19. The Day After

1269 Kata
Sebuah sepatu olahraga berwarna hitam berpadu dengan abu itu melangkah cepat seiring dengan pergerakan treadmill yang melaju. Kaos tak berlengan itu membuat lengan super kekar milik Rayden semakin nyata. Headband juga mengikat di kepalanya. Keringat terus bercucuran. Sebagai seorang atlit, menjaga performa adalah hal prioritas. Ia selalu melakukan olahraga untuk meningkatkan stamina sebelum waktu balap tiba, terlebih tersisa 2 seri akhir menanti. Sembari berlari kecil di atas alat olahraga tersebut, ia berkutat pada ponsel, membaca sebuah tulisan yang terpampang di sebuah blog pribadi milik sang mantan. Tulisan yang sejatinya sudah pernah dibacanya 5 tahun lalu. Entah mengapa pertemuan singkatnya beberapa waktu lalu membua Rayden tertarik mengulas semua tentang dia. Tentang dia yang pernah mengisi hari-harinya dengan penuh cinta. Sebelum Rayden tersesat. Untuk hati yang salah arah. Sepanjang lebih dari 365 hari, kita terbiasa melangkah seirama. Kau ajarkan aku tuk mencinta, namun aku tercekat saat tiba-tiba kau melangkah ke arah yang berbeda. Kau putuskan semuanya atas kehendakmu. Tanpa bertanya. Aku bodoh. Mengapa kubiarkan kau membuka pintu sesal yang semestinya menjadi kebahagiaan syaiton. Malam ini, kututup mimpi akan dirimu. Kuhentikan kisah bersamamu. Pertemuan ini nyatanya hanya untuk berpisah, begitulah kodratnya. Bagaimana dengan mencari cinta yang lain? Aku tak lagi memikirkannya. Aku takut terluka. Aku takut kehilangan diriku sendiri. Aku takut untuk mencinta. Aku terlalu takut untuk memulai, sebab semuanya bisa saja berakhir. Seperti setiap kisah yang Lelaki Hujan tuliskan, setiap kisah selalu mengandung prolog dan epilog. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan baik. Dan yang terpenting tanpa bayangmu. *Posted by : Lilaaa (k_lilaaashafiya@blogspot.com) Membisu Rayden dalam genangan duka. Semua rasa bersalah dalam hidupnya memang akibat pintu sesal yang telah ia buka. Kalimat-kalimat yang pernah dituliskan Kalila setelah perpisahan lima tahun lalu membuatnya semakin bergetar. Sebab, rasa itu sepenuhnya tak pernah hilang, meski ia mencoba melupakan, waktu memudarkan, namun semua tak selaras untuk mengajak hati melupa. Pikiran-pikiran abu itu terus membuatnya sengsara. Ia lantas menekan sebuah tombol untuk mempercepat gerakan treadmill. Keringatnya semakin deras saat kedua kakinya terus beradu cepat. Kembali membuka ponsel dan menemukan kebersamaan Rayden, Adam dan para tim jurnalis ketika makan malam. Ia memperbesar bagian gambar Kalila. “Rayden, 1 jam lagi ada meeting!” seru Adam tiba-tiba membuat Rayden kehilangan kendali dan gubrak!. Ia meringis kesakitan, tersungkur ke lantai. Alih-alih membantu Rayden, Adam justru gagal fokus dengan apa yang ditampilkan layar ponsel sang pembalap, “Wah?! Lo ngepoin Kalila?” Ucapan itu membuat Rayden mengarahkan tenaganya untuk bangkit dan meraih ponsel dari genggaman Adam kepanikan, “Nggak. Mana ada?” “Itu!” Adam menyipit, semakin tertarik untuk menggoda saat gurat rona canggung itu tersemai di wajahnya, “lo naksir, ya?” “Apaan, sih. Pergi sono!” Ia mendorong Adam yang masih betah cekikikan sampai ke luar kamar apartemen Negeri Kincir Angin tersebut, “huffft” Rayden menghela napasnya kasar. Kemudian meringis seraya mengusap pinggangnya yang nyeri, “sakit banget! Encok!” Seketika ponsel dalam genggamannya bergetar. Mata Rayden terbelalak kaku. Sebuah pesan masuk itu nampak terbaca dari layar kunci. Terdapat foto perempuan anggun berambut panjang sebagai profil sang pengirim. From: Yasmin Hay, Kak. How are you?. ^^^ Tawa matahari melenggang pergi termakan pekat gelap malam yang menyemai bumi. Beberapa karyawan sudah mulai berhamburan pergi, sedang jemari mungil Kalila masih setia menari-nari di atas keyboard komputer dengan berbagai tugas. Setelah kepulangannya dari Portugal, ia justru semakin dihadapkan dengan banyak pekerjaan. “Kalila!” Suara-suara itu membuat Kalila mendongak dari biliknya yang cukup tinggi. Membidik Helen dan Rasheed yang menghampirinya. Gadis itu penuh kejut. Selama ia bekerja, dirinya sama sekali tak memilki teman baik di kantor. Ia hanya berteman biasa. Sepertinya kedekatan mereka sejak di Portugal akan berlanjut. “Ayo pulang!” Ajak Helen, “kebetulan Rasheed