“Tim Paper Pedia Publishing sampai CEO-nya, Jordan Fadhil. Itu ada campur tangan Kak Rayden, kan?”
“K-kamu tau semuanya?” kaget Rayden nyaris kehilangan kata-katanya. Ia tak menyangka bilamana ini akan terungkap sebelum waktunya.
Kalila mengangguk tegas, “Awalnya aku nggak tau dan nggak peduli. Tapi E-mail kelima dan selanjutnya aku mulai curiga. Lagi, orang yang sangat tau keinginan kuatku untuk menjadi seorang penulis itu cuma Kak Rayden dan orang yang sepanjang hidupnya terjebak dalam rasa bersalah sehingga dia rela melakukan apapun itu... cuma Kak Rayden!”
Kalimat demi kalimat yang baru saja di dengar Rayden bagai tombak yang menusuk tepat di jantungnya. Ia hanya bisa mematung seolah langit sedang memurungkan dunianya dalam kegelapan. Terkutuk dalam sebuah jalan hidup yang sesat.
“Tapi itu impianmu, Kal. Aku mau kamu melanjutkan hidup dengan keadaan yang jauh lebih baik,” tutur Rayden penuh sesal, “masa depanmu hilang karena aku! Mana bisa aku lepas dari belenggu rasa bersalah itu?!”
“Tujuanku datang hanyalah untuk memberitahu bahwa impianku adalah impianku. Tak peduli seberapa berat aku meraihnya, Kak Rayden nggak punya kuasa untuk membuka jalan instan untukku,” Kalila bertandas tegas. Sorot matanya garang, “dulu kita memang satu. Tapi sekarang hiduplah dengan cara kita masing-masing, tanpa perlu ikut campur.” Itu merupakan kalimat akhir dari Kalila hingga ia memilih untuk benar-benar meninggalkan keindahan pantai bersama sang pangeran yang masih terpaku di tempat.
Rayden terus menatap punggung mungil Kalila sampai benar-benar menghilang “Kalau nggak boleh ikut campur, kenapa semalem kamu berusaha buat menghibur aku dengan makan malam?” Ia bertanya-tanya, sesekali angin menyapu rambut-rambutnya “Apa aku nggak boleh melakukan hal yang sama?”.
Rayden menarik napasnya perlahan dan mengeluarkannya juga perlahan. Embun yang dihasilkan menggambarkan betapa abstrak pikirannya saat ini. Sambil menatap birunya lautan ia mengenang masa lalu.
Membayang saat dirinya dan Kalila mengunjungi Pantai di Nusa Tenggara Barat setelah pernikahan tepat di liburan musim balap. Pengantin baru itu menikmati dunianya. Berlari dan bermain dalam balutan angin pantai yang berhembus mesra. Keduanya sama-sama mengenakan pakaian putih senada. Tertawa penuh kebahagiaan. Tangan-tangan itu tak pernah saling merenggang.
“Kejar aku kalau bisa!” Kalila menjulurkan lidahnya yang disambut antusias oleh sang suami, Rayden. Keduanya saling keja-kejaran di pinggir pantai dan berakhir pada Kalila yang jatuh di pelukan Rayden. Sungguh manis masa itu. Masa-masa yang sudah tak bisa terulang kembali.
Rayden hanya bisa tersenyum pasrah melihat memori tersebut. Merenungi kebersamaan yang sangat dirindukannya. Ia bahkan tak pernah menemukan kenyamanan dengan perempuan manapun selain bersamanya, bersama Kalila.
^^^
Pukul 05:00 waktu Portugal di Bandara Internasional Faro yang terletak di distrik Faro—merupakan pusat pemerintahan Algarve, tepatnya di terminal keberangkatan yang cukup ramai di luar dugaan.
Rasheed dan Bambang sebagai lelaki mendorong troli yang berisi beberapa koper—tak banyak. Mereka segera melakukan check-in sebelum jam keberangkatan. Kemudian duduk di atas bangku yang tersedia di dalam ruangan menanti jam keberangkatan atau dalam istilah penerbangan disebut boarding.
Kalila yang alergi dengan udara dingin, tak hentinya bersin-bersin. Sembari mengenakan tudung hoodie, perempuan berhijab itu asyik membuka ponsel. Memberi kabar pada Nene. Memberi kabar adalah hal yang nampak sepele, namun sarat makna. Sebab manusia tak pernah tau apa yang akan terjadi dalam hidup.
