20. Pemunah Luka

1186 Kata
“Ice Americano satu. Sama...,” Jordan nampak memilih menu di meja service. Sesekali melirik sekilas ke arah Kalila yang menunggu di meja. Perempuan itu tak banyak meminta, ia hanya pasrah, “orange Squash satu. Tiramisu puding dua.” Tuturnya pada pelayan yang kemudian segera disiapkan begitu cepat. “Bang ganteng?!” seru Alshad—mengenakan pakaian pelayan lengkap dengan celemek membawakan nampan pesanan Jordan. “O-oh?!” serunya bingung. Antara ingat pada sosoknya, namun tak ingin sok akrab. Jordan segera mengambil alih nampan tersebut. “Sama Kalila?” Tebak Alshad menyelidik yang tak disambut dengan baik oleh pria dingin tersebut. Jordan sudah melenggang pergi menuju tempatnya. Ia sangat antisosial dan tak bisa cepat akrab dengan siapapun. Usai sholat maghrib berjamaah, kini keduanya kembali bertandang ke kafe dimana pertama kali mereka berkenalan. Poo-Poo Cafe. Keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain. Kalila meneguk minumannya sejenak sebelum angkat bicara,“Kalau boleh jujur, saya udah nggak nyaman dari tadi. Sebenarnya ada apa? Nggak usah basa-basi deh.” “Soal perekrutan penulis..” “Uhmm... Rayden?” tandas Kalila. Tatapannya tegas dan tajam. “K-kamu sudah tau?” Kalila menghembuskan napas begitu kasar, “Gimana, ya? Saya nggak mau memperpanjang apapun yang berkaitan dengan Rayden” Ia menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Berusaha untuk bersikap formal, “Saya juga sejak awal sudah menolak. Kenapa dibahas lagi?” Pun Jordan memperjelas semuanya dari awal. Hingga akhirnya ia mengetahui fakta bahwa Rayden meminta bantuan padanya untuk membuka jalan bagi Kalila—sang mantan meraih mimpinya menjadi seorang penulis novel semata-mata demi menutupi rasa bersalahnya yang terlalu besar. “Jadi, Bang Jordan sudah tau kalau saya dan Rayden sempat ada tali pernikahan?” Tanyanya begitu awas. Suaranya terdengar pelan. Dengan penuh keraguan, Jordan mengangguk sopan, “Maaf. Saya juga baru tau.” “Saya hanya ingin bilang, kontrak itu memang tidak anda ambil. Tapi saya sangat menerima Kalila Shafiya bilamana ingin mencoba jalur seleksi yang Paper Pedia Publishing buka. Kamu mau kita menilai lewat karya, kan? Bukan dengan jalur instan?” Terangnya menyambung dengan formal sebagai pimpinan perusahaan, “Karena saya sudah membaca semua blog kamu dalam tiga hari terakhir, itu cukup membuat saya terkesan.” Kalimat terakhir Jordan sempat membuat mata Kalila beriak. Sejak pertemuan pertama Jordan di kafe tersebut dengan Kalila, ia sangat penasaran dengan profil gadis bertudung islami yang terkesan memiliki kepribadian tak biasa. Namun, baru beberapa hari belakangan, asistennya menemukan blog pribadi Kalila yang memang sengaja tak pernah ditautkan di halaman i********:. Dan Jordan cukup kagum dengan cara gadis itu menuangkan isi hatinya. “Dan saya sebagai pimpinan penerbit..,” Jordan membuka ponselnya, “coba bisa dicek WA!” Lagi-lagi Kalila menurut. Ia membuka ponsel dan seketika heboh bangkit dari kursi sembari menganga “Allahu akbar!” Kemudian memutar bola mata saat merasakan banyak tatapan melayang padanya. Kalila menunduk sebagai pemohonan maaf dan kembali duduk. “Ini beneran?!” Kalila masih tak percaya. Ia menunjukkan layar ponsel ke hadapan Jordan. Sebuah kupon spesial VIP khusus untuk pembelian buku karya Lelaki Hujan yang berjudul Duri Mawar cetakan kedua. Terdapat barcode khusus disana. Seseorang dengan kupon itu bisa mendapatkan buku tertentu sesuai dengan judul yang tertera. Jika ditunjukkan pada kasir toko buku, maka pemilik kupon akan mendapatkan buku terkait tanpa takut kehabisan, bahkan akan mendapatkan bonus tanda tangan. Itu merupakan program khusus dari Paper Pedia Publishing. Biasanya hanya orang-orang dengan nominal belanja tertentu yang akan mendapatkannya, namun beruntung Kalila bisa memilkinya cuma-cuma. “Tapi, kenapa nggak sekalian dikasih aja sih bukunya. Ngapain ribet begini. Mana nggak ada diskon