udahan kerjanya. Yang masih on tinggal Bambang. Lo udahan, kan?” Kalila tersenyum, “Dikit lagi, sih.” “Kita tungguin. Santai aja.” Rasheed menepuk bahunya, “ntar gue jajanin gantian deh. Kemarin lo udah traktir kita tuh di Portugal”. Kalila menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Gurat rona canggung itu terukir jelas di wajah imutnya. Kemudian ada sebuah notifikasi yang bertubi-tubi diterimanya. Ia membelalak memperhatikan layar komputer. “Eh, gue penasaran, deh. Kayanya lo sama Rayden pernah saling suka, ya?” Helen menaikkan sebelah alisnya, “nggak mungkin ah kalo sekedar kenal di masa lalu.” “Kita liat kalian berdua di airport.” Tambah Rasheed yang semakin membuat kepala Kalila pecah. Sibuk merangkai kata untuk menimpali senior-seniornya saat pikirannya tengah bercabang. “Mulai main sama senior boleh, tapi jangan lupain tugas-tugas lo!” Ceplos Mbak Tari super ketus sambil menenteng tas—sepertinya hendak pulang. Bibir merahnya semakin membuat kesan jahat itu nyata. “I-ini semua, Mbak?” Kalila memastikan notifikasi yang masuk. “Iya, lah. Nggak mau tau, besok harus selesai editnya!” Perempuan s****l itu lantas melenggang pergi yang disambut gelengan heran oleh Helen dan Rasheed. Kalila membuat bibirnya menjadi keriting secara perlahan, lalu merengek dan menjatuhkan kepalanya yang terasa sangat berat itu ke atas meja. “E-eh!” Helen dan Rasheed heboh, “udahlah Kal, kerjain di rumah aja. Kita sholat maghrib trus makan malam. Biar seger otaknya.” Rasheed membisik. “Wah! Nggak bisa didiemin lagi nih orang kaya Tari” Gerutu Helen. Sorot matanya lebih tajam dari belati. ^^^ Ting! Pintu elevator di lobby terbuka. Kalila, Helen dan Rasheed melangkah bersama menuju luar gedung. Kebetulan Rasheed tak memarkirkan mobil di basemen. Kalila nampak sesekali membenahi tote bag di pundaknya. “Masalah Tari, ntar gue yang urus,” kata Helen menenangkan Kalila, “dia tuh udah keterlaluan.” “Nggak usah, Mbak. Biarin aja.” Kalila tak mau ambil pusing. Lalu Rasheed meminta izin untuk menyiapkan mobil dahulu. Ia berlari begitu cepat. Sambil melangkah, Helen kembali menyambung, “Jujur ya. Awalnya gue juga nggak suka sama lo. Karena gue sepemikiran dengan Tari. Lo masuk ke sini karena orang dalem. Lo kenal Pak Bagus dan tanpa gelar sarjana lo bisa kerja disini. Tapi setelah gue perhatiin, lo emang pantas disini. Etos kerja lo bagus melebihi ekspektasi. Bahkan ketika di-bully juga lo tetap tangguh.” “Ngeselin, ya.. aku bahkan nggak kenal Pak Bagus atau siapapun disini. Ya.. aku sih take easy aja, lah. Makanya aku nggak mau banyak berteman disini,” Sambut Kalila dengan santai, “hidup aku aja udah berat, mau mikirin yang kaya begituan? Nggak banget deh.” Kemudian Kalila membisik, “biasanya yang galak itu biang keroknya.” Kata-kata tangguh Kalila itu membuat Helen tertawa terpingkal-pingkal dan semakin terkesan dengan kepribadiannya. Angin senja mulai menyambut saat keduanya sudah berada di halaman gedung perkantoran. Warna jingga juga sudah menghiasi angkasa. Tiba-tiba sebuah mobil semi jeep mewah berwarna putih metalic pabrikan Inggris berhenti tepat di hadapan Kalila dan Helen. Bukan! Itu bukan mobil Rasheed. Kaca mobil bagian depan terbuka perlahan hingga akhirnya menampakkan ketampanan sempurna dari seorang pria yang menungganginya. Tatapan itu. Mata hazel. “Hah?!” Kalila heboh, segera menutup mulutnya yang menganga lebar yang disambut kikuk oleh Helen, “Bang Jordan?!” “Buruan naik!” Pintanya. “Nggak!” Tegas Kalila. Pun pria itu justru keluar dari singgahsana. Kaki jenjangnya berbalut celana hitam yang terlihat pas, serta kemeja hitam garis-garis semakin membuat tampilannya sempurna, ditambah sneaker putih dan potongan rambut under cut selalu menjadi gaya khasnya. Ia lantas berdiri tegap di hadapan Kalila. Sangat dekat, membuat Kalila sedikit memundurkan wajahnya. Hingga mereka menjadi tontonan banyak orang yang sedang berlalu-lalang. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata, cukup dengan gaya kerennya. Jordan mengarahkan dagunya ke arah mobil sebagai sebuah isyarat. Pun Kalila terlanjur mati gaya. “Udah, Kal. Nggak apa-apa. Nanti aku bilang Rasheed.” Helen memecah kegilaan yang sedang dialami gadis berhijab itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN