Pram menghela napas berkali-kali di dalam taksi. Tangan kanannya menyentuh d**a atas bagian kiri yang terasa sesak. Seperti sesuatu tengah menusuknya perlahan, tetapi sangat menyakitkan. Meski demikian, ia sebaik mungkin menyembunyikan rasa sakit itu di depan Bara juga Andaru. Semenjak ia kembali dari white horse tubuhnya terasa lemah, tak bertenaga seperti biasa. Sesekali tenggorokannya seperti tercekat membuatnya sulit bernapas. Akan tetapi, Pram tak berani mengatakan apa pun yang berpotensi akan membuat Bara juga Andaru merasa khawatir. Dalam diamnya itu, Pram menatap gelang mutiara yang masih melingkar dengan di pergelangan tangannya. Ia tersenyum skeptis, setengah tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Meski berulang kali ia menegaskan bahwa ia sudah mati, tetapi tetap saja,

