18. Menggali Kenangan

1284 Kata
Turkish Airline berangkat tepat waktu pada pukul 06:00 waktu Portugal. Nantinya akan melakukan dua kali transit. Pertama di ibu kota Portugal, Lisbon kemudian Istanbul, Turki. Kalila masih belum bisa mencerna perasaannya dengan baik. Dan masih meyakini bahwa Rayden masihlah pria baik penuh kasih sayang. Itu terus membuatnya terjerambab pada masa lalu. Ia lantas membuka papper bag pemberian Rayden yang ternyata berisikan cookies. Ya, biskuit bulat yang terdapat taburan choco chip di atasnya. Nampak biasa, bukan? Namun terselip kenangan manis di masa lalu antara dua insan, Kalila dan Rayden. Itu merupakan biskuit yang selalu diinginkan Kalila kecil setiap menemani Rayden remaja latihan balap motor. “Males, ah nemenin doang. Lila mau main sama Nene aja, ah.” “Nanti kakak beliin cookies deh, janji.” “Bener? Janji?” “Uhmm.. Janji.” Kalila sepuluh tahun dan Rayden lima belas tahun saling mengaitkan kelingking masing-masing untuk mengikat janji. Hingga akhirnya Kalila mau menemani Rayden sampai latihan balapnya selesai. Selama ini Rayden hanya didampingi sang ayah. Ingin rasanya bisa didampingi seorang ibu ataupun kakak perempuannya. Namun mereka tak pernah menganggap Rayden ada. Hingga kehadiran Kalila merubah semuanya. Kalila terkekeh mengingat begitu banyak kenangan manis yang jauh lebih mendominasi dari pahitnya kebersamaan mereka. Sudah 5 tahun ia berusaha menghapus jejak, nyatanya setiap langkah selalu berhubungan dengan mantannya itu meski secara tak langsung. Entah dari televisi, berita daring, ataupun dalam pekerjaan. Tugasnya sebagai editor media olahraga membuatnya sering menemukan setiap kabar dari Rayden. Meski bertemu secara langsung membuatnya lebih resah dan dilema. Tapi sekali lagi, Kalila adalah perempuan yang teguh, tak pernah mau menyesali pilihannya. ^^^ Nini menjejakki salah satu gedung besar di sekitar SCBD setelah keluar dari taksi daring. Memasuki pintu masuk seraya mendapat pemeriksaan dari satpam yang pada akhirnya memperbolehkannya masuk. Namun bukan berarti ia bisa masuk begitu saja. Wanita berkepala tujuh itu masih kebingungan melihat luasnya lobby sedang dirinya hanya ingin menemui seorang. “Permisi, Nek. Ada yang bisa kami bantu?” Seorang perempuan petugas recepcionist menghampiri. “Wah jadi ini benar Penerbit Paper Pedia? Jadi... saya teh mau ketemu sama Jordan. Cucu saya.” “Oh, Pak Jordan,” Katanya, “apa nenek sudah membuat janji sebelumnya?” Tanyanya memastikan yang disambut gelengan kepala dari Eyang, “jadi, jika ada kepentingan dengan staf disini, terutama pimpinan, prosedurnya memang harus ada perjanjian sebelumnya.” “Tapi dia minta saya datang kemari, loh!” Nini merasa tersinggung. Pasalnya ia bukanlah orang jahat. Bara menghampiri nini, “Nek, saya asisten Pak Jordan. Coba saya hubungi dulu, ya. Karena setau saya, Pak Jordan ada rapat.” “Memangnya Nenek nggak punya HP atau menghubungi dulu lewat apa gitu?” “HP saya ketinggalan.” “Ooh! Ini dia!” Serunya saat ada panggilan balik dari Jordan. Pria berbalutkan kemeja garis-garis super rapi itu buru-buru menjawab panggilan tersebut sembari menjelaskan, bahkan sebelum Bara menyelesaikan kalimat, Jordan sudah memutuskan panggilan sepihak, seolah sudah memahami situasinya. Tak lebih dari lima menit. Pria tampan berparas oriental yang super paripurna dengan setelan blazer warna hijau army itu berlari kecil menghampiri nini. Mengasihinya layaknya pada nenek sendiri. Mulai dari mencium tangan dengan sopan hingga menuntunnya ke ruangan. Itu menjadi pemandangan tak biasa bagi Bara dan para petugas disana. Dibalik es kutub selatan, masih ada secuil kehangatan disana. ^^^ Nini mengeluarkan isian dari dalam keranjang. Rantang-rantang itu dibukanya, menampilkan banyak makanan yang dibawakan wanita tua itu pada Jordan. Mulai dari Cuanki dan Baso Aci yang dipindahkan dari dalam plastik. Paru goreng, lalapan serta aneka sambal dan tentunya nasi uduk yang super gurih. “Woahh?!” Jordan yang baru saja melepas blazer itu mengerjap saat melihat banyak makanan di atas meja, “banyak banget!” Ia beralih ke dispenser untuk membuatkan Nene teh hangat. Jordan kembali bersama minuman. Mengambil satu tempat duduk dihadapannya, “tadi kenapa nggak telepon aku dulu, sih?” Nini tertawa seraya mengambilkan nasi untuk Jordan, “Abisnya eksiret” Jordan mengerutkan kening “Excited[1] kali, Ni.” “Ya itulah pokoknya,” Wanita tua berhijab itu meletakkan piring di depan Jordan, “makan!” “Hatur nuhun, Nini” Kata Pria bermata hazel itu. Ia lantas mencicipi kuah Cuanki sembari mengerjap saat menyadari rasa yang tak pernah berubah, “Wah?!”. Kemudian menjajal makanan lainnya. Ia makan sangat lahap. Pun nini mengamatinya dengan suka cita. “Nini nggak makan?” tanya Jordan disela aktifitas makannya. “Henteu. Udah banyak makan.” “Terus.. warungnya nggak buka?” “Nggak. Kalau nini lagi belanja mah warungnya tutup. Semua langganan juga tau.” “Yaa Allah.. kalau mau belanja hubungin aku aja. Nanti biar asisten aku yang belanjain sesuai catatan Nene. Nggak usah capek-capek.” “Emangnya nggak ganggu kerjaan asisten kamu?” “Heleh.. dia nggak pernah ada kerjaan. Bosnya aja kemana-mana ngurus sendiri.” Nini menyeruput teh perlahan, “Ngomong-ngomong, apa kamu akan melanjutkan keinginan Rayden buat bantu Kalila jadi penulis?” “Nggak!” Jawabnya tiba-tiba ketus, masih fokus pada makanannya, “aku juga bodoh banget karena nggak bertanya alasannya. Langsung eksekusi aja gitu. Kalau gini kan sama aja aku jadi mencampuri masalah rumah tangga Rayden dan Kalila. Kita nggak akan pernah tau ke depannya, kalau sampai ada gosip yang nggak berdasar kan bahaya.” “Iya sih. Terus soal utang budi keluarga kamu dengan Ayah Rayden bagaimana?” “Urusan nanti aja. Asalkan nggak ada kaitan sama mereka berdua, deh.” Jordan meneguk air putih sebelum melanjutkan makannya. Wanita tua itu terus memperhatikan pergerakan Jordan, “Kalau dipikir-pikir, kamu tuh mirip seseorang, deh.” “Mirip siapa? Jangan bilang mirip Jordan kecil, Si Anak Pemarah itu” Ia tak mau banyak menghiraukan gurauan nini. “Aldebaran. Kamu mirip dia!” Ceplos Nene menyunggingkan senyuman luas yang dihadiahi tatapan sinis Jordan, kemudian memutar bola matanya malas, “Itu loh yang ada di sinetron”. “Haduh, Ne. Please, deh. Nggak usah halu” Jordan menggeleng keheranan. “Yang mirip teh bukan muka kamu, tapi gaya kamu. Dingin-dingin keren gimana gitu.” Nene bersorak kegirangan lengkap dengan aksen sundanya yang ketal. Jordan mendengus kasar. Mengusap dadanya pelan, “Astaghfirullah, kenapa nenek ama cucu sama aja, yah.. stay calm Jor. Lo harus sabar ngadepin orang tua.” Kemudian memilih melanjutkan aktifitas makannya. “Oh iya” Tiba-tiba Jordan teringat sesuatu. Sembari mengadu mulutnya dengan makanan buatan nini, pria itu kembali bertanya, “Kalila tugas ke Portugal pasti ketemu Rayden. Nggak ada perang dunia gitu? Atau memang Kalila sok profesional?” Nini menarik satu napas begitu berat dan mengeluarkannya pelan, “Itu juga yang bikin nini gelisah. Sejak pernikahan mereka bahkan sampai mereka berpisahpun, nini nggak pernah mau ikut campur, karena Kalila sendiri nggak pernah mengeluh apa-apa. Meski nini tau Kalila memendam itu sendiri.” “Kalila tertutup sekali sejak perpisahan itu. Nini juga nggak mau nanya banyak, takut kehidupannya yang sudah stabil seperti air dalam baskom, justru kembali beriak. Tapi Nene cuma berpesan untuk tidak pernah membenci siapapun. Lebih baik menghindar, jika memang hati belum siap menerima.” Jordan mengangguk paham, “Pasti nggak mudah buat Kalila, bahkan untuk Rayden sendiri.” “Eh! Memangnya perasaan kamu gimana setelah ketemu dua orang di waktu yang berbeda?” Tanya Nini lagi saat teringat sesuatu yang disambut cuek oleh Jordan, “Kalila. Kamu ketemu dia di dua waktu yang berbeda, kan?” Lagi-lagi ia harus mengolah tingkat kesabarannya di hadapan wanita tua berbalut hijab tersebut, “Nini.. pertama ketemu Kalila udah lama banget. Kalila bahkan masih 5 tahun, mungkin. Ya pokoknya biasa aja, lah. Nggak ada kesan tersendiri.” Jordan semakin malas. “Yakin?” “Ya iya, lah. Yakin 100%. Rasanya ya kaya ketemu anak kecil yang beranjak dewasa!” Jawabnya ketus dan terdengar sangat penuh penekanan. Pun Nene hanya mengangguk-angguk paham, meski ada harapan lain tersirat. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN