Portugal dikenal memilki nuansa pantai nan cantik di daratan Eropa. Portugal bagian selatan pusatnya. Bicara soal laut dan pantai di negeri tersebut tak kan pernah ada habisnya. Di wilayah Portimao sendiri punya beberapa pantai yang wajib dijadikan destinasi liburan para wisatawan.
Musim gugur membuat pemandangan di sekitar pantai, tepatnya di bagian tebing berumput itu menguning cantik. Angin semakin terasa sejuk meski sedikit lebih dingin, namun tetap bersahabat karena iklim sedang yang dimiliki negeri tersebut.
Kalila dengan dress putih dilengkapi cardigan sweater berwarna abu, serta hijab merahnya. Menjejaki hamparan pasir emas bersama sandal tali dengan bunga besar di tengahnya, sederhana dan cantik. Hembusan angin menyiur melambai di setiap langkahnya, membuat pakaiannya sedikit berkibar. Berhubung masih sangat pagi, pantai ini masih nyata hening. Hanya deburan ombak yang menemani.
Perempuan berkerudung merah itu memejam sejenak. Mendekap tubuh mungilnya sendiri agar terasa lebih hangat. Menarik udara sejuk melalui organ pernapasan dan mengeluarkannya begitu perlahan, lalu membuka mata. Tenang dan hangat.
Praia do Vaou merupakan pantai indah yang sering diabaikan dua pantai tetangga yang lebih terkenal di kalangan wisatawan. Pun letaknya diantara mereka, Pantai Praia da Rocha dan Alvor yang lebih bersahabat dengan kegiatan olahraga air.
Praia do Vau memilki hamparan pasir cantik berawarna coklat kekuningan yang memikat dengan tebing oranye yang membantu melindungi pantai dari angin sehingga perairannya tenang dan ramah anak-anak.
Ia lantas tertarik, mengambil posisi setengah duduk untuk meraih pasir-pasir emas yang memikat. Diambilnya dengan satu tangan dan muncullah sebuah air disana. Mengingatkannya akan sebuah kisah.
Kalila menarik kedua sudut bibirnya lembut, “Kini aku tersadar, bahwa semua ini hanyalah jalan buatan yang nantinya akan selalu datang menuju akhir. Pergilah melalui jalanmu sendiri dan jangan mengikuti yang lain. Berkelana, akan membuat musafir semakin haus. Melewati padang merah, kita akan menemukan oasis.”
“Untuk apa mencari oasis di tengah pantai?”
Kalila terhenyak saat mendengar suara bernada rendah yang memecah angannya. Ia lantas berdiri dan berbalik. Menemukan Rayden dengan kaos oblong putih yang dirangkap dengan flanel kotak-kotak berwarna biru gradasi, celana pendek cream, serta rambut medium yang kece abis, namun tak selaras dengan alas kakinya.
Rayden sangat menggemari sandal jepit karet dari merek kenamaan berlogo angsa yang selalu dibawanya setiap keliling dunia. Pria itu menghampiri. Mensejajarkan kakinya dengan milik Kalila.
“Apapun itu.. thanks, udah selalu menjadi penggemar setia Papa” Lanjut Rayden, lalu menatap Kalila yang jauh lebih pendek darinya, “Paman Gembala.”
“Aku tau, ‘Oasis’ adalah buku dongeng karya Papa yang paling kamu suka,” sambung Rayden dengan vokal husky, lembut yang khas. Menatap Kalila dengan tatapan manis, “aku juga tau kalau kamu pasti akan datang ke pantai ini.”
Alih-alih mengindahkan kalimat-kalimat itu, Kalila justru memutar bola matanya malas, “Aku harap ini menjadi pertemuan yang tak bekepanjangan dan tak berkelanjutan nantinya, jadi aku datang. Kak Rayden mau ngomong apa?”
“Makasih banyak, ya buat dinner-nya semalam.” tutur Rayden dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ia tak menyangka bila Kalila masih mengingat jelas tentang dirinya yang menginginkan penuh kasih sayang ibu. Sehingga ketika melihat orang lain mendapatkannya, ia akan merasa jatuh dan tak berguna untuk siapapun. Terima kasih sudah menghiburku—gumamnya dalam batin.
“Ah!” Kalila menepuk dahinya, “salah jalan gue. Gara-gara asal ceplos, gue jadi harus bayar semua tagihan makannya, kan. Ampe nggak doyan makan gue semalem!” Rengeknya, “balikin ke gue duitnya?!”
“Enak aja! Kan lo sendiri yang bilang mau traktir buat ngerayain rekor baru gue.” Rayden mengangkat sebelah alisnya.
