Hamparan padat jalanan di luar sana terlihat menyesakkan seperti menghimpit d**a. Ia tak menyangka langkah yang sempat ia ambil justru menjadi batu loncatan baginya. Seseorang yang ia pikir bisa membantu menyelesaikan masalahnya kini justru menjadi penghambat dan ancaman besar bagi dirinya sendiri. "Aku tidak ingin melakukannya lagi!" tegas Wayan Wijaya menolak rencana gila pria yang lebih muda darinya tersebut. Pria yang masih sama, duduk menyilangkan kaki di atas meja sambil mengisap gulungan tembakau. Semburan tawa terdengar kencang mengisi ruangan tersebut. Sebuah apartemen mewah yang berantakan di bagian ruang tamu. Kulit kacang dan bungkus makanan instan berceceran, botol anggur kosong yang tergeletak sembarangan, juga putung rokok yang bertebaran di sana. Wayan Wijaya melengos,

