin permintaan Rayden dengan dalil balas budi atas kebaikan ayahnya membantu nyokap gue buat membesarkan perusahaan, tapi kenapa? Kenapa Kalila? Kenapa gue harus menjadi jembatan diantara kehidupan mereka? Wahhh!” Ia bersandar di punggung jok seraya mengusap kasar wajah tampannya.
Sebab, dirinya tak pernah tertarik untuk mencampuri urusan siapapun, terlebih persoalan rumah tangga. Disisi lain, ia juga memiliki keinginan untuk membalas kebaikan Ayah Rayden yang pada akhirnya urung dilakukan demi menjaga eksistensi. Bagi pria dingin nan ketus itu, image adalah hal yang paling utama.
Lantas ia meraih ponsel dari saku celana. Ingin memeriksa pesan yang sejak tadi mendentingkan suaranya. Kemudian menemukan sebuah notifikasi i********: yang sangat banyak. Jordan bahkan tak pernah memposting wajah tampannya secara keseluruhan. Hanya side pose yang selalu terlihat, serta OOTD (outfit of the day) yang selalu nampak samping, namun banyak kaum hawa yang sibuk mencecar kolom komentar.
Beralih ke beranda, menemukan postingan Rayden bersama motor balapnya yang di sentuhnya sebanyak dua kali hingga menyalakan warna merah di tanda hati. Menggulir ke bawah, mendapati lagi postingan terbaru Sang Pembalap yang menampakkan foto makanan. Hasil gambarnya juga unik dan estetik. Namun ada keterangan yang lebih menarik perhatian. ‘Thanks for the dinner. Thanks for always supporting me however i’am[1]’ dan diakhiri tanda hati.
“Jangan-jangan mereka CLBK?” Ceplos Jordan sembari mengingat ucapan nene yang memberitahunya bahwa Kalila sedang tugas di Portugal. “Astaghfirullah!” Sadarnya “Kenapa gue jadi ikutan ngurusin mereka, sih. Udah! Gue kan udah mengakhiri perjanjian ini. Nggak ada urusan lagi gue sama mereka”.
Jordan buru-buru menggulir layar ponselnya ke bawah yang justru membuatnya semakin menganga. Sebuah postingan bergambar siluet seseorang dibalik hoodie saat senja milik akun @lelakihujan dengan caption literasi atas sebuah pertemuan mengundang komentar dari sebuah akun yang terasa tak asing baginya.
Dunia adalah tempat pertemuan. Titik temu dari segala dimensi. Seperti senja yang selalu dipertemukan antara siang dan malam. Pun Si Tajam, duri yang selalu bertemu dalam satu tangkai dengan mawar yang selalu dipuja, sedang ia dihindari.
@k_lilashaf: Oy! Cetak lagi novel ‘Duri Mawar’-nya dong, tanda tangannya juga. Gue nggak dapet nih. Udah ujan-ujan naik ojek, bechek. Lupa ngga bawa duit pula. Kurang ngenes apalagi woy!
Jordan menggeleng keheranan. Ia memastikan asumsinya tak salah dengan membuka akun tersebut namun ternyata benar adanya. Agaknya kini menjadi semakin kehabisan rasa sabar. Entah apa yang membuatnya marah, “Wah! Nggak sopan banget nih anak sama penulis besar!”