“Hadeuh,” Kalila mendengus kasar, “ok.. ok.. anggap aja ini tanda persahabatan yang udah lama nggak ketemu” Ia mengoceh sendiri yang disambut tawa kecil tanpa suara dari Rayden, “nggak mungkin dong cuma mau ngomong itu doa---Hatchih!” Belum tamat ucapannya, Kalila bersin akibat angin dingin pantai di pagi hari.
Rayden buru-buru melepas kemeja flanelnya sangat tanggap. Menyisakan kaos putih polos di tubuhnya yang super kekar. Ia tau betul jika mantan istrinya itu memiliki alergi terhadap cuaca. Lantas mengenakan ke bahu Kalila, namun ditolak mentah-mentah olehnya.
“Nggak usah. Aku bilang aku nggak mau pertemuan ini berkelanjutan,” ketus Kalila menahan kemeja itu, sebab ia tak ingin mengembalikannya, “cepetan mau ngomong apa? Waktuku nggak banyak!”
Satu tarikan napas berat itu melena. Rayden mengungkapkan apa yang selama ini menyesakkan hatinya, “Aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi meski aku berusaha keras untuk menghilang dan bahkan kamu mungkin juga berpikiran hal yang sama. Aku minta maaf, Kal. Maaf aku merenggut masa muda kamu. Aku tak seharusnya mengambil keputusan sepihak, keputusan yang sangat bod...”
“Yang udah.. ya udah, lah,” Kalila memutus kalimatnya jengah. Menatap Rayden yang lebih tinggi, “nggak usah mengungkit-ungkit lagi. Toh kita nggak bisa kembali lagi ke masa itu.”
“Kamu memang berhak marah dan benci sama aku.”
“Nggak. Aku nggak mau membenarkan hak-hak itu,” Ucap Kalila tegas sambil menatap deburan ombak di pantai yang terpecah oleh tebing, “aku nggak benci siapapun. Sebab membenci seseorang hanya akan membuat hatimu semakin bernanah dan tak kan bisa mengubah keadaan,” Ia lantas kembali menatap tajam Rayden, “aku akan tetap menganggap Kak Rayden sebagai temanku, karena tidak bisa dipungkiri kalau kita memang pernah bersama sebagai kakak-adik dan saling mencintai sebagai pasangan suami-istri.”
Entah mengapa kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Kalila membuat Rayden terenyuh. Hidungnya mulai pengar. Indera penglihat itu nyaris mengeluarkan kristal air yang sudah tersangkut di pelupuk mata. Bibirnya bergetar, menyemai rasa bersalah.
Ia tak menyangka bilamana Kalila sudah berangsur dewasa. Tak hanya penampilan hijabnya yang berubah, mantan istrinya itu sudah jauh lebih bijak dan dewasa. Satu yang tak pernah berubah, Kalila tetaplah wanita paling luas hatinya dengan kesabaran yang jarang dimiliki siapapun.
“Berhentilah hidup dalam rasa bersalah. Aku baik-baik aja kok sampai saat ini” Kalila menarik senyum manisnya “Kak.. masa itu yang salah bukan cuma Kak Rayden. Aku sebagai istri juga salah karena membiarkan semua ini terjadi. Aku tau permasalahan Kak Rayden dengan Mama Puput dan kakak-kakak, tapi aku hanya bisa diam dengan alasan tak ingin mencampuri. Seharusnya aku tetap menguatkan Kak Rayden dan bukannya membiarkan setan membuka pintu penuh sesal”.
Kalila menggeleng heran saat mengingat dirinya yang sangat gelap, “Mungkin karena belum dewasa kali, ya.”
“Ternyata hijab membuatmu menjadi lebih baik, ya.” Rayden terkesan.
Kalila melipat kedua tangan di depan d**a, “Allah yang nyuruh aku pake hijab agar lebih pantas didekatkan dengan segala kebaikan.”
“Nini sama Ochan sehat, kan?”
“Alhamdulillah,” Kalila berbalik, “seperti apa yang udah aku bilang di awal. Aku nggak mau memperpanjang. Semoga Kak Rayden bisa meraih semua mimpinya termasuk untuk mendapatkan pelukan mama.” Perempuan berkerudung merah itu melangkah pergi.
“Ah!” Baru menjejal beberapa langkah, Kalila mendadak mengerem langkah “Aku lupa” Ia berjalan mendekat ke arah Rayden lagi, “aku lupa memberitahu apa maksud kedatanganku selain karena kerjaan. Jadi jangan salah paham!”
Pun pria tampan itu menyipit, sementara Kalila mengambil ponsel dari saku. Membuka surel dan menunjukkannya tepat di hadapan Rayden “Ini ulah Kak Rayden, kan?” Keteduhan di mata pria itu beriak. “Tim Paper Pedia Publishing sampai CEO-nya, Jordan Fadhil. Itu ada campur tangan Kak Rayden, kan?”.
Rayden terhenyak. Matanya melebar seolah berada di atmosfer lain.