“Nih, buat Mbak Helen,” Rasheed membagikan beberapa cup kopi hangat secara bergantian, “dan ini buat Kalila,” Kalila mendongak saat menemukan satu cup matcha hangat mendarat dihadapnya. Alih-alih langsung meraihnya, ia hanya membeku, “buruan ambil!”
“Oh?” Kalila tertawa lalu mengambilnya. Memutar bola mata, memperhatikan minuman rekan lainnya yang ternyata berbeda, “kok Kak Rasheed tau kalau aku nggak suka kopi?”.
Rasheed mengambil tempat, tepat disamping Kalila, “Dikasih tau sama Rayden.”
Kalila mengerjap saat tengah menenguk matcha, lalu tersedak. Uhuk.. uhuk.
“Kenapa?” Helen ikut menyambung. Pun Rasheed dan Bambang juga sempat panik.
“Nggak... nggak apa-apa.” sergah Kalila.
“Kepanasan ya, matcha-nya?” tanya Rasheed yang disambut gelengan kepala Kalila, “Syukurlah.. pelan-pelan minumnya.”
Kalila menarik satu napas perlahan sembari membuang pikiran yang hobi sekali mengajaknya bergelut. Mau bagaimanapun juga, ini sudah bagian dari resiko pekerjaan yang Kalila ambil. Jika memang ditakdirkan bertemu lagi dengan Rayden, Kalila siap namun jangan sampai lepas dari lingkaran pekerjaan. Pun perempuan itu menyeruput minumannya lagi perlahan. Mengalirkan kehangatan di seluruh tubuhnya.
Sebuah informasi bahwa penerbangan menuju Indonesia akan segera berangkat. Para penumpang bersiap dengan barang mereka menuju belalai gajah menuju burung besi. Kegaduhan sempat terjadi diantara tim karena Bambang tak kunjung tiba dari toilet, namun itu tak berlangsung lama sampai Rasheed menjemput rekan se-timnya itu.
^^^
Seseorang keluar dari mobil tepat di depan pintu masuk Bandara Internasional Faro. Sepatu converse itu menuntunnya berlari super kencang membelah keramaian. Sempat berhenti sejenak, menengok kanan dan kiri, pria berkenakan hoodie hitam yang dibalut flanel merah kotak-kotak itu berlari lagi sekuat tenaga.
Sesekali ia bertanya pada petugas mengenai terminal keberangkatan. Rambut messy-nya itu beterbangan seiring dengan langkah kakinya yang berpacu semakin cepat dan gesit. Jantungnya berdetak di atas rata-rata.
Satu pandangan membuat langkahnya semakin menggila. Ia berlari sekuat tenaga sebelum sosok mungil bertudung itu menghilang dan dirinya akan menyesal. Hap! Satu pergelangan berhasil digenggamnya erat, hingga perempuan itu berhasil membalikkan badannya secara spontan dan terkejut. Matanya membulat.
“Kak Rayden?” Ucap Kalila nyaris tanpa suara.
Dengan napas yang masih tersengal-sengal. Dadanya masih tampak naik turun, ia melepas genggaman tangannya perlahan. Masih dihadiahi tatapan bingung Kalila, Rayden memberikan sebuah papper bag berdesain vintage padanya.
“Buat di jalan.”
Kalila menerimanya dengan baik, sebab ia masih terkejut dengan situasi tak terduga saat ini. Pasalnya ia memang tak pernah berpikiran jika Rayden akan menyusulnya. Toh pria itu juga memiliki kesibukan yang sangat padat.
“Kalila!” Seru Helen dari kejauhan. Pun Kalila menoleh, “buruan!”
“Aku berangkat dulu, ya!” tutur gadis itu pada Rayden begitu lembut, “makasih.”
Rayden mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Kalila begitu lembut dan menenangkan. Sontak itu membuat Kalila menciut. Perasaan aneh mengaliri setiap aliran darah. Ia terpaku, mengingat inilah kebiasaan Rayden sebelum ia berangkat balapan, sejak sebelum mereka menikah sampai menikah sekalipun. Bagaimanapun juga, Pangeran Arab itu selalu memberikannya banyak kehangatan sedari kecil.
“Hati-hati, ya!” Ucap Rayden. Suaranya terdengar sangat lembut.
Perlahan dan penuh keraguan, Kalila mengangguk, “Uhmm”
Kemudian ia berjalan meninggalkan Rayden yang masih setia di tempat. Mengawasinya sampai benar-benar menghilang. Pun sesekali Kalila menoleh kebelakang, membuat mata mereka saling bertatap sendu. Senyum dan lambaian tangan Rayden membuat perpisahan itu terasa semakin berbekas.