Bara dan Andaru saling pandang mendengar penjelasan singkat dari pria yang usianya lebih dari setengah abad tersebut. Pria tua yang identik dengan kaos oblong, celana pendek serta sarung yang selalu tersampir pada kedua pundaknya. Ia tersenyum menatap kedua muda-mudi yang sejak pagi tadi mendatanginya dengan tanya yang tak lagi mengejutkan. Kek Rahman tersenyum hangat, lalu mengangkat cangkir kopinya sebelum menyempatkan diri mempersiapkan Andaru juga Bara untuk mencicipi jamuan buatannya sendiri. Secangkir arabika dengan gula aren. "Di minum dulu, mumpung masih hangat," ucapnya ramah tamah. Bara mengangguk, memberikan isyarat pada Andaru agar gadis itu tak perlu khawatir lagi. Keduanya menatap kek Rahman penuh harap, tetapi tak melupakan sopan santun. Mereka menyentuh cangkir tersebut