juga.” Protes Kalila memang agaknya tak tau diri. “Bisnis, woy!” Seru Jordan mengetuk meja dua kali yang disambut tawa kecil tak berdosa dari Kalila “Mending-mending lo orang nggak penting yang gue kasih kupon!” “Thank you, boss.” Raut wajah nan murung dan masam yang sejak tadi terpasung berubah drastis. Kalila bersinar cantik bagai bintang sirus. Senyum ceria menandakan nanar bahagia setelah mendapat kupon itu begitu menyilaukan mata Jordan yang sibuk menahan bibirnya berkedut. “Kenapa lo nge-fans banget sama Lelaki Hujan?” “Uhmm...” Kalila mengulum bibir sejenak. Rona menggemaskan itu terpancar di wajahnya, “hampir semua kisah dalam novelnya seperti pemunah luka di fase terberat aku” Ia membayangkan betapa terluka dan hancurnya setelah perpisahan itu, “pokoknya aku suka. Apalagi kemisteriusan dia sebagai penulis bikin greget. Pengen banget liat wujud aslinya dan berterima kasih sudah menjadi pemunah luka.” Setiap kedipan mata Jordan mengandung makna. Ia masih betah menatap Kalila yang tengah mencari sumber kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Senyumnya tertahan. Merasa tersentuh sekaligus kagum oleh ketegaran hati Kalila yang mau bangkit untuk bertahan hidup. Meski luka itu menerjang di usia yang sangat muda. “Lo pernah datang ke fan meeting-nya?” Tanya Jordan semakin penasaran. Kalila mengangguk pasti, “Pernah. Tapi sekali doang. Tau sendiri, fan Meeting Lelaki Hujan itu dibatasi dan ketat banget prosedurnya. Yang nggak boleh foto lah, mana Lelaki Hujan juga selalu pakai topeng dan nggak pernah ngomong juga. Berasa fan meeting ama Master Limbad deh gue” Ia lantas tertawa. Pun diam-diam Jordan juga tertawa, meski sibuk menahannya kuat-kuat demi image yang jauh lebih penting dari segalanya. Elegan adalah jiwanya. “Ngomong-ngomong..” Kalila tiba-tiba serius, “saya emang nggak mau ambil apapun dengan cara instan. Apalagi soal impian, karena saya nggak mau kehilangan itu dengan mudah. Tapi bisakah Bang Jordan bantu saya.” “Apaan?” Alis Jordan menyatu. “The Author Indonesia ke 10. Bisa bantu saya masuk ke sana?” Jordan terkekeh, “Apa bedanya sama cara instan kalau lo minta bantuan ke gue?” “Bukan. Bukan meminta untuk diloloskan ke kompetisi itu,” Kalila buru-buru menyergah, “tapi minta bantuan Bang Jordan untuk menjadi guide aku. Guru privat sebelum masuk ke kompetisi itu.” Jordan kembali terkekeh. Senyum sombongnya memang agak menyebalkan, “Dengar, ya! Kalau lo mau menjadi penulis, nomor satu adalah percaya diri dan jadilah dirimu. Kalau lo belum apa-apa udah minta bantuan... berarti lo nggak percaya sama kemampuan diri lo sendiri.” “Ikuti prosedurnya jika memang ingin mendaftarkan diri. Dan jika lo lolos, maka kita akan bertemu dan gue siap untuk menjadi coach lo, membimbing lo buat tahap selanjutnya!” Lanjutnya sebelum ia memilih melenggang pergi meninggalkan Kalila di tempat. Gadis itu lantas mengulum bibir. Menahan kecewa sekaligus kesal. Semua bercampur menjadi satu. Sikap Jordan yang dingin itu sudah terlampau menyebalkan. Sebagai seseorang yang hendak mengikuti kompetisi menulis, Kalila ingin sekali mendapatkan guru yang bisa memberikan kisi-kisi dan kiat-kiat lainnya agar bisa lolos. Namun disisi lain, kalimat Jordan yang pahit itu benar adanya. Sang Pemimpi harus siap dengan segala situasi. Kalila mendongak. Menatap langit hitam gelap bertabur bintang yang nampak semakin cantik bercampur gemerlap lampu ibu kota. Membidik sebuah papan iklan raksasa yang menampilkan iklan The Author Indonesia ke 10 yang akan diselenggarakan pada tanggal 12-12-2022. Lambang buku dan pena menjadi simbol kompetisi menulis terbesar di Indonesia tersebut. Wajah Kalila nanar penuh harap. Dicecap hati tak sabar. Kendati sebagai pemimpi, sabar adalah kata yang membuat orang sukses di luar sana tak punya pintu setiap ingin berlari, meski kelebihan energi sekalipun. Tak sanggup berteriak, meski ada suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN